Pantaskah Aku Mencintainya?

Reads
4.7K
Votes
0
Parts
24
Vote
Report
pantaskah aku mencintainya?
Pantaskah Aku Mencintainya?
Penulis Rha Azhar

20. Lagi-lagi Dilamar Berondong

Begitu Silla dan Sofiyah sampai, dengan sembunyi-sembunyi dari Sofiyah, aku menceritakan semua yang terjadi. Menangis tersedu di hadapan Silla, merasa malu dengan apa yang sudah aku alami. Sementara Silla, meski terkejut, dia tidak men-judge-ku yang bagaimana-bagaimana. Silla memahami apa yang terjadi.
“Kamu cuma terjebak, Ik. Semoga Allah mengampuni. Bukannya kalau kita taubat sunguh-sungguh, kita akan diampuni? Allah Maha Pengampun, yakini itu,” kata Silla begitu ceritaku selesai. “Lagi pula, kamu sudah berubah sekarang. Lihat, kamu bukan lagi kupu-kupu malam, tapi bidadari.”
Sayang, Silla tidak bisa lama-lama. Dua hari kemudian dia kembali ke Yogyakarta. Tinggal aku dan Sofiyah di sini. Selain sibuk mengajar, aku pun sibuk menemani Sofiyah terapi. Setidaknya, setelah beberapa kali terapi, kondisi Sofiyah mulai membaik. Wajahnya tidak lagi tampak pucat. Sudah lebih bersinar. Nafsu makannya pun sangat baik.
Selain sibuk mengurusi Sofiyah, aku pun sibuk memerhatikan tingkah salah seorang muridku. Rafif. Akhir-akhir ini aku sering mendapatinya dekat dengan Sofiyah. Aku mencoba berpikiran positif, hanya saja aku justru memikirkan beragam kemungkinan dari tingkahnya itu. Dan lagi, kenapa dia ada di sini? Bagaimana dengan Mama dan Alesha, adiknya? Dia kabur dari si Maura itu, kah?
Ya, dia adalah Rafif. Kakak kandung Alesha, pemilik toko kerajinan di Malioboro tempatku bekerja sebelumnya. Alesha bilang kalau dia gay. Tapi, kok, bisa ada di sini?
Ini, sih, bukannya aku ge-er atau apa, tapi dari cara dia mendekati Sofiyah, sepertinya dia sedang menarik perhatianku. Eh? Jangan bilang kalau Rafif menyukaiku? Aduh, kenapa aku selalu berurusan dengan berondong? Alesha bilang kalau usia Rafif hanya dua tahun lebih muda dariku, itu kenapa dia ingin menjodohkanku dengan kakaknya itu. Tetap saja, berbeda dua tahun dan aku lebih tua membuatnya tetap menjadi berondong.
“Ma, Mama nggak mau nikah lagi?” Suatu waktu Sofiyah bertanya. Tumben amat, nih, anak nanyain beginian.
“Kenapa emang? Kamu mau punya papa baru?” Aku balik menanyainya.
Kepalanya mengangguk-angguk. “Yang kayak Ustaz Arizal, ya, Ma? Atau yang kayak Kak Rafif,” katanya yang membuatku tersedak. Astaga, kenapa anak ini mendadak begini.
“Kenapa ingin yang seperti mereka?”
“Ustaz Arizal dan Kak Rafif ganteng, baik, dan sering ngasih aku cokelat.” Kudapati mata Sofiyah berbinar. Wah, pasti ada sesuatu, nih.
“Mama mau milih yang mana?” Lagi, Sofiyah menanyaiku.
“Eh? Itu .... Mama nggak mikirin itu, ah.”
“Mama masih suka sama Papa Rayhan, ya?” todongnya.
Eleh, ini anak, kok, ya sok tahu banget. Bahkan, nama Rayhan seolah lenyap selama kurang lebih 8 tahun ini.
“Udah, ah. Nggak usah bahas itu. Nggak penting. Yang utama sekarang kamu sembuh dulu.” Kucolek cuping hidung Sofiyah.
“Tapi, Ma, aku nggak apa-apa kalo Mama mau nikah lagi. Mau Ustaz Arizal atau Kak Rafif, Sofiyah bakalan nerima. Mereka ganteng, sih.”
Ya Salam, ini anak kesambet apa sampai ngomongin beginian?
“Kak Rafif suka sama Mama, loh.” Matanya mengerling sebagai usaha menggodaku.
