5. Putus Nyambung
Malam kemarin Marthy salat tahajud dengan khusyuk memohon agar dia bisa punya nyali untuk menyampaikan pada Edo bahwa keputusan putusnya sudah dipikir baik-baik dan kali ini serius. Walau dia masih amat sayang pada Edo tetapi dia tahu Edo hopeless untuk berubah. Percuma diharap apalagi ditunggu. Just leave him as soon as possible.
Diambilnya HP yang tergeletak di tempat tidur, dinyalakan dan dikliknya Whatsapp.
“Assalamualaikum Edo, apa kabar? Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” tulisnya.
Lama Marthy menunggu jawaban Edo, sejam berlalu, ditatapnya Whatsapp yang ada di tangannya. Kemudian hape-nya disimpan dan Marthy menuju ke kamar mandi, lalu mengambil air wudu untuk melaksanakan salat duha.
Dihamparkan sajadah merah favoritnya, hampir semua sajadahnya berwarna merah, hanya motifnya berbeda-beda. Dimulailah salat duha dengan khusyuk, menghadap Allah dengan memakai mukena cantiknya. Marthy suka sekali menghadap Allah dalam mukena yang cantik yang dibelinya mahal. Prinsipnya jika ke undangan dia bisa memakai baju cantik dan mahal, kenapa menghadap Allah dia memakai mukena murah? Sehingga saat dia menghadap Allah akan nampak cantik baik wajah maupun penampilannya. Masyaa Allah.
Setelah salat duha selesai dan membaca doa, dibacanya lagi permohonannya, “Ya Rabb… Engkau yang mempertemukan aku dan Edo. Jika dia baik untukku, lanjutkanlah hubungan kami ini. Jika tidak, biarlah aku berpisah dengannya segera. Aamiin.”
Setelah selesai salat duha, Marthy mengambil lagi hape-nya yang tergeletak di atas meja rias di sebelah lemari jatinya yang keren, pemberian ibunya dulu saat dia baru menikah.
Marthy membuka Whatsapp dan mencari jawaban Edo. Kosong. Tidak ada tulisan apa-apa. Entah sedang di mana Edo, ataukah sedang bekerja sebagai tukang membantu para tetangga?
Didekatinya meja besar di tengah apartemennya, apartemen berkamar tiga. Lumayan luas untuk dia yang hanya tinggal sendiri. Dibukanya laptop yang memang dia sengaja taruh di meja besar itu. Sambil menunggu laptop-nya loading, dia ambil lagi hape-nya dan menulis di Whatsapp, “Edo, kamu ke mana? Aku memerlukanmu, mungkin paling lama sepuluh menit kita bicara serius. No more,” tulisnya lagi.
Laptop sudah menampakkan pemandangan indah di screen-nya, pemandangan saat Marthy tinggal di Philadelphia, tempat Marthy tinggal dengan mantannya dulu.
Dicarinya file tulisan- tulisan dulu yang dia pernah buat, cerita tentang hidupnya di Philadelphia. Ketika dia mulai akan menulis, melanjutkan apa yang sudah dia mulai, tentang serunya hidup di negara Amerika dengan teman-temannya yang sesama orang Indonesia. Suatu saat cerita tentang Philadelphia akan dia bukukan juga, banyak yang seru.
Hape-nya berdering, kali ini nampaknya Edo menjawab.
“Wa’alaikum salam Sayang, ada apa ya? Aku lagi bantu tetangga membuat lemari, apakah kamu sudah sarapan dan minum teh? Jangan lupa minum obatmu,” Edo menulis.
“Hmm, Edo walau mendingin cara dia memperlakukanku tetap saja membuat hatiku berdesir, Ya Rabb aku masih mencintainya,” Marthy bergumam.
“Edo, tadi malam aku salat malam dan berdoa untuk hubungan kita. Dulu kamu menyetujui untuk tinggal bersama di Jakarta dan bahkan sanggup menikahiku. Bekerja di Jakarta bersinergi denganku dan belajar Islam seperti katamu dari aku dan hijrah bersama-sama. Tetapi semakin lama semakin aku tahu bahwa kamu tidak seperti apa yang kamu katakan. Belakangan ini sudah lebih dari sebulan sejak kita bertemu, kamu menghindar, apalagi malam tidak pernah menyapaku. Aku yakin kamu tidak mencintaiku seperti yang kamu sampaikan, kamu tidak! Dan kini aku mau bilang bahwa kita sudahi aja perhubungan ini, kamu tidak usah menghubungiku lagi dan demikian pula aku,” tulis Marthy tegas.
