7. Malaikat Itu Kamu
Selain ice cream, ada lagi makanan yang paling kusuka yaitu bakso. Kata mama, waktu beliau hamil aku, beliau selalu ngidam makan ice cream dan bakso setiap hari. Karena hari ini lagi pengen makan bakso makanya aku mendatangi café bakso Kadipolo. Di café ini baksonya gede-gede dan banyak pula, sekitar 10 biji. Kelezatan baksonya pun tak bisa digambarkan oleh kata-kata. Pokoknya lezat bertubi-tubi.
“Mbak, baksonya seperti biasa ya?” ujarku memesan bakso ke pelayan kafe ini.
Satu lagi kelebihan kafe ini, pelayanannya cepat. Baru saja aku memesan, pelayan sudah menghampiriku dengan membawa bakso pesananku. Cacing-cacing di perut sudah tak sabar mencicipi kelezatan bakso ini.
Tangan kananku menyendok mie dan suunnya sedangkan tangan kiriku menusuk bakso menggunakan garpu. Aku menyuap secara bergantian. Hemmm… yummy. Di tengah asyiknya menikmati hidangan bakso, aku merasakan seseorang menyentuh pundakku.
“Apa sih colek-colek. Ganggu orang makan bakso saja,” aku mulai mengomel. Tak ada jawaban darinya. Yang ada dia mencolekku lagi. Mau tak mau aku menoleh ke samping.
Kini aku bersebelahan dengan cowok yang sepertinya sudah tak asing lagi di mataku. Cowok itu berkulit putih, tinggi, berbadan tegap, alisnya tebal tapi sayang wajahnya bercahaya. Lagi!
Ini kedua kalinya aku bertemu dengan cowok itu. Pertemuan pertama di mimpi semalam. Aku masih ingat di mimpi dia sempat mengucapkan, “Aku akan muncul lagi di depanmu di waktu yang tepat.”
“Eh, kemarin kan kamu bilang ma aku di mimpi bahwa jika kamu muncul lagi di depanku maka kamu akan mengatakan siapa dirimu sebenarnya.”
“Ya, aku muncul lagi karena ingin memberitahukan ke kamu bahwa inilah saat yang tepat kamu mengetahui siapa aku sebenarnya.”
“Kalau begitu cepat katakan! Aku sudah tak sabar mendengarnya.”
“Sebenarnya aku adalah…” kalimatnya terhenti. Aku semakin penasaran, ayo dong lanjutin kalimatnya.
Tiba-tiba bumi yang aku pijaki saat ini bergoyang hebat. Satu per satu benda yang ada di depanku seperti botol saus, kecap, sambal berjatuhan dari meja. Astaga, ini gempa bumi. Jangan-jangan Gunung Slamet mau meletus. Jerit dan tangis terdengar di mana-mana. Orang-orang yang ada di kafe ini berlarian ke sana kemari, tentunya mereka sibuk menyelamatkan diri.
Seketika mataku terbuka lebar. Aku bengong ketika mendapati diri sendiri berebah di tempat tidur. Dan di depanku sudah ada Felis berdiri sambil berkacak pinggang. “Akhirnya lo bangun juga. Sudah setengah jam gue bangunin lo, tapi lo nggak bangun-bangun.”
Barulah aku sadar yang bergoyang hebat tadi bukan gempa bumi, melainkan Felis yang menggoyang-goyangkan tubuh agar cepat bangun. “Eh? Yang tadi itu cuma mimpi? Heran deh gue kenapa coba dia suka banget muncul di mimpi gue,” ucapku pelan.
Felis mempunyai kelebihan khusus yang terletak di indra pendengarnya. Sepelan apapun yang dikatakan orang terdekatnya, pasti tetap terdengar di telinganya. “Lo mimpiin cowok? Cakep nggak cowoknya? Terus namanya siapa?”
“Wajahnya bercahaya. Saking bercahayanya, wajahnya nggak keliatan jelas di mata gue.”
“Jangan-jangan cowok yang ada di mimpi lo itu jodoh lo. Kata nenek, jika kita memimpikan cowok yang tidak dikenal sampai dua kali berarti dia jodoh kita.”
Ya, semoga saja cowok di mimpi itu adalah jodoh gue. Dia mampu mengobati luka hati gue yang ditorehkan oleh Bastian.
“Eh, lo sendiri ngapain datang ke sini pagi-pagi? Bukannya sekarang giliran lo yang shift pagi?”
