4. Kado Terindah
Hiruk pikuk suara pengunjung Pasar Solok ini menambah gerah suasana. Tapi keadaan ini tidak memengaruhi Fita dan teman-teman yang sedang asyik menikmati es tebak Am. Tidak hanya itu, sepiring sate Padang pun ikut menyemarakkan acara kumpul-kumpulnya siang ini.
“Lia, mau tambah satenya?” tawar Fita pada Lia yang sedang melahap tusukan terakhir sate di piringnya.
“ Tidak Uni, aku sudah kenyang.” jawab Lia sambil menyeruput es tebak-nya.
Fita, Lia, dan Uni Yus sedang menikmati hari libur di Pasar Solok. Setiap hari Jumat, sekolah di PKUW Tanjung Alai libur. Kesempatan bagi mereka untuk pergi ke Kota Solok, kebetulan mereka semua berdomisili tidak jauh dari Kota Solok, jadi mereka akan pulang pada hari Kamis sore, dan kembali ke asrama hari Sabtu pagi.
“Wah… Lia sekarang diet ya, tidak mau nambah.Padahal biasanya doyan banget sate,” Uni Yus menggoda Lia.
“He… he… he…Uni Yus tahu saja, soalnya baju sudah sempit semua,” jawab Lia sambil tertawa.
“Fit, keluar sebentar!” panggilan itu mengagetkan Fita. Dia menoleh ke arah suara, ternyata itu adalah Uni Feri, kakaknya Fita. Bergegas Fita menyusul keluar.
“Ada apa, Ni?” tanya Fita tidak sabaran. Tidak biasa kakaknya menyusul Fita seperti ini.
“Kamu asyik-asyikan di sini, sementara semua orang panik mencarimu dari tadi,” Uni Feri langsung mengomeli Fita.
“Lho… ada apa? Tadi pagi aku sudah pamit ke Mama kok.Aku sudah mengatakan ke beliau, kalau aku ada janji dengan teman-teman di Solok,” Fita mencoba membela diri.
“Iya, tapi sekarang kamu harus ikut aku pulang! Sana pamit dulu sama teman-temanmu!” perintah tegas dari Ni Feri tidak bisa lagi dibantah. Fita segera menemui teman-temannya dan berpamitan.
Sepanjang perjalanan dalam angkutan pedesaan itu, Fita dan kakaknya hanya diam. Fita bingung dengan sikap kakaknya.
“Ada masalah apa ya, kok kakakku sampai mencari aku ke Solok?” tanya Fita dalam hati. Di Simpang Rumbio, angkot yang mereka naiki dihentikan oleh seseorang yang mengendarai Honda Win.
“Ada apa Da?” tanya sopir itu pada pengendara motor.
“Eh… mau tanya saja, ada Fita di dalam angkot?” suara yang begitu dikenal menanyakan Fita pada sopir. Beginilah enakknya tinggal di desa, kita saling kenal satu sama lainnya, walau rumah berjauhan.
“Fita, tuh dicari Udamu,” sopir itu menoleh ke arah Fita.
“Da, Fita di sini,” teriak Fita sambil melongokkan kepala di jendela.
“Oo, langsung pulang ya!” ujar kakak Fita sambil memutar motornya kembali ke arah kampung.
Fita benar-benar penasaran dengan sikap kakaknya, dia melirik Ni Feri, yang hanya tersenyum tipis sambil mengangkat bahu. Tak sabar rasanya ingin sampai ke rumah. Laju mobil angkot serasa lambat, rasa ingin tahu Fita membuat perjalanan terasa bertambah lama.
Tanpa menunggu angkot berhenti dengan sempurna, Fita segera melompat dari angkot, dan berlari ke arah rumahnya. Fita melihat Mama dan saudara yang lain telah menunggu. Wajah mereka terlihat tegang.
“Ada apa sih Ma? Kok semua menyusulku ke Solok, aku kan tidak enak dengan teman-teman,” tanya Fita pada Mama yang terlihat tenang-tenang saja.
“Fita! Coba kamu baca ini!” Uda Pen menyodorkan Koran Singgalang yang sedang dibacanya. Fita segera mengambil koran itu.
“Baca halaman 7, coba kamu amati dengan teliti!” suara Uda Pen terdengar riang. Fita mencari halaman yang dimaksud.
“Alhamdullillah Ya Allah…” Fita berteriak kegirangan dan segera melakukan sujud syukur. Betapa sangat berbahagia orang tua dan kakak-kakaknya, dari 650 peserta tes untuk posisi guru Bahasa Inggris, yang tersedia cuma 1 orang.
Alhamdulillah orang yang beruntung itu ternyata Fita. Tidak ada lagi kata-kata yang mampu Fita ucapkan, hanya tenggelam dalam rasa syukur yang mendalam di kekhusyukan sujudnya.
Ketika Fita membaca persyaratan untuk mendaftar ulang di kanwil provinsi, hatinya merasa tidak nyaman karena harus membawa nomor peserta tes. Fita tak mau membuat suasana menjadi keruh. Dia berusaha tetap tenang. Fita benar-benar lupa, dimanakah nomor tes itu diletakkannya.
