9. Perkenalkan, Namaku Kiryuu Shin Atau Yuuki?
Aku tidak tahu dan tidak mengerti mimpi apa yang kualami semalam, namun yang kutahu adalah aku tersentak bangun dan mendapati kalau aku sudah terlambat untuk masuk ke sekolah yang baru.
Jam bekerku yang sudah mati membuatku secara tergesa-gesa bangkit dari tempat tidurku walaupun aku masih setengah sadar dan kepalaku masih pusing berat karena mencerna ingatanku.
Sejenak aku menyempatkan diri untuk menengok ke sekeliling kamarku. Terasa asing meskipun aku tahu aku sudah tinggal di sini sebelumnya. Namun aku membiarkannya, mungkin ini efek karena tertidur terlalu lama.
Setelah aku menyiapkan air panas, aku segera mandi.
Pancuran air yang berasal dari kepala shower beberapa menit setelah bangun agak sedikit menenangkanku. Menjernihkan pikiran atas apa yang terjadi semalam, juga mimpi yang sudah menghilang dari dalam otakku.
Aku segera mematikan shower dan mengganti pakaian yang sudah tergantung di gantungan baju pintu kamar mandi.
Beberapa kali aku meniup susu hangat yang kuseduh dan segera meminumnya. Tak ada waktu lagi, aku harus segera berangkat.
Tinggal sendiri di tempat yang seperi ini membuatku harus cepat-cepat membiasakan diri dari kehidupan pedesaan yang terlalu natural dan tradisional yang aku kenal itu. Di kota yang padat akan penduduk inilah aku tinggal sekarang.
Aku segera turun kelantai dasar dan menemukan lift itu belum dipakai siapapun. Aku menekan tombol dan pintu segera menutup.
Sepertinya, aku akan melewati bagian perjalananku ke sekolah yang agak membosankan karena tidak menemukan orang yang bisa diajak bicara. Orang-orang kota memang sibuk sekali kelihatannya.
Namun aku menemukan sesuatu yang cukup menarik saat menaiki kereta gantung itu. Setelah menaiki beberapa puluh anak tangga dan kecapean bahkan sebelum membayar jasa kendaraan tersebut aku melihatnya.
Rumah sakit tempat kereta gantung yang kunaiki melintas di hadapannya. Meski hanya beberapa lantai, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang menarik di dalam sana. Meski kemudian aku hanya membiarkan pikiran itu lewat begitu saja secepat rumah sakit itu dilewati.
Kereta berhenti dan membuatku yang sedang berdiri agak condong ke kanan. Pintu geser terbuka secara otomatis dan para penumpang segera berhamburan keluar, siap untuk menghadapi hari, sepertiku.
Sepertinya pusat segala kesibukan berada. Mall yang menjulang tinggi, gedung-gedung pencakar langit yang berisi ribuan pekerja dan juga jalanan yang padat dan dipenuhi pejalan kaki yang memiliki berbagai alasan untuk datang kesini.
Dan setelah melangkah beberapa meter lagi, aku menemukan sekolah yang sama persis kelihatannya seperti yang ada di brosur saat aku memutuskan untuk pindah karena mendapat beasiswa.
Gerbang masuk setinggi 2 meter tebuka lebar, tanda masih ada kesempatan. Beberapa murid sebaya yang berseragam sama denganku juga masih menyempatkan diri untuk berjalan santai meski tahu gerbang tersebut akan ditutup.
KRIING!! Itu tandanya.
Aku yang masih berdiri mematung menilik setiap sudut gedung yang baru pertama kali aku lihat itu segera berlari masuk, sama seperti murid yang lainnya.
Sebenarnya aku masih belum tahu di mana kelas yang akan kutempati jadi yang aku lakukan beberapa menit ini aku hanya berjalan saja sambil melihat para murid dan guru berlalu-lalang di lorong depan kelas.
Beberapa kelas yang kulihat sudah mulai belajar. Itu yang kulihat lewat jendela besar di sisi kelas.
