Penulis Misterius

Reads
1.2K
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

6. Pdkt Dengan Penulis Misterius

Alfamart tempatku berpijak saat ini. Alfamart adalah jaringan minimarket bahan pokok sehari-hari terbaik, dengan member terbanyak di Indonesia. Berdirinya sejak tahun 1989. Aku datang ke tempat ini tentunya bersama Felis, dengan tujuan ingin belanja keperluan sehari-hari. Sebab di tempat ini, harga-harga barang yang dijual lebih murah dibanding minimarket lain.
Sebenarnya Alfamart ini jauh dari rumahku, aku harus menempuh perjalanan setengah jam naik motor dulu. Namun bagiku hal itu tak mengapa. Yang penting harga murah. Sloganku dari dulu. “Jika ada yang menjual barang lebih murah, ngapain datang ke tempat yang lebih mahal?”
“Eh, Ris. Tunggu…” ucap Felis secara mendadak. Terpaksa aku menghentikan langkah tepat di depan pintu masuk Alfamart.
“Kenapa, Fel?”
“Kayaknya gue lupa cabut kunci motor deh. Gue ke parkiran dulu ya. Lo duluan aja ntar gue nyusul.”
“Huft, penyakit pelupanya Felis kumat,” batinku kesal. “Ya, udah deh.”
Aku kembali melanjutkan langkah memasuki Alfamart. Namun sesuatu hal tak terduga terjadi. Aku berpasasan dengan Bastian. Dia tak sendiri, melainkan bergandengan tangan dengan wanita super cantik. Mungkinkah wanita itu istrinya? Kenapa aku dipertemukan dengan dia lagi? Aku tak sanggup melihatnya bermesraan dengan wanita lain.
Tik..
Air mata jatuh dengan sendirinya. Aduh, lagi-lagi aku menangis jika melihat Bastian. Ah, cengeng banget sih aku ini. Cepat-cepat aku mengusapnya.
“Inget Risma, Bastian itu jodoh cewek lain yang sempat nyasar di hati lo. Ngapain lo nangisi orang nyasar?” ujarku mencoba menghibur diri.
Aku pura-pura tak melihatnya. Ketika aku mulai melangkahkan kaki lagi, aku merasakan lengan kanan disentuh oleh sesuatu. “Tunggu, Ris. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.”
Deg!
“Aduh, ngapain sih dia makai nahan aku segala? Belum puaskah dia nyakiti hatiku?”
Aku melepaskan tangan Bastian dengan kasar. “Lepas. Hanya kekasihku yang boleh menyentuh tanganku. Dan kamu bukan kekasihku lagi,” aku pura-pura jutek padanya, padahal dalam hati bahagia sekali Bastian menyentuh tanganku lagi, walau sesaat.
“Maaf, aku nggak ada waktu untuk bicara denganmu.”
“Nggak akan lama. Hanya lima menit.”
Aku terdiam sejenak memikirkan mau atau tidak bicara dengan Bastian. Setelah dipikir-pikir akhirnya aku menganggukkan kepala tanda memenuhi permintaannya.
“Kalau gitu kita bicara di sana aja yuk? Nggak enak bicara di depan pintu,” tangan Bastian menunjukkan pohon mangga yang ada di pojok parkiran sana. Lagi-lagi aku menuruti permintaan Bastian.
Aku mengikuti langkahnya dari belakang. Hingga akhirnya sampailah di tempat yang dimaksud Bastian tadi. “Nah, sekarang cepat bilang kamu mau bicara apa!” tanyaku langsung to the point.
“Aku cuma ingin bilang bahwa aku bukan penulis novel Malaikat Patah Hati seperti yang kamu kira.”
Mataku membulat, kaget dengan apa yang diucapkannya. “Kok kamu tahu aku mengira kamu penulis novel Malaikat Patah Hati?”
“Kamu nggak perlu tahu mengapa aku bisa mengetahui hal itu! Yang jelas aku bukan penulis novel Malaikat Patah Hati.”
“Kalau bukan kamu penulis novel itu, kenapa kamu mengirimkan sms terakhir menggunakan kalimat yang sama persis dengan tagline novel itu?”
“Kemarin itu aku iseng aja ngucapin kalimat itu lewat sms.”
Setelah berkata demikian, Bastian pergi dari hadapanku. Dia kembali menggandeng kekasihnya. Sedangkan aku masih berdiri memaku menatap kepergian mereka. Rasa nyeri di hatiku terasa lagi. Bastian tadi berbicara denganku seolah-olah kita tak pernah menjalin hubungan.
