Bab 7 – Surat Untuk Diriku Yang Pernah Terpuruk
Malam itu, Arka duduk di meja kecil di kamarnya. Lampu meja menyala temaram, menyoroti secarik kertas kosong di hadapannya. Sudah lama ia tidak menulis dengan pena, karena biasanya ia mengetik di laptop. Tapi malam ini, ia merasa ingin menulis dengan tangannya sendiri, seolah ingin lebih dekat dengan kata-kata.Tangannya sedikit gemetar saat mulai menuliskan kalimat pertama:"Untuk diriku di masa lalu,yang pernah merasa hancur, yang pernah ingin menyerah."Arka berhenti sejenak, menatap kalimat itu dengan mata berkaca-kaca. Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan."Aku tahu betapa beratnya hari-hari itu.
Aku tahu bagaimana rasanya bangun di pagi hari tanpa semangat, menatap langit-langit kamar sambil bertanya: ‘Apa gunanya aku hidup?’
Aku tahu betapa pedihnya ditinggalkan, betapa sakitnya kehilangan, dan betapa hampa saat merasa tidak punya siapa-siapa lagi.""Tapi dengarlah, aku ingin kau tahu: semua itu bukan akhir. Luka yang kau bawa, tangis yang kau sembunyikan, bahkan rasa gagal yang membuatmu malu semuanya akan menjadi bagian dari perjalananmu. Suatu hari nanti, kau akan berterima kasih pada dirimu sendiri, karena memilih bertahan meski dengan langkah yang goyah."Air mata Arka jatuh, menetes ke kertas. Ia tersenyum, lalu mengusapnya dengan lembut. Tulisan tangannya sedikit kabur, tapi itu justru membuat surat itu lebih hidup.Ia melanjutkan menulis:"Kelak, kau akan mengerti bahwa gelap hanyalah jalan menuju terang. Kau akan bertemu dengan orang-orang yang menjadi cahaya. Kau akan menemukan keberanian untuk bangkit. Kau akan menulis kembali mimpimu. Dan lebih dari itu, kau akan menjadi cahaya bagi orang lain.""Jadi, jangan berhenti. Jangan menyerah. Pegang erat harapan, meski hanya sebesar titik kecil di ujung jalan. Karena titik itu akan membesar, menerangi langkahmu, hingga akhirnya kau bisa berdiri dengan senyum penuh syukur.""Aku mencintaimu, dengan segala rapuhmu, dengan segala kesalahanmu.
Dan aku berjanji: kita akan baik-baik saja."Arka menutup surat itu dengan tanda tangan kecil:"Dari aku, yang kini sudah berdamai dengan hidup."Ia melipat kertas itu, lalu menyimpannya di dalam buku catatan yang biasa ia bawa ke mana-mana. Malam itu ia tidur dengan tenang, seolah beban masa lalunya telah benar-benar ia letakkan.Langkah baru menantinya esok hari.Dan ia tahu, perjalanan ini belum selesai.
Karena hidup bukan tentang mencari cahaya saja tetapi juga tentang menjadi cahaya.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Dengan Ini Saya Terima Nikahnya
Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...