16. Graduation
Menjelang berakhirnya perkuliahan semester dua, aku menunda semua keinginan untuk jalan-jalan ataupun mengerjakan sesuatu yang tidak penting. Di kampus ataupun di apato, aku sibuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir semester dua sekaligus penyelesaian tugas akhir. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan akan berusaha untuk mendapatkan hasil akhir yang lebih baik. Akhirnya, ujian semester dua usai juga dan aku merasa lega telah berusaha menyelesaikannya semampuku.
Selesai perkuliahan, aku baru benar-benar bisa fokus dengan progres penyelesaian tesis. Kesibukan di kampus diwarnai dengan penyampaian draft ke sensei pembimbingku, berkonsultasi, lalu menulis lagi perbaikannya. Hingga akhirnya sensei menilai tesisku sudah cukup dan aku siap untuk melaksanakan ujian tesis atau defense. Defense atau ujian tesisku ditetapkan tanggal 4 Agustus.
Aku mengantarkan dua set draft tesis untuk dua orang dosen penguji yang sudah ditunjuk untukku. Kutemui mereka di dalam ruang kerjanya masing-masing. Satu dari sensei penguji itu sudah kukenal karena beliau mengajar satu mata kuliah yang kuikuti di semester satu. Sedangkan penguji yang satu lagi belum pernah bertemu sama sekali. Dengan sopan aku memperkenalkan diri dan menyatakan bahwa aku salah satu mahasiswa sensei Nakajima yang akan melaksanakan defense dan kedua sensei itu yang akan menjadi mengujiku. Kusodorkan draft tesisku sambil berdoa dalam hati, semoga mereka terkesan dan tidak akan membantaiku saat ujian nanti.
Waktu defense pun tiba. Aku bersama 4 orang teman satu gedung East Wing yang terdiri dari 3 orang mahasiawa asal Indonesia, yaitu aku, Daus dan Eva serta 1 orang mahasiswa asal Bangladesh bernama Hasan, sudah bersiap. Seperti ujian sarjana dulu, aku sempat tegang menghadapi detik-detik untuk maju presentasi di depan umum. Hal ini dikarenakan ujian dilaksanakan di sebuah aula cukup besar di hadapan beberapa sensei, antara lain dua orang sensei penguji dan sensei pembimbing serta sensei penguji dan pembimbing mahasiswa lain yang bersamaan defense. Selain itu, puluhan mahasiswa baik satu bimbingan maupun bimbingan sensei lain, terutama teman-teman Indonesia anggota lab lain yang menyempatkan hadir memberi semangat, membuatku grogi. Total ada lebih dari 35 orang di dalam ruangan itu.
“May san, Ganbatte!” teman-temanku memberi semangat saat aku melewati tempat duduk mereka. Aku mendapat giliran ketiga, setelah Hasan dan Daus berturut-turut selesai melaksanakan defense-nya.
“Haik, Arigatou! Ganbarimasu!” aku menjawab sambil melangkah maju dan berusaha tetap percaya diri. Kutanamkan keyakinan bahwa hanya aku yang paling menguasai apa yang aku tulis dan akan aku presentasikan. Tak lupa aku berdoa memohon pertolongan Allah SWT agar diberi kemudahan dan kelancaran selama proses ujian itu.
Menit pertama di atas podium saat pembawa acara memperkenalkan diriku, jantungku dag dig dug berdetak kencang, hingga aku mulai menyampaikan pendahuluan. Setelah itu berangsur aku menguasai diri dan nyaman meneruskan presentasi sampai selesai. Ketika sesi tanya-jawab, alhamdulillah pengujiku tidak menanyakan hal yang susah untuk kujawab. Demikian pula dengan forum yang hadir. Ada seorang mahasiswa post doctoral yang memberi sedikit saran untukku. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan selesai tanpa kesulitan yang berarti. Aku bersyukur sekali karena sensei pembimbingku adalah sensei paling senior di antara sensei-sensei lain di dalam ruangan itu. Ini memberi efek positif dan meningkatkan rasa percaya diriku menjawab pertanyaan-pertanyaan dari sensei penguji dan juga forum. Sekali lagi, alhamdulillah!! Aku merasa lega sekali.
Selesai defense aku segera memperbaiki tesisku sesuai dengan saran dan masukan dari penguji dan forum yang hadir, juga tambahan masukan dari sensei pembimbingku. Karena tidak banyak, maka aku segera bisa menyelesaikan versi jadi tesisku dalam bentuk file di laptopku. Aku tinggal menunggu waktu untuk mencetaknya menjadi fisik tesis. Saatnya menyenangkan diri dengan jalan-jalan refreshing.
Selama pendidikan, segala keperluan berkaitan dengan alat tulis kantor dibantu oleh kampus, terutama berkaitan dengan keperluan mencetak tugas kuliah dan hasil penelitian. Antara lain saat aku harus mencetak tugas membuat Poster Presentasion yang dibuat dalam kertas besar ukuran A1 dan berwarna, kampus sudah menyediakan alat dan operatornya. Tinggal lapor sensei, maka teman satu lab akan diutus mengantar dan menemaniku menyelesaikannya.
