Cinta Di Ujung Asa

Reads
464
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Fuatuttaqwiyah El-adiba

2. Permintaan Lani

Perut Alya dan Nugraha sudah terisi. Mereka pun segera melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat Lani dirawat. Bangunan bercat putih itu begitu sepi. Hanya terlihat beberapa perawat yang bertugas di masing-masing bangsal.
Gadis itu melangkah dengan cepat meninggalkan Nugraha yang ada di belakangnya. Ia terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan kakak kesayangannya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Napas gadis mungil itu tidak beraturan.
Di depan ruang VVIP, Alya terpaku. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya. Gadis itu memejamkan mata sejenak sebelum menemui suster yang berjaga di depan kamar. Usai memakai baju rumah sakit, ia pun masuk ke ruangan.
Ibu dan ayah yang pertama kali dilihat oleh dara bungsu itu. Ia pun menyalami dan memeluk keduanya. Tangis yang ditahan oleh gadis itu pun tumpah. Bungsu yang sangat disayang oleh keluarganya itu menangis tersedu-sedu. Ibu pun segera memeluk anaknya lebih erat. Berada di pelukan ibunya, membuat Alya tenang. Tangan ibu menepuk-nepuk punggungnya, menyalurkan kehangatan.
Cukup lama adik Lani itu tenggelam dalam tangisan. Entah berapa lama gadis itu menangis. Mata bengkak dan hidung berair. Ingusnya pun ikut keluar. Nugraha menyodorkan tisu kepada adik iparnya yang langsung diterimanya.
“Mbak Lani kapan sadar, Bu?” tanya Alya sambil matanya memandang sosok tubuh yang tenang di atas ranjang.
“Ibu belum tahu. Doa Ibu semoga tidak lama lagi. Kasihan Si Kembar belum pernah bertemu Ibunya,” suara napas ibu terdengar dengan jelas. Ada beban yang menghimpit pikirannya.
Ibu beranjak ke ranjang. Ia memastikan anaknya tidak kurang suatu apapun. Perlahan, diusapnya kening Lani.
“Nak, segera sadar. Kami dan Si Kembar menunggumu. Berjuanglah demi Si Kembar!” ucap ibu sambil mengecup kening dan pipi anak pertamanya. Ibu memandang Alya dan menyuruhnya mendekat kepada kakaknya. Perlahan, gadis mungil itu merapat ke ranjang.
Tangan mungil Alya menggenggam tangan kakaknya yang bebas dari jarum infus.
“Mbak, ayo bangun! Si Kembar membutuhkanmu,” gadis itu menangis tersedu di depan tubuh kakaknya. Air bening keluar dari kedua matanya, membasahi ranjang rumah sakit. Ia tidak bisa membayangkan kalau kakaknya pergi selamanya. Tubuh Mbak Lani masih tetap tenang. Belum ada gerakan dari tubuhnya.
Gadis itu melirik kepada monitor yang ada di dekat ranjang. Masih sama seperti sebelumnya. Ia bernapas lega. Jantung kakaknya masih bergerak.
“Mbak, kenapa tidurmu lama? Aku membatalkan keberangkatanku ke Leiden karena mendengar Mbak koma,” Alya menggoyang tubuh Mbak Lani. Satu. Dua. Tiga. Masih sama. Ya Allah, sadarkan Mbakku.Perlahan gadis itu mengusap matanya. Ia pun beranjak meninggalkan ranjang, setelah mencium kening dan kedua pipi kakaknya.
Alya baru akan melangkah, ketika matanya menangkap gerakan yang halus dari tubuh kakaknya. “Mbak!” teriak Alya. Mata gadis itu berbinar bahagia melihat respons kakaknya.
Teriakan dara ayu itu mengagetkan seluruh anggota keluarga yang ada di ruangan. Mereka segera mendekat.
“Mbak Lani tadi sudah sadar,” jelas Alya tanpa diminta.
“Benarkah?” tanya Ibu yang menatap tak percaya.
“Betul, Bu. Aku tadi melihatnya,” jawab gadis itu sambil menggoyangkan tubuh Mbak Lani
Perlahan Mbak Lani membuka mata. Ia mengerjapkan matanya, menatap sekeliling. Ada bapak, ibu, Nugraha, dan Alya, adiknya. Hai bukankah adik kecilnya pergi ke Leiden? Kok ia ada di sini? Kebingungan nampak di kedua matanya yang melihat ruangan serba putih.
“Di mana aku?” tanya Mbak Lani.
