Penulis Misterius

Reads
1.2K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

4. Ditinggal Nikah

Jika kebanyakan gadis itu bangunnya pagi hari, nah aku justru bangun siang sekitar jam 12. Ini berlaku jika shift kerjaku masuk siang atau sore. Saat aku membuka mata, hal pertama yang aku lakukan bukannya langsung mandi atau membersihkan tempat tidur, melainkan menyalakan smartphone.
Teng…tong
Baru saja smartphone-ku menyala, sudah berbunyi. Kulirik layarnya ternyata ada 1 pesan whatsapp dari Mas Bima.
Hah? Tumben banget Mas Bima kirim pesan whatsapp? Biasanya kalau dia kangen sama aku, dia langsung datang ke rumah. Jangan-jangan dia sakit? Karena rasa penasaran yang menggebu-gebu, aku sentuh icon whatsapp di layar smartphone untuk membaca pesan dari Mas Bima.
Bad news girl, ur prince charming mau nikah bulan depan.
Mata yang tadinya setengah terpejam langsung melek ketika membaca pesan whatsapp dari Mas Bima. Aku mengerjap-ngerjap mata berharap salah lihat, namun penglihatanku tetap sama.
Prince Charming yang dimaksud Mas Bima pasti Bastian Yoel Permana, orang yang paling aku cintai selama delapan tahun ini.
Aku setengah tak percaya dengan apa yang dikatakan Mas Bima di pesan whatsapp-nya itu. Pasalnya kalau dia sudah punya calon istri dan hampir menikah, kenapa kemarin saat kencan denganku ke Pantai Parangtritis dia tak bilang sama aku? Jari-jariku mengetik balasan untuk Mas Bima.
Hah? Serius lo? Jangan bohong deh!
Langsung ada tanda centang dua berwarna biru, artinya pesan whatsapp yang kukirim telah dibaca oleh Mas Bima. Sesaat kemudian muncul lagi balasan dari dia.
Dua rius malah. Ngapain gue bohong sama lo? Kayaknya prince charming lo itu nikah karena dijodohin orang tuanya.
Aku tak membalas pesan whatsapp dari Mas Bima. Tanpa terasa air mataku mengalir deras di pipi. Hatiku perih banget mendengar kabar bahwa orang yang paling kucintai dalam hidupku akan menikah dengan cewek lain.
Ya Tuhan, baru saja aku merasa bahagia karena dipertemukan lagi dengan Bastian setelah enam tahun terpisah, kenapa sekarang dia menikah dengan cewek lain? Apakah aku tak pantas bahagia dan mendapatkan cinta sesuai keinginanku?
“Udah lo tanyain langsung sama orangnya belum? Lo sebagai kekasihnya Bastian, harus percaya sepenuhnya pada Bastian, bukan sama orang lain.”
Kata-kata Felis yang diucapkannya tujuh tahun silam kembali terngiang di telingaku. Kata-kata itu pencerahan untuk hatiku. Ya, benar dengan apa yang dikatakan Felis. Aku sebagai kekasihnya Bastian, harus percaya sepenuhnya pada Bastian, bukan sama orang lain. Walaupun Mas Bima itu kakak sepupuku, tapi tetap saja dia orang lain bagi hubunganku dengan Bastian.
Dengan cepat tangan kananku menyambar smartphone yang tergeletak di samping bantal. Aku ingin menghubungi Bastian, ingin menanyakan langsung pernikahannya itu benar atau tidak.
Baru saja aku menekan nomor Bastian, smartphone-ku sudah berbunyi. Di atas layar ada logo amplop yang menandakan ada sms masuk. Langsung kusentuh logo amplop untuk membaca pesan tersebut.
From : Bastian Yoel Permana
Halo, Risma. Kamu pasti sudah dapet undangan pernikahan dari aku kan? Aku tahu undangan itu pasti menyakiti hatimu. Tapi itulah kenyataan yang harus kamu terima. Maafkan aku karena kemarin aku nggak bilang apa-apa sama kamu tentang pernikahan ini.
