Persembahan Cinta

Reads
420
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Efierfita Ayulis

3. Tamu Dari Masa Lalu

Tanpa terasa bulan puasa sudah sampai di penghujung. Hari ini adalah hari terakhir berpuasa. Persiapan menyambut Lebaran telah selesai dari kemarin. Hari ini Fita hanya menyiapkan menu untuk hari H-nya saja.
Dirumah Fita, kesibukan semakin tinggi, karena hari ini kakak-kakaknya mulai berdatangan.Mereka datang bersama anak dan istrinya.Sebagai sebuah keluarga besar, dapat dibayangkan betapa banyaknya persiapan yang harus disediakan. Tapi Lebaran kali initidak seramai tahun lalu. Kakaknya yang di luar Sumatera,tidak pulangLebaran tahun ini.
Suara takbir menggema dari seluruh masjid yang ada di kampung Fita, berbondong-bondong masyarakat pergi ke lapangan bola kaki Limau Purut. Memang di kampungnyasalat ied itu dipusatkan dilapangan.
Hampir seluruh lapangan yang luas itu, dipenuhi oleh jamaah yang ikut melaksanakan salat ied. Fita dan keluarga tidak ketinggalan, bersama saudara-saudara mereka menempati shaf paling depan.
Sepulang salat ied,mereka berkumpul di Rumah Gadang (rumah adat orang MinangKabau) saling bermaaf-maafan, lalu dilanjutkan dengan acara makan bersama. Setelah acara pokok selesai, mulailah satu persatu kakak-kakak Fita dan keluarganya masing-masing, akan meninggalkan rumah dan berkunjung ke rumah sanak keluarga yang lain.
Sebagai anak yang paling kecil dan belum menikah, otomatis tugas Fita adalah menjaga rumah dan menunggu tamu yang datang berkunjung. Lumayan capek rasanya badan bolak-balik dari ruang depan ke dapur membuat dan meringkas minuman. Fita melirikjarum jam sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB. Fita pun pamit padaMamanya untuk istirahat sejenak.
Belum sampai sepuluh menit Fita merebahkan tubuh di ranjangnya yang nyaman, tiba-tiba terdengar suara Mama memanggil di depan pintu kamar, “Fit… keluar sebentar, ada tamu,” tanpa menunggu jawaban dari Fita,Mamanya langsung berbalik menuju ke ruang tamu.
Hmmm…malas rasanya keluar, kenyamanan ranjang membuatnya tidak ingin bangkit. Tapi tidak ada orang lain lagi di rumah. Dengan sedikit rasa enggan,Fita pun bangkit dan menuju ke ruang tamu.
‘Kapan pulang Nak Satria?”suara Mama terdengar cerah sekali.
“Kemarin Ma, kebetulan dapat izin tiga hari. Besok rencana kembali ke Bandung,” percakapan di ruang tamu terdengar sampai ke telinga Fita. Dia jadi penasaran. Siapa sih tamu itu?
Sewaktu Fita menyibak tirai pembatas ruang,dia melihat sesosok lelaki berpakaian loreng. Sepertinya dia seorang tentara.
“ Fit...ini loh ada Nak Satria!” Mama memanggil Fita.
“Eh...kapan datang?”sapanya santai, dia langsung berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Apa kabar Bu Guru?” sapanya ramah. Fita menyambut uluran tangannya.
“Kabar baik,” jawabnya singkat.
“Mari silakan duduk, aku mau bikin minum dulu ya,”Fita langsung berbalik kembali ke dapur.
“Diakah yang namanya Satria? Diakah yang dimaksud oleh Kusasih?” berbagai pertanyaan muncul di benak Fita, sambil membuat minum diamencoba mengingat-ingat kembali masa-masa SD dulu.
***
“Tolong aku dong, membuat prakarya ini!” pinta Fita manja pada anak-anak yang kos di rumahnya.
“Ahh malas ahh, kamu yang disuruh oleh gurumu kok malah balik menyuruh aku?”suara jutek Satria membuat Fita kesal.
“Akukan minta tolong baik-baik, bukan nyuruh, tahu!” jawab Fita sedikit sewot.
