11. Terror Bermunculan
“Resty! Ya, ampun lo jam segini belum bangun?” teriak seseorang wanita bersuara cempreng. Tanpa membuka mata pun aku sudah tahu pemilik suara cempreng tersebut. Nggak lain adalah suaranya Nindya. Huh, menyebalkan! Ngapain coba dia dating pagi-pagi ke kosanku? Ganggu aku tidur aja.
“Res, cepetan lo bangun!”
“Males ah. Hari ini gue masuk siang jadi pengen bangun siang juga.”
“Lo harus bangun sekarang! Sekarang lo harus menjalankan tugas.”
“Tugas apaan sih? Tugas kuliah yang dikasih dosen sudah kelar.”
“Bukan itu, tapi tugas memberi pelajaran Gibriel Alexander. Lo lupa sama perjanjian kita kemarin?”
Aku menepuk jidat sendiri. Astaga, aku beneran lupa sama perjanjian kemarin. Dengan terpaksa akhirnya aku membuka mata. “Nah, gitu dong lo bangun.”
“Terus tugas gue sekarang ngapain nih?”
Nindya membuka tasnya, nggak lama kemudian dia menyerahkan kotak handphone kepadaku. “Pertama-tama lo harus menerima barang pemberian dari gue.”
Dahiku berkerut, “Barang apaan nih? HP? Kan bulan kemarin lo sudah ngasih gue BB.”
“Udah terima aja barang dari gue. Barang yang gue kasih untuk melancarkan aksi kita.”
Ya, sudah deh aku menerima barang pemberian Nindya. Aku sekarang kan sudah jadi kacungnya Nindya, apapun yang dia suruh harus dituruti. Lumayan juga dapat HP keren dan harganya mahal. Orang miskin seperti aku mana sanggup beli HP kayak gini.
“HP yang gue kasih ini, dilengkapi fasilitas canggih, bisa mengubah suara kita menjadi suara orang lain. Saat lo menelpon Gibriel, dijamin suara lo nggak akan ketahuan.”
Aku mengangguk tanda mengerti. “Nah, sekarang coba lo telpon Gibriel!” perintah Nindya.
“Terus gue ngomong apa sama Gibriel?”
“Kalau soal itu gampang! Ntar gue kasih tahu apa yang harus lo ucapin saat ngomong sama Gibriel. Cepetan telpon dia, nomor HP-nya sudah gue masukin di HP itu.”
Aku mencari nama Gibriel di kontak telepon HP yang diberikan Nindya. Setelah ketemu langsung deh klik yes/oke.
Tuuut … Tuut
Telpon belum tersambung. Aku sabar menunggu Gibriel mengangkat telpon dariku. Kuklik tombol loudspeaker biar nanti saat Gibriel mengangkat telpon Nindya bisa mendengar apa yang diucapkan Gibriel.
“Halo, dengan siapa dan dimana?” terdengar suara Gibriel di seberang telpon. Akhirnya Gibriel mengangkat telponku juga. Aku tersenyum simpul, dari suara Gibriel aku sudah bisa menebak dia baru bangun tidur.
“Halo, apa benar ini nomor Gibriel Alexand er?”
“Iya, benar saya Gibriel. Anda siapa ya?”
Aku memandangi Nindya seolah-olah mengisyaratkan, “Gue harus ngomong apa?” Nindya mengerti apa yang kumaksud. Dia menyerahkan sepucuk kertas kepadaku. Di kertas yang diberikan Nindya tertulis sebuah kata-kata. Hmmm … sekarang giliranku yang mengerti maksud dia, dia memintaku mengatakan apa yang tertulis di kertas ini.
“Lo nggak perlu tahu siapa gue. Yang jelas gue pengen lo mundur dari dunia penulis.” Ujarku sesuai dengan apa yang Nindya tulis di kertas.
“Eh emang lo siapa? Emak gue bukan, ngapain lo mint ague mundur dari dunia tulis? Nih, y ague kasih tahu ke lo gue membangun karir di dunia tulis dari titik nol. Gue nggak akan mundur sampai kapanpun.”
Nindya kembali menulis sebuah kalimat di kertas. Lagi-lagi mengucapkan kalimat yang ditulis Nindya. “Kalau lo nggak mau mundur dari dunia tulis, hidup lo akan sengasara dan adik kesayangan lo bakal celaka!”
“Eh, lo siapa berani mengancam gue? Banci banget sih lo beraninya Cuma ngancem doing. Ayo lo jantan, ayo temui gue di arena tinju, kita duel satu lawan satu.” Nada bicara Gibriel mulai meninggi.