Sebenarnya aku dijodohkan oleh orang tuaku, aku kembali lagi ke Indonesia karena ingin memberikan kenangan terindah dulu ke kamu sebelum aku pergi untuk selamanya.
Sekali lagi maafkan aku. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, saat hatimu terluka, percayalah akan ada malaikat yang siap mengobati luka hatimu.
Salam sayang
Bastian Yoel Permana
Terjawab sudah arti kediaman Bastian kemarin di pernikahan Keyzia. Benar dugaanku diamnya itu menyimpan sejuta misteri, seolah-olah ada yang disembunyikannya dari aku. Ternyata yang disembunyikannya itu adalah tentang perjodohannya dengan cewek lain. Lagi-lagi air mataku mengalir deras di pipiku.
Untuk mengusir kegalauanku saat ini, aku mencoba online facebook aja. Untung jaringannya lagi bagus sehingga dalam waktu beberapa detik sudah muncul beranda facebook. Tanpa sengaja aku membaca status Darwis Tere Liye, penulis novel Moga Bunda Disayang Allah.
Hakikat cinta adalah rela melepaskan. Semakin sejati ia, semakin tulus kau melepaskannya. Percayalah, jika memang itu cinta sejati kau, tidak peduli aral melintang ia akan kembli sendiri padamu.
Sanggupkah aku rela melepaskannya? Rela, satu kata sederhana yang begitu mudah diucapkan lisan namun begitu sulit dilakukan oleh hati. Ya, lisanku bisa mengatakan rela melepaskannya, tapi di lubuk hatiku terdalam tetap tak rela, bahkan aku mendoakan biar pernikahan Bastian batal.
***
Kuembuskan napas dalam hidup
Indah kesunyian dalam mimpi
Diamku seribu bahasa
Diamku menyimpan perih
Mulutku bisa berkata, aku bisa hidup tanpamu
Tapi dalam hati aku teriak
Teriak tiada henti
Aku menangis dalam kepedihan
Kesunyian yang selalu menemaniku
Aku lelah hidup dalam kesunyian
Inginku melepaskannya
Namun aku tak sanggup
Kini aku hanya bisa pasrah menerima semua ini
Kuyakin hari esok kan ada cahaya yang menerangi hidupku
Kata demi kata telah kurangkai menjadi sebuah puisi. Nggak tahu kenapa sejak ditinggal sama Bastian, aku jadi suka banget menulis puisi di laptop kesayangan. Abis mau gimana lagi, bawaan hati yang lagi galau ingin menangis terus. Hidupku hampa tanpa Bastian. Selama ini dialah semangat hidupku. Padahal sudah 3 hari pasca putusannya tapi tetap saja semangatku belum muncul
Untung bos besar tempatku bekerja baik hati dan pengertian sama karyawannya, jadi aku diizinkan cuti. Percuma juga kerja kalau pikiran nggak konsen. Pikiranku hanya tertuju pada Bastian. Ah, kenapa sih harus Bastian orang yang aku cintai? Baru aja saja aku merasa bahagia dengannya, eh sudah harus terpisah lagi.
Lumpuhkanlah ingatanku, hapuskan tentang dia
Hapuslah memoriku tentangnya.
Hilangkanlah ingatanku jika tentang dia
Kuingin lupakannya.
Aku teringat lirik lagu Geisha berjudul Lumpuhkanlah Ingatanku. Liriknya dalam dan sesuai dengan apa yang aku rasakan. Andai Tuhan bisa mengabulkan permintaan dengan cepat maka aku akan minta 2 permohonan. Permohonan pertama aku ingin agar Tuhan menghapus semua tentang Bastian dari otakku dan yang kedua aku ingin cinta di hati ini dipindahkan ke orang yang mencintaiku.
“Hay, Risma. Gue datang nih. Lo pasti kangen sama gue kan? Sorry, gue baru bisa datang soalnya gue banyak kerjaan dari bos,” terdengar suara cempreng seorang cewek. Dari suaranya aku tahu banget pemiliknya adalah Felis.
“Ris, gue datang kok lo nggak nyambut sih? Bete tau! Rasanya itu seperti sahabat yang tak dianggap.”