“Sayang kok kamu bisa ngomong gitu sih? Aku tetap seperti Edo yang dulu, sayang padamu, suatu saat tetap ingin hidup bersamamu, bukan tidak mau hidup di Jakarta tetapi memang aku belum punya keberanian tinggal di suatu tempat yang aku belum pernah tinggal di sana. Kamu sabarlah Sayang, suatu saat aku akan ke sana dan hidup denganmu. Aku sayang kamu Marthy Sastrawijaya aka sayangnya Edo,” Edo menulis jawabannya.
“Ah ini kepandaian Edo yang aku kenal, merayuku dengan santun, huft tadi pagi aku sudah yakin akan memutuskannya, baru saja aku digombali begini sudah KO,” hati Marthy bicara.
“Belum ada bukti Edo, kamu belum membuktikan apa-apa, aku juga tidak tahu kamu ngapain kalau malam, kenapa tidak menghubungiku seperti dulu, boro-boro kamu mau meneleponku lagi berjam-jam seperti awal-awal kamu kenal denganku,” Marthy merajuk.
“Sayang, kamu ngertiin aku dong. Kerjaku sekarang jadi tukang, kamu bilang jangan malu kerja apa saja karena pekerjaan halal itu mulia. Tetapi aku memang lelah, kalau malam aku tidur, tidak bisa menghubungi lagi seperti dulu, aku amat lelah. Maafkan aku ya Sayang,” celotehnya lagi. “Kamu selalu ada di hatiku Marthy Natanagara.”
Hati Marthy meleleh lagi membaca tulisan Edo, padahal Edo sudah beberapa kali mengecewakan dan membuat hati Marthy kesal. Tetapi memang Edo pandai meyakinkan Marthy dan kembali lagi Marty memaafkan kesalahan Edo. Edo scammer? Kayaknya bukan deh. Lalu Marthy lupa lagi dengan apa yang Edo lakukan padanya.
Berkali-kali sahabat-sahabatnya mengingatkan bahwa menjalani hubungan dengan Edo sudah membuang waktu Marthy, tetapi berkali-kali juga Marthy memaafkan Edo. Memang sulit kalau sudah cinta, Marthy dibutakan oleh tulisan-tulisan gombal Edo yang kadang-kadang memabukkan dan sahabat-sahabatnya mencoba memahaminya.
Mereka kembali lagi merajut cinta yang tadinya ingin Marthy putuskan. Setiap hari mereka memegang HP dan saling menulis kata-kata ‘sayang’. Marthy seperti di awal hubungan, mereka mabuk kepayang lagi, melanjutkan cinta butanya.
Tentang Marthy:
Beberapa tahun yang lalu setelah pensiun cepat dari sebuah perusahaan minyak, pekerjaan Marthy adalah mengajar Bahasa Inggris di kantor-kantor . Dia juga bergabung dengan teman-temannya di Komunitas Tahajud di media sosial, dengan teman-temannya dari kelompok inilah dia bisa menyalurkan rasa empatinya, menolong orang-orang yang membutuhkan.
Saat Ramadan tahun kemarin, Marthy pergi ke Banten lama, ke tempat sebuah penampungan 300 anak yatim piatu. Membawa sembako dan alat-alat tulis untuk para yatim yang umumnya masih di bawah usia 17 tahun yang orang tuanya meninggal muda. Marthy yang usianya sudah 55 tahun tetapi masih lincah bergerak dan sehat adalah andalan kelompoknya untuk penggerak mereka menjadi kelompok multitalenta. Kelompok tahajud ini juga kelompok penulis yang tempat berkumpulnya di Whatsapp sehingga hubungan antara mereka sudah seperti saudara, bisa bertemu setiap hari.
Sehingga walau sudah pensiun, pekerjaan Marthy selain mengajar Bahasa Inggris dia juga masih sibuk dengan kegiatan sosialnya. Allah menciptakan manusia untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (bermanfaat untuk sesama manusia) dan Marthy ingin meninggal dalam keadaan husnul khotimah, Marthy seperti seorang supir angkot yang sedang mengejar setoran, kegiatan sosial apapun Marthy jalankan. ‘Mengejar pahala untuk bekal pulang’ katanya ketika sahabat-sahabatnya bertanya.
Hidup Marthy yang tanpa suami semakin berwarna karena dia tidak mempunyai orang yang harus diladeni bahkan tidak ada orang yang menunggu di rumah.
