1. Keputusan
Masih terngiang jelas di telinga Fitatentang percakapannya dengan Mama semalam. Terbayang raut wajah Mama yang begitu lembut penuh kesabaran mengharap jawaban darinya.
“Fit...! Bagaimana hubunganmu dengan Rendra?Apa kamu serius dengan Rendra?” tanya Mama, lembut.
“Ada apa Ma? Kenapa tiba-tiba Mama menanyakan hubungan kami?”tanya Fita penasaran.
“Mama hanya ingin memastikan apakah kamu benar-benar yakin untuk menjadikan Rendra sebagai pendamping hidupmu? Kamu sudah tidak remaja lagi, sudah saatnya untuk memilih pendamping, apakah Rendra itu sudah pilihan terbaikmu?” Fita tercenung mendengar pertanyaan Mama.
“Fit,Mama tidak mau ikut campur masalah hubunganmu dengan Nak Rendra. Hanya saja, kalau boleh memberi saran dalam memilih seorang suami, carilah seseorang yang bisa menjadi imam, bahkan akan lebih bagus lagi kalau dia bisa menjadi imam dan memberi ceramah di masjid. Jika seseorang paham dengan ajaran agama, lalu dia mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari, biasanya orang itu akan memperlakukan istrinya dengan baik.”
Fita benar-benar terkesima mendengar penjelasan Mama, beliau terlihat bersungguh-sungguh dengan kalimat-kalimatnya yang begitu tegas.Fita tidak bisa berkata apa-apa, beliau kembali melanjutkan nasihatnya.
“Walau seorang perempuan memliki pemahaman agama yang kuat dan sempurna, dia akan lemah bila didampingi oleh seorang suami yang tidak memiliki landasan agama yang kuat, dan sebaliknya apabila laki-laki yang kuat agamanya, maka akan mampu membawa wanita yang lemah agamanya menjadi kuat seperti dirinya. Ini adalah hukum alam, Nak! karena sudah ditakdirkan, laki-laki adalah imam dalam keluarga,” jelas Mama Fita dengan lugasnya.
Fita hanya terpaku, terhenyak kehilangan kata-kata, lemas segala tulang di badan. Serasa mendapat tamparan keras yang menyadarkan Fita akan hakikat hidup yang sesungguhnya. Mengingatkan dengan tujuan hidup yang seharusnya diapikirkan sejak awal.
Terbayang seraut wajah tampan yang selama ini dengan setia menemani Fita. Rendra yang memiliki sorot mata awan itu telah mengisi hari-hari Fita.Kemanapun ingin pergi, dia selalu setia menemani.Apapun permintaan Fita, dengan segala daya dia akan berusaha memenuhinya.Bisa dikatakanRendra selalu ada disaat Fitamembutuhkan.
Rendra adalah sosok pria yang baik dengan masa depan cerah. Sebagai calon sarjana teknik dari universitas yang terkemuka di Kota Padang, ditambah lagi wajahnya yang tampan, membuat banyak wanita ingin menjadi pendampingnya.
Orang tua Rendra adalah pengusaha sukses. Perusahaan keluarga mereka bergerak dibidang garmen. Bisnis keluarganya berkembang dengan pesat, ekonomi mereka berlebihan.Jauh sekalibila dibandingkandengan keluarga Fita yang sederhana.
Outlite-outlite mereka tersebar di berbagai kota di Kabupaten Solok ini. Bahkan sekarang, keluarga mereka sedang merambah bisnis di bidang minuman.Benar-benar keluarga yang ulet dan pekerja keras.
Tapi sayang sekali, pemahaman mereka tentang agama sangat minim, terlihat dari kesibukan mereka yang tetap berlangsung, meskipun waktu salat telah masuk. Azan yang berkumandang memanggil kita untuk menunaikan ibadah salat,tak mereka hiraukan.Mereka masih sibuk dengan urusan bisnisnya.
