Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Reads
2.2K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
zen zen sense (kehidupan sebelumnya)
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Penulis Koro Taiyou

2. Yang Lebih Anehnya Lagi, Kami Bertemu Untuk Kedua Kalinya

Shuu yang tempat kerjanya lebih dekat dari apartemen, sudah turun lebih dulu dan meninggalkanku.
Setelah menghadapi satu hari lagi yang membosankan, aku kembali bekerja.
Gerbong kereta api kali ini disesaki penumpang. Melaju dengan kecepatan 80 km/jam sembari terus menerus bergoyang karena ketidak seimbangan itulah yang tidak aku suka dari perjalanan ini, ditambah lagi aku harus berdiri karena tempat duduk sudah terlanjur penuh oleh penumpang.
Meskipun hanya memakan waktu beberapa menit, perutku yang sudah terisi meminta untuk segera dikeluarkan kembali. Aku menutup mulut dan berharap untuk tidak muntah dan mempermalukan diriku sendiri.
Jam setengah delapan. Cahaya matahari yang mulai memancarkan panasnya masuk kedalam sela-sela jendela gerbong.
Pengeras suara yang terletak di atap gerbong memberitahukan pemberhentian berikutnya. Aku bernapas lega, membenarkan posisi tas kecilku lalu menunggu pintu kereta terbuka.
Decitan antar logam rel dan roda terdengar jelas olehku. Membuat para penumpang sedikit terjengkang ke depan dan mencoba menahan bobot tubuhnya melalui pegangan agar tidak terjatuh.
Pintu otomatis terbuka. Membuat arus kerumunan saling berdesakan hanya untuk keluar dari transportasi umum ini. Termasuk aku di dalamnya.
Dua puluh menit kemudian aku sudah berada di dalam ruang kerjaku. Tepat saat pintu utama bioskop akan terbuka bersamaan dengan para pekerja lain yang sudah lebih dulu datang sebelum aku.
Wajah-wajah bersemangat menghiasi atmosfer dengan senyuman dalam menjalani hari yang baru. Wajah-wajah lelah yang datang dari para penjaga yang semalaman begadang dan terlihat ingin segera pulang. Itu yang kulihat saat ini.
Belakang panggung studio enam, itulah tempat kerjaku.
“Pagi, semua.” Aku memberi salam.
Tiga orang yang seruangan denganku itu hanya mengangguk. Fokus pada pekerjaan masing-masing.
Aku mengecek alat-alat yang membutuhkan waktu selama beberapa menit. Semuanya dalam kondisi yang baik, begitu pun dengan proyektornya.
“Studio enam sudah dibuka,” suara datar dari halaman utama bioskop terdengar hingga kesini.
“Bersiap semuanya, film pertama akan dimulai sepuluh menit lagi,” ketua studio ini memberitahu. Aku menyalakan proyektor setelah disuruh. Video-video berdurasi pendek berupa iklan atau trailer sudah dimulai.
Inilah pemandangan yang kusuka.
Banyak sekali wajah bahagia yang muncul di ruangan berwarna serba hitam ini. Belasan barisan tempat duduk warna hitam nan nyaman itu secara perlahan-lahan tapi pasti terisi oleh penonton.
Yang aku suka adalah memandangi mereka yang berkumpul dengan kelompok mereka.
Di barisan tengah, keluarga kecil beranggotakan tiga orang sedang bersusah payah mencari tempat duduk mereka sendiri. Di pojok kanan atas, pasangan berumur sekitar 20 tahunan sedang mesra-mesranya menunggu filmnya di mulai.
Ada pula rombongan anak berseragam sekolah yang duduk kursi paling atas. Merelakan waktu belajarnya untuk menonton film. Masa muda memang tak bisa dilewatkan begitu saja.
Film yang katanya paling ditunggu-tunggu itu akan dimulai. Bersamaan dengan matinya lampu secara perlahan dan antusiasme penonton yang semakin meninggi. Sudah waktunya film tersebut untuk diputar.
Rekan kerjaku menampilkan gambar pemberitahuan untuk diam. Sebenarnya itu tidak terlalu diperlukan karena saat lampu dimatikan para penonton yang sudah menunggu sedari tadi memperlihatkan keseriusannya.
Volume dinaikkan, cahaya diterangkan. Film sudah menampilkan bagian produser dan lain hal. Aku yang sudah pernah menonton film ini pun tak sabaran. Merasa tak puas meski sudah menonton berkali-kali.
Film sudah menampilkan menit-menit awal. Bagian pengenalan tokoh dan prakonflik. Namun mereka terlanjur takjub bahkan film baru dimulai.