“Abis siapa suruh datang ke sini? Datang di saat yang nggak tepat pula. Aku kan lagi pengen sendiri,” gerutu dalam hati. Kalimat itu urung kuucapkan. Takut Felis marah. Biar bagaimanapun Felis sahabatku. Dia yang selama ini selalu ada buat aku di saat suka maupun duka.
“Sorry, Fel. Gue lagi sibuk mengetik puisi di laptop,” jawabku seadanya. Itupun aku paksakan ngomongnya.
“Sejak kapan lo suka nulis puisi? Sini biar gue lihat puisinya!” Felis merebut laptop kesayanganku. Ya sudah aku biarkan aja dia membaca puisi yang kuketik di laptop. Aku tak mau rebut balik. Kalau rebutan, bisa-bisa laptopku pecah.
Mata Felis melotot ketika dia melihat layar laptopku. “Segitunya ngeliatin puisi gue? Puisi gue keren kan?” tanyaku.
“Bukan itu, dodol. Gue itu melotot karena bingung aja hari gini masih menulis puisi galau? Capek deh!” ujar Felis. Ia menepuk jidatnya sendiri. “Kalau lo bikin puisi galau kayak gini, yang ada lo makin mewek. Mending lo sekarang lo ikut gue!”
Aku mengernyitkan dahi. “Ke mana?”
“Ada deh. Pokoknya gue bakal bawa lo ke suatu tempat yang bisa bikin hati lo nggak galau lagi.”
“Ogah ah. Gue lagi nggak mood jalan-jalan.”
“Ayolah please…” Felis mengeluarkan jurus andalannya, memasang muka memelas. Melihat wajahnya yang melas seperti pengemis aku jadi tak tega menolak ajakannya.
“Ya udah deh gue mau ikut sama lo. Tapi gue ganti baju dulu ya.”
Wajah Felis berubah jadi ceria lagi. “Oke, gue tunggu lo di luar ya? Mas Bima juga dah nunggu lo di luar.”
“Kita pergi sama Mas Bima juga?”
“Ya iyalah, kalau nggak ada dia nggak seru.”
Felis keluar dari kamarku. Aku pun siap-siap ganti baju. Mungkin benar dengan pergi bersama Felis dan Mas Bima kegalauanku bisa berangsur hilang. Ya, semoga saja seperti itu.
***
Hah? Sriwidari? Dari sekian banyak tempat yang ada di Solo, kenapa coba si Felis membawaku ke Sriwidari? Emang aku anak kecil?
Sriwidari ini bisa disebut Dufannya wong Solo. Karena di Sriwidari ini banyak wahana permainan anak-anak, seperti komedi putar, tong edan, kuda-kudaan, mobil senggol, sampai rumah hantu juga ada di sini.
“Eh, Felis lo nyebelin banget sih jadi orang. Katanya mau bawa gue ke suatu tempat yang bikin galau hilang, kenapa lo malah bawa gue ke Sriwidari? Emang gue anak kecil?” aku mulai nyerocos mengomeli Felis.
Orang yang diomeli hanya menyengir, memarkan gigi kelincinya yang putih. “Hehehe… tempat yang bisa bikin galau lo hilang ya di sini. Ayo ah kita masuk!”
Si Felis tiba-tiba menarik tanganku. Huft, menyebalkan. Heran si Felis demen banget narik-narik tanganku. Kini aku hanya bisa pasrah mengikuti langkah Felis. “Semoga Felis nggak maksa aku naik komedi putar atau apalah namanya. Pokoknya wahana permainan yang berhubungan dengan ketinggian. Pasalnya aku fobia ketinggian,” doaku dalam hati.
Tanpa terasa langkah Felis terhenti di sebuah tempat, bukan di tempat wahana komedi putar, melainkan rumah hantu. “Kita akan masuk rumah hantu ini?” tebakku.
“Emang hantu-hantu di sana bisa bikin galau gue hilang?”
“Gue pernah baca artikel di mbah Google, katanya hantu-hantu yang ada di rumah hantu Sriwidari ini penampilannya lucu banget. Siapa tau aja setelah lo liat mereka lo bisa ketawa. Kalau lo bisa ketawa otomatis kegalauan lo sedikit berkurang. Ayo ah kita masuk!”