Jika Bastian bukan penulis novel Malaikat Patah Hati, lalu siapa? Hancurlah sudah harapanku untuk bisa bersatu kembali dengan Bastian.
***
Sudah jam 12 malam, aku masih saja terjaga. Mungkin karena otakku sibuk memikirkan perkataan Felis tadi malam. “Ratusan penulis ada di twitter gue dan sering mention-mentionan sama gue, kecuali penulis novel ini. Dia kalau gue mention nggak pernah balas.”
Masa sih dia nggak pernah balas mention dari pembacanya? Pembaca itu kan jantung hati penulis, harusnya dia komunikasi sama pembaca juga dong?
Berbagai pertanyaan bersarang di otak dan hatiku. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, aku ingin membuktikan sendiri ucapan Felis tadi malam.
Dengan sigap aku bangkit dari tempat tidur lalu menyambar laptop kesayangan dan modem yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Entah sudah berapa lama laptop ini tak terjamah olehku.
Pertama-tama aku mengirim pulsa dulu ke nomor modem. Kebetulan usaha sampinganku itu jualan pulsa jadi tak perlu pusing mencari pulsa malam-malam gini. Yes, pulsa sudah masuk, barulah aku melancarkan misi mencari tahu tentang penulis misterius itu dengan online di facebook dan twitter.
Untung sinyal modem lagi baik jadi online bisa lancar. Hanya dalam waktu beberapa detik aku sudah masuk ke beranda facebook dan twitter. Jari-jari tanganku menari lincah di keyboard laptop untuk mengetik nama Pangeran Cinta di kolom pencarian facebook.
Ada lima akun facebook yang menggunakan nickname Pangeran Cinta. Aku memperhatikan satu per satu foto profil akun-akun tersebut. Akun satu sampai empat foto profilnya hanya gambar meme kartun, sedangkan akun terakhir memakai foto profil cover novel Malaikat Patah Hati. Hatiku yakin akun penulis misterius itu akun yang nomor lima. Langsung saja aku klik akun tersebut.
Melihat kronologi akun facebook-nya ternyata sudah berteman dengan akun-ku. Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Kapan aku menambahkan permintaan pertemanan ke akun-nya? Apa mungkin Felis yang menambahkan permintaan pertemanan ke dia memakai akun-ku? Ya, Felis memang sering memakai akun facebook-ku jika akun facebook-nya eror.
Aku pun tak memusingkan hal itu. Aku bersyukur, itu artinya aku bisa langsung mengirimkan pesan.
Hey
Hanya satu kata yang aku layangkan. Aku berharap pesanku segera dibalas. Ada tanda bulatan kecil warna hijau di samping nickname-nya, yang menandakan dia lagi online.
Hey juga
Jantungku rasanya mau lompat-lompat ketika membaca balasan dari penulis misterius itu. Ini benar-benar di luar dugaanku. Benar tebakanku tak pernah meleset. Mana mungkin seorang penulis cuek terhadap pembaca? Bisa jadi mention Felis selama ini tak pernah dibalas karena mention-nya kelelep saking banyaknya pembaca yang mention dia.
Semangat 45 aku membalas pesan penulis misterius itu.
Kakak, kenalin aku Risma pembaca novel Malaikat Patah Hati. Wah, novel kakak keren banget. Aku suka deh.
Awal-awal chat sama orang pastilah aku basa-basi dulu. Tak mungkin kan jika langsung kepoin dia tentang identitasnya. Perlahan tapi pasti. Itulah yang kulakukan sekarang. Penulis misterius itu membalas pesanku lagi.
Wah, makasih ya sudah membaca novelku. Maaf jika mengecewakan.
Kurasa basa-basinya sudah dulu. Sekarang baru deh mulai kepo.
Kakak aku boleh nanya sesuatu nggak?
Muncul pesan dari dia lagi.
Pangeran Cinta : Boleh, nanya apa?
Aku : Ide cerita novel itu dari mana sih?
Pangeran Cinta : Dari wanita yang sangat kucintai. Dia malaikat untukku, namun dia juga membuatku patah hati. Makanya judul novelnya Malaikat Patah Hati.
Layar laptop tiba-tiba meredup, kulirik bagian pojok bawah sebelah kiri laptop. Ternyata baterai laptop lemah. Mendadak laptop mati dengan sendirinya. Ah, sial. Kenapa harus mati sekarang? Padahal tadi aku ingin menanyakan “Apakah nama tokoh di novel itu benar-benar ada dalam hidup kakak?”.
