Namaku May

Reads
3K
Votes
0
Parts
16
Vote
Report
Penulis Ayaka Prayitno

3. Kinanti Yogyakarta

Awal tiba di Yogya aku tinggal bersama adikku di rumahnya, di sebuah perumahan di daerah Gamping. Kebetulan adikku yang baru dikaruniai satu orang putra itu hanya bekerja dari rumah. Untuk transportasiku ke kampus aku menggunakan sepeda motor tua Jialing yang dibawa dari Purwokerto setelah adik bungsuku menyelesaikan pendidikan sarjananya di Unsoed. Setiap hari aku bermotor dari Gamping menuju Lab Bahasa UGM dengan waktu tempuh sekitar 30 menit melewati ring road selatan, Demak Ijo tembus Demangan lalu ke jalan Sarjito.
Seiring berjalannya waktu, pembekalan bahasa Inggris aku pun semakin sibuk dan perlu banyak waktu untuk belajar mengejar ketertinggalan. Semua harus mencapai target Toefl untuk memenuhi syarat berangkat ke laur negeri, yaitu minimal 550. Maka aku memutuskan untuk mencari tempat kost di dekat kampus sehingga aku lebih leluasa mengatur waktu dan fokus belajar bahasa Inggris. Dengan tinggal ngekost aku bisa menghemat waktu, tenaga dan pikiranku.
Berbekal informasi dan rekomendasi teman saat pembekalan bahasa, aku mencari tempat kost di gang Kinanti Pugong Kidul. Daerah itu memang banyak tempat kost mahasiswa. Letaknya dekat dengan kampus, warung makan dan tempat fotocopy, strategis sekali. Alhamdulillah aku mendapatkan tempat kost putri di depan kostnya Alia, teman satu kelas di lab Bahasa. Setiap hari aku dan Alia berangkat dan pulang bersama dengan menaiki motor bututku.
Tempat kostnya bagus dan ada ibu kostnya. Kamar kost ada di belakang rumah tinggal ibu kost. Kami masuk melalui pintu samping menuju halaman belakang yang luas dengan bangunan kost letter L dua lantai. Di tengah halaman belakang itu ada dua pohon mangga yang saat musim berbuah sering kami tunggu gugurnya.
Penghuni kost total ada 14 orang yang sebagian besar adalah mahasiswa S1. Mereka masih muda belia dan selalu ceria. Sementara mahasiswa S2 ada 4 orang termasuk aku. Dua dari mereka itu satu jurusan denganku, namun berbeda program. Mereka mendapatkan program beasiswa dalam negeri, sedangkan aku Double Degree Linkage Program Indonesia-Jepang. Satu orang lagi sedang mendalami ilmu statistik.
Tak perlu waktu lama buat kami untuk segera akrab. Kebetulan kamarku ada di lantai bawah, dekat dengan ruang bersama yang difungsikan untuk dapur umum, ruang makan sekaligus ruang keluarga tempat warga kost ngumpul. Di ruang itu disediakan kompor gas, alat masak, alat makan, sebuah meja makan besar lengkap dengan kursinya dan sebuah lemari es. Kami iuran untuk pemakaian listrik dan gas.
Setiap saat selalu saja ada yang ke ruangan itu untuk masak air, goreng-goreng lauk atau camilan, atau hanya sekadar mengambil persediaan makanan pribadi di dalam lemari es. Biasanya mereka akan tinggal sebentar lalu ngobrol dan jadi ramai bercanda tertawa, apalagi jika satu teman yang terkenal ramai dan besar suaranya sudah muncul. Aku dengan mudah bisa keluar dan berbaur dengan mereka.
Di tempat makan itu kami bertemu dan membicarakan apa saja. Sekadar guyon, ngobrolin sinetron atau hot news, sampai hal serius tentang aturan kost. Kadang kami membeli makanan di warung nasi lalu dimakan bersama di meja makan itu. Oleh-oleh dari siapa saja yang baru pulang dari kampung halaman diletakkan di meja itu. Aku sering bawa pempek sepulang dari kampung untuk digoreng dan dimakan bersama. Saat Ramadhan datang, kami makan sahur dan berbuka bersama juga di tempat itu.
Bergaul dengan teman-teman se-kost yang kebanyakan para calon sarjana membuat kami para emak-emak ikut menyesuaikan dengan perilaku mereka. Pernah suatu ketika kami berenam dengan teman-teman kost berboncengan motor untuk sekadar menikmati makan malam dan berfoto ria di angkringan pinggiran Sungai Code. Selesai makan, motor diarahkan menuju perempatan Malioboro. Kami nongkrong sebentar di tempat itu menyaksikan suasana malam sambil menikmati wedang ronde. Pulang jam 12 malam, kami dimarahi ibu kost. Kami hanya diam menahan tawa, emak-emak kena tegur ibu kost hihi.
