Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.7K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

22. Pantaskah Aku Mencintainya?

Rasanya seperti tulang dilolosi dari tubuh setelah mendengar penuturan Rafif yang bilang kalau Sofiyah tahu tentangku pernah menjadi pelacur. Ya Allah, kenapa aku bisa seceroboh itu? Bagaimana dia bisa tahu tentang itu? Apa mungkin dia menguping pembicaraanku dengan Silla beberapa waktu lalu? Astaghfirullah, kenapa aku tidak periksa dulu, sih waktu itu?
Gontai kulangkahkan kaki ke sembarang arah. Kaget begitu langkahku justru sampai di depan musala asrama guru. Selain masjid utama, memang terdapat musala untuk asrama guru. Aku memilih duduk di salah satu bangku kayu yang tersedia. Mencoba menenangkan hati. Kebetulan sekali, kudengar suara orang mengaji. Dan aku kenal betul suara itu. membuat refleks memejamkan mata, menghayati kalam-kalam Allah yang sedang diperdengarkan.
“Ada orang, ya?” Aku tergeragap, membuka mata. Meski sudah tahu siapa yang mengaji tadi, tetap saja kemunculannya membuatku kaget. Bertambah kaget saat ia menebak jika di sini ada orang, padahal ia tidak melihatnya. Sepertinya benar jika Ustaz Arizal bisa melihat dengan mata batin.
“Saya, Ustaz,” kataku setelah beberapa detik.
“Oh, Bu Ika rupanya. Mau Duha juga?”
“Nggak, Ustaz. Cuma mau ngadem. Lagi nggak salat.”
Ustaz Arizal cuma menggumamkan oh. Kutatap wajah menyejukkan itu lekat-lekat. Dengan wajah seganteng itu, seharusnya Ustaz Arizal sudah menikah. Setidaknya memiliki 2 anak.
“Kenapa kamu natapin saya begitu, Bu Ika?”
“Panggil Ika saja, Ustaz. Rasanya agak aneh kalo Ustaz yang panggil Bu Ika,” sanggahku atas panggilannya.
“Ustaz, boleh saya nanya sesuatu?”
“Boleh. Mau nanya apa?”
“Kenapa Ustaz belum nikah?” Oke, aku tidak bisa menahan untuk tidak bertanya hal ini. Penasaran juga kali kenapa pria seperti Ustaz Arizal belum menikah.
“Siapa yang mau menikah dengan saya, Ika? Apa ada wanita yang mau menerima saya yang tidak sempurna seperti ini?”
“Ada, kok, ada. A ....” Aku menepuk dahi, tidak jadi meneruskan jawaban. Tengsin juga kalau sampai Ustaz Arizal tahu aku suka sama dia. Terlepas dia Arizal-ku atau bukan, aku merasa nyaman sejak bertemu pertama kali dengannya.
“Siapa?”
“Pastilah ada, Ustaz. Mungkin dia cuma malu untuk bilang kalau dia suka Ustaz.”
Ustaz Arizal terkekeh. Memangnya jawabanku lucu, ya, sampai dia tertawa begitu?
“Kalau ada, saya sudah menikah dari dulu, Ika. Urusan jodoh, saya pasrahkan semuanya kepada Allah. Yang terbaik tentu hanya Dia yang tahu.” Jawaban Ustaz Arizal selalu memberikan efek menyejukkan bagi hatiku. Membuat hati berdegup kembali tidak normal. Tuh, ‘kan? Kayaknya aku beneran suka sama dia.
“Memangnya, wanita seperti apa yang Ustaz Arizal inginkan?” Nah, kepoku tidak tertahankan, ‘kan? Mendadak lupa kalau tadi aku galau. Huft!
“Wanita yang mau menerima saya yang seperti ini.”
Aku, Ustaz! Aku mau. Aku ikhlas. Sayang, seruan itu cuma di kepala. Andai Ustaz Arizal tahu kalau aku suka sama dia. Mau bilang duluan, rasanya seperti perempuan tidak tahu malu.
