Prolog
YUMI
“Dia memang bisa diandalkan di malam hari.” Konna sepertinya membicarakanku tepat sebelum aku akan berangkat. Aku yang sudah bersiap-siap hanya bisa menghela napas lalu pergi dari tempat itu.
“Keluar!” sekejap kemudian aku sudah berada di luar gedung. Bersegera melaksanakan misi.
Yumi Kadokawa. Itu namaku. Shinigami ‘pelenyap’ dengan waktu penebusan yang tersisa tinggal satu mingu lagi. Waktu yang cukup singkat sebelum aku menghilang dan bereinkarnasi.
Yang menjadi masalah di sini adalah, aku bahkan tidak tahu mengapa bisa menjadi Shinigami. Nenek bertangan banyak itu hanya bisa mengatakan omong kosong kepada semuanya. Tidak ada yang benar-benar tahu tentang masa lalu masing-masing dan tidak ada yang ingin tahu.
Hanya anak bawang itu yang terlihat bersemangat.
Perhatikan langkahmu, kau lalai sekali. Ujar Kuro, pedang yang berwarna serba hitam sesuai dengan namanya[1] itu memperingatkanku. Pedang yang sudah menjadi partnerku selama beberapa tahun masa penyucianku itu akhirnya bersuara juga. Sama sepertiku, dia tidak suka berbicara dengan orang lain selain aku.
“Maaf,” kataku lalu segera melangkah cepat, terakhir kali aku cek, waktunya tinggal dua menit lagi.
Malam yang sempurna. Di bawah sinar rembulan dilingkaran yang penuh ini memudahkanku untuk membuat pijakan diantara rumah-rumah penduduk. Membuat berisik di sekitar. Meski mereka hanya menganggap itu kucing yang nakal.
Syal warna hitam yang hanya dipakai saat keluar untuk bekerja berkibar-kibar saat aku melompat-lompat. Meski aku tidak ingat kapan pernah membuatnya. Kalau saja ingatanku tidak dihapus.
Aku melompat ke atas bus yang tidak beroperasi lalu meluncur turun. Titik merah di buku catatanku ini membawaku ke tengah jalan yang cukup sepi. Tersisa satu menit lagi.
Aku melangkah pelan menuju tengah jalan raya yang hanya dilewati satu dua kendaraan tersebut. Aku mendekati mayat tersebut secara perlahan-lahan sembari menunggu kedatangannya.
Dilihat dari jauh sepertinya orang itu adalah pebisnis, cirinya ialah dari seragam kantorannya yang berceceran darah. Beberapa meter dari mayat itu terdapat kacamata kerja yang sepertinya terlempar jauh saat orang itu ditabrak. Namun kacamata tersebut terlihat baik-baik saja. dan dengan keadaan yang seperti itu, aku yakin seluruh organ dalamnya sudah hancur.
Tiga puluh detik lagi. Aku segera menghunus pedang.
Aura-aura hitam segera terbentuk di atas mayat tersebut. Semakin lama semakin menghitam. Lebih hitam dari gelapnya malam. Aku mencengkram erat pedangku hingga buku-buku jariku memutih. Tipe penjahat seperti ini biasanya tidak akan mudah. Aku menghitung dalam hati menunggu kemunculannya.
Sekarang.
Monster itu sudah berada di depan mata. Wujud yang sama dengan saat dia masih hidup ditambah dengan dua tanduknya yang cukup panjang. Dia belum menyadari keberadaanku.
“Ahh! Akhirnya bisa keluar juga dari tubuh sialan itu,” katanya sambil membelakangiku. Selama beberapa saat dia membunyikan beberapa persendiannya lalu beranjak mengambil kacamatanya yang terpental. Aku masih belum bisa melihat kelemahannya.
“Eh?” Dia berbalik menatapku saat hendak mengambil kacamatanya. Wajahnya terlihat jelas beserta tanda berupa simbol mata di dahi yang merupakan titik lemahnya.
Aku segera menyerang.
Aku berlari dengan kecepatan penuh. Dengan Kuro di tanganku, aku membuat serangan kejutan.
Sayang responsnya juga cepat.
Dia dengan mudah menahan seranganku dengan tangan yang menyilang di atas dadanya setelah memasang kacamata. Kukunya yang cukup panjang sepertinya sangat membantunya.
“Tak kukira akan datang secepat ini,” katanya sambil berusaha menahan seranganku. Aku hanya diam saja tak menjawab.
Kemudian datanglah bantuan dari wujud iblisnya itu. Teleportasi yang menyebalkan.
Wujudnya menghilang dengan cepat. Tidak menyisakan jejak apapun.
“Di belakangmu,” Kuro memberitahuku. Aku segera berbalik dan mendapati monster itu meluncur di udara, mencoba menyerangku dengan tangan kosong. Kesempatan yang menguntungkan untukku.