Demikian pula dalam proses penyusunan laporan akhir, mulai dari draft pertama hingga menjadi sebuah tesis, aku tidak mengeluarkan uang sedikit pun, karena semua menggunakan fasilitas yang telah disediakan oleh kampus di dalam lab masing-masing. Persediaan kertas, printer untuk mencetak hitam putih untuk teks ataupun mencetak warna untuk gambar dan grafik, serta fotocopy penggandaan tesis, semua difasilitasi oleh sensei di kampus. Aku hanya perlu membeli hard cover untuk penjilid bagian luar tesis yang banyak tersedia di koperasi kampus. Itu pun karena kebetulan stock di lab pas habis.
Penyusunan tesis dalam jilidan berlubang dilakukan di lab dengan dibantu oleh beberapa teman Jepang. Waktu itu aku dan Hasan mengerjakannya di ruang zemi grup dibantu Wachin, Tomimura San dan Tokuchi San.
Aku dan Nita mengumpulkan tesis bersama, sekaligus mengurus persyaratan untuk dapat melaksanakan wisuda. Tempatnya di core station yang merupakan tempat di mana kantor administrasi kampus berada. Setelah tesis diserahkan, kami mendapatkan bukti untuk bisa mengurus persyaratan wisuda. Kami melewati beberapa meja dan ruang, melakukan pengisian data dan penandatanganan sampai semua beres. Ya... semua beres! Tak perlu mengurus, bebas ini dan itu. Sensei-lah yang menjadi penjamin setiap mahasiswa bimbingannya.
Setelah pengurusan wisuda itu, aku sudah tidak punya kewajiban lagi untuk datang ke kampus. Yes! Aku bebas! Waktu yang ada kupergunakan berjalan-jalan mengeksplor lagi wilayah Jepang yang belum sempat dikunjungi. Masa tinggal yang sudah tidak lama lagi itu kupergunakan dengan sebaik-baiknya.
Sebentuk rasa sedih menggelayut saat aku menyadari tak lama lagi harus meninggalkan Jepang yang sudah satu tahun menjadi tempat tinggalku. Kupandangi pohon sakura di sudut depan kamarku yang kini sendu tak lagi berdaun. Seperti tahu apa yang tengah aku rasakan. Namun, aku segera mengingat keluargaku yang ada di kampung halaman. Membayangkan orang-orang yang kusayangi dan kukasihi di sana menunggu hari untuk menyambut kedatanganku pulang.
Dan hari yang dinantipun akhirnya tiba. Tanggal 23 September kami diwisuda di Shizuka Campus, salah satu kampus Ritsumeikan yang berlokasi di Kyoto. Aku dan teman-teman wanita mengenakan kebaya nasional Indonesia. Kupakai kebaya brukat berwarna merah yang kubawa dari rumah. Kebaya itu kupadu dengan kain sutra senada yang dibentuk seperti seolah memakai kain panjang terlipat dengan tumpal di bagian depan, namun bentuknya rok, lengkap dengan selendangnya. Teman laki-laki memakai setelan jas dan berdasi. Bahagianya kami berbaur dalam keriangan penuh senyum dan tawa gembira. Sudah menjadi tradisi, adik-adik kelas yang sudah datang sejak pertengahan September ikut hadir menyaksikan kebahagiaan kami, memberi selamat dan setangkai bunga.
Sensei Nakajima memberiku ucapan selamat dengan buket bunga cantik di usai acara, lalu kami pun berfoto bersama. Empat orang Jepang perwakilan teman-teman satu labku datang memberi selamat dan menghadiahiku sebuah souvenir kenang-kenangan berupa wadah air minum yang pada dinding luarnya berlapis plastik bening tempat meletakkan print out bergambar seluruh anggota lab Water Management lengkap dengan sensei di sana.
Aku memang telah menyampaikan kepada sensei dan teman-teman satu lab bahwa aku akan langsung pulang ke tanah air, sehari setelah hari wisuda. Maka tak ada waktu lagi bagi sensei untuk mengadakan perpisahan untukku. Itulah sebabnya empat orang perwakilan itu datang khusus menemuiku di hari wisudaku. Mereka adalah Tomimura San, Tokuchi San, Watanabe San (Big’) dan Nishino San.
“Doumo arigatou gozaimashita! Thank you very much! Nothing I can say, just thank you for everything you do to me. You all have assisted me since I came and joint the Water Management Lab. Please send my regards and thank you to all lab members. I’ll miss you all!” aku tak kuasa menahan air yang segera menggenang di kedua mataku saat menerima bingkisan kado itu dari tangan Big’. Terima kasih teman-teman semua. Lalu kami pun bersalaman dan foto bersama.
Aku sangat bahagia dan bersyukur bisa menyelesaikan tugas belajar yang awalnya sempat khawatir dan takut tidak bisa mengikutinya dengan baik. Akhirnya aku bisa lulus juga. Alhamdulillah Ya Allah! Betapa besar nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku. Jadikanlah aku manusia yang senantiasa pandai bersyukur atas segala rahmat dan karunia yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan keluargaku. Jadikan ilmu dan wawasan yang telah kuperoleh ini nantinya bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Semoga kisahku ini bisa menjadi pemacu semangat bagi anak cucuku kelak. Bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia, status sosial, ataupun gender. Aku yang seorang ibu dan tak lagi muda, tetap bisa mencapai tujuan, asal dibarengi dengan tekad yang kuat, semangat pantang menyerah dan tak lupa memohon pertolongan kepada Allah SWT.
***
--TAMAT--
Other Stories
Srikandi
Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Jika Nanti
Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...