“Rumah sakit, Sayang,” Nugraha menjawab sambil memencet tombol di dekat ranjang.
“Alhamdulillah, kamu sadar. Aku tidak bisa membayangkan kehilanganmu,” Nugraha membelai rambut istrinya ketika dokter dan perawat jaga masuk ke ruangan.
“Bagaimana, Bu? Merasa baikan?” tanya Dokter Pujo sambil memeriksa tubuh pasiennya. Suster mencatat semua perkembangan di tubuh Lani.
“Sudah, Dok. Anak saya?” kedua mata Lani menatap tajam ke wajah dokter.
“Sus, Si Kembar bawa kemari. Biarkan Ibunya melihat dan menyusui Si Kembar,” lalu suster keluar ruangan.
Tak lama kedua suster masuk membawa bayi kembar di hadapan Lani. Wajah berbinar, senyum merekah nampak di wajah ibu cantik itu. Kedua bayi itu bergantian diciumi Lani.
Suster Ana dan Nina menyiapkan proses Inisiasi Menyusui Dini(IMD). Kedua bayi mungil pun segera meminum ASI dari ibunya. Cukup lama Si Kembar menyusu. Wajah Lani nampak lelah. Matanya kembali mengantuk.
Usai menyusu, kedua bayi dikembalikan ke ruang perawatan bayi. Suasana kamar kembali tenang. Sebelum mata Lani kembali terpejam, ia memanggil adiknya untuk mendekat. Ia genggam tangan adiknya erat.
“Dik, kalau Mbak pergi, tolong rawat Si Kembar. Mbak percaya kamu bisa melakukannya,” suara Lani tertahan.
“Mbak bilang apa? Bukankah Mbak berjanji akan membesarkan Si Kembar?” protes adik bungsunya.
“Al, berjanjilah pada Mbak. Biar Mbak tenang,” mata bening Mbak Lani menatap adiknya dengan penuh permohonan.
“Ingat, Al. Aku titip Si Kembar,” pinta Mbak Lani.
Gadis mungil itu hanya bisa mengangguk dengan permintaan kakaknya. Ia pun segera beranjak dari ranjang, membiarkan kakak ipar menemani kakaknya. Perlahan Alya menjauh dari ranjang menuju ke sofa yang terletak di pojok ruangan. Dilihatnya bapak dan ibu sudah kembali terlelap. Tak lama ia pun terlena dalam mimpi.
Azan subuh baru saja berkumandang ketika Nugraha berteriak memanggil seluruh anggota keluarga. Bapak dan ibu yang sudah terjaga duluan, langsung mendekati ranjang. Sementara Alya belakangan mendekat dengan mata masih terpejam. Kantuk sepertinya belum beranjak dari kedua mata mungilnya. Kedua tangannya mengucek mata.
Pandangan mata Alya melirik layar monitor yang mulai menunjukkan perubahan. Tidak seperti semalam. “Sayang, kau pasti bertahan. Aku dan Si Kembar membutuhkanmu,” kalimat pertama yang ia dengar dari Nugraha.
“Mas, titip Si Kembar yang belum sempat kuberi nama,” suara napas Lani terdengar berat. “Aku sudah lelah. Biarkan aku pergi,” perlahan, tangan Lani melepaskan pegangan Nugraha. Matanya menatap adiknya untuk mendekat.
“Al, Mas, titip Si Kembar. Kalian pasti bisa merawat mereka dengan baik,” Lani menarik kedua tangan adiknya, disatukan dengan tangan Nugraha. Senyum mengembang di wajah Lani. Ditatapnya wajah suaminya sebentar dan beralih ke wajah adik bungsunya. Ibu Si Kembar segera melepaskan pegangannya. Netranya menatap bapak dan ibu yang sudah ada di sisi kanan dan kiri ranjangnya. Perlahan, ia genggam tangan kedua orangtuanya.
“Ibu, Bapak, maafkan Lani. Titip Si Kembar. Ikhlaskan kepergian Lani,” suara putri pertamanya itu semakin melirih. Pandangannya bertemu dengan kedua mata ibu yang mulai banjir air mata. Cukup lama ia bertahan di sana. Kemudian ia pindah ke wajah tua bapaknya yang masih menyimpan sisa-sisa ketampanan di masa muda.
Pandangan mata Lani beralih kepada Alya yang semakin menangis tersedu. Di sampingnya Nugraha berdiri dengan diam.
Puas menatap semuanya, perlahan Lani memejamkan mata. Bapak membisiki kalimat tahlil di telingan putrinya. Tak lama monitor berubah menjadi garis panjang dan menjadi titik.

Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Gm.

menakutkan. ...

Download Titik & Koma