“Hei, Yuuki-san!” Seseorang yang tidak kukenal yang sedang berdiri beberapa meter dihadapanku itu memanggilku. Dia sedang bersandar di dinding lorong bersama seseorang yang juga menengok ke arahku.
Aku menatap mereka aneh. Tidak mengerti mengapa ada yang sok kenal denganku meskipun aku baru pertama kali datang ke sekolah ini.
Aku hanya melambai pada mereka “Maaf, mungkin kalian salah orang. Namaku Shin. Salam kenal.” Dan aku meminta izin untuk segera pergi.
Namun mereka malah mendatangiku dan menarik tanganku.
“Jangan pura-pura bodoh, Yuuki. Ayo, kita masuk kelas.” Lelaki sebaya yang pertama kali melihatku itu menyeretku ke dalam kelas.
Aku tidak mengerti apa-apaan ini. Aku yang seharusnya melakukan perkenalan diri dan mulai berteman dengan orang-orang di kelas malah dikira orang lain dan dimasukkan kedalam kelas yang tidak kukenali sama sekali.
Ini terasa salah.
Aku mengikuti saja apa kata mereka dan melangkah dengan gontai dan kepala tertunduk masuk ke dalam kelas yang sudah dipenuhi orang-orang.
Murid-murid di kelas yang awalnya agak ribut itu tiba-tiba terdiam hanya karena melihat tiga pemuda masuk ke dalamnya. Semua mata mereka tertuju padaku yang hanya bisa melambai dan tersenyum menahan malu.
“Teman-teman, Yuuki ternyata baru bangun sekarang.” Lelaki yang lainnya itu memanggil ke penjuru kelas.
Desas-desus pun terdengar olehku. Beberapa dari mereka terdengar olehku.
“Bukankah dia itu yang terkena penyakit tidur dan belum masuk selama beberapa minggu bukan?”
“Seharusnya orang berpenyakit sepertinya lebih baik masuk rumah sakit saja.”
“Dia terlihat berbeda dari biasanya. Seperti bukan dirinya yang lama.”
Dan beberapa bisikan dari satu telinga ke telinga lainnya yang kudengar dengan sangat keras. Aku semakin tidak mengerti, bukankah aku ini anak baru di sini?
Karena merasa malu, aku langsung menegakkan badan dan merapikan baju lalu menarik napas dalam.
“Hai teman-teman. Namaku Kiryuu Shin. Aku murid baru di sini, aku berasal dari daerah pedesaan dan mencoba beradaptasi di kota. Salam kenal.” Aku membungkuk dan kembali mendengar desas-desus yang lebih aneh dari sebelumnya.
“Dia bercanda ya? Namun kelihatannya dia serius.”
“Dia kelihatannya seperti kehilangan ingatan? Seperti waktu dia divonis memiliki penyakit yang aneh.”
“Benar-benar hilang ingatan sepertinya.” Dan beberapa perkataan aneh yang menyebutkan bahwa aku sudah kehilangan ingatan.
“Mungkin yang kalian kenal itu orang yang lain.” Aku mencoba berbicara lagi pada mereka dan membuat mereka berhenti saling berbisik. Aku kemudian menunduk dan mencoba melangkah pergi dari kelas ini.
Namun suara langkah kaki bersepatu hak itu menghentikan niatku.
“Masuk semuanya, oh ternyata kau sudah sehat Yuuki. Bagaimana kabarmu?” tanya perempuan berpakaian kantoran. Sepertinya itu wali kelas kelas ini.
Murid yang menarik tanganku masuk ke kelas ini membisikkan sesuatu ke telinga wali kelas. Wali kelas itu mengangguk dan menyuruh semua muridnya untuk duduk di kursi masing-masing terkecuali aku yang hanya berdiri saja di depan dengan canggung.
“Oh, maaf. perkenalkan ada murid baru yang datang kesini. Sebelumnya, perkenalkan namaku Sakura Meguri, wali kelas. Dan karena dia telah memperkenalkan diri, silakan duduk di kursi ujung yang kosong itu.” Dia mempersilakanku.