Tiba-tiba rasa perih kembali menyayat hati Fita, teringat dengan nasihat Mama semalam yang menganjurkan dirinya untuk memilih calon suami yang mengerti agama, agar bisa membina keluarga sakinah. Berat sekali keputusan yang harus dibuat. Seandainya saja Rendra adalah cowok playboy yang suka mempermainkan wanita, mungkin tidak seberat ini bagi Fita meninggalkannya.
Membawa rasa nyeri yang tak tertanggungkan, Fita melangkah menyusuri jalan kenangan mereka. Jalan di sepanjang hutan lindung di daerah Aripan ini menjadi saksi bisu tentang indahnya perjalanan cinta mereka selama ini.
Dia yang begitu baik dan sopan, menjadi pujaan gadis-gadis di sekolah, telah memilih Fita menjadi kekasihnya. Fita yang hanya gadis dari keluarga sederhana, dengan paras yang biasa-biasa saja merasa sangat tersanjung dengan pilihan ini.
Sudah hampir empat tahun mereka menjalin hubungan, tak pernah ada masalah yang berarti yang akan membuat mereka harus bertengkar. Perjalanan cinta keduanyasangatlah harmonis dan damai.
Keluarga besar Rendra sangat menyayangi Fita, bahkan orang tuanya sering meminta Fita untuk menemani mereka berbelanja ke Bukit Tinggi. Adik-adik Rendra sangat manja pada Fita, mereka sering minta ditemani oleh Fitabila ingin membeli barang-barang pribadi mereka. Keluarga besar Rendra semua telah menerima Fita sebagai bagian dari keluarga mereka.
Kalau mengingat ini semua, Fita menjadi sangat resah. Haruskah dia meninggalkan Rendra begitu saja? Huff… pertanyaan yang belum juga terjawab. Yang ada malah rasa rindu yang semakin dalam ingin bertemu dengannya.
Tak sanggup berlama-lama di daerah yang malah membuat rasa cintanya semakin kuat pada Rendra, akhirnya Fita pun pulang ke rumah.
Setelah salat isya, Fita merebahkan tubuh di kasur yang biasanya sangat nyaman, namun kali ini berbeda. Ada gelisah yang mengganggu, sehingga matanya enggan terpejam. Waktu terus berputar, hingga dini hari, mata Fita masih tak mau diajak kompromi. Lelah tubuh yang dirasa tak mampu melelapkan, terbersit keinginan untuk salat tahajud. Akhirnya Fita pun bangkit dari tempat tidur dan berwudu.
Dikekhusyukan doa,Fita bermohon kepada Yang Kuasa agar diberi petunjuk dalam mengambil keputusan. Dia ingin yang terbaik bagi hidupnya. Fitamemohon kekuatan dalam menjalani keputusan yang akan diambilnya nanti. Setelah melaksanakan salat tahajud, ada ketenangan perlahan-lahan membawa Fita kedalam tidur yang lelap.
Pagi ini, Fita telah membulatkan hati untuk mengambil keputusan. Bagaimanapun juga dalamnya cinta dia pada Rendra, tetapi nasihat Mama lebih menjadi pertimbangan baginya. Fita memilih meninggalkan cintanya, dan mengikuti saran Mama. Walau berat dan terluka. Tapi inilah keputusannya. Semoga ini bukan keputusan yang salah.
Fita tidak berani menemui Rendra secara langsung, dia lebih memilih untuk meneleponnya. Dengan tangan bergetar, Fita menekan angka-angka yang begitu hafal di ingatannya.
“Tut… tut… tut…”Dering telepon berpacu dengan detak jantung Fita.
“Halo…” suara lembut Rendra mengagetkannya. Kelembutan ini membuat dia bimbang. Ada keraguan untuk menyampaikan niat hati, tapi bayangan wajah Mama kembali menguatkan tekad Fita.
“Rendra, ini aku, Fita. Aku mau mengatakan sesuatu,” jawabnya lirih.
“Fit, kamu dimana? Biar aku jemput,” jawaban Rendra membuat hati Fita semakin tak karuan.
