Bab 2 - Titik Terendah
Hari itu, langit Kota Sampit tampak muram. Mendung menggantung, seakan ikut merasakan berat hati yang dipikul Arka. Ia duduk di bangku taman kota, menatap tanah basah yang dipenuhi dedaunan jatuh. Tangannya meremas sebuah kertas lipatan hasil wawancara kerja terakhir yang gagal.“Mohon maaf, kami memutuskan untuk memilih kandidat lain yang lebih sesuai,” begitu tulisannya. Sederhana, singkat, tapi menohok. Arka menarik napas panjang. “Sudah yang kesekian kali…” gumamnya getir.Hidupnya seakan terus memperlihatkan jalan buntu. Sementara tagihan terus datang: sewa kos, biaya rumah sakit, kebutuhan sehari-hari. Tabungan makin tipis, dan bantuan dari kerabat pun tak mungkin selalu ada.Malamnya, ia pulang dengan langkah gontai. Jalanan penuh lampu kendaraan yang silau, tapi hatinya terasa makin gelap. Di kamar kos, ia menjatuhkan tubuh ke kasur tipisnya dan menatap atap.Di dinding, kalender kecil masih tergantung dengan banyak coretan. Hari-hari penuh rencana kerja, janji temu, dan mimpi yang kini tak lagi relevan. Ia merasakan dadanya sesak.
“Untuk apa aku masih ada di sini? Apa gunanya semua ini kalau hanya gagal terus?”
Pikiran itu berulang-ulang berputar. Dalam hening, ia bahkan sempat memandang pisau dapur kecil di meja. Tangannya bergetar, namun segera ia menjauhkan tatapan. Air matanya pecah.“Tidak… aku nggak boleh,” ucapnya, hampir berbisik.Di tengah keputusasaan itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari ibunya.
“Nak, jangan khawatirkan ayah. Yang penting kamu jaga diri. Ibu percaya kamu bisa melewati ini. Ibu selalu mendoakanmu.”
Arka membaca berkali-kali. Pesan sederhana itu seperti tali yang menahannya di tepi jurang. Ia menangis, kali ini bukan hanya karena lemah, tapi karena sadar masih ada orang yang percaya padanya.Keesokan harinya, Arka memberanikan diri menjenguk ayahnya di rumah sakit. Tubuh sang ayah terlihat ringkih, dengan selang infus menempel di lengan. Senyumnya samar, tapi hangat.“Arka… kamu datang,” suara ayahnya serak, namun penuh kasih.Arka menunduk, menggenggam tangan ayahnya. “Maaf, Yah. Arka belum bisa bantu banyak. Arka gagal terus cari kerja.”Ayahnya menatap dalam, lalu berkata pelan:
“Bukan uangmu yang ayah butuh sekarang. Ayah cuma butuh kamu tetap ada, tetap kuat. Hidup memang kadang menghantam keras, Nak. Tapi jangan biarkan itu merampas semangatmu.”Kata-kata itu menusuk dada Arka. Ia sadar, meski dirinya merasa gagal, kehadirannya saja sudah berarti bagi orang yang ia sayangi.Namun, rasa putus asa tak hilang seketika. Ada hari-hari di mana Arka kembali terjebak dalam pikiran negatif. Ia merasa hidupnya tak punya arah, tak punya tujuan.Suatu malam, ia duduk sendirian di balkon kos yang sempit, memandangi lampu jalan yang redup. Hujan rintik turun, menambah sepi. Ia menulis di buku catatan yang sudah lusuh:
“Aku iri pada orang-orang yang punya arah hidup jelas. Kenapa aku harus terjebak di sini? Kenapa aku nggak bisa jadi orang yang lebih berguna?”
Tangannya berhenti menulis. Lalu ia menambahkan satu kalimat lain, kali ini berbeda:
“Tapi… mungkin aku masih diberi waktu. Kalau begitu, untuk apa?”
Pertanyaan itu berputar di kepalanya. Meski tanpa jawaban pasti, ia merasa sebuah benih kecil muncul. Seolah ada kemungkinan, meski samar, bahwa hidupnya masih bisa berubah.Beberapa hari kemudian, saat berjalan pulang dari warung, Arka bertemu seorang bapak tua penjual buku bekas di pinggir jalan. Buku-buku itu ditata seadanya di atas tikar plastik.“Silakan, Mas, siapa tahu ada yang menarik,” ucap si bapak ramah.Arka iseng melihat-lihat. Matanya tertumbuk pada sebuah buku usang berjudul Bangkit dari Keterpurukan. Sampulnya sudah pudar, tapi entah kenapa, judul itu menamparnya.Ia membeli buku itu dengan sisa uang kecil. Malamnya, ia membaca perlahan. Bukan sekadar teori motivasi, melainkan kisah nyata orang-orang yang pernah jatuh sedalam-dalamnya, namun berhasil bangkit.Arka tertegun. “Kalau mereka bisa, kenapa aku tidak mencoba sekali lagi?” pikirnya.Hari-hari berikutnya, Arka mulai melakukan hal-hal kecil. Ia menata ulang kamarnya, mencuci pakaian yang menumpuk, dan menuliskan target sederhana di catatannya:
Bangun pagi, jalan kaki 15 menit.
Kirim minimal 2 lamaran kerja per hari.
Menulis satu halaman perasaan setiap malam.
Tampak sederhana, tapi bagi Arka, itu adalah langkah melawan kegelapan yang menahannya.Di titik terendahnya, ia sadar: mungkin ia tak bisa mengubah keadaan seketika. Tapi ia bisa memilih untuk tidak berhenti.Dan di dalam dirinya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada secercah kecil cahaya yang muncul.
Other Stories
Dentistry Melody
Stella ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...