Siapalah aku jika disandingkan dengan sosok Ustaz Arizal? Dia seorang ustaz, saleh, berakhlak mulia, santun, lelaki terbaik yang pernah kutemui. Sedangkan aku? Aku hanya janda yang pernah terperosok ke lubang hitam pelacuran hanya karena uang.
Pantaskah aku mencintainya? Pantaskah aku bersanding dengannya? Bahkan sekadar berharap saja rasanya sudah tidak pantas. Jangan mimpi kamu, Ika! Kamu cuma butiran debu yang berharap singgah di permukaan berlian. Akan segera terempas begitu angin datang.
* * *
Satu tahun lebih sudah aku tinggal di pesantren ini. Alhamdulillah, dari pemeriksaan terakhir, Sofiyah dinyatakan sembuh total. Aku tidak menyangka jika terapi daun sirsak bisa sehebat ini. Aku sangat bersyukur dipertemukan dengan Ustaz Arizal, meski melalui jalan yang memalukan. Tapi, berkat itu aku bis berubah sebanyak ini. Aku bisa berhijrah ke jalan yang lebih baik.
Maka aku memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Berpikir untuk memulai usaha sendiri dengan menggunakan tabungan selama mengajar di Pesantren Al Azhar. Memulai hidup baru dengan mencoba menghilangkan perasaan kepada Ustaz Arizal.
Biarkanlah aku mengembara jauh
Menghapus luka kecewa karena cintamu
Jangan kausesali kenyataan ini
Karena kubahagia lepas dari jeratmu
Aku meraih ponsel yang mengalunkan lagu Second Civil sebagai nada dering panggilan masuk untuk nomor Rayhan. Rayhan? Untuk apa dia meneleponku?
“Halo?” sapanya dari ujung panggilan.
“Ya, halo.”
“Syukurlah kamu masih pake nomor ini, Ika.” Aku menangkap nada lega dari suaranya.
“Ada apa menghubungiku? Tumben sekali.” Sedikit nyinyir aku bertanya.
“Bisa kita bertemu? Aku ingin ngomong sesuatu ke kamu.”
Aku terdiam beberapa saat. Bertemu? Untuk apa? Jangan-jangan mengambil hak asuh Sofiyah? Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan.
“Ngomong di telepon saja. Aku sibuk,” tandasku. Sebenarnya, aku malas kembali berhubungan dengan masa lalu.
“Nggak bisa, Ika. Ini penting. Kita harus ketemu.”
Kuembuskan napas dengan kesal. Pemaksa, masih seperti dulu.
“Oke. Tapi, aku nggak bisa lama-lama. Aku punya banyak pekerjaan.”
“Oke. Besok sore di Kafe Langit Biru.”
Aku pun setuju.
Besoknya, aku benar-benar menemui Rayhan di Kafe Langit Biru. Cukup mengejutkan penampilan Rayhan sekarang. Nyaris sembilan tahun tidak pernah melihatnya, cukup membuatku pangling. Rayhan menjelma pria dewasa—atau pemuda dewasa, yang tidak lagi tampak kekanakan. Dia memakai setelan jas yang sangat rapi dan licin saat ini. Meski melihatnya dari kejauhan, aku dapat dengan jelas menangkap garis wajahnya yang kian tegas.
Dia sudah bukan anak kecil. Meski mungkin masih menjadi laki-laki yang tengil. Entahlah.
Dia melambai begitu tatapannya menemukanku memasuki kafe. Tanpa melambai pun aku sudah tahu letaknya. Tanpa basa-basi langsung duduk. Aku ingin pembicaraan yang ingin dibicarakan Rayhan segera berakhir.
Untuk beberapa saat, Rayhan bengong melihatku. Aku tahu dia akan seperti itu. Penampilanku yang jauh berbeda dari 9 tahun lalu pasti membuatnya bertanya-tanya.
“Ika, kamu ....”
“Langsung aja, Rayhan. Kamu mau ngomong apa sama aku?”
