Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.7K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

10. Salahkah Memilihnya?

Aku dan Rayhan tinggal di rumah pemberian orang tua Rayhan. Meski sebenarnya aku agak sungkan, tapi mau bagaimana lagi, Rayhan pun bertekad untuk tidak menumpang lagi pada orang tuanya saat membangun rumah tangga sendiri. Baguslah. Setidaknya dengan begitu tidak akan ada yang mencampuri urusan rumah tangga kami.
Hari-hari berjalan seperti layaknya pasangan suami istri lainnya. Aku bangun pagi, menyiapkan segala kebutuhan suamiku. Sekarang, aku sudah lebih rajin memasak. Dulu, sih, boro-boro mau bersentuhan dengan wajan dan teman-temannya. Ada Mama yang selalu menyiapkan. Kalau sekarang, tidak mungkin, ‘kan, aku meminta Mama yang memasak untuk makan kami? Ya, kali, istri macam apa aku ini.
“Mas, ayo makan,” ajakku. Meski aku lebih tua lima tahun dari Rayhan, aku tetap memanggilnya ‘mas’ karena memang begitulah kebiasaan di daerah sini bagi seorang istri kepada suaminya.
“Nanti aja. Lagi nanggung, nih. Arsenal yang main.” Rayhan menolak dengan tatapan tidak beralih dari layar kaca. Kucoba membiasakan mengajak Rayhan makan di meja. Meski kadang Rayhan menolak. Makan sesukanya.
“Mas, nggak bisa liat nanti apa?” tanyaku sedikit kesal.
“Nggak bisa. Nanggung, nih,” tolaknya tegas.
Jika sudah begitu, aku hanya bisa menghela napas. Menelan ludah getir karena Rayhan lebih memilih apa yang disukainya daripada apa yang aku minta. Dengan menahan kesal, aku makan sendiri di meja makan.
Lebih mengesalkan dari itu adalah saat Rayhan pamit untuk kuliah atau bekerja. Dia selalu nyelonong begitu saja, seolah keberadaanku ini astral. Yang benar saja, ‘kan? Bukan begitu caranya berpamitan saat sudah memiliki istri. Lah, aku juga ingin seperti istri kebanyakan yang mencium dan dicium suaminya saat pergi kerja.
“Kamu nggak inget sesuatu?” tanyaku yang membuat langkahnya terhenti di teras, sementara aku berdiri di ambang pintu.
“Apa?” tanyanya memasang tampang tidak tahu. Ingin benar kugeplak kepalanya dengan sepatu agar dia sadar.
“Aku istrimu, loh. Seharusnya, aku mencium tangan suami sebelum dia berangkat, ‘kan? Begitu yang dilakukan istri, ‘kan?”
“Oh, iya, iya. Maaf, belum sadar kalau sudah punya istri.”
Dia menghampiriku, menyodorkan tangan kanannya untuk kucium. Dengan kembali menahan kesal, kucium tangan suamiku itu.
“Love you, Istriku.” Tangannya membelai kepalaku, sebelum kemudian mencium keningku. Nah, ini baru pasangan suami istri yang benar.
“Love you too, Mas.” Kusunggingkan senyum saat melepasnya pergi.
* * *
Begitulah pernikahan. Asam, manis, pahit, senang, kesal, bahagia, kecewa, semuanya akan tercecap. Tidak ada perjalanan pernikahan yang mulus-mulus saja, biasa-biasa saja. Akan selalu ada yang namanya masalah, apa pun bentuknya. Begitulah yang Silla katakan saat aku meneleponnya beberapa waktu lalu untuk menceritakan keresahan hati. Terlebih aku yang menikah dengan laki-laki berusia 15 tahun. Tantangannya akan berbeda. Untuk menyelaraskan pemahaman pun butuh waktu yang tidak sedikit.
Belum lagi memahami ego masing-masing. Di titik inilah kesabaranku benar-benar diuji. Selalu mengingatkan diri jika yang berhadapan denganku meski dia seorang suami, dia pun masih bocah. Aduh, ingin rasanya menelan orang hidup-hidup jika sudah berdebat dengan Rayhan. Tingkah kekanakannya tidak benar-benar hilang.
Seperti malam ini, saat Rayhan baru menginjakkan kaki di rumah begitu jam di dinding ruang tamu menunjuk angka 8.30 malam. Aku terkantuk-kantuk menunggunya. Kudapati wajah Rayhan yang sedikit lusuh.
“Tumben pulang jam segini, Mas?” tanyaku dengan tetap menjaga suara di nada biasa.
“Ngerjain tugas di rumah temen,” katanya sambil lalu begitu saja ke dapur.
“Sebanyak apa sampe pulang semalam ini?” Aku membuntutinya. Seorang Ika akan memburu jawaban jika merasa belum terpuaskan.
“Tugasnya banyak,” jawabnya dengan wajah datar.
“Oh, banyak.” Aku menggumam pendek. “Padahal, aku nungguin kamu biar kita bisa makan malam bareng,” kataku melanjutkan.
“Kalau tahu jam 7 aku belum pulang, nggak usah nungguin buat makan bareng. Makan, ya, makan aja.” Kali ini jawabannya sedikit meninggi.
“Seharusnya kamu hubungi aku kalau emang pulang telat. SMS kek, atau nelepon. Punya pulsa, ‘kan?” Kemarahanku tersulut. Nungguin nyaris dua jam itu melelahkan, dan dia dengan teganya berbicara sekeras itu padaku? Halo, aku ini istrinya, ‘kan?
“Aku capek, ya. Aku nggak mau debat nggak penting malam-malam kayak begini,” katanya yang kemudian beranjak begitu saja.
Loh, kok, jadi dia yang sewot? Seharusnya aku yang marah ke dia karena tidak diberi kabar barang satu kata pun entah itu lewat SMS atau telepon. Percuma saja punya handphone kalau tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Ingin rasanya mendebat lebih panjang masalah ini. Hanya saja, kulihat Rayhan sudah terkapar di ranjang. Sembari menghela napas berkali-kali demi menahan gejolak amarah, aku membereskan meja makan. Tidak peduli jika aku sendiri belum makan.
Siapa yang mau makan di saat emosi tersulut begini?

Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Download Titik & Koma