6. Sakinah Mawaddah Wa Rahmah
Mengajar di Pesantren Ma’had Al Hidayah
Setelah peristiwa pahit dengan Edo, Marthy semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa, Allah yang Maha baik. Dia tidak peduli lagi laki-laki yang membaikinya, yang memuja-mujanya, yang mengekorinya. Semua laki-laki yang dia temukan di dunia maya mirip semua. Buaya! Yang baik-baik dan saleh sudah ada pemiliknya dan jelas Marthy tidak menginginkan suami orang.
Marthy menerima tawaran mengajar di Bekasi, sebuah ma’had, pesantren modern yang menawari dia mengajar Bahasa Indonesia. Marthy lulus Master of Administration di Manchester, Inggris. Tapi dia suka Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Akhirnya tawaran menjadi guru di sana diterimanya.
Sakit yang menghujam terasa dari belikat sampai ke dada bagian depan, seumur hidup permintaan dia untuk menolong orang belum pernah ditolak. Ini, Edo menyanggupi akan hidup bersama di Jakarta lalu diam-diam menghujamkan belati dari belakang, betul dia sudah memaafkan tetapi sakitnya masih terasa. Marthy bolak-balik mohon pada Allah diberi kekuatan untuk bisa melupakan sakit hatinya.
Hari Jumat sore saat itu Marthy mendatangi Ma’had Al Hidayah di Bekasi, tempat yang asri, banyak pepohonan, anak-anak yang sedang bermain. Nampak suasananya menyenangkan.
Mobil online yang mengantar Marthy masuk lebih dalam lagi, tampak banyak orang yang menghuninya.
Marthy keluar dari mobil lalu dia berjalan menapaki jalan menuju bangunan di belakang.
“ Assalamualaikum, saya bisa bicara dengan Ibu Hidayati, pemilik pesantren ini?” katanya lembut pada santriwati yang sedang berdiri menonton santri-santri berlatih taekwondo.
“Silakan Bunda, saya antar yuk, rumahnya ada di belakang,” kata salah satu santri sambil langsung mengajak Marthy ke belakang.
Usia Marthy memang tidak muda lagi, bahkan Marthy sudah punya beberapa cucu. Tapi berkat kesukaannya berolahraga, badan Marthy masih enak dilihat, tidak kurus tidak gemuk juga, langkahnya masih gagah, senyumnya masih manis. Marthy tetap memikat seperti dua puluh tahun yang lalu, bahkan tetap memikat seperti saat dia muda. Marthy memang menarik.
Bergamis warna jingga, kerudung putih, tas jingga, sepatu putih, pernak pernik kecil yang serasi, mata anak-anak santri diam-diam mengikuti langkah Marthy yang enak dipandang mata, walau tidak memakai baju mahal tetapi melihat Marthy memang sejuk.
Sesampainya di sebuah rumah di sebelah belakang, rumah teduh dengan pepohonan di sekelilingnya, santriwati tadi masuk ke rumah itu dan keluar dengan wanita manis berusia empat puluhan dan berhijab syari.
“Assalamualaikum… Ibu Marthy ya, saya Hidayati, menantu Ibu Hasanah, pemilik pesantren yang sekarang sudah meninggal dunia,” katanya sambil mengajak Marthy bersalaman.
“Mari masuk, di dalam lebih enak bicaranya,” ajak Teh Hidayati. Di ma’had itu semua guru dipanggil teteh dan yang laki-laki dipanggil akang, mungkin karena Bekasi masih masuk daerah Jawa barat.
“Saya diberi tahu teman yang kenal dengan Ibu Marthy, katanya Ibu pernah mengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri Bekasi lalu saya coba menawarkan. Kami sedang membutuhkan guru Bahasa Indonesia,” kata Teh Hidayati lagi.
“Ibu mengajar lima hari di kelas satu Tsanawiyah sampai tiga Tsanawiyah dan di Aliyah kelas empat dan lima,” terang teteh Hidayati lagi. “Makan dan tinggal di sini, gaji sederhana, jauh dari UMR, tapi di sini ibu mencetak bibit unggul untuk manusia muslim Indonesia,” lanjut teteh lagi.
Marthy tercenung, gaji di bawah UMR? Berapa itu? Mau bertanya tetapi malu, padahal Marthy perlu tempat yang teduh yang bisa mengobati hatinya yang luka.
“Baiklah Teteh, aku ambil kesempatan ini, saya bisa mulai minggu depan, mau cerita dulu pada anak-anak. Terima kasih sudah diberi kesempatan mengajar di sini, saya pamit ya,” ujar Marthy sambil bangkit dari duduknya.
Mereka bersalaman dan Marthy kembali ke mobil yang dia minta untuk menunggu, lalu pulang ke apartemen miliknya yang tidak jauh dari sana.
Sepanjang jalan keluar dari ma’had, dilaluinya pepohonan hijau nan rimbun dan celoteh jerit-jerit kecil anak-anak santri, khas remaja. Lama kelamaan suara-suara mereka hilang lenyap dan mobil menderu ke keramaian di tengah Kota Bekasi.
Sesampainya di apartemen yang berada di tengah hiruk pikuk Kota Bekasi, digantinya baju dengan baju rumah, lalu bergegas mengambil air wudu. Buat Marthy apapun yang dia miliki, berapapun tinggi gelar seseorang, pangkat dan jabatan tetapi perintah Allah adalah nomor satu. Dengan tertib dia mengucurkan air dari mulai tangan, berkumur hingga mencuci kakinya dilakukan dengan tawadu, mengharap rida Allah.
Dipakainya mukena, dikacai wajahnya biar mukenanya nampak rapi, lalu digelarnya sajadah.
Sebentar saja dia sudah larut dalam ibadahnya, dia bicara dengan Allah dengan khusyuk.
Ditengadahkannya wajah, diangkat tangannya mohon ampunan Allah atas semua kesalahan dan rida-Nya agar doa-doa yang setiap saat dia panjatkan dikabul Allah.
Baru jam empat sore suasana apartemen tenang, dia berada di lantai 20. Senyap, di luar rintik-rintik hujan. Diambilnya Al Qur’an kesayangan lalu membaca Surah ar-Rahman dengan lembut. “Nikmat Allah mana lagikah yang Engkau dustakan,” Marthy berbicara dalam hati, “Benar ya Rabb, nikmat Engkau mana lagikah yang aku dustakan.”
Suasana syahdu membuat Marthy mengantuk, tidak terasa dia tertidur di sofa, tidur lelap membawa semua duka, suka dan semua lelahnya.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...