Segala yang terjadi di dunia sudah diatur oleh Tuhan. Mungkin belum saatnya aku mengetahui siapa penulis misterius itu. Aku berharap dia masih mau membalas pesanku agar aku segera mengetahui identitasnya.
***
Seperti biasa, sore-sore sekitar jam empat aku duduk manis di teras rumah, sambil menunggu kedatangan Felis dan Mas Bima. Mereka berdua selalu datang ke rumahku di jam segini, hanya sekadar ngobrol atau makan cemilan.
Mas Bima selama seminggu ini dia tak pernah kelihatan lagi batang hidungnya. Ke mana dia? Apakah sibuk ngurus kafe Om Raihan? Aku jadi kangen sama dia, lebih tepatnya kangen sama ice cream-nya. Mas Bima kalau datang ke rumahku selalu bawa ice cream.
Aku melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan, jarumnya telah menunjukkan jam empat lewat lima belas menit. Mereka berdua belum datang juga, aku pun memanfaatkan waktu dengan berselancar di dunia maya.
Aku ingin melanjutkan obrolan dengan penulis misterius itu. Sayang, dia lagi gak online. Namun aku tetap mengirimkan pesan padanya, siapa tahu nanti malam dia membalas pesanku.
“Apakah nama tokoh di novel itu benar-benar ada dalam hidup kakak?”
“Assalamualikum…” terdengar suara dua orang, yang satu cewek yang satunya lagi cowok. Pemilik suara cewek itu sudah bisa dipastikan si Felis. Pucuk dicinta ulam pun tiba. “Eh, Mas Bim. Panjang umur lo. Baru aja gue omongin dalam hati eh dah nongol. Ke mana lo selama seminggu ini nggak pernah ke rumah gue?”
“Biasa, disuruh bokap ngurus kafe. Selama seminggu ini kafe penuh pengunjung. Kenapa? Kangen sama gue?”
“Iya sih kangen. Kangen sama ice cream tapinya bukan sama lo. Hahaha…” Mas Bima memanyunkan bibirnya. Aku senang bukan main, berhasil membuat Mas Bima jengkel. “Mas Bim, lo bawa ice cream nggak nih hari ini?”
“Ya, tentu bawa dong. Nih,” Mas Bima menyodorkan kantong plastik yang dipegangnya kepadaku. Kuintip dulu isinya. “Huwaaa… ice cream Magnum. Makasih Mas Bim. Tahu aja kalau aku lagi pengen makan Magnum.”
“Ya, tau dong. Apa sih yang gue nggak tau dari lo?”
“Eh, Ris. Tumben ada laptop di teras rumah, biasanya laptop lo cuma nangkring cantik di kamar.”
“Tadi nunggu kalian datang, gue memanfaatkan waktu online di facebook.”
“Lo dah nemuin gebetan baru di facebook makanya lo rajin online facebook?”
“Mulai deh sok taunya kumat. Gue tuh online facebook karena chat sama penulis misterius itu.”
“Nggak bakal dibales deh chat lo.”
“Kata siapa? Dia baik kok. Tadi malam aja gue chat langsung bales. Nih buktinya,” Aku menunjukkan isi chatting-an sama penulis misterius itu. Mata Felis tak berkedip, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ajib bener lo Ris. Dari ribuan pembaca novelnya cuma chat lo yang dibales sama dia.”
“Nggak mungkin ah dia pilih kasih sama pembacanya. Bisa jadi dia nggak bales karena chat pembaca lain kelelep gitu.”
“Wait, kalian ngomongin apa sih? Dari tadi nyebut-nyebut penulis misterius, emang penulis misterius itu siapa?” sahut Mas Bima.
Aku menepuk jidat. Aku lupa bahwa Mas Bima belum tahu tentang penulis misterius itu, habis dia sibuk di kafe. Dengan terpaksa aku menjelaskan secara panjang lebar awal aku mengetahui si penulis misterius itu. “Gitu ceritanya. Menurut lo gimana, wajar nggak sih penulis menyembunyikan identitasnya dan tak pernah berkomunikasi dengan pembacanya?”
“Menurut gue wajar aja. Mungkin dia menyembunyikan identitasnya karena nggak mau terkenal. Nah, kalau soal komunikasi sama pembaca mungkin aja dia dasarnya pendiam dan jarang ngomong sama orang lain.”
“Berhubung chat lo dibales sama dia, ini bisa jadi kesempatan emas buat lo.”
“Kesempatan apa coba?”
Felis membenarkan posisi duduknya. Tak lama kemudian tangannya nyentuh-nyentuh dagunya sendiri. “Kesempatan buat lo ajakin dia ketemuan.”