“Wait, gue nunggu kalian di luar aja ya. Soalnya gue janjian sama temen, kalau gue masuk ntar dia ribet nyari gue,” sahut Mas Bima.
Aku tahu banget apa yang dikatakan Mas Bima tadi hanya alasan belaka. Yang sebenarnya adalah dia paling takut dengan segala hal yang berbau mistis. Termasuk yang namanya hantu.
“No, pokoknya kita bertiga harus masuk ke rumah hantu ini!”
Jika tadi Felis narik-narik tanganku, sekarang Felis justru menarik tangan Mas Bima. Sehingga mau tak mau Mas Bima harus masuk rumah hantu ini. Mendadak raut wajah Mas Bima berubah jadi pucat pasi. Dia pasti takut banget. Melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu aku jadi terkikik geli dalam hati. Seru juga ngerjain Mas Bima.
Memasuki rumah hantu ini tidak jalan kaki, tapi naik kereta api mini anak-anak. Kami bertiga memilih gerbong nomor dua dari depan. Aku memilih duduk di tengah, Mas Bima sebelah kananku sedangkan Felis sebelah kiriku.
Begitu kami naik, kereta mini ini pun melaju sendirinya. Baru saja lima menit kereta mini ini jalan, hantu-hantu mulai bermunculan. Mereka di antaranya ada pocong, kuntilanak, sundel bolong, dan tuyul. Benar apa yang dikatakan Felis, hantu-hantu di sini itu tidak seram, tapi lucu.
Berhubung suasana hatiku lagi galau, selucu apapun penampilan mereka tetap saja takkan pernah bisa membuatku tertawa. Otak dan hatiku tertuju ke Bastian Yoel Permana.
Lima belas menit kemudian kereta mini ini berhasil keluar dari rumah hantu. Mas Bima pasti senang banget karena dia terbebas dari penderitaan. Aku juga senang sih, siapa tahu setelah ini Felis mengajakku pulang.
Kereta mini ini berhenti. Mas Bima dan Felis turun duluan, setelah itu baru aku yang turun. “Felis, kita pulang yuk! Ntar gue dicariin nyokap!” ujarku beralasan. Padahal aslinya aku lagi bad mood jalan, bawaannya cuma ingin di rumah meluk guling.
Felis mengangkat tangan kanannya, lalu matanya tertuju pada jam yang melingkar. “Ah, baru juga jam satu. Kita pulang nanti sore aja. Kita ke sana dulu yuk!”
Lagi-lagi Felis menarik tanganku. Kali ini Felis akan membawaku ke mana lagi ya? Aku berdoa dengan doa yang sama saat memasuki Sriwidari.
***
Setelah Felis membawaku ke rumah hantu, sekarang dia malah membawaku ke tempat konser. Aku sendiri tak tahu konser siapa. Yang pasti tempat konser ini masih di Sriwidari. Firasatku mengatakan paling yang konser artis tak terkenal. Sriwidari mana mampu mengundang artis papan atas.
Tiba-tiba muncullah dua wanita cantik di atas panggung. Mataku terbelalak melihat mereka. Mereka tak lain dan tak bukan adalah artis idolaku, Maha Dewi. Aku mengidolakan mereka karena lagu mereka itu keren-keren, terutama yang berjudul Kosong.
“Halo, penonton. Apa kabar semuanya? Hari ini kita nyanyi bareng-bareng ya,” ujar Tata, Maha Dewi. Tak lama kemudian terdengar intro musik lagi kesukaanku, Kosong.
Di dalam keramaian aku masih merasa sepi
Sendiri memikirkan kamu
Kau genggam hati
Dan kau tuliskan namamu
Tuliskan namamu
Lagu yang dinyanyikan Maha Dewi, sama persis dengan apa yang kurasakan saat ini. Aku berada di tempat ramai, sekelilingku bernyanyi ria tapi hatiku tetap saja sepi karena memikirkan Bastian Yoel Permana. Ya Tuhan, kenapa dia susah sekali dienyahkan dari pikiran dan hatiku?