“Ma, aku mau salat di kamar dulu,” pamit Fita pada Mamanya. Dia pun segera masuk ke dalam kamarnya. Masih terdengar gelak tawa anggota keluarga yang penuh kebahagiaan.
Fita mencoba mencari nomor tes itu di meja belajar, semua laci sudah dia bongkar, masih tak ditemukan. Fita juga membongkar lemari pakaian, bahkan kasur pun dia bongkar, masih tak bertemu. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, dia sangat takut. Jangan sampai diagagal hanya karena keteledorannya sendiri.
Fita memang tidak pernah menyangka akan lulus tes CPNS ini, karena peluangnya hanya untuk satu orang. Walau begitu, diabelajar dengan bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri menjelang tes CPNS itu. Dia tidak mau menyesali diri saat ujian.
Alangkah tidak enaknya, bila soal yang kita hadapi dalam ujian tersebut, kita tahu jawabannya ada di buku yang mana, tapi kita tidak bisa menjawab karena tidak membacanya. Menghindari hal inilah, maka Fita benar-benar mempersiapkan diri sebelum tes.
Fita mencoba mengingat-ingat kembali kejadian saat dia pulang tes tiga bulan yang lalu.Dia pulang ke rumah, lalu langsung masuk ke kamar, kemudian dia melemparkan nomor tes begitu saja….
”Yes…aku ingat!” jeritnya tertahan. Fita segera mengecek bagian atas lemari di meja belajarnya, tapi nomor itu tidak ada di sana. Fita mengintip ke sela yang ada antara lemari dan dinding kamar, samar-samar dia melihat seperti ada lembaran kertas yang menggantung.
Fita menarik meja belajar itu sekuat tenaga, “Hhhh… capek juga,” meja itu cukup berat. Lembaran yang dia lihat tadi melayang jatuh ke lantai, dia tidak bisa melihat dengan jelas, karena kertas itu sudah berdebu. Fita mengibas-kibaskan debunya.
“Alhamdulillah ya Allah, ini benar-benar nomor tes yang aku cari,” dia langsung bersujud dalam rasa syukur yang dalam.
“Fit…ada telpon dari Satria!” panggilan Mama membuat Fita harus segera mengakhiri sujudnya. Fita segera berlari mengambil gagang telepon dari Mama.
“Assalamualaikum…” suara berat milik Mas Satria terdengar lembut di telinganya.
“Walaikum salam, ada berita apa, Mas? Tidak biasanya Mas menelepon hari Jumat, inikan belum waktunya pesiar?” tanya Fita dengan rasa heran. Semenjak mereka resmi menjalin hubungan, Fita diminta memanggil ‘Mas’ pada Satria.
“Wah…sepertinya dilarang kangen nih!” Fita tersipu mendengar jawaban Mas Satria.
“Bukan begitu, Mas! Inikan aneh, Mas kok bisa menelepon di jam dinas begini?” tanya Fita lembut.
“Kebetulan hari ini Mas harus melengkapi berkas-berkas penting. Coba fit, kamu sebutkan nama lengkap Papa dan Mama!” Fita terkejut mendengar permintaan Mas Satria. Ada debar aneh tiba-tiba menelusupi dadanya.
“Lho…memangnya ada keperluan apa, Mas?” tanya Fita dengan berdebar
“Lhoo…masak sih tidak paham juga?” suara Mas Satria terdengar menggoda.
“Yaa… memang tidak paham kok, Mas!” jawabnya lugu.
“Bukankah kamu selalu mendesak Mas, untuk segera mengurus pengajuan pernikahan kita?” jawaban Mas Satria membuat jantung Fita serasa mau berhenti.
“Apakah aku tidak salah dengar? Apakah aku tidak sedang bermimpi?” Fita membatin.
“Kemarin Mas sudah menghadap Komandan, minta izin untuk mengajukan nikah.Sekarang Mas lagi menyiapkan segala macam administrasinya.Nanti kalau surat-suratnya sudah siap, Mas akan mengirimkannya padamu Fit, nanti kamu yang menyelesaikan untuk administrasi yang di kampung!”
“Siap, Mas!” Fita menjawab dengan bercanda.
“Sudah ya Fit, Mas tidak bisa lama-lama, salam buat keluarga,” Mas Satria menutup teleponnya. Fita merasa tidak memijak bumi lagi, harapan Mamanya yang terbesar adalah ingin melihat dia segera menikah. Akankah terwujud?
Begitu banyak kejutan yang didapat hari ini. Semua itu bagaikan kado terindah yang sangat dinanti-nantikan oleh kedua orang tua Fita. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Mama dan Papanya nanti.
“Alhamdulillah ya Allah, anugerah terindah dari-Mu sungguh tak ternilai.”
***
Other Stories
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Pantaskah Aku Mencintainya?
Ika, seorang janda dengan putri pengidap kanker otak, terpaksa jadi kupu-kupu malam demi b ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...