2. Pkuw Tanjung Alai
Pesantren Kejuruan Ummatan Wasathon (PKUW) adalah suatu lembaga pendidikan yang mencoba memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama. PKUW terletak di Tanjung Alai nagari yang elok, yang berada di ketinggian gugusan Bukit Barisan yang membentang di sepanjang Pulau Sumatera. Pemandangan yang melingkari daerah ini sangat indah.
Sejak di wisuda tiga bulan yang lalu, Fita mendapat tawaran untuk mengajar di sini, dengan senang hati dia menerima tawaran tersebut. Fita sangat terkesan dengan PKUW yang sangat mengutamakan kesederhanaan hidup dalam pengajarannya.
Di belakang sekolah ada sebuah bukit yang lebih tinggi lagi, puncak tertingginya bernama Puncak Guek Duri. Lokasi ini sangat indah, seandainya saja ada yang mengelola dengan profesional, bisa dijadikan area untuk paralayang, karena puncaknya yang begitu tinggi di kelilingi hamparan sawah yang menghijau.
Hamparan Danau Singkarak dengan permukaan airnya yang berwarna biru terbentang di hadapannya. Begitu cantik dihiasi oleh rimbunan pohon bakau yang memagari di sekelilingnya. Jalan berliku menambah eksotisnya pemandangan sore itu.Disinilah Fita berdiri sekarang.
Fita menatap langit mulai memerah, mentari telah beranjak ke peraduannya, burung-burung walet menyambut kehadirannya dengan sukacita. Angin berhembus sepoi-sepoi menyegarkan, menambah nyaman suasana yang dirasa. Ujung jilbab yang dikenakannya, menari-nari ditiup angin.
Sesak yang dia rasa di dada sedikit berkurang dibawa pergi oleh hembusan angin sore. Teringat percakapan dengan kepala sekolah tadi siang,
“Bagaimana Bu Fita?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Faizal, selaku kepala sekolah di tempat dia mengajar sedikit menyudutkan.
“Maksud Bapak bagaimana apanya, Pak?” tanya Fita pura-pura bodoh.
“Saya jadi penasaran, sebenarnya Bu Fita ini sudah punya calon pendamping atau belum sih?Sudah berkali-kali aku menawarkan calon pendamping buat Ibu Fita, tetapi selalu Ibu tolak. Minggu yang lalu aku sudah mengenalkanIbu dengan Pak Rifan, yang mengajar di SMA N 1 Singkarak. Bukankah Ibu dan Pak Rifan sudah bertemu di rumah Ongku Bilal? Sekarang aku ingin tahu bagaimana pendapat Ibu tentang Pak Rifan!”pernyataan Pak Faizal betul-betul menohok tepat di jantung Fita.
Fita memberanikan diri untuk menyatakan isi hatinya.
“Sebenarnya Pak Rifan itu orangnya cukup baik,Pak! Bahkan terlihat sekali kalau dia adalah seorang yang pintar. Wawasannya luas, pemikirannya juga terbuka dan modern, beruntunglah gadis yang mendapatkan dia sebagai suaminya,”Fita berhenti sejenak.
“Maksud Ibu Fita apa? Kok jawabnya seperti itu!” Pak Faizal menyela dengan tidak sabar.
“Mungkin kami belum berjodoh, Pak!” jawab Fita pelan. Terlihat Pak Faizal kaget mendengar jawaban Fita.
“Apa? jadi dengan Pak Rifan pun Ibu tidak berkenan?Bukankah Ibu sendiri yang mengatakan kalau dia baik, pintar, wajah ganteng, dan sarjana yang berwawasan luas, sudah PNS lagi. Pendamping yang seperti apa lagi yang mau Ibu cari?” kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Faizal penuh keheranan, membuat Fita merasa tidak nyaman. Fita tidakbisamenjawab pertanyaan-pertanyaan beliau.
***
“Bu… sudah sore, kita kembali ke asrama ya,Bu!”suara Isra membuyarkan lamunan Fita.
