Sumpah Cinta

Reads
3.7K
Votes
0
Parts
18
Vote
Report
Penulis Ariny Nh

1. Perpisahan Terakhir

Kringgg …!
Bunyi jam weker membuyarkan seluruh mimpi indah gue. Aduh, jam kenapa makai bunyi segala sih? Baru aja gue tidur. Dengan mata terpejam gue meraba-raba meja di samping tempat tidur, pengen lihat jam berapa sih sekarang?
Yes, akhirnya jam weker berhasil gue temukan. Gue membuka mata sebelah seketika gue melihat jarum jam yang pendek ke angka 5, sedangkan jarum jam yang panjang ke angka 12. Berarti jam 5 sore dong? Soalnya seingat gue tadi gue tidur jam 2 siang. Tumben-tumbenan jam weker gue bunyi jam 5 sore? Ah, tapi ya sudahlah sekarang gue mau tidur lagi.
Titit … titit
Baru aja gue mau memejamkan mata sekarang HP gue yang bunyi. Ah, menyebalkan! Kenapa sih HP dan jam weker bunyi dalam waktu dekat. Gue kembali merabaraba tempat tidur mencari HP yang lagi ngumpet ntah dimana. Setelah ketemu gue melihat layar HP, untuk mengetahui siapa sih yang nelpon atau sms gue jam segini? Ganggu gue tidur aja!
Ternyata dugaan gue salah. HP bunyi bukan karena ada sms atau orang nelpon melainkan jam alarm. Di layar HP tertulis Hari Jadian Gue sama Helena yang ke 4 tahun.
Mata gue terbelalak melihat tulisan yang ada di layar HP. Sumpah, gue lupa hari ini hari jadian yang ke empat tahun sama Helena. Gue bangkit dari tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Bisa ngomel Helena kalau sampai kalau gue telat dating.
30 menit kemudian
Gue sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Gue berdiri di depan cermin rias. Mau mengolesi wajah, rambut, dulu biar kelihatan tambah cakep. Emang sih gue dari lahir sudah cakep bin ganteng, Kevin Aprilio aja lewat. Tapi nggak ada salahnya dong gue dandan lagi sebelum dating ke hari bersejarah?
Selain hari jadian, hari ini gue juga mau melamar Helena. Secara umur gue kan sudah 23 tahun, bentar lagi gue wisuda sudah seharusnya gue memikirkan sebuah pernikahan. Selain itu di daftar warisan tertulis warisan akan diberikan kepada gue setelah gue menikah. Dan menurut gue hari ini hari yang tepat untuk melamar Helena.
Helena wanita yang pas buat dijadikan pendamping hidup gue. Selain parasnya yang cantik jelita, hatinya juga seembut sutra. Dia ikhlas nerima gue apa adanya. Secara gue kan yatim piatu, masih pengangguran dan masih banyak lagi kekurangan gue. Satu lagi kelebihan Helena dia juga bisa menyayangi adik kesayangan gue yang bernama Vindy Putri. Ya, di dunia ini gue hanya tinggal bersama Vindy.
“Ya, sip gue tambah cakep! Kalau cakep kayak gini kan si Helena nggak bakal bisa nolak lamaran gue,” ujar gue berbicara di depan cermin.
Dandan sudah, sekarang tinggal berangkat ke tempat jadian. Eits, tapi sebelum berangkat gue mengambil HP dulu. Jari-jari tangan gue menari lincah mengetik sebuah SMS untuk seseorang.
To : Helena Bebebs Tercinta
Bebs, hari ini jadi kan kita ngedate di hari anniversary kita yang ke empat tahun? Kamu mau merayakannya di mana. Love u.
Send to Helena Bebebs Tercinta.
Beberapa detik setelah SMS terkirim HP gue menyala lagi. Sengaja gue matiin nada deringnya, jadi kalau ada sms masuk itu layarnya Cuma menyala biar nggak berisik. Di layar HP tertulis 1 pesan diterima dari Helena. Klik open untuk membaca SMS.
From : Helena Bebebs Tercinta
Jadi dong bebs. Aku tunggu ya di tempat biasa. Aku mau ngatain sesuatu yang penting banget.
Gue mengangguk tanda paham arti tempat biasa yang disebutkan Helena lewat sms. Tempat biasanya di Restaurant Segarra, itu lho restaurant yang paling romantic ada di Jakarta. Letaknya dekat pantai. Jadi kalau makan di sana kita bisa menikmati angin sepoi-sepoi pantai dan deburan ombak.
Restaurant Segarra menjadi saksi cinta gue sama Helena selama empat tahun ini sebab gue ketemu sama Helena di sana, setiap kencan di sana dan hari ini gue melamar Helena di sana juga.
Gue keluar dari kamar. Seketika gue melihat Vindy lagi asyik nonton tv di ruang keluarga. Biasa jam segini kan acaranya drama Korea si Vindy stand by di depan tv. Vindy termasuk Korean Lovers.
“Ciyee … kakak dandanannya rapi banget! Mau kemana kak?” Tanya Vindy.
“Biasa ngedate, hari ini kan hari jadian gue sama Helena yang ke empat tahun.”
“Wah, udah empat tahun ya? Selamat deh kalau gitu. Kak cepetan lamar dia biar nggak direbut cowok lain.”
“Tanpa lo suruh pun, gue bakal ngelakuinnya kok. Hari ini malah gue lakuinnya. Lo setuju kan Helena jadi kakak ipar lo.”
“Setuju pakek banget. Kalau Helena jadi kakak ipar gue, gue nggak akan kesepian lagi deh ada nemenin gue belanja ke mall, masak dan paling penting ada yang nemenin gue nonton drama Korea.”
