Yume Tourou (lentera Mimpi)

Reads
855
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
yume tourou (lentera mimpi)
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Penulis Koro Taiyou

2. Melenyapkan

Makanan formal di ruangan yang formal tidak buruk untuk pekerjaan ini. Namun aku tidak yakin apakah Shinigami membutuhkan makanan karena mereka sudah mati? Tapi sudahlah.
Ruangan ini selain dipenuhi para penjaga neraka, tempat ini juga dipenuhi para manusia yang berpakaian sama denganku.
Aku mencoba menyimpan tongkat yang katanya bernyawa itu. Kapan aku bisa membuatnya menjadi katana yang sebenarnya? Sedang aku harus tergiur melihat senjata-senjata lain yang keren abis.
Lupakan saja. Kau masih anak baru.
Berdesakan dengan makhluk yang menyeramkan saat mengantre makanan sekarang ini tidak membuatku takut karena aku harus terbiasa dengan ini. Namun aku tetap saja merasa aneh.
Status sosialku yang rendah membuatku canggung bahkan untuk mencari tempat duduk, namun seseorang memanggilku.
“Hei, anak baru!” teriaknya lantang sehingga terdengar ke segala penjuru ruangan. Shinigami lain menolehkan pandangan pada pemuda itu. Teman sebelahnya menyikutnya. Namun yang kutahu adalah dia memanggilku.
Jari telunjukku menunjuk ke arahku dengan wajah yang bersuara aku? Dan dia mengangguk.
Yep, keberuntungan hari pertama.
Aku duduk di hadapannya bersamaan dengan Shinigami lain yang berkumpul di meja itu. Mereka semua pasti adalah senior di tempat ini, jadi mungkin sebuah tanda hormat tidak terlalu buruk.
“Yoshi. Salam kenal,” dia mengangkat tangannya.
Aku menjabatnya tanpa ragu sebelum duduk. “Kanzaki,” rasanya tidak enak kalau tidak berterima kasih.
“Terima kasih, sudah memberikanku tempat, Yoshi-sen...” ucapanku terpotong olehnya.
“Tidak perlu. Cukup –san saja. Sama-sama.”
Kau tahu? Makanan yang kumakan ini terasa lebih enak saat dimakan bersama-sama. Dengan siapapun.
“Jadi, apa yang kalian rasakan pada hari pertama?” tanyaku pada ketiga teman baruku.
“Aku? Entahlah. Mungkin sama sepertimu. Kebingungan, takjub, penasaran. Semua perasaan bercampur aduk,” jawab Yoshi. Kedua temannya mengangguk tanda apa yang mereka alami sama juga.
Jawabannya tidak memuaskan. Jadi aku mencoba bertanya lagi.
“Apakah kalian penasaran dengan hal kehidupan kalian? Alasan kalian bisa kesi... hupf,” Mulutku ditutup oleh Yumi. Remaja perempuan yang duduk di sebelah kirinya Yoshi.
“Itu sakral. Kau tidak boleh mengetahuinya,” wajahnya terlihat sinis. Rambut hitam yang diikat dengan juga mata hitam yang menusuk, dia semakin menyeramkan (entah mengapa hari ini aku bertemu dengan banyak sekali orang yang menyeramkan).
Aku menyingkirkan tangannya dan melanjutkan makan.
“Memang hal tersebut sudah tidak boleh lagi kita ketahui seberapa inginnya kita. Karena itu akan membahayakan dirimu dan mungkin mereka akan menghukummu dengan memperpanjang waktu bekerjamu di sini...” jelasnya lalu menyumpit sushi ke mulutnya.
Tubuhku melemas. Mungkin, rasa penasaran ini akan hilang kalau aku menjalani pekerjaanku.
Lengang sejenak. Kami hanya sibuk menyumpit makanan.
Gosong. Entah apakah masakannya atau apa, aku mencium bau gosong di sekitar sini. Seperti sesuatu sedang dibakar.
“Bau apa ini?” tanya Kuraha. Remaja laki-laki di sebelah kanan Yoshi. Dia mengendus dengan lubang hidungnya yang lebar.