“Ahh sama saja! Kerjakan saja sendiri!” jawaban Satria ini benar-benar membuat Fita marah.
“Uhh pelit!Kalau tidak mau membantu ya sudah, jangan mengomel kayak kakek-kakek, wwekk!”
Fita mencibir pada Satria, eh Satrianya malah mendelik balik.
“Eh Satria, jangan begitu, nanti kamu dimarahi Mamanya baru tahu!” suara Uda Edi, kakaknya menengahi.
“Ada apa Fit?” tanya uda Edi lembut.
“Ini Da, minta tolong gergajiin prakarya Fit, ya,” pinta Fita manja.
“Coba bawa sini! Uda lihat dulu,” tawarnya lembut padaku.
Fita senang sekali, dia segera berlari ke tempat Uda Edi yang sedang menyemir sepatunya. Diamemberikan potongan papan tripleks yang sedari tadi dipegangnyakepada Uda Edi, sambil tetap mencibir pada si Satria, adiknya yang jutek. Eh, dia malah membalas cibirannya.
“Awas kamu!” ancam Fita galak.
Uda Edi mengamati papan tripleksyang telah dilukis dengan nama Fita.
”Ini loh Da, Fita disuruh buat nama dari tripleks ini, Fitatidak kuat menggergajinya. Tolong dong,Da?”rayu Fita pada Da Edi. Dia mengamati pola namaitu dengan serius.
“Tinggalkan disini aja ya Fit. Nanti kalau sudah selesai,Uda antar ke Rumah Gadang!” pinta Uda Edi pada Fita.
“Nggak mau! Maunya Uda gergaji sekarang, Fita tungguin!” Rengek Fita.
“Eh dasar anak manja! Sudah dibantuin, maksa lagi!” suara jutek Satria membuat Fita kesal.
“Biarin, toh yang kerja bukan situ! Wwek…wwek,” cibir Fita padanya.
“Ya sudah, sini Uda kerjakan!” Uda Edi langsung menggergaji prakarya milik Fita.Dengan sabar dia mengikuti pola nama yang telah ada di papan tripleks itu. Fita menunggu dengan santai duduk disamping Uda Edi, sampai akhirnya prakarya itu selesai.
“Nahh... sudah jadi namamu Fit, bagus ya!” Puji Da Edi melihat huruf-huruf yang terpola dengan ukiran yang indah. Fita hanya mengangguk, sebenarnya diapun kaget melihat hasil akhirnya, bagus sekali.
“Terimakasih ya, Da Edi! “ ujar Fita senang,
“Sama-sama. Fit!”
Fita pun berlalu meninggalkan ruangan itu, tapi sebelum keluar dia menyambar patahan tripleks bekas gergaji tadi, lalu melemparkan ke arah Satria.
“Aduh.!” teriakannya terdengar sampai keluar.
“Syukurin!” teriak Fita dari halaman, dia berlari naik ke Rumah Gadang sambil tertawa puas. Masih sempat dia melirik dengan sudut matanya,Satria membersihkan wajahnya sambil menggerutu. Fita senang sekali melihat ekspresinya itu.
***
“Bu Guru kok melamun?” sapaan dari Satria mengagetkan Fita.
“Eh… nggak lah, masak melamun, pamali tahu!” jawab Fita dengan sedikit malu. Risih juga ketahuan melamun, apalagi yang memergoki justru orang yang ada dalam lamunannya.
“Aku mau ke kamar mandi, di mana ya kamar mandinya?” Fita tertawa mendengar pertanyaan Satria.
“Cari saja sendiri, kayak tamu jauh saja!” jawab Fita sambil berlalu.
“Yee, mungkin saja sudah pindah kamar mandinya,” dia menanggapi jawaban Fita sambil nyengir. Fita hanya mengangkat bahu, dan berlalu ke ruang tamu sambil membawa minuman yang baru dibuat.
Tidak lama kemudian, Satriapun kembali ke ruang tamu.Mereka terlibat dengan percakapan yang panjang. Suasana menjadi hangat dan ceria, gelak tawa memenuhi ruangan itu, mengulang kembali kisah-kisah masa kecil mereka yang penuh warna.
“Assalamualaikum…”ucapan salam terdengar di pintu depan.
“Walaikum salam…” jawab Fita sambil berdiri melihat ke beranda. Ternyata kakaknyayang akrab dipanggil Angku Suraudan istrinya datang berkunjung.