Aku mengalihkan pembicaraan, tak ingin membahas cowok di mimpi itu lagi. Semakin aku membahasnya, semakin aku penasaran terhadapnya.
Aku dan Felis satu kantor, sama-sama bekerja di sebuah perusahaan pemasaran produk makanan. Shift aku bergantian dengan Felis. Jika aku masuk shift pagi berarti Felis masuk shift siang.
Felis menepuk jidat sendiri. “Oh iya gue lupa bilang tujuan gue ke sini. Gue sengaja cuti dari kantor karena pengen ngajakin lo datang ke acara seminar.”
“Seminar apa coba?”
“Wait…” Felis terlihat sedang sibuk mengobok-obok isi tasnya. Sedetik kemudian dia mengeluar selembar kertas dari tas. Selembar kertas itu diberikannya padaku.
Hadirilah!
Acara seminar kepenulisan di Gedung Walikota Solo dengan pembicara Pangeran Cinta, penulis novel Malaikat Patah Hati.
Akan ada doorprise dan hadiah menarik juga loh! Acara berlangsung pada hari Jumat, 27 Maret 2015 pukul 09.00-11.00 WIB.
Aku mengucek mata berkali-kali, tak percaya dengan apa yang tertulis di brosur itu. “Iya Risma, lo nggak salah liat. Penulis misterius itu mengadakan seminar hari ini. Lo pasti mau kan nemenin gue ke acara seminar itu?”
Cowok di mimpiku tadi mengatakan bahwa sekarang waktu yang tepat aku mengetahui siapa dirinya. Apa jangan-jangan cowok yang ada di mimpiku itu sebenarnya adalah penulis novel Malaikat Patah Hati.
Untuk menemukan jawabannya, aku harus datang ke acara seminar itu. Secepat kilat aku bangkit dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
“Woy, mandinya jangan lama-lama ya. Gue tungguin lo di luar!” teriak Felis.
Aku nyengir kuda, Felis tahu aja kalau aku mandinya lama sekitar dua zaman. Tapi demi penulis misterius itu, aku rela mempercepat mandi. Aku pastikan lima belas menit saja sudah selesai.
***
Terjebak dalam keruhnya jalanan yang padat tanpa jeda. Merayap perlahan beranjak hanya sejengkal. Terdiam menatap nanar alam menangis dari balik jendela kaca yang tak utuh lagi. Dan embusan gerimis mengintip lalu menamparkan dingin di wajah lelahku. Ah, sial. Mobilku sama sekali tak bisa bergerak.
Terjebak macet adalah hal paling membosankan dalam hidupku setelah menemani Felis creambath di salon. Kenapa pake macet segala sih? Tak tahukah kalau aku sedang diburu waktu? Tumben-tumbenan Kota Solo macet, jangan-jangan di depan sana terjadi sesuatu.
Saat macet seperti ini justru menjadi ladang rezeki bagi pengamen, pengemis, pedagang asongan dan tukang koran. Melintaslah tukang koran di samping kanan mobilku. Aku membuka kaca mobil. “Mas, di sana ada apa yak kok jadi macet?” tanyaku pada tukang koran itu.
“Di depan sana ada kecelakaan, Mbak. Kepalanya sampai pecah.”
Terjawab sudah penyebab macet ini. Aku bergidik ngeri ketika mendengar kepala orang yang kecelakaan itu pecah. “Ya Tuhan. Semoga mobil ambulance segera datang, jadi korban kecelakaan bisa cepat dibawa ke rumah sakit dan nggak macet lagi,” aku berdoa dalam hati.
“Mas, korannya satu ya? Berapa harganya?”
Sebagai rasa terima kasihku karena tukang koran memberikan info tentang kecelakaan di depan sana, aku pun membeli koran dagangannya. “Cuma lima ribu rupiah, Mbak.”
Maka terjadilah transaksi jual-beli Koran. “Makasih, Mbak.”
Tukang koran itu berlalu, aku menutup kaca mobil. Huft, membosankan. Enaknya ngapain ya? Felis, siapa tahu dia bisa menghilangkan rasa bosan ini. “Fel, temenin gue ngobrol dong. Gue bete nih,” ucapku. Namun tak ada jawaban darinya.
Perasaan dari awal aku mengendarai mobil dia sama sekali tak bersuara? Ada apa dengannya? Biasanya jika di dalam mobil, mulutnya tak pernah berhenti berbicara.