“Terima kasih, Meguri-sensei.” Lalu aku berjalan cepat menuju kursi tersebut lalu menyimpan tas dan duduk.
“Baiklah, mari kita mulai pelajarannya.” Sensei segera menuliskan sesuatu di papan tulis.
Meski pelajarannya terlihat menyenangkan namun hatiku tetap merasa tidak enak karena ada yang membicarakanku dari belakang. Aku mendengar dengan jelas pembicaraan tersebut dan saat aku menoleh pada mereka,
Mereka hanya tersenyum padaku tanpa menjelaskan apa-apa.
Aku merasa dipermainkan. Merasa dibodohi oleh ketidaktahuanku atas rahasia yang disimpan oleh teman-teman sekelasku.
Tapi, kurasa lebih baik nanti saja meminta penjelasannya.
.................
Bel keluar berbunyi. Aku yang sejak tadi siang hanya duduk melamun memikirkan sesuatu dan mencoba memahaminya hingga waktu istirahat habis, tetap tidak mendapatkan apapun. Bahkan tidak ada seorang pun yang mendatangi mejaku dan mengajakku berbicara. Dan aku tidak berani mengajak berbicara mereka.
Kurasa bukan sekarang waktunya untuk bersosialisasi dengan teman-temanku. Lagipula, wajah-wajah mereka juga tidak terlihat bersahabat saat ini. Lebih baik, biarkan saja mereka.
“Kurasa sekarang waktunya berkeliling sekolah.” gumamku lalu beranjak.
Aku menaiki tangga ke atas yang ternyata terdiri atas banyak sekali ruangan klub. Semuanya berjajar beserta papan nama yang menggantung. Aku melihat mereka satu persatu.
“Klub permainan papan, klub membaca, klub ....” Gumamku membacanya. Beberapa ruangan yang memiliki jendela aku intip kedalamnya. Meski yang kulihat adalah orang-orang yang sedang sibuk kesana-kemari dalam ruangan tersebut.
Dan semua ruangan klub itu terkunci. Mungkin pekerjaan mereka semua tidak ingin diganggu.
Hingga aku sampai di ujung lorong ini. Klub terakhir yang memiliki ruangan yang lebih besar dari yang lainnya.
“Klub perfilman?” Aku penasaran, lewat jendela yang tembus pandang itu aku lihat kedalamnya. Ada seseorang yang sedang menatap ke arah jendela luar. Kurasa dia hanya sendirian di dalam.
Hanya ruangan ini yang tidak terkunci. Dengan sedikit khawatir karena takut yang kulakukan itu salah, aku menggeser pintu tersebut.
“Kau kehilangan ingatanmu.” Itu yang pertama kali dia katakan padaku tanpa menengokku dan terus melihat keluar. Aku terpaku karena dia menyadari keberadaanku padahal aku sudah berusaha untuk tidak membuat suara sekecil apapun.
“Dirimu yang asli telah hilang, bersama dengan datangnya kepribadianmu yang baru yang entah datang dari mana.” Dia melanjutkan perkataannya.
Cahaya matahari senja yang berwarna oranye menembus lewat jendela yang dibuka setengah, menimpanya dan membuatnya ikut bersinar oranye. Tangannya mengangkat ke atas, ke arah cahaya tersebut.
Sebenarnya, apa yang dia lakukan?
“Namun, aku senang kau sadar karena akhirnya kau berubah menjadi seseorang yang lebih baik, lebih daripada siapapun. Tak seperti kau yang dulu. Dan aku sudah senang karena kamu kembali.” Entah mengapa, rasanya dia seperti membicarakanku. Rasanya perempuan itu mengetahui apa yang terjadi padaku.
“Cut! Hebat sekali Yumi! Akhirnya, scene ini selesai juga. Kerja bagus semua!” seseorang dari arah belakang berseru padanya dan bertepuk tangan yang diikuti dengan tepuk tangan lainnya.