“Sebentar lagi ya,Nak! Ibu masih ingin melihat mentari tenggelam di balik Danau Singkarak itu,”tolak Fita halus.
“Tapi Bu... kalau terlalu sore, takutnya nanti di perjalanan ke asrama kita bertemu dengan babi hutan. Apa Ibu tidak takut?” Nova, muridnya yang lain mencoba membujuk Fita.
“Nanti malam di mushola ada muhadasah lo Bu! Ibu yang jadi mentornya,” Widya yang dari tadi hanya berdiam diri ikut membujuknya.
“Hmm... baiklah, mari kita pulang!” Fita pun beranjak meninggalkan Puncak Guek Duri yang indah itu.
Fita hanya berdiam diri,langkah kakinya diseret dengan enggan, mengikuti langkah-langkah riang anak muridnya. Mereka saling berkejaran, jikaFita sudah tertinggal jauh, mereka akan kembali menyusul Fita dan kembali mengiringi langkahnya.
“Ah nyamannya jadi mereka, tak ada yang akan membebani pikiran mereka. Yang ada hanya tawa penuh sukacita,”ada rasa iri dalam diri Fita melihat keriangan mereka.
Sesampai di depan asrama Fita, merekapun pamit kembali ke asrama masing-masing.
“Terima kasih ya Isra, Nova, dan Widya.Karena kalian telah menemani Ibu sore ini,” ucapku tersenyum lembut sambil memperbaiki jilbab Nova yang kusut tertiup angin.
“Sama-sama Bu! kami mau pamit dulu Bu! Assalamualaikum…”
“Waalaikum salam…” mereka pun berlarian kembali ke asrama mereka masing-masing.
Di kamar, Fita merebahkan badannya di kasur sambil menatap kosong ke langit-langit, dia kembali merenung. Semenjak kedatangannya di PKUW ini, Fita merasakan ketenangan mulai ada dalam dirinya. Fita mengakuisebelumnya dia begitu limbung menjalani hari-harinya. Ini terjadi setelah dia memutuskan untuk berpisah dengan Rendra, kekasih yang telah cukup lama menemaninyadalam suka dan duka.
Di PKUW perlahan namun pasti dia telah mampu melupakan Rendra, apalagi setelah ditunjuk sebagai ibu asrama. Tugasnya mendampingi anak-anak putri yang mondok di asrama. Fita menjadi sibuk, sehingga tidak ada waktu lagi baginya untuk meratapi perpisahan yang telah dipilihnya sendiri.
Siswa-siswi PKUW diasramakan, tetapi bagi mereka yang berdomisili tidak jauh dari sekolah, bebas memilih untuk ikut mondok atau tinggal bersama orangtua. Ada 10 buah rumah yang dijadikan asrama. Setiap asrama diberi nama dengan nama-nama yang ada di daerah Saudi Arabia. Ditunjuk seorang guru untuk menjadi guru pendamping di setiap asrama. Fitaditunjuk mendampingi Asrama Safa Marwa.
Rasa kekeluargaan yang dia rasakan di asrama ini sangat kuat. Kedekatandengan siswa-siswi mampu memberi kenyamanan dalam hati. Walau situasinya di puncak bukit yang jauh dari keramaian kota, bahkan TV pun tidak ada, mereka hidup dalam kesederhanaan. Namun rasa damai selalu menghiasi hari-hari Fita. Celoteh riang dan canda tawa siswa-siswi itu membawa keceriaan pada dirinya.
Sebagai seorang guru yang cukup disayangi oleh siswa, Fita mendapat perhatian lebih dari teman-teman guru yang lain. Namun statusnya yang masih lajang, membuat banyak orang penasaran.Mereka ingin tahu apakah Fita sudah punya calon pendamping atau belum.
Termasuk Pak Faizal, kepala sekolah SMP di PKUW. Dia ingin agar Fita segera menikah, bahkan berkali-kali beliau memperkenalkannya dengan seorang pria, tetapi selalu saja hati Fita tdak bisa menerima calon yang dipilihkannya.
