Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.8K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

2. Cinta Oh Cinta

Yogyakarta, 2008
Aku tersenyum menyambut kedatangannya. Dengan menuntun sepeda kesayangan, ia menghampiriku. Isyarat kepalanya memintaku untuk segera naik ke boncengan. Aku hanya menurut, meski penasaran ia akan membawaku ke mana. Sabtu sore memang selalu kami gunakan untuk pergi ke tempat-tempat seru. Uhm, tepatnya dia yang selalu mengajakku.
“Kita mau ke mana hari ini?” tanyaku di antara deru angin sore. Kami menyusuri jalan pedesaan. Memang, tempat-tempat yang ditujunya kebanyakan berada di pelosok kampung. Bukan tempat-tempat ramai macam mall atau taman kota. Herannya, dia selalu menemukan tempat-tempat menyenangkan.
“Lihat saja nanti,” balasnya.
Laju sepeda begitu santai. Rasanya seru setiap membonceng seperti ini. Aku sengaja menggerai rambut agar dapat dimainkan angin. Rasanya keren, mirip bintang iklan sampo di televisi.
Sepeda berhenti di pinggir sungai dengan batu-batu besar serta berair jernih.
“Turun, Ka. Sudah sampai,” katanya menyuruhku turun.
“Eh? Sudah sampai?” Dengan bingung, aku pun turun. Ia menyenderkan sepedanya di batang pohon besar.
“Ayo!” ajaknya seraya melangkah di depanku.
“Mau ke mana?” Aku masih tidak diberi tahu mau ke mana. Dasar! Dia selalu membuatku penasaran.
“Ke sana.” Dia menunjuk jalanan menanjak yang sisi-sisinya ditumbuhi tanaman bunga liar beragam warna. Untuk sesaat aku menatap takjub tempat itu. Seriusan, itu bagus banget.
“Itu ....”
“Bukit. Udah, jangan banyak nanya. Ayo.” Mungkin merasa gemas dengan ketertakjubkanku, dia menggenggam tanganku agar mengikuti langkahnya.
“Zal, kok bisa nemu tempat begini?” tanyaku begitu sampai di puncak. Wow! Dari atas sini, semuanya terlihat. Aliran sungai terlihat berkelok-kelok. Memandang lebih jauh, tampak atap-atap rumah warga. Sepertinya, itu desa yang kami lewati tadi.
“Bagus, ‘kan?” tanyanya seraya duduk di atas rerumputan yang tampak kekuningan.
“Bagus banget. Nemu aja lagi tempat begini.”
Kekehannya memutus sunyi tempat itu. Aku pun menghempas duduk di sampingnya. Menyapu pandang, menelaah setiap jengkal tempat tersebut. Sunyinya menyamankan. Sesekali terdengar cericit parkit yang hinggap di dahan-dahan pohon.
“Ada yang lebih bagus, Ka. Ayo!”
Ia beranjak dengan tidak lupa menggenggam tanganku. Langkahnya pelan menyusuri jalan setapak lain. entah kali ini akan ke mana.
Hanya saja, sesuatu yang aneh terjadi. Aku tidak lagi merasakan genggamannya, tapi ia masih melangkah di depanku. Lebih tepatnya melangkah mundur dengan senyum terarah padaku. Loh, loh, kenapa dia?
Perlahan, yang terlihat tampak blur. Eh? Kenapa ini? Aku mengucek mata beberapa kali, barangkali saja mataku bermasalah. Hanya saja, bukan makin jelas, justru tampak semakin blur. Loh, loh, ini kenapa?
“Zal? Arizal? Kok, kamu keliatan blur, ya?”
Dia hanya tersenyum. Sementara samar aku mendengar suara memanggil-manggil namaku. Kepalaku menoleh ke kiri dan kanan, mencari suara tersebut. Tapi, tidak menemukan siapa pun yang memanggilku.
“Ika, bangun, Ka. Kamu nggak jadi kerja?”
Hah? Kerja? Kerja apaan? Aku masih sekolah.
“Ika, bangun. Katanya kamu harus ke radio.”
