Adam & Hawa

Reads
260
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
adam & hawa
Adam & Hawa
Penulis Fakhriah Ilyas

Bab 3

Sudah enam hari Hawa berada di rumah ibunya di Jawa Tengah. Sore ini dia akan kembali ke Jakarta. Sedih rasanya ketika dia harus meninggalkan Ibu dengan cara yang sangat tidak enak, datang hanya untuk mengurung diri di kamar, tidak banyak bercerita seperti biasanya. Untung Ibu adalah orang yang penuh pengertian, dan tidak pernah memaksa Hawa untuk menceritakan apa yang tidak ingin dia ceritakan. Bagi Ibu, diamnya Hawa sudah dianggap cerita yang bisa dia pahami lewat naluri keibuannya. Karena itulah Hawa sangat mencintai Ibu, terlebih setelah ayahnya meninggal, hanya Ibu yang Hawa punya.
Esok paginya Hawa sudah sampai di kosan. Dia beristirahat sejenak, kemudian menyiapkan diri untuk menyambut Adam yang sudah berjanji akan menemuinya hari ini. Namun sampai malam tiba Adam tak menampakkan batang hidungnya. Hawa mulai resah, tapi dia berusaha menahan diri agar Aya, sahabat yang juga teman sekamarnya, tidak terlalu banyak bertanya. Cukup dia bertanya kenapa Hawa menghilang selama tujuh hari ini, dan itu sudah dijawab olehnya bahwa dia tiba-tiba saja kangen ibunya dan langsung meminta Adam mengantarnya ke terminal.
Aya yang memang tahu Hawa tidak begitu suka banyak bercerita, hanya mengangguk. Tapi dia sempat juga memberitahu Hawa, bahwa Adam pun ikut-ikutan tidak kuliah selama satu minggu ini. Aya tahu masalah itu dari Jalal yang kebetulan bertemu dengannya di jalan. Hawa terdiam mendengar cerita Aya. Padahal hatinya pun bertanya-tanya, Kemana Adam? Seminggu di kampung dia sudah menahan kerinduan yang begitu menyiksa, berharap hari ini rindu itu bisa terhapus dengan kemunculan Adam, tapi Adam malah tidak menepati janjinya.
Dua minggu berlalu, Adam belum muncul juga menemui Hawa, keresahan sudah sampai puncaknya. Akhirnya Hawa meminta Aya mengantarnya ke kosan Jalal untuk mencari tahu kabar Adam.
“Kenapa tidak kamu telepon saja ke rumahnya, kamu punya nomor rumah Adam, kan?” tanya Aya.
“Adam pernah bilang untuk jangan telepon kalau dia lagi di rumah, karena biasanya akan jadi masalah kalau kebetulan umi atau abinya yang angkat.”
“Oh, begitu. Ya sudah, yuk ... kita ke kosan Jalal!”
Hawa yang wajahnya terlihat semakin kuyu beberapa hari ini tidak bicara sepanjang perjalanan. Hanya sesekali menanggapi obrolan Aya dengan anggukan atau senyum samar. Aya berpikir, seandainya dia berada di posisi Hawa, pasti wajahnya akan lebih kusut, malah mungkin dia akan nekat ke rumah Adam, untuk mengetahui apa sebetulnya yang terjadi dengan pujaan hatinya.
Apalagi, baru pertama kali Adam bersikap seperti ini, tidak mengunjungi Hawa tanpa kabar yang jelas. Padahal selama ini Adam dan Hawa sudah seperti Romeo dan Juliet, ke mana pun selalu berdua. Pagi, siang, sore, selama mereka bisa menjalani kegiatan bersama-sama, pasti akan mereka lakukan bersama.
Hubungan mereka membuat siapa pun iri melihatnya, termasuk Aya. Mereka berdua pasangan serasi. Adam yang tampan dengan raut wajah Timur Tengah dan Hawa yang cantik dan ayu dengan kelembutan khas Jawa Tengah, merupakan perpaduan indah. Apalagi cinta mereka memancarkan kebahagiaan yang membuat wajah mereka selalu berseri. Wajar rasanya kalau Hawa begitu menderita melewati hari-hari tanpa Adam, mengingat pasti sudah begitu banyak kenangan yang terukir di setiap tempat di sekitar kampus yang mereka lewati bersama.
Sesampainya di tempat Jalal, Ayalah yang mewakili Hawa bicara. Meminta tolong kepada Jalal untuk mencari tahu kabar tentang Adam, karena setahu Aya, Jalal sangat dekat dengan Adam, jadi dia pasti tahu rumah Adam dan bisa mengunjunginya jika tidak bisa dihubungi lewat telepon. Jalal siap menolong Hawa dan akan segera memberi kabar secepat mungkin.