Memang ibu kost terkenal galak dan cerewet sekali. Wanita yang umurnya mungkin selisih sedikit saja di atasku itu, setiap hari pasti ngomel, kecuali kalau sedang sakit. Awalnya risih dan terganggu sekali. Tetapi lama-lama suara teriakan itu bisa kuabaikan, paling-paling dengan mengeraskan suara musik dari laptopku yang kusambung ke speaker aktif dengan sub woover. Namun demikian ibu kost sangat pembersih. Segala pekerjaan rumah mulai dari urusan domestik rumahnya sendiri sampai bersih-bersih kamar mandi kost, ibu kost yang mengerjakannya sendiri. dia tidak puas dengan hasil pekerjaan orang lain yang dulu pernah diupahnya untuk pekerjaan itu.
Ibu kost juga sangat tidak suka bila ada cowok bertamu dan masuk ke halaman belakang, apalagi sampai masuk ke dalam kamar kost. Langsung saja dia menegur di depan tamu itu. Kecuali tamu itu adalah ayah, suami atau saudara laki-laki penghuni kamar. Di balik mukanya yang lebih sering terlihat galak itu, ibu kost adalah wanita yang cantik dan menyukai barang berkelas. Kami pernah diajaknya shopping membeli pakaian batik di sebuah mal langganannya. Dia yang menyetir sendiri mobilnya dengan berdandan cantik dan berkacamata gelap. Waah... keren si ibu!
Berbanding terbalik dengan ibu kost, bapak kost orangnya halus dan sabar. Dia tidak banyak bicara. Setiap pagi selalu menyapu halaman, termasuk halaman belakang yang berada di depan kamar kost kami. Selesai bersih-bersih halaman, bapak kost yang seorang guru setiap pagi berangkat kerja sekalian mengantar anak perempuan semata wayangnya yang sekolah di SMA. Anak ibu kost hampir tidak pernah keluar dari kamarnya jika ada di rumah. Mungkin jadwal kegiatan belajarnya sangat padat? Atau memang sangat pemalu? We never know.
Bapak kost yang membukakan pintu pagar untuk kami jika kami terlambat pulang. Untuk itu pun ibu kost mewajibkan kami untuk memberi tahu terlebih dulu jika akan pulang telat. Jam malam kami hanya sampai jam 9 malam, kecuali malam minggu ada tambahan waktu satu jam sampai jam 10. Kami memang dibekali anak kunci duplikat untuk membuka pagar samping menuju kamar-kamar kami di halaman belakang. Tetapi pintu pagar, hanya ada satu dan bapak kost yang pegang.
Di tempat kost inilah aku menghabiskan satu tahun setengah masa tinggalku di Yogya, untuk pembekalan bahasa Inggris yang dilanjutkan dengan kuliah tahun pertama. Di tempat kost ini kami saling berbagi pengalaman, saling memberi semangat dan dukungan serta membantu menyelesaikan permasalahan yang ada, agar semua bisa sukses dalam studi.
***
Masa pembekalan bahasa Inggris di Lab Bahasa adalah masa yang berat dalam proses studiku. Karena aku harus banyak melakukan penyesuaian agar bisa mencapai target minimal Toefl untuk bisa berangkat ke Jepang. Mata kuliah yang kami pelajari intinya hanya ada 3, yaitu Strucktur, Listening dan Reading. Setiap hari kami dijejali English, English dan English. Tugas kami mengerjakan soal-soal, menghafal kosakata, dilatih mendengar English, dan membaca cepat narasi English.
Jam belajar di Lab Bahasa setiap hari mulai dari Senin sampai Jumat, mulai jam 8 sampai dengan jam 4 sore. Setiap jam 10 pagi dan jam 3 sore ada tea time break selama 30 menit. Pihak penyelenggara menyiapkan makanan kudapan dan minumannya untuk kami.
Jam 12 sampai 13 siang adalah waktu istirahat, salat zuhur dan makan siang. Kami bisa bebas keluar mencari makan sendiri. Jam makan adalah saat berburu kuliner bagi kami. Ada satu orang teman asli Yogya tetapi bekerja di Jakarta yang setiap hari membawa mobil untuk pulang pergi dari rumah orang tuanya ke kampus. Yudha namanya. Dia yang baik hati itu bersedia membawa kami berjalan-jalan keliling dan mengenalkan tempat-tempat kulinernya di seputaran Yogya. Hampir setiap hari kami jalan bersama, muatan mobil Innova hitamnya selalu full. Aku malah baru ingat, kami tak pernah membantu mengisi bensinnya sama sekali. Bahkan, tidak jarang sang ketua kelas kami itu membayari makan kami dulu. Di dalam mobil barulah si neng geulis Alia menagih dan mengumpulkan uang makan setiap orang sesuai bill, lalu meletakkannya di laci dashboard mobil. Saat-saat yang tak terlupakan.
Setelah 5 bulan masa pembekalan bahasa Inggris kelar, kami segera menjalani masa perkuliahan di MPKD. Kesibukan berganti dengan belajar banyak hal baru yang sebagian besar belum pernah kudapatkan saat pendidikan sarjana di Bogor dulu. Ilmu-ilmu yang terkait dengan perencanaan wilayah. Aku harus berlari cepat untuk bisa mengikuti setiap mata kuliah yang kuterima. Bukan hal yang mudah buatku yang sudah lebih dari 12 tahun tidak belajar serius lagi sejak lulus sarjana dulu.