Nindya merebut HP dari tanganku dan dia menekan tombol mengakhiri telpon. Nindya jingkak-jingkrak kegirangan. Dia langsung memelukku erat. “Thanks ya Res, lo mau kerjasama sama gue. Lo emang sahabat gue yang paling baik.”
Aku terdiam. Nindya mengatakan aku sahabatnya yang paling baik? Benarkah demikian? Aku malah merasa aku ini hanya kacungnya Nindya. Aku memandangi Nindya, dia terlihat sangat bahagia. Hatiku merasa bahagia melihat Nindya bahagia tapi sisi hatiku yang lain, sedih dan merasa bersalah telah membuat Gibriel gelisah karena mendapat terror.
“Ya, Allah ampunilah dosaku. Aku melakukan ini karena terpaksa.”
***
Gue sama sekali nggak semangat buat kuliah. Sepanjang perjalanan menuju kampus pikiran gue melayang jauh ntah kemana. Melayang karena memikirkan perkataan orang iseng yang menelpon gue tadi pagi. “Lo nggak perlu tahu siapa gue. Yang jelas gue pengen lo mundur dari dunia penulis. Kalau lo nggak mau mundur dari dunia tulis, hidup lo akan sengasara dan adik kesayangan lo bakal celaka!”
Ntah kenapa kata-kata yang dia ucapkan terus terngiang di telinga gue. Benarkah yang diucapkannya? Gue jadi merinding, takut ancamannya beneran dilakukan. Gue nggak mau terjadi apa-apa sama Vindy.
Saking asyiknya melamun, tanpa gue sadari motor kesayangan gue sudah memasuki kampus tercinta alias sampai ditujuan dengan selamat. Segera gue memarkirkan motor dulu. Habis itu baru deh berjalan menuju ruangan tempat belajar. Aha, gue baru ingat. Di kampus ini kan gue punya teman seorang detektif, gue minta dia aja mencari tahu siapa sih yang meneror gue tadi pagi? Kebetulan teman gue itu satu jurusan bahkan satu ruangan sama gue. Gue semakin mempercepat langkah, nggak sabar menemui dia.
Sesampai diruangan gue celingak celinguk mencari teman gue yang detektif itu namun sosok yang gue cari nggak kunjung gue lihat batang hidungnya. Kemana dia hari ini? Saat gue memerlukan dia, dia malah nggak nongol.
Bola mat ague tertuju sama orang-orang bergerumung di bangku gue. Gue jadi penasaran ada apa dengan bangku gue? Gue menerobos kerumunanan.
“Ada apa sih? Kok pada mengumpul di bangku gue?” Tanya gue pada salah satu dari mereka.
“Tuh, lihat ada yang naroh kado gede banget di meja lo.”
Gue mmengedarkan pandangan ke meja. Benar, di meja gue ada kado gede banget. Kadonya itu dibungkus memakai kertas kado warna pink, ada pita-pitanya pula. Gue jadi bingung, perasaan hari ini gue nggak ulang tahun deh kok dapat kado ya?
“Cieee … Gibriel yang makin kece aja. Udat pasti kado ini dari fans lo, sekarang kan lo dah jadi penulis novel terkenal,” kata Dicky, salah satu teman gue.
Tanpa piker panjang gue langsung membuka kado tersebut. Jantung gue mulai berdegup kencang takut isinya bom.
Eng … I eng ….
Ternyata isinya bikin mat ague beserta teman-teman melotot dan mau muntah. Isinya adalah 10 bangkai tikus lengkap dengan darahnya pula. Hii, jijik. “Lo pada tahu nggak siapa yang ngasih kado ini ke meja gue?” Mereka semua mengangkat bahu, tanda nggak tahu. Gue mau menutup kado itu lagi dan ingin membuangnya di tong sampah. Tapi tiba-tiba mat ague tertuju pada kertas yang ada di samping bangkai tikus. Cepat-cepat gue mengambil kertas itu dan membaca tulisannya.
GIMANA KEJUTANNYA KEREN KAN? INILAH AKIBAT DARI PERBUATAN LO. EITS, INI BELUM SEBERAPA MASIH BANYAK LAGI KEJUTAN-KEJUTAN DARI GUE. SELAMA LO MASIH NGGAK MAU MEMENUHI PERMINTAAN GUE, GUE BAKAL NGEGANGGU HIDUP LO.
Damn!