Sampai pada kejadian siang tadi, sewaktu jam istirahat beliau memanggil Fita ke kantornya.
“Bu Fita, aku bukan mau usil atau mau ikut campur dengan urusan pribadi Ibu. Tapi karena kami sangat sayang sama Ibu. Kami merasakan semenjak kehadiran Ibu di sekolah ini, anak-anak menjadi lebih bersemangat belajar,bahkan kegiatan muhadasah yang Ibu bimbing sangat ramai dihadiri siswa,” Pak Faizal menghentikan ceritanya sejenak.
“Mereka sangat menyukai cara Ibu mengajar, bahkan ada sebagian dari mereka yang sengaja datang ke rumahku, menghadap hanya untuk menyatakan kalau mereka sangat bahagia karena memiliki ibu asrama seperti Ibu,”terlihat Pak Faizal menghela napas panjang. Fita mendengarkan saja penjelasan Pak Faizal dengan rasa gelisah.
“Kami sangat mengharapkan agar Ibu Fita segera punya pendamping.Bukan karena apa-apa Bu, ini nagari kecil, semua orang telah mendengar cerita tentang Ibu. Banyak orang tua yang punya anak laki-laki yang masih lajang datang menemui aku ke rumah. Mereka berkeinginan untuk menjadikan Ibu, menantu. Saya tidak bisa menolak mereka Bu, karena semua orang tahu kalau Ibu masih belum menikah,” Pak Faizal menatap Fita dengan tajam.
“Oleh karena itulah, Bu Fita, aku secara pribadi mencoba mencarikan pasangan untuk Ibu.Calon yang aku tawarkan rasanya cukup sepadan dengan Ibu Fita. Tapi kenapa Ibu selalu menolaknya? Apakah Ibu sudah punya pilihan sendiri? Kalau memang sudah ada pilihan sendiri, sebaiknya Ibu memperkenalkannya kepada kami, sehingga aku bisa menolak mereka yang mau meminang Ibu,” jelas Pak Faizal panjang lebar.
Fita terperangah mendengar penjelasan Pak Faizal, sungguh dia tidak pernah menyangka kalau masalah pribadinya telah menjadi perhatian orang sekampung. Ada rasa khawatir menyelinap dalam sanubari.
Pernah terdengar cerita dari teman-teman yang mengajar di daerah pelosok. Mudah saja nantinya bagi guru-guru yang masih lajang itu menikah dengan penduduk nagari di mana mereka mengajar, tanpa mempertimbangkan lagi latar belakang pendidikannya. Banyak diantara mereka yang berjodoh dengan tukang ojek, buruh tani, sopir angkutan, dan lain-lain.
“Akhh...”Fita menepiskan bayangan pembicaraan dengan Pak Faizal siang itu.Bergegas diake kamar mandi, berwudu.Azan magrib telah berkumandang dari mushola, Fita pun bersiap-siap untuk salat magrib di mushola bersama siswa-siwi lainnya.
***
“Teng...teng...teng..” suara lonceng dari kantor guru mengakhiri tanggung jawab Fita hari ini.
“Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini Ibu cukupkan sampai di sini.Karena akhir pekan ini kita akan libur panjang, selama bulan puasa, Ibu harap kalian semua tidak lupa membawa buku pelajaran ke rumah masing-masing,”Fita mengingatkan muridnya dengan tegas.
“Untuk pelajaran Bahasa Inggris, tugas kalian adalah membuat inti sari ceramah Ramadan dalam Bahasa Inggris. Semua dirangkum dalam buku kegiatan Ramadan. Buku kegiatan Ramadan sudah bisa kalian ambil di koperasi, untuk pengambilan buku itusebaiknyadikoordinir saja oleh ketua kelas. Apa kalian sudah paham dengan tugas yang Ibu berikan?” tanya Fita sembari mengemasi buku-bukunya.
“Paham,Bu...!” jawab mereka serentak.