*****
Jalal mendatangi Hawa keesokan harinya di kos. Mereka mengobrol di teras, tempat Adam biasa mengobrol dengan Hawa, sementara penghuni kos lain sedang istirahat siang di kamar masing-masing.
“Ada kabar apa?” tanya Hawa tidak sabar.
Jalal diam sejenak, seakan sedang berpikir bagaimana cara menyampaikannaya kepada Hawa. “Mm, begini. Aku sudah telepon, tapi yang angkat kakaknya.” Jalal berhenti sejenak utuk memikirkan kata-kata yang tepat kepada Hawa. “Kata kakaknya, Adam sekarang sedang ke Bali.”
“Untuk apa?”
Jalal terdiam, bibirnya bergerak-gerak tapi tak bersuara. Jujur, dia sangat tidak tega menyampaikan berita yang dia terima kepada Hawa. Selama ini dia sudah sangat tahu, Hawa sangat mencintai Adam.
“Jalal, tolong katakan, untuk apa Adam ke Bali?” Dengan penasaran Hawa memaksa Jalal untuk segera bicara.
“Kamu yang sabar ya, Hawa,” kata Jalal akhirnya.”Adam sedang bulan madu di Bali.”
Hawa menatap Jalal tak percaya. Berita itu bagai petir yang menyambar dan membuatnya luluh lantak bagai tak bertulang. Airmatanya langsung mengalir. Semua kenangannya bersama Adam berkelebat di benaknya. Terutama kenangan malam terakhirnya bersama Adam, membuatnya semakin terisak. Dia merasa mati rasa, dan hanya samar merasakan Jalal menepuk pelan bahunya sebelum cowok itu beranjak untuk pergi.
Hawa masuk ke kamar dan duduk tertunduk di tepi ranjang. Wajah cantik itu terlihat merana, air mata dibiarkannya terus mengalir, hanya isak tangisnya yang berusaha ditahan agat tidak mengganggu Aya yang sedang beristirahat. Sampai malam tiba, Hawa masih terus duduk termenung, tanpa memedulikan pertanyaan Aya yang sudah lama terbangun dan akhirnya hanya menatap Hawa dengan heran.
“Hawa, sudah hampir isa, kamu belum salat magrib.” Hanya itu yang bisa dikatakan Aya. Dia tidak ingin memaksa Hawa bercerita kepadanya.
Hawa hanya terdiam, kepalanya sangat sakit, terlebih hatinya. Kenapa Adam bisa setega itu kepadanya? Setelah dia menyerahkan segalanya, dengan mudahnya dia pergi dan mencampakkannya, dengan mudahnya dia pura-pura menyesali segalanya sampai ikut menangis, kemudian mengucap janji untuk mempertanggungjawabkan kejadian malam itu. Ternyata pesta ulang tahun yang dibuat untuk Hawa itu hanya jebakan, agar Hawa semakin terhanyut dengan perhatian dan cinta palsunya. Dia merenggut kesucian Hawa di saat pernikahannya dengan gadis lain sudah di depan mata.
Betapa jahatnya kamu Adam! Dan betapa bodohnya aku yang telah terlena dengan kepalsuanmu! Baiklah, aku tak akan meratap lagi, mulai saat ini aku sudah mengaggapmu mati! Dan tak akan aku biarkan---bayanganmu sekalipun, mengikuti langkahku! Hawa mengumpat dalam hati. Seiring itu, muncul tekad dalam hatinya, bahwa dia akan menjalani risiko sendiri atas dosa yang telah dilakukkan bersama Adam, meski dengan langkah terseok.
Hawa bangkit berdiri, kemudian melangkah ke kamar mandi, setelah itu digelarnya sajadah untuk salat dan berdoa. Dia membiarkan Aya dalam tatapan penuh tanda tanya, tak ada niat sedikit pun membahas Adam yang sudah dianggapnya mati itu. Sementara Aya sedikit lega ketika melihat Hawa salat dan menampakkan wajah yang biasa saja seolah-olah tidak terjadi apa-apa, walau masih nampak garis duka di wajahnya.
Dua bulan setelah kepergian Adam, Hawa jadi semakin tertutup. Semangatnya seolah hilang, ke kampus dengan langkah gontai dan pandangan yang hampa. Sebetulnya Aya sangat prihatin melihat kondisi Hawa, tapi dia hanya bisa berdoa semoga Hawa kuat menjalani kehidupan setelah ditinggal Adam. Dari Jalallah Aya tahu semuanya. Mungkin hati Hawa terlalu sakit dan tak ingin lukanya kembali menganga kalau dia bercerita. Aya bisa mengerti itu. Yang dilakukan Aya adalah mencoba menghibur Hawa, membawakan buku-buku novel kesukaannya, bahkan kadang kalau sedang ke perpustakaan, dia mencarikan buku psikologi yang bisa membuat Hawa bangkit dan mampu mengatasi masalah yang dia hadapi.