“Iya…” sambung Yumi setuju.
“Eeh, Kanzaki. Kurasa itu dari saku depanmu,” Yoshi menunjuk saku yang dimaksud.
Aku segera melihatnya. Tidak! Jas baruku itu hampir saja terbakar. Dengan cepat aku segera mengambil barang di dalamnya. Buku sakuku. Buku sakuku yang berwarna merah. Dan sangat panas. Meski tidak terbakar.
Aku mencoba mencari cara untuk mendinginkannya. Dan kuah sup yang sudah dingin mungkin jawabannya.
Aku melemparkan buku saku berkulit hijau tersebut ke dalamnya. Namun dengan cepat diambil oleh Yoshi sebelum aku sempat melemparkannya. Dan dengan tangan yang hampir terbakar ia membukanya.
Warna merahnya mulai menghilang. Kembali dingin.
“Itu adalah panggilan untukmu. Bila kau merasakan bukumu memanas, segeralah membukanya. Jangan lalai. Lihatlah!” Yoshi memperlihatkannya padaku.
“Kau memiliki arwah pertamamu yang harus diantar ke… neraka. Apakah kau seorang Pelenyap?” wajahnya terlihat terkejut saat melihat isi buku tersebut.
“Eh, mungkin?” jawabku ragu-ragu. Aku kira hal tersebut tidak berarti banyak.
Yumi dan Kuraha yang penasaran ikut melihat isinya dan mengangguk. Dengan cepat aku segera merebut buku tersebut dari genggamannya.
Dari identitasnya sudah jelas bahwa dia adalah orang yang jahat. Wajahnya yang seperti preman cukup menakutkan. Banyak luka di wajahnya dan memiliki status... Neraka. Aku kira aku akan diajarkan dulu cara menjemput arwah yang biasa. Bagaimana ini? Aku takut.
Yoshi segera berdiri dan menepuk pundakku. Berusaha meyakinkanku. “Dengar, yang kau harus lakukan hanyalah menjemputnya. Namun jangan membuatnya curiga, kau adalah Shinigami. Setidaknya itu akan membantu mengulurkan waktu,” wajahnya juga ketakutan.
“Sekarang pergilah,” Oke, kata motivasi penyemangat.
Aku segera bangkit untuk menerima pekerjaan penyucian diri, meskipun harus mengorbankan makan siangku yang cukup enak.
“Tapi…” aku berhenti melangkah. “Aku tidak tahu harus pergi ke mana.”
Perkataanku membuat Yoshi menepuk jidatnya. “Apa yang kau inginkan adalah kata kuncinya. Selanjutnya kau tinggal mengikuti arah di bukumu. Ada navigasi di sana. Cepatlah! Waktumu tinggal sepuluh menit.”
“Apa yang kuinginkan? Keluar dari sini?” dan tubuhku bercahaya. Sepertinya menghilang.
Sekejap kemudian aku sudah berdiri di trotoar jalan. Termangu. Melihat kota tempatku mati dan mungkin dilahirkan di sini. Beruntung aku masih diberikan kesempatan, bahkan setelah mati pun aku bisa melihat kota ini.
Tempat yang sangat klise. Pepohonan, jalanan yang bersih ditambah dengan kendaraan yang berlalu lintas membuatku masih ingin terus menikmatinya. Selama beberapa detik aku melamun.
Jangan diam saja! Segera cari arwah itu! Suara itu menyadarkanku. Segera kubuka buku hijau itu. Benar saja, buku ini menunjukkan jalan menuju titik merah yang merupakan tempat arwah itu berada. Dan sebuah penghitung mundur waktu sebelum jiwa tersebut berpisah dengan tubuhnya… 9 menit lagi.
Aku segera berlari.
Belok kiri dan jalan terus, gumamku. Peta alam baka memang akurat sekali. Tidak ada kesalahan sedikitpun. Aku terus berlari.