Tanpa tersadar akupun ikut bertepuk tangan dengan pelan. Dan setelah mereka semua berhenti, hanya tersisa tepuk tanganku.
Mereka menoleh padaku. Termasuk orang yang dipanggil Yumi.
“Halo, ada yang bisa dibantu? Atau mungkin kau ingin masuk sebagai anggota tambahan, kebetulan sekali.” Orang yang tadi berseru pada Yumi itu bertanya padaku. Dia berdiri dari kursi sutradaranya dan bersalaman denganku.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. “Eh, tidak aku hanya penasaran kepada klub perfilman ini.”
“Kalau begitu, mengapa tidak menjadi anggota saja? Tenang saja, formulir bisa diurus nanti. Sekarang kau tinggal memilih, ingin bagian editing, akting, atau skenario? Oh, namaku Hashida Eiji kelas 2-3. Sutradara.”
Perkataannya membuatku tersudut. Aku yang belum tahu apa-apa langsung dijelaskan banyak hal oleh orang bertubuh besar yang membuatnya terlihat seperti gorila ini. Seharusnya aku tidak masuk keruangan lain dengan sengaja.
Dan seseorang menyelamatkanku. Salah seorang dari mereka yang sudah beres menyetel kameranya menarik Hashida dan bilang padanya kalau itu tidak sopan.
“Maaf, dia orangnya agak tidak tahu malu.” jelasnya padaku.
“Ah, tidak apa salahku juga masuk ke rungan klub tanpa izin terlebih dahulu.” Aku meminta maaf.
“Oh, kalau tak salah, kau Yuuki bukan?” tanyanya.
Perkataan itu lagi ditujukan padaku. Entah mengapa, di tempat ini banyak yang mengiraku sebagai orang lain. Dan kurasa, sekarang saatnya untuk meminta penjelasan dari orang-orang yang pernah mengenalku sebagai Yuuki ini.
“Kebetulan sekali. aku ingin bertanya tentang siapa Yuuki ini. Karena banyak yang bilang kalau aku orang lain padahal namaku sendiri itu Shin, Kiryuu Shin.”
Sama seperti sebelumnya, respons mereka hanya menatapku dengan bingung.
Setelah itu lengang. Mereka semua tidak mengerti dengan keadaan yang mereka hadapi sekarang ini.
Namun Yumi melangkah mengambil kursi kosong dan mempersilakanku duduk diantara mereka berempat. Setelah itu dia duduk disampingku lantas menarik napas sebelum memulai berbicara.
“Yuuki itu, orangnya mirip dengan kakakku. Pendiam, tidak terlalu suka besosialisasi dan berbagai perangai buruk lainnya. Dan yang orang lain ingat dari Yuuki ialah penyakitnya. Dia sering sekali pingsan dan sesekali melupakan dirinya sendiri. Seperti ....” Dia mencoba mengandaikan sesuatu.
“Seperti ada jiwa orang lain yang menempati tubuhnya. Namun aku belum pernah melihat yang separah ini. Kepribadian Yuuki sudah diganti dengan kepribadian Shin, yaitu kau.” Hashida melanjutkan.
Yang lain mengangguk. Menyetujui apa yang dikatakan mereka berdua.
“Jadi, aku sebenarnya adalah orang lain yang masuk kedalam tubuh orang ini?” Aku memberikan kesimpulan.
“Aku tahu ini cukup sulit dimengerti bagimu, namun memang itu intinya. Baiklah mari kita tes.” Pemegang mic yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, setelah menurunkan mic gantungnya itu. Sekejap, aku mengingat kalau dia adalah salah satu di antara puluhan orang di kelasku.
“Kalau Senpai[1] mengaku sebagai murid baru, lantas mengapa Senpai bisa datang ke sini?” tanyanya.
“Aku naik kereta gantung.”