Aku tenggelam dalam lamunan tentang saat-saat terindah bersama Bastian. Detik demi detik terus bergulir. Tiba-tiba Felis mengibaskan tangannya di depan mataku. “Woy, kok lo bengong aja sih?”
Suara cempreng Felis menyadarkanku bahwa konsernya telah selesai. Sekitarku juga sudah sepi, hanya tersisa aku, Felis dan Mas Bima. “Felis, kita pulang yuk! Mendadak gue nggak enak badan nih!” ujarku berbohong.
“Ya udah deh kita pulang sekarang. Lagian sudah jam lima.”
Aku bernapas lega akhirnya Felis mau juga diajakin pulang. Ah, senangnya hatiku. Aku jadi tak sabar ingin segera sampai rumah biar bisa menangis di pelukan guling sepuasnya.
***
Gue merebahkan diri di pulau kapuk tercinta. Pandangan gue lurus ke arah langit-langit kamar. Sesekali mata gue terpejam membayangkan wajah Risma dan mengingat tingkahnya tadi siang.
“Cewek itu nggak bisa dikasih perhatian dari cowok dikit aja. Soalnya jika cowok memberikan sedikit perhatian ke cewek, maka cewek akan menganggap perhatian itu sebagai sinyal cinta.”
Kata-kata yang diucapkan temen gue waktu kuliah dulu kembali terngiang di telinga. Sepertinya kalimat itu tak berlaku untuk Risma. Pasalnya sudah sepuluh tahun gue memberikan perhatian lebih padanya namun tetap saja sikapnya cuek dan tak pernah menangkap sinyal cinta dari gue.
Gue menjambak rambut karena frustasi. “Ya Tuhan, harus dengan cara apa lagi aku bisa mendapatkan cinta Risma?”
Mendadak pikiran gue teringat sama Bastian Yoel Permana. Dari jutaan cowok di Indonesia, hanya Bastian yang berhasil menaklukkan hati Risma. Gue harus kepo-in dia tentang cara dia naklukkin hatinya Risma.
Dengan cepat tangan gue merogoh saku celana untuk mengambil smartphone. Lalu jari-jari gue menekan nomor Bastian.
Tuuuut… tuuut
Telepon dari gue belum tersambung. “Bastian, ayo dong angkat teleponnya,” gue mulai menggerutu sendiri.
“Halo, tumben lo nelepon gue. Biasanya lo cuma sms, kan lo orangnya pelit banget ma pulsa hehehe?”
“Sial, gue dikatain pelit. Kalau bukan karena ada perlu yang berhubungan dengan Risma, gue juga ogah kali nelepon dia!” maki gue dalam hati.
“Gue bukannya pelit tapi hemat. Gue nelepon lo karena pengen nanya sesuatu aja sama lo.”
“Mau nanyain apa?”
“Tentang Risma. Cara lo dapetin cinta Risma gimana sih? Gue udah sepuluh taun ngasih perhatian tapi dia tetep aja nggak menangkap sinyal cinta dari gue.”
“Nih gue kasih tau, cewek itu rasa penasarannya lebih besar dari cowok. Semakin dia penasaran, semakin besar cintanya ke cowok yang membuatnya penasaran itu.”
Gue bisa menangkap maksud ucapan Bastian. Ya, kalau gue ingin mendapatkan cinta Risma, gue harus bisa bikin dia penasaran. Tiba-tiba sambungan telepon terputus, mungkin pulsa gue habis. Sebelum nelepon tadi pulsa gue rasanya tinggal seribu perak.
Mendadak gue teringat novel gue yang terbit setahun yang lalu. Sampai detik ini tak ada satu pun yang tahu tentang identitas gue, soalnya gue make nama pena dan mencantumkan biodata di novel. Novel itu tokoh utamanya Risma dan segala karakter Risma tertulis di sana. Siapa tahu novel itu bisa bikin Risma penasaran lalu jatuh cinta sama gue, selaku penulisnya.

Other Stories
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Download Titik & Koma