Tetap aja yang ada di otak Vindy drama Korea. “Makasih ya! Oh ya kakak pergi dulu ya kamu jaga rumah baik-baik, jangan kemana-mana dan kalau ada apa-apa segera hubungi kakak!”
“Oke kak, tenang aja deh!” gue mengecup kening Vindy. Kebiasaan gue sebelum pergi pasti mengecup kening Vindy dulu sebagai rasa sayang gue ke dia.
Pamitan dan mengecup kening Vindy sudah sekarang tinggal berangkat ke restaurant Segarra. Dalam hitungan jam Helena akan jadi calon istri gue.
***
Setibanya di restoran Segarra, tubuh gue mematung, dan mulut gue nggak bisa berkata-kata lagi. Faktor penyebabnya bukan karena suasana di restoran tapi pemandangan yang ada di depan mat ague sangatlah menyakitkan hati. Helena, wanita yang gue cintai selama 4 tahun dia sekarang lagi asyik ciuman dan bermesraan sama cowok lain di depan mat ague. Siapa coba yang nggak sakit hati melihat hal itu?
Gue mengepalkan tangan lalu melangkah maju. Gue sudah nggak sabar pengen nonjok cowok brengsek itu. Seenaknya aja merebut calon istri gue dan merusak suasana anniversary gue sama Helena.
Buk!
Satu tonjokkan gue berhasil mendarat pipi cowok brengsek itu. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Rasain, itu belum seberapa. Cowok itu bangkit lalu ia membalas tonjokanku. Ini cowok boleh juga. Lihat aja siapa yang menang.
“Stop hentikan! Kalian kayak anak kecil berantem di depan umum! Gibriel, lo kenapa sih dating-datang langsung main tonjok aja!” seru Helena mencoba melerai pertikaian gue sama cowok itu.
“Yang seharusnya nanya itu gue, ngapain lo mesra-mesraan sama cowok lain di hari jadian kita yang ke empat tahun?” nada gue mulai meninggi.
“Maafin gue Gib, inilah yang gue mau katakana ke lo. Gue tahu ini menyakiti hati lo tapi gue harus jujur. Hati gue mencintai Farhan. Dan mulai detik ini gue balikin seluruh cinta lo, gue sudah nggak memerlukan lagi. Terima kasih atas cinta yang lo berikan selama 4 tahun ini sama gue. Maaf, gue nggak bisa meneruskan hubungan kita. Selamat tinggal!” ujar Helena. Setelah berkata demikian Helena berlalu dari hadapan gue ia pergi bersama cowok brengsek itu.
Gue masih diam seribu bahasa. Kata-kata yang keluar dari mulut Helena tajam banget seperti katana 70 cm. Sakit banget hati gue mendengar kata-katanya. Gue menendang apa aja (botol, kertas dan daun-daun berserakan di tanah) yang ada di depan kaki. Meskipun gue lagi emosi tapi nggak akan deh menendang meja dan memporakporandakan restoran. Kalau gue melakukan itu bisa keluar duit atau lebih parahnya lagi bisa jadi kasus.
Gue melangkahkan kaki mendekati bibir pantai. Tanpa terassa butir-butir air mat ague mengalir dari kelopak mata. Ini kedua kalinya gue menitikkan air mata. Yang pertama kalinya saat gue melihat jenazah bokap gue.
Pantai ini tempat bersejarah buat gue dan Helena. Saksi cinta kita. Kita sering bercanda tawa, dan lari-lari kecil di pantai ini. Kini semua sirna, hanya jadi kenangan pahit. Gue menjambak rambut gue sendiri. Gue nggak habis piker kenapa nasib gue kayak gini banget. Baru aja gue mau bahagia karena hari ini mau melamar Helena tapi ternyata gue harus menerima kenyataan pahit. Kenyataan bahwa Helena bukan jodoh gue, ia pergi ninggalin gue tepat di hari anniversary yang ke empat tahun.
“Arggghh … kenapa Tuhan nggak adil? Apakah gue nggak pantas bahagia?” teriak gue sekencang-kencangnya. Gue nggak peduli sama orang-orang sekitar. Biarlah mereka menganggap gue gila. Gue akui gue emang gila, gila karena Helena.
“GUE NGGAK MAU JATUH CINTA SAMA CEWEK LAGI! CEWEK HANYA RACUN DUNIA!” teriak gue sekali lagi.
Ajaib, seketika rasa sesak di dada gue hilang dalam sekejap. Lumayanlah, bisa sedikit melegakan hati gue tapi tetap aja rasa sakit hati ini masih terasa. Mungkin hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka hati gue.
Tanpa terasa sudah satu jam gue di pantai ini. Matahari aja sudah tidak menampakkan sinarnya lagi, itu berarti tugas dia menjalankan titah Tuhannya telah selesai. Sekarang giliran bulan dan bintang yang menjalankan titah Tuhannya untuk menerangi malam.
Berhubung hati gue sudah merasa enakan dikit, gue memutuskan untuk pulang aja. Ngapain juga lama-lama di sini? Yang ada badan gue bentol-bentol diciumin nyamuk secara gue kan orangnya manis banget. Selamat tinggal restoran Segarra! Gue nggak akan menginjakkan kaki ke sini lagi. Bagi gue tempat ini hanya menjadi kenangan yang manis sekaligus pahit.

Other Stories
Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Namaku Amelia

Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

O

o ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Download Titik & Koma