“Ya ampun,” ucapku hampir menjerit. Aku berhenti secara mendadak ketika melihat kerumunan orang yang berjalan di sebuah perempatan. Secara perlahan-lahan menyeberanginya. Bagaimana ini?
Lagipula mereka tidak… bahkan menyadari keberadaanmu, aku ingat perkataan Yoshi. Kalau mereka tidak bisa melihatku, mungkin aku bisa melewati mereka dengan cepat. Bisa jadi menembus mereka.
“Satu, dua, tiga…” aku menghitung sampai tiga dan berlari sangat cepat. Mencoba untuk menembus mereka.
Dengan tanpa aba-aba ataupun instruksi terlebih dahulu, aku tidak sengaja membuat tolakan di kaki kananku dan melompat tinggi. Saking tingginya, aku merasa seperti terbang di angkasa. Masalahnya, aku tidak tahu di mana harus mendarat. Terus, aku membenci berada di tempat tinggi. Perutku seketika mual.
Aku melihat ke sekeliling untuk menemukan tempat mendarat. Sepertinya tiang listrik adalah jawabannya. Hup, berdirilah aku dengan satu kaki di tiang listrik di dekatku.
Berhasil. Tinggal 100 meter lagi aku sampai pada jiwa tersebut.
Sesekali aku menikmati kota kematianku ini. Taman, kota, sekolah, semuanya seperti kota biasa. Mungkin hanya aku saja yang tidak terbiasa. Aku melihat lagi penghitung mundur waktu… 5 menit lagi.
Hal ini memacu adrenalinku.
Jas kerenku yang baru tersibak angin saat aku berlari tanpa berhenti. Berlari tanpa capek. Dan sampailah aku.
Sebuah gang sempit berbau kejahatan. Sampah di mana-mana, coretan grafiti bertuliskan berbagai vandalisme yang biasa ditemui di tempat-tempat seperti ini. Cocok sekali dengan karakter orang ini.
Aku memberanikan diri masuk setelah mengacungkan tongkat. Aku masih tidak percaya alam baka memilihku untuk mengantarkan jiwa berstatus neraka.
Pelan-pelan… pelan-pelan, itu yang selalu kulakukan. Aku berhenti sebentar untuk mengecek alat penghitung mundur waktu. Tiga puluh detik lagi dan semakin berkurang. Jantungku semakin berdebar-debar.
Mayatnya sudah kutemukan. Hanya berjarak lima meter dari tempatku berdiri. Aku terus mengacungkan pedangku dan tiba-tiba teringat perkataan Yoshi yang membuatku menyimpan pedangku di tempat yang tersembunyi. Jangan sampai mereka curiga padamu.
Aku tetap berdiri mematung dan menjaga jarak dengan mayat tersebut sambil menghitung mundur waktu kebangkitan arwahnya.
3… napasku mulai tidak beraturan mengingat seberapa menakutkannya monster dari jiwa berstatus neraka yang akan kuhadapi. Semoga aku bisa langsung mengirimnya ke tempat yang seharusnya.
2… kali ini jantungku yang berdegup sangat kencang. Tenangkan diri, Kanzaki… kau harus tetap tenang agar tidak ketahuan.
1... beberapa saat kemudian arwahnya bangkit.
Aku terus menatap mayat yang tergeletak, sementara arwahnya sudah bangkit. Dia tampak melihat mayatnya sendiri. Namun anehnya, dia tidak terlihat seperti monster. Tapi tetap saja aku harus hati-hati.
Aku memberanikan diri untuk berjalan dan sedikit menyapanya sebelum mengirimnya ke neraka. Ini seperti memasukkan penjahat ke mobil polisi saja.
Sayangnya aku belum pernah menjadi polisi sepertinya.
“Eh, hai,” sapaku. Mencoba sedikit berteman dengannya. Namun dia membalasnya dengan geraman pendek. Kata pembuka yang salah, pikirku.