“Masuk,Da!” Fita menyambut rantang yang diberikan oleh kakak iparnya. Sudah tradisi di adat Minang pada hari Lebaran, menantu akan berkunjung ke rumah mertuanya dengan membawa rantang yang berisikan makanan.
“Eh, ada tamu, kapan pulang dari Bandung, Satria?” sapa Uda Pen sambil mengulurkan tangannya menyalami Satria.
“Kemarin Da, kami dapat cuti Lebaran 4 hari,” jawab Satria sambil beranjak memberikan tempat duduk buat kakak Fita. Fita pun mundur dari ruang tamu, beranjak ke dapur untuk memindahkan isi rantang yang dibawa oleh kakak iparnya ke wadah lain. Gelak tawa terdengar semakin ramai dari ruang tamu, sepertinya pembicaraan disana semakin seru.
“Fit, ayo kemari, ini Nak Satria mau pamit,” panggilan Mama memaksa Fita untuk menghentikan pekerjaan di dapur. Fita bergegas ke ruang tamu.
“Fit, aku mau pamit dulu ya, apa kamu mau ikut aku ke Dilam?Kan sudah lama kamu tidak ke sana,” tawaran dari Satria membuat Fita tercekat. Sejenak dia terdiam, sejujurnya dia ingin ikut bersama Satria, sudah 15 tahun lebih Fita tidak berkunjung ke Desa Dilam yang terletak di pebukitan.
Desa Dilam yang nyaman dan sejuk, pemandangan di sana sangat indah. Akan tetapi, Fita yang telah terpisah lama dengan dirinya, membuat diasungkan untuk menerima ajakan Satria.
“Iya, kapan-kapanlah aku main ke sana,” jawab Fita sambil tersenyum ramah.
“Kapan? Besok aku sudah harus kembali ke Bandung lo, Fit.Tidak ada waktu lagi,” Satria berusaha membujuk Fita.
“Ya, nanti kalau kamu pulang sekali lagi,” jawab Fita pelan.
“Baiklah, tapi benar ya, kalau nanti aku datang lagi, kamu mau kuajak ke Dilam?” tanya Satria berusaha meyakinkan dirinya. Fita hanya mengangguk sambil tersenyum manis.
Fita menatap kepergian Satria dengan perasaan yang tidak menentu, Satria masih berdiri di persimpangan jalan depan dan menoleh ke arah Fita. Fita hanya melambai ramah. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Fita merasa ada debar-debar aneh menjalari perasaannya.
Fita kembali menyibukkan dirinya di dapur. Bersih-bersih dan menyimpan semua barang-barang yang telah digunakan dari pagi tadi. Setelah semua rapi, Fita pun bersiap-siap untuk istirahat. Hari ini terasa sangat melelahkan.
LiburLebaran telah berakhir, saatnya kembali kesekolah. Ada kerinduan untuk berkumpul bersama teman-teman guru, tapi yang lebih mengangenkan adalah celoteh riang para santri. Keceriaan mereka selalu membuat Fita bisa tersenyum bahagia.
***
Suasana di sekolah sangat tenang.Di kantor hanya ada Fita sendiri, tiba-tiba saja dia dikagetkan oleh teriakan Lia.
“Uni….aku ada sesuatu nih!” senyum menggoda Lia di depan Fita.
“Dari Letda Infanteri Satria…!” Lia melambaikan sepucuk surat kehadapannya.
“Dari siapa Lia?”tanya Fita penasaran. Tapi Lia malah berlari keluar kantor.
“Yee… ternyata Uni Fita sudah punya pacar,” Fita benar-benar bingung dengan sikap Lia, dia pun mengejar Lia, dan “Yap…” Fita berhasil merampas surat dari tangan Lia.
Fita bergetar membaca surat dari Satria, ternyata dia juga merasakan hal yang sama.
“Alhamdulillah, Tuhan mendengar doaku. Akhirnya janjiku pada Pak Faisal dan Pak Azwan terpenuhi. Aku sudah punya jawaban untuk tantangan mereka. Aku merasa lega dengan semua ini. Ah… Satria, terima kasih atas ungkapan cintamu, aku pasti akan menerimanya,” Fita sangat bahagia membaca surat dari Satria.

Other Stories
Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

First Love Fall

Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Download Titik & Koma