Lagi, suara aneh itu mengalihkan fokusku. Arizal di depan sana makin tampak blur. Ini kenapa, sih? Apa mataku mulai siwer? Eh?
Detik berikutnya, aku tidak menemukan Arizal. Tiba-tiba saja ia lenyap. Bukan hanya itu, semua yang ada di sekitarku pun lenyap. Aku merasakan tubuhku diguncang. Dan entah bagaimana, aku seperti terseret ke dalam lubang gelap. Hanya beberapa saat, karena kemudian aku merasakan tusukan cahaya menyerbu mata. Membuatku mengerjap beberapa kali untuk mengkondisikan fokus tatapanku. Menemukan Mama menjulang menatapku.
“Mbok, ya, kalau mimpi inget waktu. Jam berapa sekarang, Cah Ayu?” Mama menatapku seraya tersenyum geli.
Aku mengernyit, mencermati kata-kata Mama. Jadi, tadi itu mimpi? Pertemuan dengan Arizal itu cuma mimpi? Eh?
“Bangun, mandi, terus sarapan. Katanya mau ke radio?”
“Radio?”
Mama keluar sementara aku masih kebingungan. Efek mimpiin Arizal, ya, kayak begini. Bikin aku bego seketika.
Mama bilang aku harus ke radio. Oh God! Ini hari pertamaku bekerja di sana. Mampus aku kalau sampai terlambat.
Tergesa-gesa aku ke kamar mandi. Mandi dengan cepat, berdandan dengan cepat pula. Pun saat melahap sepotong roti yang Mama sediakan. Semuanya kulakukan dengan cepat. Lima belas menit kemudia, aku sudah bergabung dengan warga Yogyakarta lainnya dalam bus kota. Menuju Rhayya Radio.
Sepanjang perjalanan, aku merenungi mimpi tadi. Membuatku tanpa sadar meneteskan air mata. Mengingat Arizal selalu membuatku seperti ini. Cowok itu, entah di mana dia sekarang. Mungkinkah masih di Solo? Entahlah. Aku tidak pernah tahu bagaimana kabarnya sejak pindah ke Yogyakarta. Ah, Arizal. Kenapa nama itu masih belum bergeser di hati ini?
* * *
Sedikit canggung kumasuki kantor siaran. Beberapa orang menatapku dengan beragam tatapan. Semoga saja aku tidak terlambat.
“Saya Dahliany Wiskasari, Mbak,” kataku di hadapan wanita berkacamata yang menjaga meja resepsionis.
“Yang minggu lalu melamar jadi penyiar di sini.”
Aku menjelaskan lebih lanjut begitu melihat wajah bingung Mbak itu.
“Oh, ya, ya. Sebentar,” katanya. Diraihnya gagang telepon lantas menghubungi seseorang. “Dahliany Wiskasari sudah datang, Pak. Langsung atau .... Baik, Pak. Baik.”
Mbak berkacamata itu kembali meletakkan telepon lantas kembali menjatuhkan tatapannya padaku.
“Dahliany ....”
“Ika saja, Mbak. Panggil Ika saja. Kalau panggil Dahliany kepanjangan nanti,” kataku memotong panggilannya. Kasihan juga kalau harus memanggil namaku selengkap itu.
“Oh, oke. Kamu bisa langsung ke lantai dua. Ruang siaran kamu di sana. Nanti Pak Waluyo yang menunjukkannya,” jelasnya. Aku mengangguk sebagai tanda mengerti.
Atas arahan mbak tadi, aku menaiki sebuah lift menuju lantai dua. Kantor siaran radio ini cukup elit. Ya, setidaknya untuk mencapai lantai-lantai atas sudah menggunakan lift. Cukup menghemat waktu dan energi.
Di dalam lift yang membawaku ke lantai dua terisi beberapa orang. Salah satunya seorang anak muda—atau bahkan bocah yang sibuk dengan ponselnya. Berdiri menyempil di sudut lift, berseberangan denganku. Sepanjang pergerakan lift, ingatanku kembali melayang pada mimpi semalam. Setelah bertahun-tahun berpisah dengan Arizal, aku kembali dipertemukan dengannya. Ya, meski lewat mimpi. Tidak apalah, lumayan. Setidaknya menjadi pengobat rindu. Siapa tahu saja suatu hari nanti benar-benar bertemu dengannya. Mohon para malaikat mengaminkan doaku ini, ya?
