Yume Tourou (lentera Mimpi)

Reads
855
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
yume tourou (lentera mimpi)
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Penulis Koro Taiyou

1. Mati

Hitam. Gelap. Hanya itu yang kulihat. Apa yang terjadi?
Aku seperti jatuh ke dalam jurang yang tidak berujung. Tidak ada hal lain. Perlahan aku mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Tidak bisa. Apa-apaan ini? Ingatanku hilang bagaikan gelembung yang meletus dengan mudahnya.
Apakah ini kematian?
Aku masih jatuh di dalam kegelapan dan sedikit demi sedikit muncullah setitik cahaya, cahaya yang menerangiku. Terang, terang sekali.
Dan aku berada di sini.
Duduk di sebuah ruangan yang cukup luas dengan segala peralatan kantor yang berada di dalamnya. Di hadapanku ada orang tua berumur 40-an menatap diriku dengan wajah yang penuh kekecewaan.
Dia menengadahkan kepalanya. “Terima kasih, Dewa,” dia mengatakannya dengan wajah yang beraut, seolah tidak terima aku berada di sini.
“Sial, ada saja orang yang dikirim padaku untuk menjalani masa penyucian. Kau tahu kan alasannya? Mengapa kau tidak berada di surga atau semacamnya? Atau kau tidak ingat satu pun tentang kehidupanmu sebelumnya?” tanyanya. Aku menjawabnya dengan gelengan kikuk seperti orang yang kebingungan.
“Tentu saja. Dan di sinilah kamu. Terjebak di sebuah pekerjaan sebelum masuk surga,” dia berdiri lalu mencari sesuatu di lemari.
“Jadi, apakah ingatanku hilang?” aku tidak peduli tentang apa yang ia katakan sebelumnya, aku hanya peduli dengan ingatanku. Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya sama sekali.
“Eh, ya,” jawabnya setelah mengambil yang ia cari.
Dia melempar barang yang ia ambil ke meja, lalu duduk kembali. Terlihat jelas bahwa itu adalah dokumen penting. Ia duduk kembali di mejanya lalu membuka dokumen yang berisi hal-hal yang tidak masuk akal. Seolah-olah dokumen itu adalah koper yang bisa dibawa ke mana-mana.
“Hmm… Kanzaki Suraha. Nama yang cukup bagus. Ini identitas, baju, dan buku sakumu. Semuanya ada di sini. Sekarang sudah waktunya,” dia tersenyum sembari memberikan dokumen itu. Secara terpaksa.
“Untuk?”
Dia merentangkan kedua tangannya. “Selamat menjalani pekerjaanmu, Shinigami[1], sekarang kau bisa mengganti bajumu dan pergi ke kesekretariatan. Oh, dan ini kartu namaku kalau kamu membutuhkannya.”
Baik sekali dia mau membukakan pintu untukku. Aku pun keluar dengan wajah yang kebingungan. Oke, tempat ini rasanya tidak asing bagiku, meskipun aku tidak ingat pernah melihat hal yang seperti ini.
“Tuan Makoto, ketua divisi penjemputan nyawa cabang Tokyo,” aku membaca kartu nama tersebut sambil mencari tempat untuk mengganti baju.
“Ups, maaf,” ucapku lalu berpaling. Sepertinya aku menabrak sesuatu. Atau seseorang.
Makhluk setinggi dua meter yang aku tabrak itu menatapku. Mata kuningnya terlihat menyala-nyala. Menatapku tajam dan membuatku ngeri.
Aku segera meminta maaf baik-baik dan beranjak secepatnya. Hingga aku sadar tempat ini dipenuhi makhluk seperti itu.
Mereka semua membuatku sangat ketakutan. Dan sekarang aku harus berjalan menunduk dan memeluk erat dokumen yang kubawa untuk menghindari kontak. Aku segera menghela napas lega dan merasa beruntung setelah menemukan toilet ternyata berada di depanku.
Dengan setengah berlari aku memasukinya.
Pakaian ini tidak pernah kusangka sebelumnya. Baju kantoran berwarna hitam legam nan keren ini sangat pas di tubuhku. Jadi ini rasanya menjadi Shinigami. Kurasa tidak buruk mendapat pekerjaan yang seperti ini.
Sekarang tinggal mencari ruang kesekretariatan. Dan itu berarti sekali lagi aku harus berhadapan dengan makhluk tersebut. Aku segera melangkah ke luar.
“Anak baru, ya?” sapa seseorang sambil menepuk pundakku. Sontak aku berbalik dan menemukan manusia lain selain Pak Makoto.
Syukurlah. Akhirnya ada juga orang lain. Atau bisa dibilang Shinigami lain.
“I-iya,” jawabku terbata-bata karena melihat postur tubuhnya yang gagah dan tegap. Juga tinggi.