“Mengapa Senpai bisa tahu hal yang seperti itu padahal Senpai sendiri berasal dari daerah pedesaan dan aku yakin kalau Senpai tidak tersesat seperti kebiasaan murid baru lainnya.” Katanya.
Semua menjadi lebih masuk akal sekarang. Aku yang kehilangan kata-kata hanya bisa menjawabnya dengan terbata.
“Ti, tidak tahu.”
Dia tersenyum puas seperti habis mendapatkan kesimpulan. “Berarti masih ada sebagian ingatan Yuuki yang menempel pada diri Senpai, entah seberapa banyak tapi itu bisa menjadi bukti kalau tubuh yang Senpai gunakan itu milik Yuuki.”
Aku hanya bisa terdiam. Memikirkan bagaimana caranya mencerna semua ini, lantas berdiri dan mengatakan,
“Kalau begitu, aku ini siapa?”
Mereka semua juga masih terdiam. Tidak mengetahui apa yang akan dikatakan mereka padaku, sama sepertiku. Kehilangan kata-kata.
Setelah beberapa lama, Yumi mencoba berbicara. “Kurasa, kau harus mengingat masa lalumu. Apakah ada sesuatu yang bisa kau ingat sehingga bisa masuk kedalam tubuh orang ini? Apapun.” Dia memberikan kesempatan lain.
Aku mengangguk dan menutup mata. Memikirkan seluruh hal yang bisa kuingat. Tapi ....
“Eh? Aku, aku tidak mengingat apa pun. Aku bahkan tidak mengingat apa yang kulakukan kemarin.” Napasku mulai tidak beraturan. Apa-apaan ini?
Aku yang tidak bisa menenangkan diri segera meneteskan air mata. Semua yang kucoba untuk diingat semuanya menghilang, orang tuaku, teman masa kecilku, bahkan suasana alam di pedesaanku semuanya menghilang. Aku tidak mendapatkan apapun dari dalam otakku yang katanya bisa menyimpan berjuta data.
“Yang kuingat hanyalah yang terjadi hari ini, dan namaku. Itu saja.”
Seseorang memegang pundakku. Aku menengok dan mendapati Hashida mendekatkan wajahnya padaku. Memperlihatkan pipi gembul yang empuk.
“Sekarang, apakah kau mau masuk klub perfilman?” tanyanya.
Aku malah tertawa mendengarnya, meski air mata masih mengalir keluar. “Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku mau.”
“Yah kurasa tak apa. Yang penting kau tetap melanjutkan hidupmu, entah dengan ingatan atau tanpanya. Itu tidak penting saat ini.” Yumi juga mencoba menenangkanku dengan tepukan pada pundakku.
Aku mengusap air mata dan bangkit.
“Semuanya, perkenalkan, namaku Kiryuu Shin kelas 2-2, mulai hari ini aku akan menjadi anggota klub perfilman, mohon bantuan semuanya.”
Akhir kata-kataku di sertai dengan tepuk tangan dan ucapan selamat.
Bersamaan dengan turunnya matahari ke ufuk barat, dan semburat sore mulai menghilang, Hashida menyelesaikan tugasnya sebagai pengarah dan membantuku menjelajahi ruangan klub yang cukup luas ini.
Aku juga dikenalkan dengan dua anggota klub yang lain. Ayano-kun sebagai kameramen dan Sato-kun, satu-satunya adik kelas itu sebagai pemegang mic.
“Dan ini buku tutorial bila kau ingin belajar tentang software editing video. Lengkap dengan tutorial video dan software versi terbarunya, kau punya laptop kan?” Hashida memberikanku buku tebal tersebut.
Buku yang terlihat berat itu aku masukkan ke dalam tas. “Mungkin. Aku akan mengeceknya terlebih dahulu kalau begitu.”
Yang lain juga bersiap untuk pulang. “Cepatlah, sebentar lagi bulan akan naik. Ayo pulang.” Ayano yang memegang kunci sudah membereskan kamera dan memasukkannnya kedalam tasnya.
