Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Reads
2.2K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
zen zen sense (kehidupan sebelumnya)
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Penulis Koro Taiyou

1. Gadis Itu Tiba-tiba Menghampiri Dihadapanku

Lagu ending dari film tersebut akhirnya berputar juga, mengiringi beberapa penonton mulai turun dari kursinya masing-masing. Aku hanya bisa bernapas lega karena jantungku tidak berhenti berdegup kencang hanya karena menontonnya. Film yang sangat bagus.
Aku yang bekerja di belakang para penonton tidak pernah menyesal diberi pekerjaan seperti ini karena bisa menonton film terbaru secara gratis. Bahkan dibayar.
Sekarang jam tayang terakhir bioskop hari ini. Namun tetap saja penonton tak henti-hentinya memenuhi tempat duduk bioskop ini meskipun sudah larut.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Waktunya menutup bioskop dan membiarkan para petugas keamanan bekerja.
“Kerja bagus hari ini, Shin. Apakah kau ingin menginap di rumahku? Aku bisa membuatkan nasi kari untuk makan malam. Lagipula besok hari libur,” ucap rekan kerjaku yang sudah bersiap untuk pulang. Mengajakku.
“Tidak terima kasih. Aku hanya ingin pulang saja.” Aku menolaknya.
“Baiklah kalau itu maumu.” Kami pun berpisah di depan pintu lift.
“Dah.”
Aku meregangkan tubuh. Pegal sekali rasanya melayani para penonton yang haus akan rasa penasaran terhadap film yang mereka tonton. Tapi aku yakin mereka tidak akan menyesal setelah menonton film yang diputar.
Sekarang, waktunya pulang. Aku yakin kasur empukku sudah menunggu.
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang berhasil menembus jaketku membuatku bergidik. Hanya sekaleng kopi hangat dan syal hitam hadiah almarhum ayahku yang bisa melawannya.
Aku menatap sekitar. Hanya ada seorang pegawai kantoran yang tengah bersandar di sebelahku. Tak ada yang lain. Hingga mataku menemukan seseorang. Tepat di seberang rel.
Kami bertatap muka. Syal warna hitamnya melingkar dan memberi kehangatan di lehernya. Syal yang mirip sekali dengan punyaku. Tangannya dimasukkan ke dalam saku mantelnya yang panjang. Kulihat di balik bajunya tersembunyi seragam kantoran. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai hingga bahu, dia juga menyampirkan pedang di pinggangnya. Kebetulan yang aneh.
Siapa? Aku bertanya-tanya dalam hati.
Aku yang memperhatikannya dari tadi menelan ludah. Penasaran akan orang yang memiliki syal yang mirip dengan punyaku itu.
Dan kereta pun berhenti menghalangi jalanku untuk melihat wajahnya.
Pintu terbuka dan aku segera memasukinya. Aku melihat keseberang rel, mencoba mencari perempuan tersebut.
Ada. Dia ada tepat di hadapanku.
Wajahnya merona. Mungkin masih kedinginan meskipun sudah berpakaian lengkap di cuaca seperti ini.
Wajah kami bertatapan. Tak kusangka, dia tiba-tiba menangis.
“Mitsuketa[1],” kata-kata tidak terduga keluar dari mulut itu. Dia tersenyum senang, aku hanya bisa melihatnya aneh.
Dia, mengenalku?
Tanpa kusadari kereta tersebut sudah bergerak sendiri. Sudah waktunya berangkat sedangkan dia bahkan belum masuk ke dalam.
Pintu kereta tertutup. Meninggalkan perempuan itu.
Aku buru-buru melangkah menuju jendela kereta. Menatapnya yang sedang berlari mengejar meskipun kuyakin itu tidak akan berhasil. Tubuhnya kian detik kian menjauh.
Hingga tidak terlihat lagi. Sama sekali.
Aku terduduk di kursi kereta. Menarik napas dalam-dalam lalu ku keluarkan secara perlahan. Salahku dia tidak bisa naik kereta ini.
Aku menengok ke kiri dan kanan lalu menemukan sesuatu. Secarik kertas yang terhimpit pada pintu kereta yang tertutup tersebut. Secarik kertas kecil yang tidak aku sadari sudah berada di situ.
Aku yang penasaran segera mengambilnya. Meskipun agak sedikit sulit namun aku berhasil mengambilnya. Ternyata isinya hanya empat kata.
Bisakah kita bertemu lagi?
Dia benar-benar aneh.
Kereta yang dalam gerbong ini hanya diisi beberapa orang terlihat sepi karena sebagian besar penumpang memilih tidur dalam perjalanan. Aku memasang headset lalu memutarkan sebuah lagu.
Sesekali aku berpikir, apakah aku benar-benar pernah menemui dia? Mengenalinya? Mata dan memoriku saja tidak bisa bekerja sama untuk menganalisis dirinya. Dia hanya orang asing yang mengenalku.