Kutemukan lelaki separuh baya dengan kepala setengah botak sedikit beruban, serta kumis yang juga sedikit memutih tengah berdiri di depan sebuah ruangan. Aku mengenalnya karena dialah yang mewawancaraiku saat itu. Tentu saja, dialah Pak Waluyo. Pemilik kursi tertinggi Rhayya Radio.
Ada kelegaan yang kutangkap begitu langkahku mendekat padanya. Dia menungguku rupanya.
“Maaf, Pak Waluyo. Saya terlambat.” Agak tidak enak juga baru hari pertama sudah terlambat begini. Semua karena Arizal yang mampir di mimpiku.
“Ndak apa-apa. Saya kira kamu kenapa-kenapa sampai terlambat begini.”
“Kesiangan, Pak.” Aku meringis.
“Kamu masuk sekarang. Jamnya Kinar sudah selesai.”
“Nggih, Pak.”
Aku pun masuk ke ruang siarang. Menarik lebih dulu napas dalam-dalam untuk menghilangkan kegugupan. Untuk saat ini, perasaanku campur aduk. Antara excited juga khawatir. Excited karena akhirnya aku berhasil duduk di kursi siaran. Khawatir karena aku takut tidak bisa bekerja dengan baik. Lancarkan, Ya Allah.
Lampu on air menyala. Waktunya Dahliany Wiskasari memulai. Bismillahirrahmanirrahim.
“Halo, Sobat Rhayya. Jumpa lagi dalam ajang ‘Obrolan Remaja’ yang kali ini bukan Kinar Lyra yang nemenin kalian. But, aku. Dahliany Wiskasari.” Aku pun memulai dengan jantung berdegup kencang. Tetap tenang, Ika. Tetap tenang, hiburku untuk diri sendiri.
“Nah, selama 2 jam ke depan kita akan membahas all about remaja. Yang mau curhatin masalahnya, boleh curhat di sini. Yang mau numplekin unek-uneknya, boleh tumplekin di sini. Yang lagi galau dan butuh temen ngomong, boleh ngobrol sama Ika,” kataku melanjutkan.
“It’s show time buat kalian yang gegana alias gelisah galau merana, deh. Karena kadang, berbagi kegalauan hati bisa meringankan beban hati, loh. Kata orang bijak, sih, begitu.” Aku melirik sekilas script, membaca informasi kontak yang bisa dihubungi selama siaranku berlangsung. “Nah, buat kamu yang mau curhat, berbagi kegalauan, boleh hubungin Ika di tiga line, yaitu telpon di 0274 327765, SMS di nomor 081318331075 , dan email di rhayyaradio@yahoo.com. Sambil menunggu partisipasi kalian,Ika puterin Permintaan Hati-nya Letto, ya. Jangan kemana-mana. Tetap di 107,9 FM.” Kuklik lagu tersebut. Suara Mas Noe yang adem pun mengudara.
Aku menghela napas. Rasanya kayak melepas berton-ton beras dari pundak. Lega. Beberapa orang di sana bahkan mengacungkan jempolnya padaku. Bagi anak baru, hal seperti itu sangat membahagiakan.
Kurasakan getaran di saku celana. Tidak salah lagi jika itu ponselku yang menerima pesan masuk. Aku mendapatkan pesan dari Silla.
Dari: Silla Rahajeng
Widih! Yang jadi penyiar sekarang, suaranya mengudara selangit Yogyakarta. Sukses, Honey.Good job untuk hari ini.
Aku tersenyum oleh pesan Silla. Kupikir dia lupa kalau hari ini hari pertamaku siaran. Sayang, Silla tidak di sini. Dia sudah menikah dengan pemilik toko kerajinan perak dari Kotagede. Jadi, ya, dia ikut suaminya. Pesan singkat begini pun tidak apa-apa, deh.
Lagu Permintaan Hati berakhir setelah lima menit lebih. Saatnya suaraku kembali mengudara.