Kini Marthy harus memutuskan dengan cepat, akan lanjut dengan Edo atau memutuskan Edo dan mencari yang lebih cocok? Padahal sahabat-sahabatnya sudah berkali-kali mengingatkan bahwa Edo sama sekali tidak cocok untuk Marthy.
Dulu Marthy tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya cinta buta itu, malah kadang dia tidak habis pikir ada orang yang mencintai seseorang tanpa berpikir. Kini dia tahu bagaimana rasanya orang yang keras kepala yang tetap memilih Edo yang tidak punya talenta apa-apa, yang pendidikannya jauh di bawah dia, bahkan sulit diberdayakan. Hopeless tapi toh Marthy tetap mencintainya. Cinta Marthy cinta buta.
GIRANG
Buku antologi Marthy sebagai penulis pemula sudah terbit. Kumpulan cerita-cerita pendek Marthy dengan teman-temannya sesama penulis pemula sudah naik cetak. Ada lima buah yang sudah diterbitkan. Marthy girang karena keinginannya menjadi penulis pemula sudah mulai nampak hasilnya. Sejak kecil dia suka menulis dan baru setua ini buku-buku yang ada tulisan dia di dalamnya dibaca orang. Marthy mengucap syukur dia masih bisa eksis seperti ini.
Diambilnya HP, dikabarinya kekasih hatinya, Edo.
“Assalamu‘alaikum Edo, hari ini aku girang banget Yang, buku-bukuku sudah naik cetak lima buah, aku mau jual lewat media sosial aja ah ke teman-temanku, bagaimana menurutmu?” tulis Marthy di WA.
“Wa’alaikum salam, berapa kamu jual dan berapa untungmu kalau itu laku?” Edo to the point bertanya keuntungan tetapi Marthy menjawabnya dengan santai “Ya Sayang berapa sih harga buku, kalau belum jadi penulis terkenal sih paling ada uangnya buat jajan aku,” jawab Marthy.
“Aku setuju kamu jual di media sosial, temanmu kan banyak di sana, siapa tahu terjual banyak,” jawab Edo lagi.
“Ya udah aku mau update status berikut pasang foto-foto bukuku ya, nanti kulanjut, jangan lupa salat duha, jangan malas berdoa ya Sayang,” pesan Marthy.
“Bye sayang, jangan lupa minum obat ya,” sahut Edo.
Difotonya buku-buku yang cover-nya cantik-cantik itu, diatur biar semua nampak judulnya, ditaruh di atas meja yang bertaplak keren. Sibuk sekali Marthy memilih dan memilah buku-buku agar menarik pembacanya.
Sudah selesai meng-upload foto-foto buku, lalu ditambahin tulisan-tulisan menarik di statusnya, Marthy yakin sebentar lagi In syaa Allah pembaca akan memesan buku-bukunya.
Tidak lama setelah menulis statusnya yang terakhir, terdengar bunyi Whatsapp masuk, dilihatnya Hp, sebuah foto jari jempol yang bengkak nampak di layar, “Sayang jempolku kena palu, aku tadi sedang membuat rak dinding buat tetangga, di Batam aku dibayar Rp150,000,- /hari lumayan banget.” tulis Edo.
Lalu dijawab Marthy: “Hati-hati Sayang, perlu ke dokter gak?” tanyanya khawatir.
“Enggak lah, cuma tampangnya jadi buruk, jempol kok begitu, hahahaha…” jawab Edo tertawa miris.
“Yang, lihat deh akunku, bagus enggak sih statusku?” tanya Marthy, ingin tahu pendapat Edo.
“Iya sayang aku masih kerja nih, nanti setelah beres sore hari aku baru bisa buka media sosial, tunggu ya,” Edo menjawab dan berhenti menulis. Jelaslah Edo tidak bisa seenaknya membuka-buka media sosial saat bekerja sebagai tukang, majikannya pasti marah dan Marthy memakluminya.
Pukul 9.00 pagi, Marthy seperti biasa mengambil wudu dan siap-siap salat duha, keadaan Edo yang sangat memprihatinkan membuat Marthy sibuk mendoakannya. Sebagai seorang kekasih, sebetulnya Marthy sangat kasihan melihat Edo yang pontang panting mencari nafkah untuk ketiga anaknya. Tetapi apa yang bisa Marthy lakukan? Edo tidak mau dibantu. Ataukah Edo tidak mau berpisah dengan mantan istrinya yang sama-sama tinggal di Batam? Pemikiran tentang ini membuat Marthy kesal pada dirinya sendiri, diapa-apakan Edo, Marthy masih tetap sangat mencintainya. Kadang Marthy heran pada dirinya, apa yang dia dapat selama ini dari Edo? Tidak ada apa –apa!