Aku menoleh ke samping memastikan Felis masih hidup atau tidak. Dan ternyata dia lagi enak-enakan tidur. Hilanglah harapanku untuk mengajaknya ngobrol biar tak bosan. Ya, sudahlah aku tak tega membangunkannya.
Aku mencari cara lain untuk mengusirkan rasa bosan ini. Musik, satu kata yang terlintas di pikiranku. Ya, memang musik memang mempunyai kekuatan magic yang bisa menghilangkan rasa lelah dan bosan.
Aku meraih smartphone, lalu mengotak-atiknya untuk memilih lagu apa yang enak didengar saat ini. Setelah cukup lama, akhirnya pilihanku tertuju sama lagu-lagu Malaysia. Sudah lama aku tak mendengarkan lagu-lagu Malaysia yang ngetren di era tahun sembilan puluhan. Aku menyentuh tulisan Play di layarnya dan kemudian memasang headset.
Alangkah hancur dan berkecainya hatiku
Bila ku terdengar berita perkahwinanmu
Gementar hatiku diam tak terkata
Menahan sebaknya di dada
Tahukah engkau sesungguhnya hati ini
Masih lagi menyayangi dan merinduimu
Dan belumpun sempat ku membalut luka
Kau menambahkan lagi kelukaan ini sampai hatimu
Setelah kian lama terpisah kuharap akan bertemu lagi
Puaslah aku menunggumu namun kau masih membisu
Rupanya engkau sudahpun ada pengganti diriku
Patutlah kau tak pedulikan ku
Oh berderai air mataku mengiringi hari persandinganmu
Walaupun pahit kenyataan ini terpaksa aku hadapi
Kenangan lalu terimbas kembali
Terhiris hatiku……kau masih kusayang…terhiris hatiku…
Lagu Lestari berjudul Air Mata di Hari Persandinganmu mengalun indah di telingaku. Ya, lagu itu lagu pertama yang aku dengarkan. Musik lagu yang sangat mellow, mendayu-dayu, liriknya juga menyentuh hati.
Aku sendiri tak tahu mengapa memilih lagu ini. Mungkin karena lirik lagunya sama persis dengan yang kurasakan, ditinggal nikah oleh orang yang kucintai. Ah, aku galau lagi. Selalu ada saja yang membuatku ingat dia lagi.
Aku mengetuk-ngetuk setir mobil. Kemudian kulirik jam di pergelangan tangan kananku. Jarum jam telah menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Itu artinya sudah setengah jam aku telat datang ke acara seminar penulis misterius itu.
“Ya, Tuhan restui aku bertemu dengan penulis misterius itu. Aku mohon buatlah jalanan ini agar tak macet lagi,” lagi-lagi aku berdoa dalam hati.
Tuhan memang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebab Dia mengabulkan doaku dalam sekejap. Mobil yang ada di depanku kini mulai jalan lagi. Aku pun tancap gas melajukan mobil. “Alhamdulillah, akhirnya sudah nggak macet lagi. Penulis misterius, tunggu aku. Aku akan segera datang.”
Baru lima menit mobilku jalan lagi, aku menambah kecepatan. Tentunya agar cepat sampai. Satu belokan lagi. Aku akan mengetahui siapa penulis misterius itu. Begitu bertemu dengannya aku akan minta tanda tangan dan foto bareng dengannya.
Entah datang dari mana, ketika memasuki belokan tiba-tiba ada truk batubara di depan mobilku. “Risma, awas!” teriak Felis. Aku langsung banting ke kiri untuk menghindari tabrakan dengan truk itu. Aku pikir semua akan baik-baik saja begitu terhindar dari kecelakaan bersama truk. Namun ternyata…
Bruk! Jedduk!
Aku tak melihat di sebelah kiri ada pohon besar sehingga tabrakan dengan pohon tak bisa dihindari. Aku mengusap kepala yang habis kejedot setir mobil.
Rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalaku. Ada apa dengan kepalaku? Bukan hanya itu saja, perlahan pandangan mataku pun mulai mengabur. Dalam waktu sedetik semuanya menjadi gelap. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi.
***
Kecewa, satu kata yang pas untuk menggambarkan apa yang gue rasakan saat ini. Apa yang gue rencanakan matang-matang tak berjalan sesuai harapan. Ya, memang acara seminar penulisanku berjalan dengan lancar, tanpa hambatan apapun, namun orang yang aku cintai tak hadir di acara ini.
