19. Guru Cantik
Gue ditempatin Pak Abdullah di kelas Madrasah Diniyah. Katanya, gue mesti belajar lebih giat masalah agama. Padahal, gue nggak bloon-bloon amat, kok, masalah agama. Tapi, ya, mengingat riwayat gue yang pernah jadi gay, Pak Abdullah meminta gue untuk belajar lebih serius lagi tentang hukum-hukum ini dan itu dalam Islam.
Oh, ya, belakangan ada kabar yang bilang kalau pesantren ini punya guru baru. Gue juga belum tahu, sih, siapa. Belum tahu juga, tuh, guru cewek apa cowok. Mungkin cewek, karena sekilas ruang guru kayaknya nambah satu perempuan tadi. Ya, siapa pun dia semoga jadi guru yang amanah, deh.
Atau jangan-jangan, guru baru itu yang bakalan ngisi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Seinget gue, kursi guru mata pelajaran itu kosong. Kayaknya, sih, iya buat ngajar Bahasa Indonesia.
“Assalamu’alaikum,” sapa seseorang diiringi langkahnya memasuki ruang kelas.
“Wa’alaikumsalam,” koor anak satu kelas.
Kami saling lempar pandang satu sama lain begitu mendapatkan wajah asing memasuki kelas ini. Beberapa orang di belakang gue malah asyik bisik-bisik ngomentarin penampilan orang yang baru masuk itu.
“Perkenalkan, nama saya Dahliany Wiskasari. Saya yang akan menjadi guru baru pelajaran Bahasa Indonesia di kelas ini. Ada yang ditanyakan?”
Gue nggak peduli dia lagi memperkenalkan diri atau apa. Yang gue tahu, dia guru yang cantik. Malah cantik banget. Baru kali ini gue lihat cewek secantik dia. Mana bajunya syar’i, bikin adem yang lihat. Jujur, gue terpesona sejak lihat dia masuk tadi.
“Ibu orang mana?” Ada yang menceletuk, entah siapa. Gue nggak peduli. Gue lebih suka lihat wajah dia. Siapa tadi namanya? Dahliany Wisakasari? Susah amat nyebutnya. Nggak ada yang lebih singkat?
“Saya asli Yogyakarta,” jawabnya diimbuhi dengan senyum. Entah gue yang salah atau hati gue yang keliru, tapi lihat senyum Bu Dahliany ngebuat gue deg-degan nggak karuan. Elah, masa gue suka dia. Atau, jangan-jangan emang sebenarnya gue suka sama dia? Hush!
“Oh, ya, panggil saja saya Ibu Ika atau Bu Ika. Biar nggak kepanjangan.”
“Bu, saya juga orang Yogya.” Tiba-tiba aja gue menceletuk. Elah, ini mulut refleksnya peka amat.
“Oh, ya? Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Siapa namamu, Nak?”
Eh? Nak? Yaelah, segitu anak-anaknya, ya, muka gue sampai dipanggil ‘nak’?
Beberapa teman sekelas di belakang gue cekikikan. Dasar mereka. Bahagia banget liat muka asem gue.
“Panggil Rafif aja, Bu. Kok, ya, kedengerannya kayak bocah SD dipanggil ‘nak’,” kata gue. Ada senyum yang gue tangkap dari bibir Bu Ika.
“Oke, oke. Saya akan panggil kamu Rafif. Kalau begitu, mari kita mulai mateinya,” katanya memutus perkenalan dilanjut membahas materi pada hari itu.
Akhir-akhir ini, setiap kali gue lihat Bu Ika, selalu ada yang beda. Perasaan gue campur aduk antara malu dan senang. Kadang, tanpa sadar gue senyum-senyum sendiri kalau inget Bu Ika ngajar di kelas. Gue coba untuk buang, sayangnya nggak bisa. Berkali-kali gue coba lupain senyumnya Bu Ika, hasilnya sia-sia. Gue keinget terus sama dia. Apa jangan-jangan gue jatuh cinta sama dia? Masa secepat itu?
“Ustaz, boleh nanya, nggak?” tanya gue suatu waktu ke Ustaz Arizal yang kebetulan di masjid bareng pas Duha.
“Nanya aja? Asal jangan nanyain kapan saya nikah,” katanya dengan diimbuhi kekekahan.
“Yey, nggaklah, Ustaz. Itu bukan wilayah saya,” tanggap gue. “Begini, Ustaz. Pernah nggak Ustaz ngerasain perasaan aneh kalo ketemu sama cewek? Kayak rasa malu tapi seneng yang kecampur. Terus, sekadar inget senyumnya aja bikin hati ser-seran gitu.”
Ustaz Arizal berdeham. Mungkin mengumpulkan alibi yang tepat buat ngejawab pertanyaan gue ini.
“Itu yang dinamakan jatuh cinta, Rafif,” kata Ustaz Arizal.
“Jadi, apa yang saya rasain beneran jatuh cinta?” tanya gue lagi.
“Ya, tapi ingat cinta yang benar adalah cinta yang sudah terikat tali pernikahan. Kalau kamu mencintai seseorang dan merasa siap untuk menikah, lamar wanita itu. Tapi, jika tidak, maka sering-sering berpuasa untuk lebih menahan nafsu,” nasihat Ustaz Arizal.
Gue ngangguk-ngangguk paham.
* * *
Gue coba redam perasaan gue ke Bu Ika. Tapi, nyatanya nggak bisa. Perasaan itu malah makin kuat. Mungkinkah gue harus nikahin Bu Ika? Apa dia mau nikah sama anak ingusan macam gue? Dan pula, dia udah punya anak. Apa anaknya mau nerima gue sebagai ayah barunya?
Gue jadi inget sebuah pepatah yang bilang kalau mau ngedapetin janda, maka dekati dulu anaknya. Hm, mungkin gue perlu coba cara ini.[]
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Sebelum Ya
Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...
Aroma Kebahagiaan Di Dapur
Hazea menutup pintu rapat-rapat pada cinta setelah dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...