Cuma itu yang bisa dilakukan Aya, karena Hawa sudah sangat jarang bicara dengannya. Hari-harinya hanya diisi dengan membaca dan duduk termenung di atas sajadah. Entah kenapa Hawa kelihatan begitu terluka di tinggal Adam. Aya tidak ingin menduga-duga, karena dia sendiri pun belum tentu bisa lebih tabah dari Hawa jika dia ditinggal oleh kekasih yang sangat dicintainya. Kekasih yang sudah mengisi hari-harinya begitu indah, penuh romantika, gelak tawa, dan canda. Biarlah hawa mengatasi luka hati dengan caranya sendiri. Aya hanya bisa menyiapkan diri, jika sewaktu-waktu Hawa membutuhkan pertolongannya.
Sampai akhirnya Aya melihat Hawa memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. “Mau ke mana, Hawa?” tanya Aya heran.
“Aku mau cuti kuliah satu semester ini.”
“Pulang kampung?”
Hawa tidak menjawab dan memang tidak perlu menjawab, cukup dia dan Tuhan yang tahu kemana dia harus pergi. Bahkan ibunya saja tidak tahu ke mana dia pergi, Hawa hanya menyurati ibunya dan memberitahukan bahwa dia akan ke daerah untuk mengadakan penelitian selama tujuh bulan sebagai bahan skripsi yang akan dia buat, tidak lupa dia meminta ibunya untuk tetap mentransfer uang bulanannya. Ibunya pasti tidak akan banyak bertanya, dan waktu tujuh bulan dianggap biasa karena dia sendiri memang biasa pulang ke kampung hanya saat libur semester, kecuali kepulangannya yang mendadak kemarin.
Sebenarnya Hawa pergi untuk menutupi masalahnya. Tidak boleh ada yang tahu bahwa dia sedang mengandung anak Adam. Makanya selama ini dia menahan diri untuk tidak terlalu banyak bicara dengan Aya, karena dia tidak mau Aya tahu, bahwa hubungan dia dengan Adam sudah sangat jauh. Biarlah itu menjadi rahasia paling kotor yang hanya dia, Adam, dan Tuhan yang tahu.
Dia tidak ingin namanya hancur, Apalagi nama baik ibunya. Menyingkir ke daerah yang tidak ada satu orang pun yang mengenalnya sampai dia melahirkan adalah jalan yang menurutnya terbaik. Hal itu sudah dipikirkan Hawa secara matang begitu dia tahu kalau hamil. Kemudian diam-diam dia mencari daerah yang aman, yang penduduknya tidak begitu saling peduli antara satu dengan yang lainnya. Penduduk di wilayah Utara Jakarta, daerah padat dan kumuh dan banyak rumah kontrakan kecil yang murah.
Di situlah Hawa sekarang. Dengan pakaian muslim yang longgar dan jilbab yang panjang, tidak akan ada yang mengira Hawa sedang hamil. Kepada tetangga sekitar Hawa hanya memperkenalkan diri sebagai mahasiswi yang sedang fokus menyusun skripsi. Jadi tidak aneh kalau Hawa jarang keluar kamar, kecuali hanya untuk membeli makanan.
*****
Sangat berat menghadapi masalah ini sendiri, apalagi di tempat asing seperti ini. Menangis meratapi nasib dirasa tidak ada gunanya. Menganggap Adam, si pengkhianat itu sudah mati, mungkin itu lebih baik. Agar tidak ada lagi harapan untuk sewaktu-waktu bisa menemuinya. Luka yang ditoreh Adam begitu dalam, sangat dalam. Sampai rasa sakit itu tidak lagi berasa sakit. Tinggal bagaimana dia bisa menjalani hari-hari tanpa menimbulkan kecurigaan dari orang-orang sekitar. Yang patut dia syukuri, kehamilannya tidak menyusahkan, tidak membuatnya mengidam, dan tidak pernah membuatnya mual. Hawa tidak ingin menyalahkan makhluk kecil yang sedang tumbuh dalam perutnya. Dia berjanji akan menyayanginya jika dia sudah lahir, akan dia jaga anak ini agar menjadi anak yang saleh, anak yang bisa membuatnya terhapus dari dosa masa lalu.
Godaan berat berusaha dia halau, tapi tetaplah dia hanya wanita yang lemah, yang kadang butuh pertolongan. Apalagi seperti hari ini, saat dia baru saja pulang dari warung untuk membeli keperluannya. Di gang sempit yang kebetulan sedang sepi, Hawa diganggu seorang laki-laki pengangguran yang sudah memperhatikan Hawa, sejak hawa datang ke daeah tersebut, empat bulan yang lalu.