Kemarin gue berencana akan menyatakan cinta ke orang yang gue cinta tepat di acara seminar, biar semua orang tahu bahwa dialah malaikat dan sumber inspirasi gue. Apalah artinya seminar tanpa kehadirnnya?
Gue mengacak rambut frustasi. “Risma, lo ke mana? Bukannya lo ngebet banget pengen ketemu penulis misterius, tapi kenapa lo nggak datang ke acara seminar ini?”
Drrrttt… drrrttt
Gue menyadari ada sesuatu yang bergetar di saku celana. Gue rasa itu getaran dari smartphone menandakan ada telepon atau sms. Tangan kanan gue merogoh saku, lalu mengambil benda yang bergetar itu.
Saat benda itu sudah ada dalam genggaman, gue melirik ke arah layarnya. Ya, tertera nomor tidak dikenal memanggil. Gue mengangkat sebelah alis. Itu nomor siapa ya? Gue angkat atau nggak ya?.
Gue aslinya lagi malas banget angkat telepon orang apalagi dari nomor yang tidak dikenal. Sisi hati gue yang lain justru memaksa gue buat angkat telepon itu. Dengan berat hati akhirnya gue angkat juga. “Selamat siang. Dengan siapa dan di mana?”
“Saya dari rumah sakit. Apakah Anda mengenal Felis dan Risma?”
Gue panik bercampur gelisah mendengar kata rumah sakit, Felis dan Risma. “Iya betul. Ada apa dengan Felis dan Risma?”
“Felis dan Risma mengalami kecelakaan, mereka menabrak pohon. Saat ini mereka dirawat di rumah sakit PKU Muhammadiyah.”
“Oke, saya segera ke sana.”
Terjawab sudah penyebab Risma tak datang ke acara seminar gue, rasa kecewa yang tadi bersarang di hati kini berganti rasa khawatir. “Ya, Tuhan. Selamatkanlah Risma, aku tak ingin kehilangannya.”
***
Gue berdiri tepat di sebuah kamar. Di pintunya tertulis “Firdaus”. Ya, tak salah lagi ini pasti kamar di mana Risma dirawat sesuai dengan apa yang dikatakan suster tadi. Perlahan gue membuka pintu kamar.
Terlihat Risma lagi panik, dia berusaha melepas selang infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya. Ini harus dihentikan. Bergegas gue menghampirinya.
“Ris, gue mohon jangan lepas selang infus itu. Kondisi lo masih belum sembuh,” Gue berusaha menahannya untuk tidak melepaskan selang infus itu.
“Mas Bima, gue harus buru-buru pergi. Ribet tau ke mana-kemana bawa selang infus.”
“Emang lo mau ke mana sih? Lo kan masih sakit.”
“Gue mau pergi ke acara seminar penulis misterius itu. Gue penasaran banget sama dia.”
“Nggak usah, Ris.”
“Kenapa nggak usah?”
“Bentar lagi juga lo akan mengetahui siapa penulis misterius itu tanpa lo pergi ke acara seminar itu. Lagian acara seminar itu sudah kelar.”
“Maksud lo apa? Kok lo tau acara seminar udah kelar?”
Gue rasa inilah saat yang tepat untuk mengaku ke Risma bahwa gue adalah penulis misterius itu. Tapi apa dia percaya dengan ucapan gue? Ah, gue jadi bimbang sendiri. Gue harus berpikir dulu kalimat apa yang pas agar dia percaya.
“Dari wanita yang sangat kucintai. Dia malaikat untukku, namun dia juga membuatku patah hati. Makanya judul novelnya Malaikat Patah Hati.”
Gue berharap saat kecelakaan tadi kepala Risma tak terbentur, sehingga dia bisa mengingat kalimat yang gue ucapkan adalah kalimat yang gue tulis saat chat dengan Risma sebagai Pangeran Cinta.
Risma menatapku tajam. Tatapannya justru membuat jantung gue semakin berdebar-debar. “Wait, lo kok bisa ngucapin kalimat itu? Jangan-jangan…”
Sebelum gue berkata jujur, terlebih dahulu gue menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan. “Iya Risma, akulah penulis misterius itu.”
Gaya bahasa bicara gue ke Risma berubah, tidak lagi memakai lo-gue, melainkan memakai aku-kamu biar lebih romantis.
Pletak!
Walaupun Risma lagi sakit dia tetap bisa menjitak kepala gue. Gue nyengir kuda sambil mengusap kepala. “Apaan sih main jitak-jitak kepala orang aja?”