Beruntung aku mempunyai kawan-kawan yang baik hati dan bersedia menolong. Terutama membantu mencarikan bahan atau contoh paper dari internet. Saat itu penguasaan dan akses internet-ku masih sangat terbatas. Seorang teman yang sering dipanggil Helboy, di tempat kostnya ada jaringan internet dengan kecepatan cukup tinggi, sering menolongku membuat tugas. Aku tak akan lupa jasa baiknya.
Berangkat dan pulang kuliah kala itu tak merasa sepi, karena ada Alia adik manisku yang selalu bersama membonceng sepeda motorku. Dia masih single, anak asli Jakarta yang oleh karena pekerjaannya maka tinggal di Bandung. Itulah sebabnya aku memanggilnya Neng. Badannya kurus tinggi, kulitnya putih, dan wajahnya cantik dengan beberapa tahi lalat kecil menghias. Dia sangat menyukai ikan lumba-lumba atau dolphin. Berbagai aksesori berbentuk dolphin banyak dijumpai di kamar kostnya. Meskipun anak orang berada, dia baik dan tidak sombong. Aku jadi mudah dekat dengannya dan menganggapnya adik.
Selain si Neng, aku punya teman baik yang kupanggil si Non. Namanya Indah, asli dari Jawa Timur dan masih single. Sosoknya yang terbilang besar dan sedikit kaku bisa dikatakan perkasa untuk ukuran perempuan. Si Non yang satu ini suka sekali menolong! Beberapa kali aku dibantunya dalam mengerjakan tugas, kebetulan kost kami juga dekat.
Di samping dua orang teman perempuan tadi, aku punya dua teman laik-laki yang juga sangat baik dan suka menolong, dia adalahYudha dan Asra. Yudha asli kelahiran Yogya namun tinggal di Jakarta karena pekerjaan. Dia ini jenis orang yang lebih sering mendahulukan kepentingan banyak orang sehingga kadang mengabaikan kepentingannya sendiri. Penampilannya sederhana dengan perawakan kurus tinggi. Gaya bicaranya ceplas-ceplos dan sering melucu. Dia banyak membantuku dalam kegiatan di kampus.
Asra tidak satu kelas saat pembekalan bahasa, namun akhirnya dekat karena kedekatannya dengan si Neng, adik manisku dan karena satu kelompok di Demakers. Perawakannya tinggi dengan berat sedang, dia memiliki face yang lumayan manis. Teman-teman memanggilnya Ariel, karena wajahnya mirip vokalis grup band terkenal itu. Urang awak asli Sijunjuang yang satu ini suka sekali iseng dan menggodaku. Bersamanya kami selalu bisa tertawa ceria.
Selasar MPKD merupakan tempat kami biasa duduk menunggu jam kuliah tiba sambil menikmati wifi yang ada. Di selasar ini tersusun meja dan kursi yang hampir tak pernah sepi dengan mahasiswa. Aku sering berangkat lebih awal untuk bisa menikmati wifi gratis dan cepat saat ruangan masih sepi. Di tempat ini kami juga mengerjakan tugas dan berbagi informasi tentang perkuliahan atau apa saja yang menarik untuk dibahas. Di selasar ini banyak cerita sekolah tertinggal.
Salah satu mata kuliah yang berkesan adalah studio. Materi kuliahnya cukup sulit buatku. Namun, karena ada tugas ke lapangan, membuat lebih bersemangat. Tugas akhir studio ini adalah tugas kelompok menyusun sebuah laporan praktik langsung membuat sebuah perencanaan pembangunan terhadap suatu daerah. Sebanyak 14 orang DD Jepang terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu Kelompok Semarang dan Kelompok Demak.
Aku masuk ke dalam kelompok Demak bersama 6 orang lainnya, tiga putri dan empat putra. Dua orang putri itu adalah Irrin dan Nita. Sementara keempat putra jagoan kami adalah Yudha, Asra, Helboy dan Hermes. Beruntung dalam kelompok kami ada Yudha yang bisa dipakai kendaraannya untuk pulang pergi ke Demak sekaligus dia yang menyopiri kami. Betapa enaknya kami dan ngga enaknya dia. Tapi dia enjoy seperti tak merasa dirugikan.
Karena lokasi studio kelompok kami adalah Kabupaten Demak, maka selanjutnya kami menyebut diri kami Dema-kers. Alhamdulillah anggota Demakers bisa kompak selalu. Karena seringnya belajar bersama di ruang studio dan juga saat berada di Demak menginap selama beberapa hari bersama, kami menjadi lebih dekat satu sama lain seperti sebuah keluarga. Sering kami bercanda tertawa bersama, meskipun kadang ada rasa kesal dan marah di antara kami. Aku bersyukur bisa mengenal kalian semua. Sepertinya belum lama aku bersama mereka. Aku kangen kalian!
***

Other Stories
Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Love Of The Death

Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Testing

testing ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Download Titik & Koma