Tentu saja aku bukan orang terkenal seperti artis atau semacamnya. Jadi, dia mengenalku dari mana? Sesekali aku berpikir, apakah dia salah mengenaliku. Apakah sebenarnya yang ia cari itu adalah orang lain. Entahlah.
Namun ku urungkan semua pertanyaan itu karena pintu kereta sudah terbuka untukku. Dua kali pemberhentian stasiun yang dihabiskan hanya untuk memikirkan satu orang. Lebih baik aku pulang dan beristirahat.
Kamar apartemen kecil berukuran 5x6 meter itu ku nyalakan lampunya. Lampu LED yang katanya tahan lama itu ternyata sudah harus diganti oleh lampu yang baru karena sudah mulai redup.
Ku akui hidup sendirian itu sangatlah berat maskipun ini keinginan dan pilihanku untuk melakukannya. Keluargaku yang hanya tersisa Ibu berada di Akita. Bersembunyi di antara persawahan dan pegunungan sana. Menyisakanku yang harus menjalani kehidupan kota yang cukup sulit.
Aku langsung bersantai di kasurku yang cukup empuk begitu selesai mandi. Mencoba menutup mata dan membayangkan mimpi yang akan kulalui malam ini.
Namun aku tidak bisa tidur, ku tatap langit-langit kamar yang terang dan memikirkan perempuan itu. Hingga aku memutuskan untuk bangkit lalu berjalan.
Hanya balkon kecil inilah tempat yang paling kusukai.
Menatap bintang, itulah yang selalu kulakukan. Merenung, membebaskan pikiran atau hanya sekedar menghirup udara segar sambil ditemani jutaan cahaya yang terletak nun jauh di sana, tanpa berpikir apa alasanku sehingga harus melakukan hal seperti itu di sini.
“Hari yang keras lagi, ya?” seseorang tiba-tiba nyeletuk.
Aku mengangguk. “Kau harus ingat kalau ini bukan Akita.”
Orang itu menyandarkan diri di atas pagar. Ikut menatap bintang. “Setidaknya, kita tetap berada di langit yang sama, bukan?” dia melantur seperti biasanya.
Aku menodongkan kepala ke samping kanan, mencoba menatap aneh tetanggaku itu. “Setidaknya, kau lebih beruntung daripada aku,” ucapku lalu kembali menatap bintang.
Shuu. Teman semasa kecilku di Akita yang ikut terdampar di kota yang penuh dengan hiruk pikuk ini. Orang yang katanya jenius fisikawan itu, terpisah hanya oleh dinding tipis dengan kamarku. Dan kami selalu melakukan hal ini setiap hari.
Setiap hari juga, dia selalu mengoceh tentang hal-hal yang tidak masuk akal. Mungkin untuk sekedar menyombongan kepintarannya atau seperti apa, tetapi aku tidak percaya terhadap hal-hal yang ia katakan. Aku hanya bisa mengabaikan, menganggapnya tidak ada.
Shuu satu kantor denganku, tetapi dengan pekerjaan yang berbeda. Pekerjaannya adalah di bagian administrasi. Mengurusi berbagai keformalan yang katanya hampir menghancurkan hidupnya. Aku terkejut sampai sekarang ini dia tidak pernah memakai kacamata, meski sudah duduk berjam-jam di hadapan layar.
“Pekerjaan itu sangat merepotkan. Selalu ada kertas yang menumpuk di meja kerjaku.” Wajah tirusnya cemberut. Membentuk lesung pipit yang cukup dalam. Terlihat lucu kalau dipikir-pikir.
Aku terkekeh. “Untung saja pekerjaanku hanya mengawasi sambil menonton film.”
Lengang sejenak. Hanya terdengar suara helaan napas diantara kami. Kembali menatap bintang. Bintang yang selama ini tidak pernah aku berharap padanya.
“Kau tahu tentang bintang utara?” tanya Shuu. Mencoba mengganti topik pembicaraan.
Aku menghela napas. “Aku tidak tahu mengapa kau selalu tertarik terhadap hal yang seperti itu. Tapi, kau boleh berceramah sekali lagi kalau kau mau.” Aku mencoba merendah hati padanya.
“Terkesan menghina, tapi tak apa,” katanya sebelum melanjutkan.
“Kau tahu, bintang utara. Bintang yang tetap berada di tempatnya. Bintang yang berukuran sangat besar dan tidak pernah berpindah tempat. Sebuah hadiah bagi para penjelajah, suku nomaden, dan para nelayan yang mencari nafkah. Bintang yang ….” Dia tengggelam dalam kata-katanya sendiri sementara aku hanya bertopang dagu lantas menikmati kelap-kelip cahaya tersebut.
Seketika aku menyadari sesuatu.
Bintang jatuh. Fenomena yang tidak pernah kusaksikan itu melintas di hadapanku begitu saja. Bintang itu meninggalkan tempatnya dan meninggalkan bekas di ekornya tersebut.
Untuk kali pertama, aku memohon padanya.
[1] Aku menemukanmu.

Other Stories
Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...

Losmen Kembang Kuning

Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...

Download Titik & Koma