“Kamu Hawa, kan?”
“Iya, betul. Ada apa, ya?”
“Boleh kenalan?”
“Tadi sudah kenal.”
“Maksudnya lebih dekat.”
“Maaf, saya buru-buru.”
“Nggak usah sombong. Saya cuma ingin kenalan aja, kok.” Dia mulai kurang ajar dengan mencoba menyentuh tangan Hawa.
“Jangan kurang ajar saya bilang!” Hawa menepis tangannya, tapi dia malah semakin berusaha menarik tangan Hawa. Sekali lagi Hawa menepis sambil berusaha menjauh, tapi kakinya malah menginjak batu bulat. Dirinya limbung kemudian terjatuh. “Aduh!”
Si pengangguran berusaha menolong Hawa, tapi Hawa malah berteriak minta tolong, “Tolooooong!”
Si pengangguran pun lari ketakutan dan kabur. Beruntung tidak lama kemudian ada seorang laki-laki lain yang kebetulan lewat gang itu. Melihat seorang wanita terjatuh dan seakan tak berdaya untuk bangun, laki-laki itu bergerak cepat menolongnya.
“Mbak nggak apa-apa?” tanyanya
“Tolong sa—ya. Aduuuh, perut saya sakit sekali!” rintih Hawa sambil memegang perutnya.
“Masyaallah, Mbak mengeluarkan darah!” Tanpa berpikir panjang dia memapah Hawa ke jalan raya dan menyetop taksi yang lewat, kemudia membawa Hawa ke rumah sakit.
*****
“Keluarga Ibu Hawa?” tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
“Y—ya, Dokter,” jawab Zihad, laki-laki yang sudah menolong Hawa.
“Putra Bapak telah lahir dengan selamat, tapi karena prematur, dia harus masuk ke inkubator terlebih dahulu, karena badannya terlalu kecil dan lemah.”
“Y—ya, Dokter.” Sekali lagi Zihad hanya mampu berkata iya dengan gugup
Dokter mempersilakan Zihad masuk. Dia melihat Hawa yang terbaring sangat lemah.
“Kenalkan, nama saya Zihad.”
Hawa menyambut Zihad dengan senyum tipis, kemudia dia menundukkan wajahnya.
“Kalau boleh tahu, di manakah suami Mbak Hawa, biar saya yang kasih kabar.”
Hawa terdiam, hatinya sangat sakit mendengar pertanyaan itu. Tapi dia menguatkan diri untuk bicara terus terang, “Bisakah Mas Zihad menolong saya?” tanya Hawa lemah.
“Insyaallah, kalau saya bisa, saya akan menolong.”
“Jangan sampai ada yang tahu saya melahirkan, bisakah Mas jaga rahasia ini?”
Zihad terkejut mendengar permintaan Hawa, “Jadi, maksud Mbak Hawa...?”
Hawa mengangguk pelan, Zihad langsung mengerti dan berjanji akan menjaga rahasia ini, juga mengatakan kepada Hawa bahwa dia akan menolong Hawa semampu yang dia bisa, termasuk membayar biaya operasi Hawa.
Hawa menangis mendengar perkataan Zihad. Dia tidak menyangka masih ada orang sebaik dan setulus Zihad. Melihat kebaikan dan ketulusan Zihad, Hawa jadi tidak sungkan menceritakan apa yang terjadi padanya. Zihad bersimpati mendengat cerita Hawa, hati kecilnya mengutuk kepengecutan Adam yang lari dari tanggung jawab.
Sampai akhirnya, Hawa dan bayinya yang diberi nama Faris, keluar dari rumah sakit, Zihadlah yang kemudian mengantar Hawa ke panti asuhan untuk menitipkan Faris sementara. Di panti asuhan itu Hawa berjanji akan menengok Faris sesering mungkin, kemudian akan segera mengambil Faris begitu Hawa selesai kuliah dan mendapat pekerjaan.
Zihad mendukung keputusan Hawa, karena dia sendiri tak bisa banyak menolong untuk hal yang satu itu. Tapi sejak itu hubungan Hawa dan Zihad semakin dekat. Bahkan setelah Hawa kembali kuliah dan tinggal di kosan barunya, Zihad sering mengunjungi Hawa. Mereka pun sering menengok Faris di panti asuhan bersama-sama. Zihad menjadi sahabat yang selalu memotiasi semangat Hawa sampai bisa menyelesaikan kuliahnya. Tapi, luka di hati Hawa tetap masih berdarah dan bernanah, waktu setahun atau dua tahun tidak cukup untuk menyembuhkan luka itu, apalagi dia masih harus melewati tempat-tempat yang pernah kenangan bersama Adam.

Other Stories
Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Download Titik & Koma