“Itu akibat karena Mas Bima curang. Masa jadi penulis nggak bilang-bilang sama gue?”
“Kalau aku bilang namanya nggak surprise.”
“Mas Bima gue mau nanya, kok lo bisa bikin novel kayak gitu sih? Lo kan nulisnya tahun lalu, sedangkan kejadian gue ditinggal nikah Bastian baru aja.”
“Sebenarnya aku punya kelebihan khusus yaitu bisa mengetahui apa yang belum terjadi.”
“Astaga, Mas Bima… lo kok pinter banget sih nyembunyiin rahasia ama gue. Sekarang bilang rahasia apa lagi yang lo sembunyiin dari gue? Jangan ada dusta di antara kita!”
Jika tadi gue mengaku ke Risma tentang identitas gue sebagai penulis, kini saatnya mengakui perasaan gue ke dia. Mendadak lidah gue kelu, tak ada satu pun kata yang berhasil keluar dari mulut gue. Gue menggaruk kepala bagian belakang bawah. Menyatakan cinta ternyata tidak semudah yang dikira.
“Bismillahirrahmanirrahim. Ya, Tuhan lancarkanlah kalimatku untuk menyatakan cinta ke dia,” gue berdoa dulu.
“Ada satu rahasia lagi yang aku sembunyikan ke kamu selama sepuluh tahun ini. Aku mencintaimu, Risma.”
Ajaib, kalimat itu keluar dengan sendirinya dari mulut gue. Mungkin karena kekuatan doa. Mata Risma membulat, seolah-olah tak percaya dengan apa yang gue ucapkan. Dia menyentuh jidat gue. “Mas Bima lo lagi sakit ya?”
Gue menepiskan tangan Risma lalu menaruh tangannya di dada gue. “Aku serius Risma. Dengarkanlah suara hatiku yang terus memanggil namamu.”
“Kalau lo cinta sama gue, kenapa nggak bilang dari sepuluh tahun yang lalu sih?”
“Delapan tahun yang lalu aku sempat berniat mengungkapkan cinta ke kamu namun ternyata aku telat. Kamu telah menemukan malaikatmu. Malaikat yang selalu bisa membuatmu bahagia, malaikatmu itu bernama Bastian.”
Gue berhenti sejenak sambil mengatur napas dulu. “Sekarang Bastian telah pergi, bolehkah aku menjadi malaikatmu? Malaikat yang bisa mengobati luka hatimu dan menjaga hidupmu di sisa akhir hidupku. Risma, Will you marry me?”
“Delapan tahun yang lalu aku memang menganggap Bastian-lah malaikatku, kini hatiku sadar malaikatku itu kamu.”
“Jadi kamu mau menikah dengan aku?”
“Tentu saja.”
“Ciyeee… yang habis lamaran. Kapan nih nikahannya?” ucap Felis yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar rumah sakit. Bukan hanya ada Felis saja, di sana juga ada papa, mama dan kedua orang tua Mas Bima. Mereka semua melempar senyum jahil.
“Felis, Papa, Mama, Om dan Tante… sejak kapan kalian berdiri di situ?”
“Sejak tadi?”
“Kok aku nggak lihat kalian sih?”
Papanya Risma mengedipkan mata jahil. “Ya iyalah kami nggak kelihatan. Kalian kan lagi asyik bermesraan. Dunia bagai milik kalian berdua. Bima, Om nggak nyangka ternyata kamu cowok romantis banget berani melamar anak Om, di rumah sakit pula.”
“Terpaksa Om. Kalau nggak sekarang kapan lagi coba? Ntar yang ada Risma diambil cowok lain lagi.”
“Om Raihan, Tante Ika, Papa, Mama… kalian merestui kan jika aku nikah sama Mas Bima?” tanya Risma.
“Tentu saja. Malah kami berencana menjodohkan kalian berdua,” ujar kedua orang tua gue dan kedua orang tua Risma secara bersamaan.
“Nah, kedua keluarga sudah saling meretui, By the way any way busway kapan nih menentukan tanggal pernikahan Risma dan Mas Bima?” Felis bertanya.
“Ya, pastinya setelah gue keluar dari rumah sakit ini. Hahaha…” kujawab dengan gembira.
Kesabaran memang selalu berbuah manis. Sepuluh tahun bersabar menanti Risma mencintai gue, akhirnya apa yang diinginkan terwujud hari ini. Tentunya hal ini terwujud berkat campur tangan Tuhan.
--THE END--
Other Stories
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...