“Yamada. Taka Yamada,” dia menjabat tanganku dan aku langsung menyebutkan nama lengkapku.
“Permisi, apakah kau tahu di mana ruang kesekretariatan?” tanyaku.
Dia menjentikkan jari, “Kebetulan sekali aku juga mau ke sana,” lalu berjalan keluar toilet dengan santai.
Aku mengikuti di belakangnya dan menemui orang-orang (maksudku iblis) itu lagi. Mereka tetap membicarakan dan menatapku. Rasanya aku bisa menciut sebesar kacang karena merasa malu dan takut.
“Hey kawan, anak ini masih baru. Jangan buat ia tidak betah,” orang itu menepuk salah satu makhluk bertanduk dan bermulut lebar yang sedang menertawaiku dalam hati. Terlihat dari wajahnya.
“Tenang, Nak,” katanya. “Makhluk itu memang agak pengganggu. Namun mereka sangat dibutuhkan.”
Kami berbelok ke kiri dan masuk ke dalam ruang kesekretariatan. Sebelum Yamada mengetuk pintu, seseorang di dalam langsung menyahut “Siapa?” Suaranya yang berat mengagetkanku.
“Taka dan siapa namamu tadi?” dia menanyakan namaku. Orang pikun.
“Eh, Kanzaki Suraha,” jawabku.
“Oh, kau Yamada? Dan si anak baru?” pintu terbuka secara ajaib (kurasa itu hal yang wajar, kau tahu). Kami masuk dengan cepat dan duduk di kursi yang disediakan yang sayangnya hanya satu. Jadi aku mempersilakan Yamada yang lebih senior.
Lagi-lagi iblis yang bekerja. Dan kali ini memiliki terlalu banyak tangan.
Semuanya terpakai. Menelepon, mengetik, menge-print dan segala hal yang biasa dilakukan seorang pekerja kantoran. Dan yang paling menakutkan adalah dia mirip seorang nenek-nenek. Saat aku menatapnya lebih lama, dia memelototiku seakan berkata kau lihat-lihat apa, anak bawang? Kurasa seperti itu.
“Halo, Tuan Makoto, apa yang harus kulakukan dengan anak baru ini?” tanyanya lewat telepon sambil mengetik sesuatu di atas keyboard.
Yang kutahu adalah dia sibuk sekali. Kurasa aku harus menunggu lebih lama.
TRIING!! Bel yang entah dari mana asalnya berbunyi setelah beberapa menit membuat tangannya yang sangat banyak itu akhirnya menyatu menjadi normal. Aku berpikir ulang, apakah ini adalah hal wajar yang biasa dikerjakan orang mati.
“Apa kau membawanya, asistenku?” tanya nenek itu.
“Oh, tentu saja,” Yamada memberikan segelas kopi padanya. “Permisi. Ada sesuatu yang harus kukerjakan,” dan dia pun pergi keluar.
“Duduk!” perintahnya.
Kursi besi dengan bantalan busa memang cukup nyaman untuk saat ini, namun tidak saat aku mendengar beritanya.
“Oke, kau tahu, kau sedang menghadapi masa penyucian diri? Dalam bisnis ini, kami hanya memilih pekerja terbaik yang memiliki dosa namun tidak pergi ke neraka, juga baik hati namun tidak pergi ke surga. Seseorang yang memiliki penyesalan besar dalam hidupnya,” ucapnya dengan penuh rima. Meskipun aku tidak mengerti.
“Apa maksudmu? Nyonya...” aku tidak tahu namanya.
“Kao,” jawabnya.
“Ya. Apa maksudnya dengan penyesalan besar?”
“Kau tidak perlu tahu.”
“Sialan, lalu untuk apa ia menjelaskan?”
“Namun sekarang, kau bawa dokumennya kan?” tanyanya dengan tangan yang menengadah seperti meminta padaku.
Aku memberikan benda yang kupeluk erat itu padanya.
Dia merebutnya dan membacanya cepat sambil sesekali menyeruput kopi panas. Itu adalah identitasku yang sedang ia baca. Lalu nenek itu melemparkan buku sakunya padaku seolah benda tersebut hanyalah sampah.
Setelah selesai, ia menutupnya. “Oke, Kanzaki-san. Sekarang aku akan menjelaskan teknisnya. Ini adalah tempat penyucian dari dosa-dosa besar yang kau lakukan selama hidupmu. Karena itu, kau dipekerjakan di sini. Pekerjaan ini sangat mudah, kau hanya harus mengantarkan jiwa manusia yang mati yang akan tertulis di buku ini. Jadi kau jangan kehilangannya. Yang kedua, meskipun aku tidak menyebutkan yang pertama. Terkadang kau harus melepaskan ikatan antara jiwa seseorang dengan satu-satunya musuh di sini, Iblis,” jelasnya lalu menyeruput kopinya.
“Iblis? Maksudmu makhluk aneh di luar sana?” tanyaku. Aku kira mereka adalah iblis.