“Sekarang kalian boleh istirahat, Assalamualaikum!” ujar Fita sambil berlalu meninggalkan ruang kelas.
Fita bergegas ke kantor, rasa haus yang membuat dia ingin segera sampaidiruang guru.Terbayang segelas air jeruk yang tadi belum sempat diminum.
“Bu... sebentar,Bu!” suara yang sangat dikenal menahan langkah Fita. Dia menoleh ke belakang, tampak seorang anak laki-laki berbadan agak gemuk mengejar.
“Ada apa, Kusasih?”tanya Fita pada Ahmad Kusasih yang menyusul dengan tergesa-gesa.
“Ibu kenalkan dengan Uda Satria?”Fita menaikkan alisnya, mencoba mengingat nama yang disebutkan oleh Kusasih tadi.
“Itu lo Bu, Uda Satria yang dulu waktu SMP, dia sekolah di Muara Panas dan kos di rumah Ibu,” seolah-olah paham dengan kebingungannya, Kusasih mencoba menjelaskan tentang siapa yang dia maksud.
Kembali Fita mencoba mengingat-ingat, Uda Satria yang dimaksud Kusasih, kebetulan dulu di rumah Fita memang banyak anak kos.
Fita tersenyum,“Ooo... Uda Satria, Ibu ingat, tapi kenapa Kusasih menanyakan tentang Uda itu?” tanya Fita lembut. Walau sebenarnya Fita masih belum bisa membayangkan dengan pastiorang yang dimaksudkan oleh Kusasih, tetapi dia tidak mau mengecewakannya. Kelihatan sekali Kusasih tersenyum senang,
“Tidak apa-apa Bu! Aku hanya ingin memberi tahu Ibu saja, kalau Lebaran nanti Uda Satria akan pulang ke kampung!” katanya malu-malu.
Fita hanya tersenyum geli melihat binar-binar cerah yang lucu dari mata Kusasih.
“Ya sudah! Ntar kalau Uda itu pulang, sampaikan kalau Ibu ada di rumah ya!” goda Fitasambil mengacak-acak rambut Kusasih dengan gemas.
“
Iya, Bu!” jawabnya riang.Lalu diapun berlari meninggalkan Fita begitu saja. Lucu melihat tubuh gempalnya berlari megal-megol. Fita pun bergegas menuju ruang guru, terbayang kembali segelas es jeruk yang telah menanti dengan manis di mejanya.
Segelas air jeruk dingin yang melewati tenggorokan, mampu menyegarkan tubuh lelah Fita.
“Bu Fita disuruh ke ruang Pak Faisal, sekarang!”suara melengking Lia, pegawai tata usaha itu mengagetkannya.
“Oh iya, makasih ya, Lia,”Fitapun segera menuju ruang Pak Faisal. Ternyata Pak Faisal lagi berdiri di depan kantornya. Dia tidak sendiri, tapi ditemani oleh Pak Azwan, ketua komite sekolah.
“Assalamualaikum…”sapa Fita dengan sopan ke arah Bapak berdua itu.
“Waalaikumsalam,” jawab mereka hampir bersamaan.
“Apa kabar Bu Fita?”Sapa Pak Azwan ramah.
“ Baik,Pak,” jawab Fita sambil tersenyum.
“Mari kita bicara di dalam saja!” ajak Pak Faisal sambil membukakan pintu ruang kepala sekolah.Mereka pun masuk ke ruang Pak Faisal.
“Besok adalah hari terakhir sekolah, berarti selama satu bulan anak–anak libur, bagaimana dengan hasil tes PNS kemarin Bu? Kapan pengumumannya?”tanya Pak Faisal pada Fita.
“Kalau tidak salah pengumumannya habis Lebaran, Pak!”jawab Fita penuh rasa ingin tahu dengan maksud bapak berdua ini memanggilnya.
“Menurut Ibu, ada kemungkinan luluskah?”Pak Azwan menimpali percakapan mereka.