Dibacanya doa setelah salat duha, memohon agar Allah berbaik hati membantu Edo apapun yang terbaik buatnya. Dibisikkannya kata ‘Aamiin’ setelah doa panjangnya sebelum selesai salat duhanya.
Marthy bangkit dari duduknya, dilipat dan dilepasnya sajadah hingga mukena, lalu diambilnya Al Qur’an. Marthy membaca Al Qur’an agar hatinya tenang, karena di bawah sadarnya dia ingin berpisah dengan Edo tetapi dia selalu terjatuh lagi oleh rayuan gombalnya Edo. Sebal.
Marthy berjalan ke ruang tengah apartemennya, sebuah apartemen di tengah kota dengan pemandangannya yang cantik menghadap ke rumah-rumah yang tersusun rapi, di apartemen itu fasilitasnya lengkap, ada kolam renang, gymnasium, resto-resto dengan berbagai makanan yang sedap-sedap dan karaoke. Kadang Marthy bernyanyi sendiri di karaoke, malas mengajak siapapun, enak sendiri. Tidak usah rebutan microphone.
Dibukanya kembali laptop warna pink kesukaannya, dicarinya media sosial yang biasa dia gunakan, dia lihat kembali foto buku-buku yang akan dijual. Oops… ada inbox nampaknya. Lalu Marthy membacanya: “Bun, aku beli dong bukunya, boleh beli lima buah enggak? aku mau bagikan buat teman-temanku. Aku bangga guruku pandai menulis, ini alamat dan nomor teleponku. Nomor rekening Bunda berapa?” Titi menulis di inbox-ku, alhamdulillah.
MUSIBAH
Tidak lama bunyi WA mengalunkan lagu kesukaannya, lagu Sunda. Pasti Edo.
“Yaang, tolong aku, aku di rumah sakit, jatuh dari tangga teratas, kaki aku patah. Please help me,” Edo menulis di WA-nya.
“Haduh Edo apa lagi nih?” bingung Marthy. Badannya gemetar tetapi antara percaya dan tidak Marthy menulis: “Kamu punya asuransi kan Edo, bisa gratis,” Marthy bertanya. Tanpa uang pasti Edo akan terlantar, anak-anaknya tinggal dengan istrinya. Tidak serumah. Siapa yang menunggu di rumah sakit? Sebagai perempuan baik, Marthy tidak tega mendengar keadaan Edo lalu dia menulis: “Edo aku gak punya banyak uang, kamu tahu sendiri. Mana nomor rekeningmu? Aku kirim uang buat keperluanmu selama di rumah sakit, bayarnya asuransi kan?” tulis Marthy sambil membayangkan kaki Edo yang patah. Marthy merasa sangat kasihan kekasihnya mendapat musibah, Marthy lupa semua yang Edo lakukan padanya.
Pagi itu Marthy berjalan ke ATM tanpa mandi dulu, pikirannya penuh tentang musibah Edo, kasihan sekali dia pada Edo. Setelah mendapat nomor rekening Edo, dikirimnya uang dua juta rupiah, lumayan untuk keperluan Edo, dia yakin Edo sama sekali tidak ada uang.
Setiap hari Marthy rutin mendapat laporan dari Edo tentang kemajuan pengobatan. Kaki Edo harus digips dan dianjurkan beristirahat selama sebulan. Pasti saat ini Edo tidak bisa mencari uang. Siapa lagi orang terdekatnya kalau bukan Marthy. Marthy tercenung dan berpikir, dia harus mengirimi Edo uang lagi. Masih ada sisa tabungannya tapi tidak banyak. Marthy menghela napasnya, cinta memang butuh pengorbanan. Apa boleh buat.
Sudah dua minggu Edo jatuh dari tangga, dia sudah mulai bisa berjalan walau terpincang-pincang, begitu laporannya. Kemarin Marthy mengirimi lagi Edo uang, rasanya beban Edo jadi beban Marthy sekarang. “Apakah benar tindakan aku mengurusi Edo seperti ini? Bagaimana kalau Edo berbohong dan dia tidak jatuh?” tiba-tiba Marthy berpikir seperti itu. Dihelanya napas panjang, lalu Marthy berjalan ke kamar mandi, diambilnya air wudu dan ditunaikannya salat duha pagi itu.