Satu jam berlalu tanpa terasa. Film sudah memulai bagian klimaksnya. Ini yang selalu kunantikan dalam setiap film yang ditampilkan di bioskop ini. Saat-saat dimana amarah mulai keluar, saat-saat dimana tangisan yang menetes mulai mengalir deras dan berbagai ekspresi lainnya.
Inilah puncaknya.
Aku duduk manis dan menikmati film sambil mengamati reaksi para penonton yang menonton adegan klimaks. Berbagai ekspresi tergambar di gurat wajah mereka. Ada yang terkejut karena tidak menyangka akan seperti ini jadinya, ada yang menahan amarah karena tidak sesuai dengan yang mereka inginkan, bahkan perempuan itu menahan tangisan dengan menyembunyikan wajahnya di lengan baju pasangannnya.
Sangat memuaskan seperti biasa.
“Film yang sangat emosional. Mampu memunculkan berbagai perasaan bagi yang menontonnya.” Kepala studio enam bersuara. Beliau sedang berdiri di belakangku menatap takjub film yang diputar.
Aku mengangguk mantap “Kekuatan besar dari sebuah audiovisual.” lalu menoleh ke arahnya yang tersenyum.
“Setidaknya semua itu berakhir baik. Sama seperti cerita-cerita yang lain.” Rekan kerjaku yang lain ikut berbicara. Mengomentari film sambil mengawasi alat-alat. Khawatir kalau ada kesalahan dan kerusakan tiba-tiba.
Dia bernapas lega. Sampai sejauh ini baik-baik saja.
Sudah satu jam dua puluh menit. Beberapa detik lagi filmnya akan berakhir. Sebentar lagi adegan terakhir.
Layar menampilkan adegan di jalanan. Sedang hujan deras di mana psangan itu bertemu kembali. Lalu black screen (layar hitam) dan walking text pun berjalan. Film seru itu akhirnya berakhir mengiringi napas lega orang-orang yang menontonnya.
Film sudah berakhir. Seluruh penonton pergi dengan membawa pengalaman baru mereka.
Kecuali orang itu. Dia masih duduk di atas kursinya dan berdiam diri. Hanya kepalanya yang menyembul, aku tidak melihatnya secara jelas. Mungkin tertidur. Kebiasaan buruk bagi mereka yang tidak menikmati film yang diputarkan. Merasa bosan lalu memutuskan menutup mata.
“Lagi-lagi,” ucap rekan kerjaku yang mematikan proyektor. Layar ukuran besar itu menampilkan warna hitam. Dia beranjak untuk membangunkannya.
Aku menahannya. “Biar aku saja.” lalu membuka pintu dan menuju masuk ke dalam studio.
Studio tersebut yang seluruhnya berwarna hitam itu kumasuki dengan santai. Suara langkah kaki yang beradu dengan lantai yang terbuat dari karpet itu memberikan irama. Juga dinginnya dan wangi yang dihasilkan studio penonton itu selalu kuingat.
Aku sudah membelakangi layar. Mencoba mencari orang yang tertidur itu.
Ketemu. Dia sedang duduk di tengah bagian barisan kiri penonton. Tubuhnya yang tertutupi oleh barisan kursi di depannya membuatku hanya bisa melihat ujung kepalanya saja. Aku segera melangkahkan kaki menaiki tangga.
Aku tidak tahu apakah ini sebuah kebetulan atau tidak namun aku menemukan orang yang sama saat kemarin lusa.
Dia benar-benar sedang tertidur. Jaketnya yang dibiarkan terbuka memperlihatkan seragam kantornya. Syal hitam yang mirip dengan punyaku itu masih melingkar di lehernya. Juga pedang hitam yang mungkin hanya sekedar properti.
Matanya tertutup. Sedang menikmati alam mimpi yang dihadapinya. Tubuhnya yang di selonjorkan terlihat hampir jatuh. Aku menepuk pundaknya.
“Bangun,” ucapku sambil menepuk pundak orang yang pernah melakukan hal aneh dihadapanku itu.
Matanya terbuka. Sejenak, dia membenarkan posisi duduk dan melihat orang yang membangunkannya.
“Pagi,” ucapnya. Mungkin dia masih setengah sadar dan mengucapkan apapun yang dipikirkannya.
“Eh, pagi,” jawabku.
Dia menguap lalu meregangkan tubuhnya sambil menarik napas panjang lalu di keluarkannya, setelah itu dia menggerak-gerakkan persendiannya hingga membuat suara ngilu di telingaku. Lalu dia berdiri.