Dia berbalik dan melihat seorang pemuda berkemeja lengkap dengan jas dan celana panjang yang keren (itu aku). Namun yang kulihat dari dirinya ialah bahwa dia lebih berbeda dengan mayatnya. Auranya lebih mencekam dan matanya pun berkilau berwarna merah darah. Dan aku melihat titik lemahnya. Sebuah tanda bergambar mata hitam di perutnya. Setidaknya itu yang diberitahukan oleh Yamada.
Aku bergidik ngeri meskipun aku harus tetap tenang.
“Siapa kau?” tanyanya dengan suara yang lebih mirip geraman. Seperti ada setan yang merasuk ke dalam dirinya (meskipun itu benar).
“Aku?” Aku mendekat, “Aku arwah sepertimu. Masalahnya jiwaku belum tenang dan masih ada hal yang harus kulakukan saat ini. Kebetulan saja aku melihatmu,” Wow, aku pandai berbohong juga.
“Hmm…” dia tampaknya percaya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan diam saja atau berkeliaran membereskan masalahmu?” tanyaku balik.
“Oh, harusnya saat ini aku bertarung dengan Shinigami dan membunuhnya. Apa kau lihat ada Shinigami di sekitar sini?” pertanyaan itu ingin kujawab dengan ‘ya’, lalu segera membunuhnya. Masalahnya adalah aku belum memiliki pedang.
“Apakah kau Shinigami-nya?” pertanyaan yang belum kujawab membuatnya curiga.
“Tidak, aku bahkan tidak memiliki pedang,” ups….
“Pembohong yang buruk,” amarahnya memuncak dan membuatnya berubah.
Tubuhnya membesar dan mulai tumbuh sedikit demi sedikit tanah yang menempel di tubuhnya, membuatnya seperti armadillo raksasa yang siap melindas Shinigami yang tidak mempunyai pedang. Dia sudah menjadi siluman sekarang.
“Kau bilang tidak mempunyai pedang? Bisnis macam apa yang yang mengirim Shinigami tak bersenjata untuk melawanku? Apa mereka meremehkanku?” ucapnya remeh.
“Yang pasti, ini adalah bisnis paling berbahaya yang pernah kuketahui,” jawabku.
“Aku setuju,” dia mulai membentuk diri menjadi bola berbatu. Dan melindasku.
Aku kalah cepat dengannya. Dia ternyata lebih dulu melindasku sebelum aku sempat menghindar. Alhasil aku tergeletak di tanah yang kotor dan bau ini. Aku merasa pusing dan menutup mata.
Sepertinya aku bermimpi. Mimpi yang cukup aneh.
Aku berada di sebuah tempat yang berwarna putih, berbaring sambil menggerakkan kaki dan tangan. Tepat di atasku aku melihat wajah seorang laki-laki yang samar. Tidak terlalu jelas. Sepertinya tersenyum padaku.
“Oh, anakku yang lucu,” katanya sambil memainkan tanganku. “Kita akan menamainya hmmm… Eguchi,” lanjutnya setelah berdiskusi sebentar dengan perempuan sebelahnya. Aku mulai mengeluarkan suara yang aneh. Seperti suara bayi.
“Oh, lihatlah Eguchi-ku yang manis,” ucap perempuan di sebelahnya sambil memainkan tanganku.
Mimpi pun berubah. Ruang yang kutempati waktu itu seketika terbakar. Aku yang tidak tahu apa-apa menangis keras. Mengharap ada yang bisa menolong. Namun aku tidak bisa melakukan apapun. Hanya bisa menangis.
Mataku terbuka seketika. Sekarang aku bisa merasakan arwahnya. Arwah seseorang yang tinggal dalam tongkatku ini beberapa menit yang lalu mengatakan padaku untuk fokus pada pekerjaanku.
Aku sekarang ini terasa lebih kuat. Entah apa, karena aku merasakan adanya arwah lain atau aku merasa segar setelah dilindas iblis tadi.
“Eh? Kau sudah bangun?” tanyanya. Ternyata dia masih menunggu pertarungannya denganku. Iblis ternyata keras kepala dan sombong. Mereka merasa bisa menang hanya dengan kemampuanku sekarang ini.