Marthy lama berdoa, mohon pada Yang Maha Kuasa agar Edo segera sembuh dan bisa bekerja lagi. Kali ini Marthy berdoa sampai tak tahan meneteskan air mata, berat ternyata berhubungan dengan seseorang yang tidak mempunyai skill seperti Edo, jadinya malah merepotkan. Marthy mohon petunjuk dari Allah apa yang harus dia lakukan.
Dua bulan berlalu, Edo sudah mulai pulih, dia sudah bisa membantu urusan-urusan kecil yang bisa menghasilkan uang makannya. Untuk anak-anaknya, Marthy membantu semampunya. Edo bolak-balik mengucapkan terima kasih, “Sayang maaf bebanku jadi bebanmu, aku semakin mencintaimu. Kau begitu baik padaku dan pada anak-anakku. In syaa Allah apa yang sudah engkau berikan pada kami diganti Allah berlipat ganda,” Edo menulis. Dikirimnya foto dia yang masih berbalut perban, gipsnya sudah dilepas. Kasihan Marthy pada Edo, mudah-mudahan dia segera sembuh.
Hasil menulis Marthy sudah terasa, dia bisa menjual 60 buah bukunya. Jika dia menjual buku dua puluh ribu lebih mahal dari harga dasar bukunya, maka dia sudah punya uang buat jajan. Murid Bahasa Inggrisnya pun membayar setiap bulan, lumayan jumlahnya. Hidup Marthy tidak usah bergantung pada siapapun walau anak-anak Marthy yang sudah bekerja ikut membantu mamanya. Marthy mengucapkan syukur, hidup dia dimudahkan Allah.
Marthy hidup hemat, dia tahu dia single, tidak ada yang bisa dia andalkan kecuali Allah Yang Maha Baik. Walau ada anak-anak, Marthy paling tidak mau meminta. Dulu Marthy penyandang dana keluarga besarnya. Ayahnya meninggal di usia muda, ibunya hanya ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Sebagian besar dana adik-adiknya Marthy yang tanggung dan dia sudah biasa menanggung hidup sekarang. Demikian dia sekarang menanggung Edo.
Dihelanya napas panjang, sampai kapan dia harus menanggung Edo? Padahal Edo sama sekali tidak memperlihatkan keinginannya untuk ke Jakarta.
Bunyi hape mengusiknya, pasti Edo lagi. Lama-lama Marthy mulai pusing, Edo bukan anak kecil, seorang laik-laki dewasa dengan badan tegap 180 cm berat 80 kg, sekarang sebentar-sebentar menghubungi Marthy untuk minta ini-itu, mana ketegaran yang biasa dia tampakkan? Marthy mulai kesal.
“Sayang maafkan aku, aku tidak berdaya kini, kemarin masih bisa mengumpulkan sejuta-dua juta satu bulannya, sekarang ini aku betul-betul manusia lemah dan tak bertenaga, aku hanya bisa mengandalkanmu Yaang,” katanya. lalu Marthy lihat icon menangis di Hp-nya.
Dulu Marthy sedih dan langsung akan membantu Edo, sekarang dia mulai merasa terganggu. Apakah Edo hanya punya aku? Mana keluarganya yang lain? Tidakkah mereka harusnya membantu juga?
“Apa yang harus aku lakukan lagi Edo?” tanyanya dalam tulisan di WA, hatinya antara kasihan dan kesal. “Erik, anakku… harus membayar kuliahnya, enggak banyak kok cuma empat juta lima ratus, nanti kalau aku sudah punya, semua utangku aku bayar,” Edo menjawab .
‘Empat juta rupiah itu lumayan banyak Edo, tabungan aku sudah menipis, dari mana aku dapat uang sebanyak itu?” Marthy menjawab. Bingung, kenapa jadi aku semua sekarang yang menanggung kebutuhan Edo?
Tidak lama Edo menjawab “Honey please forgive me, I have only you to lean on, who else?” katanya merayu. Tapi rasanya dia kini tidak nyaman membacanya. Edo sudah jadi seenaknya pada Marthy. Kepandaian Edo berbahasa Inggris dan sopan santunnya yang dulu menarik hati Marthy, sekarang merasa hal itu seperti berlebihan. Jangan-jangan semua yang Edo lakukan memang hanya agar dia bisa mengandalkan Marthy saja. Tiba-tiba Marthy seperti tersadar.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
After Meet You
Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...