“Bukan. Mereka adalah para penjaga pintu neraka yang kadang berurusan dengan data para penghuni neraka. Bisa dibilang mereka adalah malaikat penjaga.”
Huruf o melingkar di mulutku. “Bagaimana caranya? Maksudku, mengalahkan iblis itu.”
“Senjata. Selengkapnya akan dijelaskan oleh asistenku. Pergilah, waktuku tidak banyak!” dia segera menghabiskan kopinya.
Bel tersebut berbunyi lagi dan tangan yang semula normal, kini seperti biasa (maksudnya jadi banyak). Aku yang tidak mau mengganggu aktivitas sibuknya itu segera keluar dari ruang yang dipenuhi tangan.
Yamada ternyata menungguku di luar.
“Kau sudah siap?” tanyanya sambil mengangkat kepala. Tanda mengajak.
“Apa yang akan kulakukan sekarang?” tanyaku. Tanpa pikir panjang, dia menarik lenganku. Mengabaikan pertanyaanku.
Aku tidak terlalu yakin namun sepertinya ingatanku yang pernah dihapus akan ingat kalau aku tidak menyukai tur keliling kantor yang membosankan. Namun karena ini pekerjaanku, aku harus mengikuti segalanya.
Yamada menjelaskan tentang peraturan, hak dan kewajiban seorang Shinigami dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan pekerjaan, meskipun itu sudah ada dalam buku saku dengan sampul kulit hijau yang aku bawa sekarang ini.
Sesekali aku melihat Shinigami lain yang (untungnya manusia) sedang merangkul orang lain.
Mereka merangkul beberapa jiwa yang berbaju putih dan bercahaya.
Yamada juga melihat apa yang aku lihat. “Ooh, itu pekerjaanmu yang sebenarnya. Kau akan menjemput arwah, meski agak berbeda. Kau akan menjemput arwah berstatus neraka,” dia menjelaskan tentang status yang harus ditangani secara khusus. Status para pendosa.
Singkatnya status neraka adalah orang-orang yang sudah terhasut dan mudah sekali dirasuki iblis. Saat dia mati, proses pengangkatan arwah tersebut diganggu oleh iblis dan akhirnya, sang iblis dapat tempat untuk berevolusi.
Intinya, iblis itu hanyalah pengecut yang menggunakan manusia untuk berkembang.
“… untuk melawannya, kamu memerlukan ini.” Yamada menyelesaikan kalimatnya dan terlihat seperti meraih sesuatu.
Dari balik tangannya ia mengeluarkan sebuah tongkat dan diberikan untukku. Aku mengharapkan yang lebih baik dari sekedar tongkat sepanjang lima puluh sentimeter berwarna hitam mulus yang sedang aku genggam ini. Sesuatu seperti senjata berat.
Mata dan tanganku menggerak-gerakkan benda tersebut. Berharap ada suatu tombol yang bisa merubah tongkat tersebut menjadi senjata keren.
“Tongkat? Yang benar saja,” kataku dengan nada menolak sambil melempar-lemparkan tongkat tersebut ke udara.
“Tongkat ini berisi nyawa seorang bayi yang meninggal setelah dilahirkan. Kau tahu apa yang pertama kali diberikan pada saat dilahirkan?” pertanyaan sulit untukku yang tidak peduli dan ingin segera mendapatkan senjata tanpa harus memikirkan seorang bayi.
“Nama?” aku menjawabnya ragu.
Anggukan kepalanya membenarkan jawabanku. “Sekarang kau harus memberinya nama. Nama yang sudah diberikan oleh kedua orang tuanya.”
“Tapi…” sebuah pertanyaan kembali melintas di kepalaku. “Bagaimana cara aku mengetahuinya kalau aku bahkan tidak tahu gendernya?”
“Kau harus merasakannya. Kau harus melihat apa yang dilihatnya pertama kali saat dia dilahirkan ke bumi. Kau harus bisa melihat kedua orang tuanya dan mungkin kau bisa tahu apa alasannya ia mati,” jelasnya.
“Wow. Dunia kematian memang menakjubkan,” aku mengakui.
Jam tangan Yamada berbunyi. Dia segera menarik tanganku dan berjalan cepat sepanjang lorong kantor menuju suatu tempat.
“Pekerjaanku sekarang sudah beres. Sekarang tinggal kau yang melaksanakan semuanya. Segala penjelasan lebih lanjut dan identitas jiwa yang akan kau jemput, semuanya ada di buku sakumu. Selamat bekerja,” dia tersenyum dan pergi setelah menyuruhku masuk ke dalam ruangan itu.
Ruang makan.
[1] Malaikat maut

Other Stories
Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Prince Reckless Dan Miss Invisible

Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Download Titik & Koma