“Maaf Rend… aku di Padang.Aku ingin menyampaikan bahwa aku sudah tidak sanggup lagi menjalani hubungan kita ini, mulai detik ini kita putus, Rend!” Fita menangis pilu.
“Fitt, kamu kenapa?” teriakan kaget Rendra masih jelas terdengar. Fita tidak menjawabnya, dia hanya menangis, telepon tidak ditutup.
“Fit.. apa yang terjadi? Kenapa kau berkata seperti ini? Apa salahku Fit?” pertanyaan bertubi-tubi dari Rendra tak terjawab.
Sesenggukan dia menahan segala rasa yang berkecamuk di dada. Fitamemutuskan untuk menutup telepon.
“Selamat tinggal Rendra, selamat tinggal cintaku. Semuanya akan kujelaskan nanti!” janji Fita dalam hati.
***
Dengan hati yang terluka, Fita mencoba untuk menapaki hari-hari kedepan, hari-hari yang belum pasti, semua serba gelap. Yang jelas, Fita telah membuat sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Keputusan berat yang akan membawa dirinya ke masa depan yang dia sendiri tidak tahu seperti apa.
Sore yang cerah tak ada mendung menggelayuti langit, warna kuning keemasan menambah indah suasana sore itu. Sebagai mahasiswi yang telah menyelesaikan tugas akhir, kegiatan Fita sudah tidak banyak lagi, hanya menunggu saat-saat wisuda.Fita mencoba menikmati masa-masa istirahat, tak begitu banyak kegiatan yang bisa dia lakukan, Fita lebih sering menghabiskan waktunya di pantai yang berada tepat di belakang kampus.
Ada kenyamanan tersendiri menikmati pemandangan sore hari, sambil mendengarkan nyanyian ombak. Hempasan ombak di bibir pantai, membelai lembut ujung-ujung jari kakinya.Fita memejamkan mata sambil menghirup udara pantai yang segar, ada damai menelusup di sanubari.
Brukk! sebuah bola usang menerjang punggungnya. Fita kaget sekali, dia melihat ke belakang,
“Ha ha ha…” suara tawa nakal dari segerombolan bocah-bocah membuat dia tersenyum.
“Uni melamun ya? Dari tadi kami panggil-panggil, Uni tidak menyahut,” Andi, anak penjual sate kerang yang rumahnya tidak jauh dari tempat kosnya memulai percakapan.
“Hai… sini Ndi,”ajak Fita, ramah. “Uni bukan melamun, tapi lagi asyik menikmati suasana pantai yang begitu indah,” sambung Fita.
Teman-teman Andi pun ikut duduk mengelilingi Fita, dia senang sekali. Mereka adalah teman-teman kecil yang selalu ceria. Dalam kondisi hati yang sedang terluka, mereka selalu ada, menemani Fita di pantai ini.
“Uni, ayo kita bermain lempar-lemparan bola, mumpung ombak tidak begitu besar,” tanpa menunggu persetujuanFita, Andi dan teman-temannya menarik tangannya, menyeret Fita ke bibir pantai.Merekapun larut dalam permainan bola yang menyenangkan.
Canda tawa mereka benar-benar menghibur, walau bermain dalam riak ombak yang tidak begitu kuat, membuat Fita cukup lelah.
”Andi, sudah cukup mainnya, Uni capek!”Fita keluar dari laut, menuju bebatuan di pinggir pantai. Dia duduk sambil meluruskan kaki yang terasa lelah. Ada resah yang mulai berkurang dibasuh oleh ombak yang membasahi tubuhnya.
Fita memejamkan mata, menepiskan semua gamang yang mendera, dia pun berteriak sekuat tenaga. “Aaaaaa..........”plongrasa di dada.
“Ya aku harus kuat!Inilah keputusanku, yang menjadi pilihan hidupku!”Fita menguatkan dirinya.
***
Other Stories
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Aku Pulang
Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...