“Eguchi… itu namanya,” hanya itu yang kuucapkan. Aku bahkan hampir tidak menyadari sudah mengatakan nama bayi yang ada dalam mimpiku.
“Kau…” wajahnya berubah ketakutan. “Kau sudah tahu namanya?” perubahan mimik muka yang drastis membuatku merasa aneh. Namun dia sudah mundur beberapa langkah, bahkan sebelum aku sempat maju.
Tongkatku bersinar biru dan mamanjang. Sekarang sudah saatnya.
Terima kasih sudah memanggilku. Aku senang akhirnya kau mengetahui namaku. Kata sebuah suara di pikiranku. Ini pasti Eguchi.
Sekarang aku memohon bantuanmu. Mari kita bekerja sama menumpas arwah yang jahat. Aku mencoba menjawabnya dengan pikiranku sendiri. Namun sepertinya dia mengerti apa yang kukatakan. Ini seperti telepati.
Aku membuka sarung pedang dan memamerkan pedang bermata satu yang sangat aku nanti-nantikan. Sarung dan gagangnya pun berubah warna menjadi biru tua. Warna yang cukup cocok.
Baiklah, aku terima tawaranmu, senang bisa membantu. Jawabnya.
Tanpa berpikir apa-apa aku segera berlari untuk menyerangnya dengan satu serangan mutakhir. Pedang tersebut sangat tajam hingga bisa menembus tubuh arwah yang sudah menjadi siluman itu.
Tanda yang aku tusuk tepat di tengahnya sekarang bercahaya putih terang. Aku tetap memegang pedangku, sementara siluman itu meraung kesakitan. Lenyap tanpa sisa.
“Argh!” kira-kira itu yang dikatakannya. Cahaya putih itu dengan cepat menghilang. Aku perlahan membuka mata dan tidak ada lagi monster ataupun arwah yang jahat dan ingin melindasku.
Suara sirene berbunyi dekat denganku. Aku menebak itu adalah polisi yang menemukan jasad tersebut. Sudah waktunya aku pergi.
Tepat sebelum polisi berhasil menemukan mayat yang tergeletak tak bernyawa di tanah itu, aku sudah pergi dengan meloncati gedung. Terpaksa melakukannya, meskipun ketakutan.
Aku membuka buku saku tersebut sambil melompat. Berharap ada navigasi yang bisa membawaku ke tempat semula. Namun tak ada apapun yang terlihat. Yang ada hanyalah waktu selesainya penyucianku berakhir. Beberapa tahun lagi. Cukup lama.
Namun setidaknya aku masih bisa memiliki waktu untuk mengetahui masa laluku. Aku masih tetap memikirkannya.
Tunggu. Aku berhenti sebentar di atas salah satu gedung apartemen berlantai tujuh. Aku berpikir untuk membalik kalimat yang diucapkan untuk keluar dari gedung ini. Keluar. Berarti ....
“Masuk,” kataku mencobanya.
Settt! Aku langsung berada di tempat semula. Ruang makan yang kini sudah sepi.
Wow, ruang makan ini terasa lebih menakutkan saat kosong. Lampu yang sudah mati, beberapa sudut yang cukup gelap juga dapur yang seperti memancarkan bayangan seseorang (oke, kau boleh menyebutku penakut). Dengan jantung yang berdebar aku segera pergi keluar dari ruang itu.
Tepat di balik pintu, Yamada bertepuk tangan setelah melihatku. Aku tidak mengerti, namun sepertinya ia memberikan selamat atas kerjaku barusan yang menurutku biasa-biasa saja.
“Alam baka tidak sia-sia mengirimkan seorang Pelenyap dan memberinya senjata. Ini sangatlah berguna,” katanya, sambil menepuk pundakku.
“Tunggu… Pelenyap?” tanyaku. Aku mendengar kata yang disebutkan oleh Yoshi waktu di ruang makan.
“Ya, Shinigami yang diberi senjata itu disebut Pelenyap. Tugasnya adalah mengalahkan iblis dan arwah yang kerasukan,” jelasnya singkat.
