2. Terpikar
Marthy jadi ikut tersenyum, berteman dengan Pak Ahmad ternyata tidak menakutkan seperti bayangannya, mungkin dia lebih leluasa bicara dan bercanda jika ada orang ketiga dan menjadi sangat hati-hati saat hanya berdua dengan Marthy. Kini Marthy tahu aturan mainnya.
Diliriknya lagi Pak Ahmad, dia beranikan diri untuk bicara, “Menurut Pak Ahmad, hukum poligami itu adil tidak untuk perempuan?” tanyanya.
“Bagaimana Bu, pertanyaannya boleh diulang?” rupanya dia tidak siap mendapat pertanyaan seperti itu, apalagi konsentrasinya sedang terbagi.
“Maaf Pak, mengganggu ya?” kata Marthy jadi sungkan. Marthy jadi seperti mobil sedang melaju dan harus mengerem mendadak karena ada kendaraan di depannya.
“Oh tidak apa-apa, tetapi dari tadi kita berangkat Ibu diam saja jadi saya gak siap,” jawabnya sambil agak tergelak. Marthy malu, habis dia bingung bagaimana bicara dengan seorang yang memakai aturan agama dengan benar seperti Pak Ahmad. Tapi setelah diperhatikan, dia biasa saja tadi hanya menjaga sikap lebih hati-hati saat mereka hanya berdua waktu datang ke apartemennya Marthy .
“Saya hanya ingin bertanya bagaimana pendapat Bapak tentang poligami, apakah itu adil untuk perempuan?” Marthy mengulang pertanyaannya.
“Okay, saya jawab ya, Di Surah Annisa ayat tiga, Allah berfirman: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
“Sedang tidak semua laki-laki bisa berbuat adil. Menurut saya walau boleh atau halal orang yang tidak mempunyai ilmu yang cukup seharusnya tidak mencoba untuk berpoligami. Ini menurut pendapat saya dan banyak teman-teman saya merasa tidak bisa berbuat adil sehingga walau istrinya mengizinkan, mereka tetap hanya menikah dengan satu istri saja,” Pak Ahmad bicara serius ketika menjelaskan dan Marthy mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Marthy mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, puas dengan jawaban Pak Ahmad dan dia yakin Pak Ahmad tidak akan mau mempunyai dua istri, jawabannya saja begitu mantap.
Itu nanti yang akan Marthy sampaikan pada teman-teman perempuannya bahwa laki-laki baik tidak akan menjadikan Surah Annisa ayat 3 itu sebagai acuan agar bisa melegitimasi mereka untuk menikah lagi.
Pepohonan di pinggir jalan menuju ma’had diliputi debu, panas menyengat, mobil padat merayap. Marthy anteng membaca buku tentang poligami dan buku ini membuka wawasan yang benar tentang poligami. Sering Marthy mendapat pertanyaan tentang poligami dan bahkan hujatan, tetapi Marthy tidak memiliki ilmu untuk menyanggahnya kala orang-orang menghujat kenapa Islam mengizinkan laki-laki memiliki istri lebih dari satu. Kini Marthy sudah punya ancer-ancer apa saja yang bisa dijadikan jawaban yang pas dan telak.
Tidak terasa mobil meliuk masuk ma’had, barisan kelas nampak dari kejauhan dan para santriwati yang berhijab lebar hilir mudik di sekitar kelas. Santri laki-laki sedang kerja bakti membersihkan got agar pemandangan di sana yang asri tidak terkotori oleh bau dari got yang penuh sampah.
Ini sudah hampir jam tiga, sebentar lagi salat asar, Marthy harus membawa mukena yang tadi dititipkannya di ruang guru.
Setelah sampai di ma’had dimintanya Azhar mengambilkan mukenanya. Marthy ingin salat di masjid yang ada di bagian depan ma’had, masjid yang memuat jemaah sekitar 300 orang. Masjid yang cantik. Masjid Al Hidayah.
Diucapkannya terima kasih pada Pak Ahmad yang sudah mulai menarik hatinya. Belum pernah selama hidup dia bertemu dengan laki-laki yang santun, keren, berpendidikan tinggi dan masih takut Allah. Baru kali ini. Kalaupun dia tahu laki-laki seperti itu, dia tidak mengenalnya.
“Pak Ahmad terima kasih lho sudah mengantar, sebentar lagi aku sudah bisa nge-charge,” katanya dengan senyum mengembang. Disambut dengan senyum manis Pak Ahmad, “Any time Bu Marthy, with my pleasure,” sahutnya.
“Hmm dia berbahasa Inggris pula, keren ini, aduh mak, nilainya makin naik,” detak jantungnya semakin berdebar dan segera dipalingkan wajahnya. “Aku tidak boleh jatuh cinta secepat ini,” katanya berdesis sambil melangkahkan kakinya menuju masjid.
Salat di masjid, sebelumnya Marthy berwudu dulu dengan tertib dari membasuh tangannya sampai mencuci kaki. Lalu dilangkahkan kakinya memasuki masjid ke bagian akhwat. Di sana sudah banyak santriwati berebut mencium tangannya, mereka tahu guru baru mereka akan ikut salat di masjid mereka. Yang tidak sempat mencium tangan menganggukkan kepalanya dan yang agak jauh melambaikan tangannya sambil senyum. Suasananya sungguh menyenangkan penuh kasih sayang.
Mulailah terdengar iqamat, suaranya indah, anak kelas sembilan biasanya yang melantunkannya. Dia diberi tahu Teteh Hidayati saat mereka sempat mengobrol.