Rayhan tampak salah tingkah. Menggaruk sebentar kepalanya, lantas membenahi posisi duduknya. Menatapku lebih serius.
“Aku kaget liat penampilan kamu.”
“Memang beginilah seharusnya penampilan seorang muslimah,” kataku menanggapi.
“Ya, kamu benar.” Rayhan terdiam beberapa detik, lalu, “Ika, aku mau ngajakin kamu rujuk.”
Aku diam beberapa saat. Mencerna ucapan yang dilontarkan Rayhan. Apa katanya? Rujuk? Dia mengajakku rujuk setelah sembilan tahun berlalu? Bukankah itu lucu?
“Kenapa kamu tiba-tiba mau rujuk sama aku?”
“Aku sadar, apa yang aku lakuin ke kamu sembilan tahun lalu itu jahat. Nggak seharusnya seorang suami kayak begitu. Aku memikirkan semuanya selama ini, Ika. Aku ingin kita balik. Aku ingin menjadi suamimu yang baik, ayah yang baik untuk anak kita, memperbaiki semuanya. Kamu nggak mau liat Sofiyah pergi sekolah diantar papanya?”
Telat banget sadarnya. Ngapain saja selama sembilan tahun baru sekarang? Bah! Jangan kira semudah itu mengembalikan kaca yang sudah pecah.
Tiba-tiba saja Rayhan beranjak, menghampiri posisiku lalu memelukku dari belakang. Eleh, eleh, apa-apaan ini?
“Aku tahu aku salah. Aku mau memperbaiki semuanya, Ika. Tolong, kasih kesempatan kedua ke aku,” katanya di telinga.
Enak saja dia main peluk-peluk. Kami sudah bercerai, dan pasangan yang bercerai bukan lagi mahram, ‘kan?
“Rayhan, tolong lepasin pelukan kamu. Kita bukan mahram, nggak seharusnya pelukan. Apalagi di tempat umum,” pintaku.
“Oh, maaf, Ika. Aku lupa.”
Lupa apa sengaja? Dasar tengil!
Rayhan kembali duduk, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Menyodorkannya ke hadapanku.
“Itu cincin nikah kita dulu. Kalau kamu setuju kita rujuk, pake itu. Kalau nggak, ya, terserah kamu mau apain.”
Aku melirik arloji di tangan kanan. Tidak boleh lebih lama dari ini.
“Aku nggak bisa kasih jawaban sekarang.”
“Kenapa?”
“Ada urusan lain yang harus segera aku tunaikan.”
Rayhan menghela napas frustrasi.
“Oke. Kamu bawa aja cincin itu. Kalau kamu udah mutusin jawabannya, kamu kasih tau aku.”
Kembali aku terdiam, memikirkan usulan Rayhan. Aku bahkan masih tidak tahu jawaban apa yang akan kuberikan pada Rayhan. Oke, hanya membawanya agar Rayhan tidak bawel sepertinya tidak masalah.
“Aku tidak bisa menjanjikan kapan memberimu jawaban. Akan kuhubungi jika aku sudah memutuskan.”
“Aku berharap yang terbaik, Ika.”
Aku mengangguk lalu pamit. Sebenarnya, aku sedikit berbohong. Aku hanya tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan Rayhan. Entah bagaimana membuatku kembali teringat masa lalu. Dinomorduakan dari PS, sakitnya melebihi apa pun menurutku. Konyol, tapi sakit.
“Sofi, Mama pulang.” Aku berseru begitu sampai rumah. Hanya saja tidak ada sahutan dari Sofi. Panik langsung menyerang, takut penyakit Sofiyah kembali.
Kuperiksa setiap ruangan. Bernapasa lega begitu menemukan Sofiyah berbalut mukena di ruang salat.
“Ya Allah, Sofiyah ingin punya ayah. Sofiyah ingin seperti teman-teman yang diantar-jemput setiap sekolah. Ingin jalan-jalan kalau liburan. Biar Mama juga nggak kerja keras kayak gini lagi. Entah Papa Rayhan kembali atau Mama menikah lagi, Sofiyah bakalan seneng banget. Ya Allah.”