Pintu ruangan pun terkunci bersamaan dengan langkah kami bertiga, meninggalkan Ayano beberapa langkah di belakang kami. Lagipula, Ayano masih harus menyimpan kunci tersebut di ruangan guru.
Kami semua berpisah gerbang depan sekolah. Menyisakan aku dan Yumi yang ternyata searah jalannya.
Bulan setengah sabit beserta bintangnya membantu menerangi jalan utama yang dipenuhi dengan kendaraan yang berlalu-lalang juga toko-toko pinggir jalan yang juga dipenuhi pelangggan. Lampu jalanan yang menyala terang membuat wajah kami tidak sengaja diterpa cahaya oranye tersebut.
Kami yang melangkah santai menuju stasiun membuat jarak antar satu dengan yang lain.
“Jadi,” Aku menggaruk kepala. “Kau bukan anggota klub itu?” ucapku memulai pembicaraan.
“Tidak, aku tidak mau masuk suatu klub, mereka saja yang suka mengajak anggota klub lain untuk membantu mereka menjadi aktor.”
Aku mengangguk-angguk memaklumi.
Trotoar yang beralaskan batu-batu dan tertata rapih membentuk sebuah pola yang cukup indah, ditambah dengan lampu-lampu yang menyorot membuatnya terlihat lebih hidup. Aku hanya bisa melihat keindahan tempat ini dengan menunduk, tak mampu berbicara dengan perempuan disaat-saat seperti ini.
Meski kami diam seribu bahasa, tetap saja banyak sekali hal yang tersampaikan antar satu sama lain entah lewat apa. Trotoar yang kami lewati, suara hiruk-pikuk orang yang menyeberangi jalanan dan gambaran pemandangan kota yang selalu hidup walau berbeda waktu.
Walaupun hanya dengan diam saja, namun kota inilah yang menjelaskan keadaan kami. Yaitu canggung.
Jam di stasiun menunjukkan pukul lima sore, kelihatannya kami sangat terlambat untuk pulang sekolah. Kami yang sudah memasuki daerah pemberhentian hanya tinggal menunggu saja sebelum kami menaiki kereta gantung tersebut.
Hanya lengang. Dalam diam menunggu kedatangan kendaraan darat tersebut dengan canggung. Duduk dengan jarak beberapa puluh senti dan hanya bisa menatap sekitar, tak tahu apa yang harus dikatakan.
“Ah, sudah waktunya.” Yumi bergumam lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Obat dan sebotol air minum.
“Itu, apa?” tanyaku.
Dia yang sedang membuka bungkus obat tersebut menoleh. “Ini? Tablet penambah darah. Ternyata orang yang berpenyakit bukan hanya kau saja, ya?” Dia membuka satu tablet lantas meminumnya.
Aku hanya terkekeh mendengarnya. “Aku juga tidak mengerti penyakit yang kualami ini.”
Dia menutup botol air itu lalu memasukkannya kembali bersama dengan obatnya. “Rasanya apa yang dikatakan Hashida itu benar. Biasanya kepribadian orang yang menempati tubuh Yuuki hanya sementara sekali dan setelah Yuuki sadar, dia akan kebingungan dan bertanya ‘apakah aku ngelindur lagi?’ itu yang kudengar dari teman sekelasnya.”
“Apakah hal tersebut seringkali terjadi padaku, maksudku Yuuki?”
“Tidak, semasa aku sekolah disini baru terjadi tiga kali. Dan kau yang ketiga.”
Kereta pun datang. Lampu depannya yang menyorot dan berhenti segera menyadarkan kami dari lamunan.
Segera kami masuk dan kembali ke dalam ke sunyian.
Gerbong ini setngah penuh. Menyisakan beberapa kursi yang kosong tidak terisi. Lampu putih yang menyala dan penghangat ruangan semakin menambah kenyamanan kereta ini.
Pintu sudah tertutup. Dengan kecepatan konstan, kereta melaju melintasi kota di malam ini.