Ternyata imam salatnya Pak Ahmad, dengan peci yang dia ganti warna hitam, kulitnya yang kuning langsat semakin kontras dengan warna pecinya.
Ada getaran kecil saat dia harus melihat wajah Pak Ahmad, getaran kecil suka dan hormat. “Ya Rabb, jangan sekarang aku mencintainya. Hatiku masih luka,” bisik hatinya.
Tidak lama mereka salat asar, ternyata dilanjutkan dengan kultum tentang bagaimana manusia harus bersemangat untuk mencapai tujuan. Diuraikan tentang Man Jadda wa Jada, siapa yang bersungguh-sungguh dia akan berhasil mencapai keinginannya. Pak Ahmad semangat membawakan kultum, sekali-kali matanya sampai ke kelompok para santriwati dan lalu hinggap di Marthy. Marthy rasanya jadi anak Abg lagi. Setiap Pak Ahmad melihat, Marthy pura-pura tidak melihatnya.
Setelah selesai, anak-anak santri berebut mencium tangan imamnya, lalu mereka juga mendatangi Marthy dan berebut mencium tangannya sambil mengucapkan, “Assalamualaikum Bunda Marthy, selamat datang di ma’had kami, semoga betah ya,” anak-anak santri berceloteh dan Marthy merasakan ukhuwah yang luar biasa di antara guru dan murid.
Lalu Pak Ahmad mendekati Marthy, “Bagaimana Bu, sudah mulai kerasan?” tanyanya. Wajahnya masih lembap bekas kena wudu, lotion-nya masih tercium semilir. Rasanya Marthy salah tingkah mendapat pertanyaan demikian. “Iya Pak, saya sudah mulai betah nih.”
“Kegiatan Bu Marthy apa saja jika week end? Di riwayat hidupnya saya baca Ibu suka berkegiatan sosial, maukah ikut dengan saya mengasuh anak-anak pemulung di Bantar Gebang setiap Minggu?” tanyanya.
“Wah mau sekali Pak, kegiatannya apa saja? Saya hanya bisa mengajar Bahasa Inggris kalau Bapak Ahmad setuju,” ujarnya sambil tanpa sadar memainkan syal yang digunakannya seperti anak Abg yang sedang kasmaran. Salah tingkah.
Anak-anak santri ikut berkumpul mendengarkan apa yang mereka bicarakan, beberapa di antaranya bolak-balik sambil tersenyum-senyum.
“Setiap hari Sabtu di ma’had ada olahraga bersama, Ibu bisa memilih. Ada bulu tangkis, pingpong atau taekwondo. Anak-anak perempuan juga aktif ikut. Silakan datang pagi jam delapan,” terangnya.
“Baik Pak, saya lihat dulu ada tidaknya jadwal saya untuk anak-anak santri, nanti saya kabari,” jawabnya.
“Jika ada apa apa yang diperlukan, ini kartu nama sekolah, ada beberapa nomor hp termasuk nomor hp saya, Ibu bisa saya catat nomornya?” pintanya sambil melirik.
“Aih mak, haduh jangan sampai getaran hati ini nampak di badanku yang gemetar, ya Rabb, selamatkan aku dari aib ini, aku mulai menyukainya,” marthy berkata dalam hatinya dan menjawab, “Baik Pak ini, saya pake nomor ini sudah lama, hehehe.” dia menuliskan nomor hpnya di sehelai kertas kecil lalu memberikannya pada pak Ahmad.
Tadi sebelum masuk ke kamarnya di sebelah kamar anak-anak santriwati dia diberi tahu bahwa pelajaran akan dimulai minggu depan, Marthy diberi kesempatan untuk menyesuaikan diri dulu.
Jadi besok dia bisa ikut olahraga bersama anak-anak dan juga Pak Ahmad.
Dilihatnya nomor-nomor telepon yang diberikan Pak Ahmad, dicarinya nomor Pak Ahmad, lalu dihubunginya, “Assalamualaikum… Pak Ahmad, kata Teteh Hidayati saya akan mulai mengajar minggu depan, hari Senin, jadi saya bisa ikut Olahraga. Di mana tempatnya dan bolehkah saya memilih bermain pingpong?” tanyanya.
“Wah kok bisa sama ya kesukaannya, sayapun suka bermain pingpong, mari kita sama-sama bermain pingpong, jangan serius mainnya ya Bu, saya ini masih beginner , pasti Ibu sudah piawai!” dia malah mulai menggoda.
“Ih bapak, saya juga pemula, paling saya dikasih angka lima saja, kasihani saya ya Pak,” mereka berbalas saling meledek. Badan Marthy jadi hangat, tiba-tiba dia merasa sangat beruntung ada di ma’had ini. Tetapi Pak Ahmad usianya jauh di bawah, apakah dia akan mempermasalahkannya? Bergelut pertanyaan-pertanyaan di benaknya.
Dirapikannya kamar sederhana dengan tempat tidur single, tanpa lemari dan sebuah meja serta kursi. Dia sekamar berdua dengan Veni, yang mengajar membaca Quran. Veni dari pesantren di daerah, tapi menurut teteh Hidayati, Veni suaranya indah jika mengaji, pantas dia bisa jadi guru anak-anak Aliyah juga setingkat dengan Sekolah Menengah Atas.
Other Stories
Rest Area
Hidup bukan tentang menemukan tempat tanpa luka, tetapi bagaimana tetap hidup untuk esok d ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Aswin, Kami Menyayangimu
Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...