Air mata berjatuhan tanpa sadar. Ya Allah, apa ini? Mungkinkah ini tanda dari-Mu jika aku harus menerima Rayhan kembali? Apakah begitu yang Kau inginkan? Tapi, apakah Rayhan sudah benar-benar berubah? Entah kenapa hatiku tidak yakin.
Sepanjang malam aku terjaga, meminta petunjuk lebih akurat untuk menentukan pilihan. Tetapi, hingga ayam berkokok dan matahari terbangun, keputusan yang benar-benar bulat belum kudapatkan.
Demi Sofiyah. Ya, hanya demi Sofiyah aku melakukan ini. Demi kebahagiaannya, kuruntuhkan ego.
“Halo, Rayhan?” Kuhubungi dia siang itu.
“Ya, Ika?”
“Kamu bisa datang malam ini? Aku akan memberikan jawabannya,” kataku memberitahu.
“Oke, oke. Aku akan datang.”
“Ini kesempatan terakhirmu, Rayhan.” Aku sedikit mengultimatum.
“Aku akan datang.” Ia meyakinkan.
Beberapa jam sebelum kedatangan Rayhan, sengaja aku mempersiapkan beberapa sajian. Ya, setidaknya sebagai langkah awal aku berdamai dengannya.
“Mau ada tamu, ya, Ma?” tanya Sofiyah menghampiriku di dapur.
“Coba tebak siapa yang mau dateng?” tanyaku dengan sedikir mengerling.
Sofiyah memiringkan kepala seraya meletakkan telunjuk di pipi. Tandanya ia sedang berpikir keras. Tampak tatapannya berbinar kemudian.
“Papa Rayhan?”
Ikatan anak dan orang tua memang tidak bisa dikelabui. Aku mengangguk sebagai balasan. Sofiyah berlarian ke sana kemari sebagai ungkapan rasa senangnya. Walau bagaimanapun, ini pertama kalinya ia bertemu dengan sang papa.
Akan tetapi, lewat tiga puluh menit dari waktu yang kami sepakati, Rayhan belum muncul juga batang hidungnya. Membuat Sofiyah menunggu dengan resah. Aku mencoba menghiburnya. Meski dalam hati berdecak kesal. Sesibuk apa sebenarnya dia? Bukankah sudah kubilang ini kesempatan terakhirnya.
Satu jam telah lewat, bertepatan dengan dering bel pintu depan. Penantian sejak tadi membuat Sofiyah berlarian untuk menyambut kedatangan Rayhan. Hanya saja, yang kami temui bukan Rayhan. Seseorang lain yang membuatku terperangah.
“Ustaz Arizal?”
Belum tuntas rasa terkejutku, dering ponsel di dalam mengagetkan untuk yang kedua kali. Berlarian aku mengahmpiri tempat di mana ponsel diletakkan. Dari Rayhan?
“Halo, Rayhan kamu di .... Apa? Baik-baik, saya akan segera ke sana.”
Panik membuatku lupa di mana meletakkan tas, kunci rumah, bahkan jaket untuk Sofiyah. Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Sofiyah. Yang jelas, dia harus ikut untuk memahami apa yang terjadi.
“Ada apa, Ika?” Ustaz Arizal bertanya begitu aku selesai mengunci pintu. Memang sejak tadi kubiarkan dia di depan pintu.
“Ya, Ma. Ada apa?” Sofiyah menimpali
“Kita ke rumah sakit sekarang. Papa Rayhan kecelakaan.”
Tidak ada tanggapan. Bahkan Sofiyah yang biasanya kepo abis hanya terdiam. Aku menuntunnya. Butuh beberapa waktu untuk menemukan angkutan umum pada jam segini. Aku tidak sangka jika Ustaz Arizal memilih mengikutiku. Keberadaannya di sini untuk apa juga aku belum memikirkannya. Kuakui, aku mengkhawatirkan Rayhan saat ini.[]

Other Stories
Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Download Titik & Koma