“Saya tidak tahu, Pak! Yang pasti usaha saya untuk mempersiapkan diri sebelum tes sudah cukup maksimal. Tinggal keputusan Allah SWT saja, Pak. Kalau Tuhan berkehendak, bisa jadi saya lulus,Pak!”jawab Fitategas. Pak Azwan hanya tersenyum mendengar jawaban Fita yang begitu lugas.
“Kemarin formasi penerimaan guru untuk setiappelajaran berapa ya, Bu?” tanya Pak Faisal lagi.
”Hanya satu lowongan guru untuk setiap mata pelajaran Pak!” Pak Faizal kaget mendengar jawaban Fita.
“Ya, tidak apa-apa, Bu!Walau cuma satu peluang, tapi kalau rezeki kita tak akan kemana,”Fita hanya tersenyum mendengar kalimat Pak Azwan.
“Begini Bu Fita…” Pak Faisal memperbaiki posisi duduknya.
“Menyambung pembicaraan kita kemarin…”Tung...!!! Bagai disambar petir, jantung Fita mulai berdebar tak menentu,dia yakin Pak Faisal akan menyinggung soal calon pasangannya lagi.
“Hari ini aku dan Pak Azwan sengaja memanggil Ibu, tolong Ibu memahami niat baik kami! Jadi kami berdua ingin jawaban yang jelas dari Ibu!”Pak Faisal menghentikan kalimatnya.
“Maksud Pak Faisal begini Bu,” Pak Azwan menyambung pembicaraan Pak Faisal.
“Karena kita akan liburan puasa, sementara Lebaran nanti di Tanjung Alai ini akan ada acara pulang bersama, maka akan banyak perantau-perantau muda yang pulang ke kampung ini.”
“Maaf Pak Azwan, apa hubungannya dengan saya, Pak?”tanya Fita menyela pembicaraan mereka.
“Hubungan secara langsung tidak ada Bu, tapi bukankah Pak Faisal telah mengatakan kepada Ibu, bahwa banyak orang tua disini menginginkan Ibu menjadi menantu mereka. Pada saat pulang bersama nanti, otomatis masalah ini akan ramai dibicarakan dan kami adalah orang pertama yang akan mereka tanyai. Jadi kami perlu jawaban dari Ibu Fita!”jelas Pak Azwan dengan sabar.
Fita merasa tersudut, sudah hampir tiga tahun dia disini, dan memang inilah masalah yang selalu ditanyakan orang pada mereka berdua. Fita tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba saja Fita teringat pada obrolan dengan Kusasih tadi. “Aha...!!!”ada ide muncul di pikiran Fita.
“Begini, Pak…”Fita memperbaiki posisi duduknya.
“Sebenarnya saya telah terikat janji dengan seseorang. Tapi saya tidak berani menyebutkan nama, rencananya liburan ini kami akan bertemu! Apapun hasilnya nanti, jawaban saya adalah setelah Lebaran nanti. Saya janji akan mengabarinya pada Bapak berdua. Kalau masih ada orang yang bertanya,Bapak jelaskan saja seperti itu!”
Fita merasa lega telah menyampaikan hal ini pada Pak Faisal dan Pak Azwan, walau dia tidak tahu pasti, yang jelas untuk sampai lebaran nanti,dia akan terbebas dari pertanyaan mereka. Pak Azwan mengerutkan keningnya. Dia mengamati Fita dengan seksama. Diapaham, Bapak berdua itu tidak percaya padanya, terpancar jelas dari pandangannya.
“Baiklah Bu Fita, kami akan menunggu jawaban dari Bu Fita, tapi kalau masuk sekolah nanti Bu Fita belum juga bisa menjelaskan siapa calon Ibu, maka kami yang akan menemui orang tua Bu Fita dan menawarkan pilihan kami,” Pak Azwan mengucapkan kalimatnya dengan tersenyum-senyum penuh arti.
Fita tidak perduli, yang pasti untuk sementara dia sudah tenang.Fita hanya tersenyum saja dan pamit meninggalkan ruangan tersebut.
***
Other Stories
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...