Aku mengembuskan napas. Apa yang Sofiyah katakan memang tidak salah. Aku bisa melihat gelagat pemuda itu setiap kali tatapan kami bertemu. Hanya saja, entahlah.
“Atau, jangan-jangan Mama masih suka sama cinta pertama Mama?” Aku hampir tersedak mendengar tuduhannya. Dari mana dia tahu kata itu? “Hm, siapa itu? Arizal? loh, kok, namanya sama kayak Ustaz Arizal, ya?”
Aku cengo atas pemahaman Sofiyah. Nih, anak nguping di mana?
“Sofi tahu dari mana tentang cinta pertama Mama?”
“Budhe Silla pas di perjalanan. Mama ngasih tau Budhe Silla kalau nama ustaz di sini sama kayak nama cinta pertama Mama.”
Aku menepuk dahi. Si Silla itu, ya, kenapa tidak dirahasiakan saja.
“Mama juga nggak tahu. Mama belum memastikan.”
“Kalo dua-duanya boleh nggak, ya, Ma?”
“Dua-duanya bagaimana?”
“Aku mau papaku Ustaz Arizal sama Kak Rafif juga,” jelasnya dengan wajah polos.
Ya Salam, kenapa makin ngaco obrolan ini.
“Begini, Sayang,” kupangku Sofiyah lalu membelai kepalanya. Banyak sekali kemajuan yang dialami anakku selama menjalani terapi di sini. “Seorang wanita tidak boleh memiliki dua suami.”
“Kenapa?”
“Allah nggak membolehkan, Sayang.”
Sofiyah mengangguk-angguk, entah paham atau tidak.
“Terus, Mama pilih siapa kalau begitu?”
Ampun, deh. Kenapa anakku yang malah ngebet? Sebagai tanggapan, kuangkat bahu.
“Mama nggak tahu.”
“Yaaaaa.” Wajah terlihat tidak puas. Mama masih takut untuk memulai sebuah pernikahan, Sayang. Mama perlu menyiapkan kembali hati yang pernah kosong untuk terisi, entah oleh orang baru atau orang lama.
* * *
Gerak tanganku yang sedang menilai tugas-tugas siswa terhenti, begitu mikrofon dari radio sekolah menyala. Memperdengarkan suara yang tidak asing lagi: Rafif. Di pesantren ini memang dilengkapi beberapa fasilitas untuk menumbuhkan minat para santri kepada dunia selain belajar. Selain ruang radio, ada juga ruang tetater, GOR, dan beberapa ruangan lainnya. Bahkan, ada juga ruang membatik. Jadi, jika aku merindukan Yogya, aku bisa ke sana. Rata-rata pengajarnya dari Jawa Tengah dan sekitarnya. Beberapa ada yang dari Cirebon.
“Maaf sebelumnya kalau yang saya lakukan mengganggu aktivitas pesantren. Sebenarnya, saya ingin menyampaikan langsung kepada yang bersangkutan. Cuma, saya malu. Jadi, akan saya sampaikan lewat lagu.”
Sesaat, aku merasa seperti de javu. Firasatku mengatakan jika orang yang dimaksud Rafif adalah aku. Sampai bunyi gitar mengalun, dan suara Rafif memenuhi seantero pesantren.
Tuhan memberikanku cinta
Untukku persembahkan hanyalah padamu
Dia anugerahkanku kasih hanya untuk berkasih
Berbagi denganmu
Atas restu Allah, kuingin milikimu
Ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku
Restu Allah ku mencintai dirimu
Kupinang kau dengan Bismillah
Hampa terasa bilaku tanpamu
Hidupku terasa mati jika kutak bersamamu
Hanya dirimu satu yang aku inginkan
Ku bersumpah sampai mati hanyalah dirimu ... Bu Ika
Beberapa pasang mata yang berada dalam satu ruangan langsung menolah ke arahku. Rafif membuatku dalam masalah.[]

Other Stories
Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Mission Escape

Apa yang akan lo lakukan jika Nyokap lo menjadikan lo sebagai ‘bahan gosip’ ke tetangg ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Download Titik & Koma