“Aku kira aku hanya melawan para iblis itu pada saat-saat tertentu saja,” kurasa aku sudah tahu jawabannya. Namun jawaban tersebut pasti tidak mengenakkan.
“Kau tidak memperhatikan penjelasanku. Namun dengan pedang yang kau miliki sekarang, semuanya akan menjadi mudah. Tenang saja, kau akan terbiasa menggunakan pedang itu,” Dia melambaikan tangan dan menyuruhku untuk mengikutinya.
Aku ikut-ikut saja. Karena sekarang ini, aku harus bisa menggunakan senjataku dengan baik.
“Siapa namanya?” tanyanya dengan mata yang mengarah pada pedangku yang baru.
“Oh, Eguchi, mati karena rumah sakit tempat dia dilahirkan terbakar. Malang sekali,” aku menunduk menyesal.
“Itu memang harus dilakukan karena jiwa dari bayi yang baru lahir memiliki kekuatan suci yang bisa melawan para iblis. Rasanya agak percuma dia dilahirkan,” sepertinya dia nampak kesal juga.
“Oh,” namun tetap saja aku tidak terima. Jiwa yang seharusnya bisa hidup lebih panjang malah mati saat pemberian namanya. Aku benci hal-hal seperti itu. Sekejap aku merasa beruntung karena bisa hidup dengan umur yang panjang.
Tenang saja Kanzaki, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Eguchi berbicara dalam pikiranku. Aku merasa lebih baik setelah mendengarnya.
“Sampai,” Yamada berhenti mendadak.
Aku membuka pintu dari ruang tersebut. Aku memikirkan sebuah ruangan keren untuk latihan pedang.
Namun ini adalah ruang tidur.
“Untuk apa aku dibawa ke tempat seperti ini? Aku belum mengantuk,” tanyaku.
“Lebih baik kau istirahat. Hari ini sudah cukup bagimu. Kau akan berlatih besok saja. Kau beruntung sudah mendapatkan pedangmu yang kau inginkan,” kata Yamada, layaknya orang dewasa.
Dia ada benarnya juga. Aku segera memasuki ruangan tersebut.
Pintu besi yang bertuliskan “Pelenyap” Berderit agak keras ketika kubuka. Aku sedikit bergidik ketika membukanya.
“Hei, ada anak baru! Sini-sini,” aku yang baru berjalan satu langkah sudah diperhatikan oleh seisi rungan. Kutebak mereka adalah teman sekamarku. Aku segera berjalan mendekat sambil menghitung ada berapa orang yang menjadi Knight di divisi ini.
Ada 4 orang. Tidak terlalu banyak. Namun sepertinya itu cukup untuk membunuh banyak arwah siluman di divisi ini.
Ruang ini cukup besar untuk menampung anak baru. Kasur tingkat besi di sini sepertinya terlalu banyak untuk lima orang. Tapi tak apa, mungkin mereka sudah mengetahui kapasitas penuh di sini.
“Selamat saling berkenalan,” suara Yamada mengiringi pintu yang tertutup.
Semoga mereka ramah. Kalau tidak, bagaimana aku bisa tahan di sini selama beberapa tahun masa penyucianku?
Dari orang-orang yang kulihat, satu dari mereka bertubuh besar dan garang. Namun ada juga yang seukuran dan sepertinya seumuran denganku. Ruangan ini hanya ada satu perempuan. Aku harus menyapa mereka.
“Hai…” dan itu saja kata-kata yang mampu kuucapkan. Aku mempercepat langkah ke arah mereka yang sedang berkumpul di salah satu ranjang. Mungkin mereka sedang mengobrol.
Dengan canggung aku duduk di sebelah yang seumuran denganku.
“Wow, boleh kulihat pedangmu? Sepertinya cukup keren,” teman di sebelahku itu sepertinya terus menatap pedang baruku.
“Hei… Konna, tolong tahan dirimu,” yang besar di sebelahnya menepis tangannya dengan keras. Suaranya yang agak berat itu membuatku ngeri. Teman di sebelahku mengelus-elus tangannya.