“Adem, ya, suaranya Mas Noe? Nggak heran kalau lagu-lagunya bikin galau makin dalam,” kataku mengawali. “Nah, buat yang mau curhat, silakan telepon ke 0274 327765. Boleh juga lewat SMS-nya di 081318331075. Atau di layanan email rhayyaradio@yahoo.com. Bisa sekalian request lagu juga, dong ....”
Belum juga aku menghabiskan kalimatku, ponsel radio berdering.
“Nah, udah ada yang masuk, nih. Ika angkat dulu, deh,” kataku lalu mengangkat panggilan tersebut.
“Dengan Dahliany Wiskasari di sini. Hayo, di situ dengan Mas atau Mbak siapa?” Aku berbasa-basi.
“Selamat pagi menjelang siang, Mbak Dahliany,” balasnya. Aha, suara cewek. Curhatan bisa sepanjang rel kereta api, nih.
“Pagi menjelang siang juga. Ini dengan siapa?”
“Kula Ariny, Mbak.[1]”
“Oke, dengan Ariny. Mau curhat opo, nggih[2]?”
“Begini, Mbak Ika. Kula gadha mantan. Lah, mantan kula pingin gandeng malih. Nanging kula mboten purun,”[3]kataya memulai curhatan.
“Mboten purun? Lha, kengen nopo kog mboten purun?”[4] tanyaku penasaran. Segala hal berbau mantan memang menarik, meski aku sendiri belum pernah punya mantan. Sembilan belas tahun kuhabiskan dengan menjadi jomblo. Ehm, lebih tepatnya karena hati masih terpaut kepada cinta pertama.
“Ibunipun mboten ngrestoni, Mbak. Kula kedhah pripun?”[5]
Waduh, kalau sudah orang tua yang dibawa, ribet urusannya ini. Walau bagaimanapun, sebuah hubungan tidak boleh berjalan tanpa restu orang tua. Apalagi yang benar-benar ingin serius. Jangan sampai terjadi drama menantu disiksa mertua nanti.
“Kamu masih suka ndak sama dia?” tanyaku.
“Sekhedik, sih, Mbak. Perhatiane niku, loh, Mbak sik damel kulo kesengsem. Kula khedah pripun, Mbak?”[6]tanyanya yang kali ini terdengar seperti menuntut pencerahan dariku.
“Kula tanya dulu, dia mau memperjuangkan kamu ndak di depan ibunya?”
“Nah, itu dia, Mbak. Dia bilang sayang sama aku, tapi ndak mau bener-bener memperjuangkan aku. Dalam artian, ndak mau maksa ibunya untuk bisa nerima aku.”
Berat juga masalahnya.
“Begini, yo. Sebuah hubungan kalau ndak didasari oleh restu orang tua, ke depannya bisa ndak berjalan dengan mulus. Ada saja rintangan yang akan menggoyahkan hubungan kalian. apalagi restu ibu. Itu sangat penting. Kalau memang ibunya keukeuh ndak mau nrimo[7] kamu, yo,wis[8]ikhlaskan saja. Artinya, ndak jodoh. Insya Allah akan mendapat ganti yang lebih baik lagi.”
“Begitu, ya, Mbak?”
“Inggih.[9]”
Setelah berbasa-basi sebentar dan me-request lagu, telepon pun berakhir.
“Ada siapa lagi di belakang Ariny? Hum, sepertinya belum ada yang masuk lagi, ya? Oke, kita puterin lagu request-an Ariny dulu kalau begitu.”
[1]“Aku Ariny, Mbak.”
[2]Mau curhat apa, ya?
[3]“Bagini, Mbak Ika. Saya punya mantan. Lah, mantan saya ingin balikan lagi. Tapi, saya tidak mau,”
[4]“Tidak mau? Kenapa tidak mau?”
[5]“Ibunya tidak merestui, Mbak. Saya harus apa?”
[6]“Sedikit, sih, Mbak. Perhatiannya itu, loh, yang buat kesengsem. Saya harus bagaimana, Mbak?”
[7]Nerima
[8]Sudah
[9]Ya

Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Don't Touch Me

Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Download Titik & Koma