Orang aneh, pikirku.
“Ah, setelah menahan sekuat tenaga, aku hanya bisa bertahan sampai adegan terakhir sampai aku benar-benar menutup mata. Aku Yumi Kadokawa. Maaf kemarin aku melakukan hal yang memalukan, terbawa suasana.” Dia mengulurkan tangan.
Aku menjabat tangannya. “Aku memang agak terkejut, sih. Tapi tak apa. Aku ...”
“Kiryuu Shin, aku tahu. Orang yang merasuki tubuh orang lain saat aku masih hidup. Salam kenal.” Dia memotong ucapanku. Aku tidak mengerti mengapa dia bisa mengetahui namaku sedangkan aku tidak pernah bertemu dengannya. Juga, apakah dia mengatakan sesuatu tentang merasuki tubuh seseorang?
Lengang sejenak. Dia memutuskan untuk pergi. Aku menyamakan langkah dengannya.
“Jadi, kau bekerja di sini? Tapi aku tidak melihatmu berjualan popcorn,” tanyanya. Mengubah topik pertanyaan.
“Aku bekerja sebagai pemutar film.” Aku membenarkan.
“Terdengar hebat.” Dia menyetujui.
“Eh, kalau kau?” Aku bertanya untuk mencegah kecanggungan. Tidak terbiasa berbicara dengan perempuan.
“Aku menjadi Shinigami. Mencabut nyawa, membunuh iblis dan sebagainya. Dan kabar baiknya sebentar lagi aku bisa bereinkarnasi.” Dia menjelaskan dengan santai meski yang terdengar sangat tidak mengenakan.
Aku menghentikan langkah di anak tangga ketiga lalu memasang wajah aneh. Tidak percaya dengan yang ia katakan. Dia yang sudah di bawah ikut menghentikan langkahnya. “Kau tidak percaya?” Sepertinya itu yang dia coba sampaikan lewat ekspresinya.
“Setidaknya, cobalah percaya dulu. Nanti kau akan mengerti,” katanya lalu melanjutkan langkahnya. Aku kembali berjalan.
“Yang aku tahu, kalau Shinigami itu berada di alam bawah.” Aku memutuskan percaya.
“Kami hanya menggunakan kata itu sebagai istilah. Kami para arwah hanya mengantar jiwa mereka.” Dia mengucapkan kata yang aneh lagi.
“Jadi, kau sudah mati?” tanyaku mempertanyakan kata “Arwah” barusan.
Dia mengangguk.
“Dan, pedang itu asli?” tanyaku lagi.
Dia menghunuskan pedangnya. Bilah tajam yang terbuat dari besi kokoh sepanjang kurang dari semeter itu diarahkan padaku hingga membuatku berhenti melangkah. Ya, benda mengkilap itu asli.
“Namanya Kuro. Katakan hai padanya.” Dia menyuruhku melakukan hal yang aneh tapi demi menghindari pedang itu menebas kepalaku, aku melambaikan tangan padanya.
“Hai.”
Dia memasukkan pedang itu kesarungnya lagi. “Kuro agak tidak menyukaimu. Tapi biarlah,” lalu melangkah lagi.
“Apakah kau tidak merasa was-was agar tidak menakuti manusia yang masih hidup? Kau tahu ini semua sangat sulit dijelaskan. Aku saja masih tidak percaya atas apa yang kulihat barusan.” tanyaku.
“Tenang saja. Keberadaanku tidak disadari oleh orang banyak. Orang-orang yang pernah bertemu denganku dalam sekejap akan segera melupakanku. Tapi aku kagum kau masih mengingatku.” jawabnya.
“Lalu, bukankah sekarang hari kerja? Aku saja masih harus mengurusi beberapa film yang sebentar lagi dimulai,” jelasku.
“Oh, kami hanya menerima panggilan saja, lalu datang dan menjemput mereka. Setelah itu, kami menunggu panggilan lagi. Bisa dibilang ini adalah jam istirahatku,” jawabnya sambil menyeringai.
“Kedengarannya mudah sekali.”
“Tidak, membunuh iblis itu sulit. Kau tahu, seperti di film-film aksi kita benar-benar bertarung secara serius. Satu lawan satu tanpa bantuan. Lagipula, ada berapa orang meninggal di Tokyo setiap hari?” bantahnya. Aku mengangguk-angguk.
Aku mengantarnya sampai pintu depan. Mencoba mengakhiri pembicaraan tapi sepertinya dia ingin berbicara duluan.