Teror lagi? Gue yakin 100% orang yang mengirim kado bangkai tikus ini orang yang sama dengan orang yang menelpon gue tadi pagi. Heran deh, kenapa sih hari ini terror munculan? Siapa coba yang berani-berani neror gue? Ancamannya nggak bisa diremehkan, gue harus hati-hati dan segera menemukan orang. Awas, aja kalau sampai gue berhasil nemuin dia gue nggak akan biarin dia bernapas lagi.
Gue meraih HP dari saku celana. Gue mau sms Vindy dulu. Dia harus tahu masalah ini, biar dia lebih berhati-hati. Tadi pagi kan si peneror juga mengatakan kalau gue nggak mundur dari dunia tulis maka adik gue bakal celaka.
TO : Vindy, adik gue tersayang.
Vin, lo sudah nyampe kampus kan? Lo sekarang temuin gue di warung soto belakang kampus! Ada yang mau gue omongin sama lo. Penting pake banget!
Klik send to Vindy.
Drrrt … Drrrt
HP gue bergetar. Di layar ponsel tertulis 1 pesan diterima. Langsung gue klik open. Ternyata Viindy yang membalas sms dari gue.
From : Vindy, adik gue tersayang
Ada apa kak? Iya, gue baru nyampe kampus. Oke, gue segera kesana. Sampai jumpa di sana ya?
***
Wuih, warung soto yang ada di belakang kampus hari ini rame banget. Vindy sudah stand by di meja paling ujung. Waw, Vindy pintar milih tempat duduk Gue berjalan mendekati Vindy.
“Kak, ada apa sih? Wajah lo juga hari ini kusut kayak baju yang belum disetrika.” Tanya Vindy tepat ke permasalahan
“Gue nggak disuruh duduk dulu?”
“Oh, ya udah duduk aja.”
Gue duduk di sebelah Vindy. Gue membisikkan sesuatu ke telinga Vindy. Memberitahukan tentang kronologis terror yang gue dapat. Karena warung soto rame banget, makanya gue ngasih tahunya bisik-bisik aja. Gue nggak mau kasus ini semakin heboh.
Mata Vindy terbelalak. “Serius lo kak dapet terror?” teriak Vindy. Gue menutup mulutnya memakai telapak tangan gue.
“Sttt … jangan keras-keras. Nanti heboh.”
“Lo serius kak dapet terror?” Vindy menurunkan nada suaranya. Gue mengangguk pelan. Nggak lupa gue menunjukkan surat ancaman si peneror yang tadi ia selipkan di bangkai tikus.
Vindy membaca tulisan itu dengan saksama, tak lama kemudian ia meremas surat ancaman itu. Wajah Vindy memerah. “Kurang, ajar siapa coba yang berani meneror kakak gue? Kak, ini nggak bisa dibiarin. Kita harus lapor polisi.”
“Jangan gegabah dulu! Gue punya rencana lain.”
“Rencana apa?”
Gue kembali membisikkan sesuatu ke telinga Vindy. Vindy manggut-manggut. Ntah manggut-manggut karena mengerti atau karena mengantuk.
Gimana ide gue keren kan? Lo setuju nggak sama ide gue?” Tanya gue setelah selesai berkata lewat bisikan.
“Ide lo bagus sih tapi apa nggak kelamaan? Hmmm … maksud gue itu, gue takut sebelum lo beraksi si peneror sudah melakukan ancamannya mencelakai lo.”
“Kalau soal itu lo nggak usah khawatir. Justru lo lah yang gue khawatirkan.”
“Kok gue? Bukannya si peneror ngancem lo?”
“Tadi pagi si peneror gue ngancam lo, kalau gue nggak menuruti kemauannya.”
“Terus gue harus ngapain?”
“Lo harus hati-hati. Kalau pergi kemana-mana jangan sendirian!”
“Oke, kakak. Lo yang sabar ya?”
Tiba-tiba pelayan soto menghampiri meja kami. Beliau membawa soto 2 mangkakuk dan es the 2 gelas. Gue bingung siapa yang mesan soto? Tadi begitu masuk warung soto gue langsung menyamperin Vindy nggak mesan soto.
“Yang mesan soto gue,” ujar Vindy seolah tahu apa yang gue pikirkan.
Senyum gue sumringah. Vindy, emang adik gue yang paling pengertian. Dia tahu aja cacing-cacing di perut gue sudah pada demo, minta di isi makanan. Sejenak gue melupakan terror dan sekarang waktunya makan soto.
Other Stories
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...