Saat berjarak beberapa puluh senti lagi, aku menebaskan pedangku. Serangan telak.
Dia terjengkang ke samping bersamaan dengan ceceran darah yang mengalir deras dari tangannya. Ya, aku sudah memutuskan lengan kirinya yang kini terpisah sekian meter dari tubuhnya.
“Terima kasih”, ucapku pada Kuro.
Aku melangkah pelan ke arah monster yang meraung kesakitan itu. Menyeringai puas melihatnya kesulitan berdiri.
“Ya, kau tahu, aku memang orang yang rajin,” ucapku.
Dia menyeringai padaku lalu membetulkan posisi kacamatanya. “Ternyata kau bisa berbicara, namun sepertinya kau jangan sombong terlebih dahulu.”
Sekejap, dia berteleportasi. Aku menunggu kemunculannya.
Beberapa saat kemudian dia sudah berdiri di salah satu atap rumah. Menatapku yang berada beberapa meter di bawahnya. Lalu pergi begitu saja.
Aku menghela napas panjang. Monster yang merepotkan.
Setelah itu aku membuat ancang-ancang lalu melompat setinggi-tingginya sembari menatap ke bawahku, mencarinya.
“Arah jam dua belas,” Kuro memberitahuku. Aku menatap kedepan. Ketemu.
Gravitasi bumi secara perlahan menarikku ke bawah. Membuat suara dentuman yang keras saat aku mendarat.
Monster itu sepertinya menungguku di depannya. Kami yang berdiri berseberangan saling memasang wajah sinis. Tangan kiri musuhku masih terus mengalirkan darah segar. Ini akan memudahkanku.
Aku melompat maju kedepan musuhku. Saling menyerang.
Jarinya yang berkuku tajam beradu dengan pedangku membuat bunga api yang bertebaran dimana-mana. Tenaga monster ini cukup besar meski sudah kehilangan satu tangannya.
....................
Uh. Pertarungan yang merepotkan. Selama beberapa menit aku hanya bisa bertahan saja. Beruntung staminanya berkurang karena darah yang terus mengalir keluar dari tubuhnya. Dan setelah aku memutuskan lengan yang kanan, aku segera mengakhirinya.
Setelah membersihkan darah, aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.
Langit sudah kehilangan awannya, menyisakan bintang gemintang beserta bulan purnama yang cahayanya seakan-akan menyorot diriku. Jalanan sudah benar-benar sepi. Bahkan Kuro pun memutuskan untuk tidur dalam bentuk pedang.
Aku sedang tidak ingin kembali ke kantor, entah kenapa, aku kembali mempertanyakan masa laluku, semasa aku masih hidup.
Langkahku terhenti. Stasiun itu, segera menarikku untuk masuk ke dalamnya.
Tanpa diperhatikan oleh siapapun, sekarang aku sudah duduk santai menatap tiga rel kereta api yang berjajar rapi. Tidak menunggu satupun kereta, hanya berdiam diri saja menikmati indahnya malam.
Ku hirup udara lewat syalku. Harum kain yang sama sejak pertama kali aku masuk dalam pekerjaan ini bisa menenangkanku dalam sekejap.
Pengumuman yang memberitahukan akan datangnya kereta, menyadarkanku dari lamunan. Menatap ke sekitar, hanya ada sedikit orang yang akan menaiki kereta ini sepertinya. Tiba-tiba saja aku terpaku.
Orang itu. Entah mengapa aku tertarik sekali dengan orang itu.
Dia sedang duduk di seberangku dengan kepala yang ditundukkan. Sepertinya dia kelelahan. Bahkan dia terlihat malas sekali hanya untuk menyesap kopi kalengan yang dipegangnya. Tipe pekerja keras yang sudah kehilangan stamina.
Tas tangan hitam, jaket hitam, celana hitam, hanya itu saja yang ia kenakan seperti tak ada warna lain yang disukai. Orang itu melingkarkan syal warna hitam yang mirip dengan milikku di lehernya. Kebetulan yang aneh.
Meskipun aku tidak terlalu mengingatnya, aku merasa sudah pernah melihatnya sebelumnya. Entah, barangkali saat aku masih hidup. Dan aku masih terus memandangnya seolah-olah dia orang yang penting.
Atau dia memang penting.
Dalam sekejap, otakku bagaikan gelembung perangkap memori yang pecah. Mengeluarkan ribuan kenangan yang pernah aku dapatkan semasa hidupku. Aku telah mengembalikan isi otakku yang pernah direset oleh kematian.
Dan untuk kali pertama, aku melihatnya menatapku serupa. Tepat sebelum kereta melintas.
Aku segera mengambil catatan.
[1] Kuro dalam bahasa Jepang berarti hitam
Other Stories
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...