“Jadi, bisakah kita bertemu lagi?” Dia mengulang pertanyaan kemarin lusa.
“Kalau untuk menjelaskan lebih tentang dirimu dan diriku di kehidupanmu, aku bersedia. Lagipula, aku tinggal menunggu hari libur.” Aku yakin itu cukup untuk membuatnya senang.
“Oke, Sabtu di taman kota pukul sembilan.” Dia mengakhiri pembicaraan lalu berbalik. Berjalan meninggalkanku.
Aku hanya melambaikan tangan. Dasar gadis misterius yang tak tahu malu.
Aku segera kembali ke dalam ruang kerja yang langsung dipergoki oleh Ketua. Mendatangiku dengan amarah.
“Kau kemana saja? Cepat bersiap, film selanjutnya hampir dimulai. Lama sekali kau keluarnya, tidak izin lagi,” katanya agak membentakku. Aku menelan ludah.
“Tapi, aku sehabis membangunkan salah satu penonoton yang ketiduran.” Aku mencoba menyangkal dengan memberikan alasan. Namun sepertinya Ketua malah semakin marah lalu mengarahkan tubuhku ke bagian proyektor.
“Alasan. Jangan bilang kau mau bolos.” katanya lalu keluar dari ruangan sambil membanting pintu.
Semua yang ada di ruangan terdiam. Menunggu Ketua pergi jauh-jauh dari studio agar ia tidak mendengar pembicaran kami.
“Kau itu kenapa sih, tiba-tiba keluar ruangan lalu kembali belasan menit kemudian. Kau tahu studio ini tidak bisa berjalan sendiri bukan?” tanya rekan kerjaku yang mengawasi bagian pemutaran film.
“Oke, maaf kalau aku terlambat. Namun aku memiliki alasan sendiri, aku sehabis membangunkan salah satu penonton yang tertidur.” Aku mencoba menjelaskan.
“Hemm?” ucap mereka berbarengan.
Mereka semua menghentikan pekerjaan mereka lalu menatapku bingung. Membuatku sendiri terdiam.
Dalam hati aku segera membatin.
Eh, apakah ini yang dimaksud Yumi tentang keberadaannya yang tidak disadari orang lain? Kalau itu benar maka ... apakah hanya aku saja yang tahu kalau Yumi itu benar-benar nyata? Atau ia memang khayalanku saja?
Diamku mengiringi pemberitahuan dari pengeras suara bahwa film selanjutnya akan dimulai.
..............
Malam hari sudah datang. Bulan yang mencuri sinar matahari lalu digunakan untuk menggantikannya menyinari bumi itu kini sudah terang benderang. Bulan purnama yang terlihat sempurna.
Begitu juga dengan bintang-bintang. Kali ini jutaan benda langit yang jaraknya ratusan tahun cahaya itu terlihat lebih banyak dari kemarin. Aku tidak sedang berada di balkon kamar apartemenku yang sempit itu. Aku berada di tempat lain.
Setelah pulang dari pekerjaan yang untungnya selesai lebih cepat, aku memaksakan diri untuk datang ketempat ini. Tempat yang selalu menjadi persembunyianku di antara seluk beluk kota Tokyo yang ramai ini.
Aku menemukan tempat ini beberapa bulan yang lalu. Satu-satunya tempat yang bisa membuatku mengenang masa lalu di Akita. Syal hitamku yang sewarna digunakan dengan milik Yumi itu melambai-lambai diterpa angin malam, menyambut hitamnya malam. Aku bergidik. Malam ini dingin sekali.
Jalanan di pinggiran gunung. Tepat berada di seberang Gunung Fuji yang menjulang tinggi menembus langit itu. Kini gunung itu sepenuhnya berwarna hitam karena tidak tersinari cahaya bulan, atau karena bulan tidak mampu menyinari gunung terbesar itu.
Namun aku tidak terlalu mempedulikannya. Aku hanya datang kesini untuk alasan-alasan tertentu saja.
Selama beberapa menit aku terus berdiri sambil menopangkan tubuhku di pagar jalanan yang memisahkan antara jalan dengan jurang yang cukup dalam dan membuatku tidak berani menengok ke bawah sedikit pun.
Aku memaksakan diri hanya untuk satu alasan. Satu pertanyaaan, satu jawaban. Tidak lebih ataupun kurang. Sebuah pertanyaan yang mendesakku untuk meminta kepada diri sendiri untuk menjawabnya
“Sebenarnya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Other Stories
Bayang Bayang

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Haura

Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...

Download Titik & Koma