Mataku berbinar mendengar ucapan Felis barusan. Diajakin ketemuan? Idenya Felis boleh juga. Dengan diajakin ketemuan maka segala rasa penasaranku akan hilang. Jari-jariku kembali mengetik chat untuk penulis misterius itu.
Kakak, kita ketemuan yuk! Aku mengidolakan kakak, pengen minta tanda tangan dan foto bareng ma kakak. Boleh ya please…
“Gue rasa dia nggak akan mau deh lo ajakin ketemuan,” sahut Mas Bima.
“Kenapa nggak mau diajakin ketemuan?”
Raut wajah Mas Bima berubah, seperti sedang berpikir keras. Aku sendiri tak tahu Mas Bima sedang berpikir apa. “Seperti kata gue tadi, dia menyembunyikan identitasnya karena nggak mau terkenal. Jadi gue pikir mustahil banget dia mau diajakin ketemuan.”
Jawaban Mas Bima cukup masuk akal sih. Tapi entah mengapa hatiku mengatakan jawaban Mas Bima itu bohong. “Aku harus mencari tahu kebenarannya,” tekadku dalam hati.
***
Aku ingin kau menerima seluruh hatimu
Aku ingin kau mengerti di jiwaku hanya kamu
Namun bila kau tak bisa menerima aku
Lebih baik kuhidup tanpa cinta
Lagu Yovie N Nuno berjudul Tanpa Cinta mengalun indah di telinga gue. Lagu itu pula yang membuyarkan seluruh mimpi indah gue.
“Aduh, siapa sih yang pagi-pagi nelepon? Ganggu gue tidur aja!” gue ngedumel tak jelas. Dengan mata terpejam tangan gue meraba-raba mencari HP. Tak berapa lama HP telah berhasil dalam genggaman. Cepat-cepat menekan tombol Answer. Gue sudah hafal pencetan tombol HP jadi tanpa melihat pun sudah tahu letak tombol Answer.
“Halo, selamat pagi. Apa benar Anda Pangeran Cinta, penulis novel Malaikat Patah Hati?” tanya seseorang di seberang telepon.
“Iya benar. Anda sendiri siapa?” gue balik bertanya padanya.
“Saya Dhea, dari penerbit yang menerbitkan novel Anda.”
“Oh iya. Anda pasti menelepon saya karena ingin memberi kabar bahwa royalti saya sudah terbit kan?”
“Bukan, saya menelepon Anda karena kemarin ada yang ingin sekali Anda menjadi pembicara di seminar yang mereka adakan. Apakah Anda bersedia?”
“Hah? Jadi pembicara di seminar, Anda serius?” pekik gue kaget mendengar apa yang diucapkannya. Refleks gue melompat dari tempat tidur, lalu mondar-mandir tak jelas di sekitar tempat tidur. Gue tak tahu harus jawab apa. Aduh, gue terima nggak ya? Inilah yang biasa gue lakuin kalau lagi bingung.
Bayangan Risma tersenyum manis terlintas di pikiranku. Dia kemarin sore begitu berhasrat ingin bertemu dengan penulis novel Malaikat Patah Hati. Gue menjambak rambut sendiri. Ya Tuhan, apa ini waktu yang tepat Risma dan semua pembaca mengetahui identitas gue?
“Tolak aja tawarannya, bikin orang penasaran itu seru loh,” logika gue mulai berbicara.
“Jangan dengarkan dia, dengarkan aku sebagai kata hatimu. Sepuluh tahun kamu menyembunyikan aku dari Risma, aku sakit dan terluka. Aku butuh tempat berlabuh, aku ingin berlabuh di hatinya Risma. Kalau kamu tidak melakukannya sekarang, maka kamu akan kehilangan Risma selamanya,” kata hatiku tak mau kalah dari logika.
“Halo, Mas Pangeran Cinta… Anda masih di sana kan? Gimana bisa tidak Anda jadi pembicara di acara seminarnya?”
Gue menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Gue sedikit tenang dan pastinya sudah menemukan jawab yang tepat. “Baiklah, saya bersedia.”
Itulah keputusan yang gue ambil. Gue memilih mengikuti kata hati karena gue yakin hati tak pernah salah. Jika gue tidak melakukannya, menyatakan cinta ke Risma sekarang maka gue akan kehilangan Risma selamanya. Gue tak mau hal itu terjadi lagi, cukup sekali gue kehilangan Risma.
Rencananya gue bakal menyatakan cinta ke Risma saat acara seminar itu. Biar orang-orang tahu bahwa Risma adalah sumber inspirasi gue.

Other Stories
Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Download Titik & Koma