“Baiklah, selamat datang di asrama khusus para pendekar bersenjata. Namaku Aizawa Himeto, ini...” Aizawa yang duduk di depanku memperkenalkan diri. Dia menunjuk ke sebelahnya, yaitu seorang perempuan berwajah sinis dengan rambut hitam yang diikat. Aku kenal dia.
“Yumi-san,” kataku sebelum sempat ia memperkenalkan diri.
“Yumi Kadokawa,” Yumi menambahkan.
“Dan ini...” Aizawa menunjuk yang besar.
“Akane Yuki,” jawabnya pendek. Yah, meskipun suara, tubuh dan wajahnya agak menakutkan, dia terlihat baik juga.
“Konna. Salam kenal,” Konna yang duduk di sebelahku menjabat tanganku dan kami bersalaman. Wajahnya yang selalu terlihat bersemangat terlihat cocok dengan rambut merahnya itu.
Aku kira dalam pekerjaan ini aku akan bertemu dengan banyak orang egois. Namun aku sadar, kami semua memiliki kesamaan.
Kami tidak memiliki ingatan.
“Dan kau?” tanyanya.
Aku tersadar dari lamunan. “Eh? Oh, Kanzaki Suraha,” jawabku dengan jelas.
“Oke, sepertinya kau harus beristirahat sekarang. Pedangmu pasti sangat capek setelah menusuk siluman yang melindasmu itu,” Akane memberitahuku.
“Hah? Kalian melihatnya?” tanyaku.
“Tentu, saat Shinigami baru mengerjakan tugas pertamanya, mereka akan direkam dan dibuat video. Lalu diputar di seluruh TV di gedung ini, termasuk TV di sana,” jelas Konna, lalu menunjuk TV yang berada tepat di atas salah satu kasur. LCD berukuran besar itu kali ini sedang berdiam diri. Tidak ada yang mau menonton.
“Meskipun apa yang kau lakukan itu terlihat klise, namun yang penting kau menyelesaikannya dengan mudah,” sambung Akane.
Aku akan menyebut perkataan itu sebagai pujian. Meskipun aku masih ragu harus menganggapnya sebagai apa.
“Terima kasih,” kataku. Menggaruk kepala yang tidak gatal.
Setelah itu, kami mengobrol tentang apa saja (tidak penting sebenarnya). Beberapa dari kami ada yang mendapat panggilan lalu kembali dengan cepat. Rasanya kami mengobrol lama sekali sampai aku benar-benar mengantuk. Meskipun begitu, Yumi terlihat diam saja dan hanya sesekali berbicara.
Dan sekarang dia malah beranjak.
“Kau mendapat panggilan?” tanya Aizawa.
“Ya, aku harus pergi sekarang. Waktunya tinggal lima menit sampai arwahnya bangkit,” Dia lalu mengangkat pedangnya dan diletakkan pada bahunya. Pedang berwarna hitam dengan gagang yang kokoh. Warnanya memang mencerminkan dirinya yang misterius.
“Keluar,” dan dia pun menghilang dengan cepat.
“Memang Yumi sering sekali mendapat panggilan di malam hari. Mungkin karena dia jagonya menyelinap di malan hari, entahlah. Dan kurasa kita juga harus tidur,” Konna, yang kunilai paling banyak berbicara itu memandang jam di tangan kirinya. Menyuruh kita tidur. Dia benar.
“Kalau begitu, kasurku yang mana?” tanyaku.
“Tenang saja. Tidak ada aturan untuk tidur di mana, kau bahkan boleh tidur di lantai,” Aizawa sedikit bercanda. Terkekeh.
Aku hanya tertawa garing menanggapinya.
Beberapa dari kami menguap. Bertemu teman-teman dan melakukan pendekatan dengan mereka merupakan awal yang bagus.

Other Stories
Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Nala

Nala tumbuh dalam keluarga sederhana yang perlahan berubah sejak kepergian Ayahnya. Gadis ...

Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Download Titik & Koma