Jendela di belakangku saat ini sudah memperlihatkan lagi keindahannya. Langit hitam yang bergradasi dengan warna biru seakan tak bisa melupakan hadirnya cahaya-cahaya yang menempel di langit.
Juga titik-titik yang bersinar terang itu. terhampar luas di dataran kota yang penuh dengan penduduk ini. Mereka semua terdiri dari rumah, bangunan pencakar langit dan mall yang masih terlihat besar meski di jarak yang jauh ini.
“Ano, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Aku memulai lagi pembicaraan.
“Hemm? Apa?”
“Kelasmu ada di mana? Aku tidak melihatmu di kelasku.”
Dia membuang napas mendengarnya. “Aku kira apa, aku dari kelas 2-4 di kelas yang paling ujung. Dekat, kok.”
“Terima kasih. Aku terkadang agak panik saat tidak tahu di mana harus mencari seseorang yang penting, juga karena teman-temanku yang masih tidak terima kalau aku ini adalah orang yang berbeda dari yang mereka kenal.”
“Beradaptasi memang membutuhkan waktu.” tambahnya.
Kereta cepat tersebut beberapa menit kemudian sudah melambatkan diri. Sampai di pemberhentian pertama.
Yumi beranjak. “Aku keluar disini.” Lalu berjalan ke depan pintu dan menunggunya terbuka.
Kereta yang sudah benar-benar berhenti itu dan terbuka pintunya. Yumi melambai padaku dan berkata. “Aku sangat berteima kasih, Shin.” Dengan senyumannya lalu melangkah keluar bersama dengan penumpang lain.
“Seharusnya sekalian kutanyakan tempat tinggalnya juga.”
Seketika aku merasa aneh. Tiba-tiba saja ada semacam perasaan seperti deja vu kalau aku pernah melihatnya seperti itu, di tempat yang sama, dan di waktu yang sama. Entah hal tersebut benar atau bukan.
Kejadian tersebut hanya melewat secara sekilas. Saat aku ingin menggali lebih dalam tentang hal tersebut aku tidak mendapatkan apa-apa. Aku menutup mukaku dengan telapak tangan dan mencoba berpikir ulang.
“Tadi itu, apa?” gumamku.
Hal tersebutlah yang akhirnya berhasil menggangguku selama tidur. Aku yang terus berpikir hingga tidak bisa tidur. Dalam kamar yang cukup sempit dan kasur yang empuk aku hanya menatap langit-langit kamar dan terus berpikir.
Deja vu macam apa ini?
Bahkan aku yang sudah menutup mata dan menghilangkan segala pemikiran tentang hilangnya ingatanku tetap saja menggangguku.
Aku menyerah. Lebih baik aku baca saja buku pemberian Hashida. Kulewati bagian perkenalan dan langsung membaca tutorial pertama. Mengamati gambar-gambar tersebut baik-baik sambil mengingatnya.
Selasai, aku membalik halaman yang terbuat dari kertas tipis berwarna kuning tersebut. Melaju ke tutorial ke dua yang kulihat lebih sulit.
“Menarik juga memberikan bahan materi yang unik seperti ini.” Gumamku yang masih berbaring dan membaca buku berat tersebut dengan tangan yang diangkat. Tanganku terasa pegal beberapa menit kemudian. Aku membalik tubuh dan membacanya dengan posisi yang berbeda.
Tak sadar aku terlelap. Masuk ke alam mimpi yang kulihat hanyalah hitam saja. dan itu berlalu dengan cepat.
......................
Pagi. Adalah saat-saat di mana kita memulai hari baru dengan penuh semangat setelah terlewati delapan jam di dalam alam mimpi yang terkadang menghantui, terkadang membuat kita tidak mau terbangun dan terkadang membuat kita mengingat hal-hal yang pernah terlupakan.
Pagi, adalah saat di mana kita dihidupkan kembali, sembari disinari cahaya matahari yang menembus kedalam melalui kaca-kaca jendela dan suara jam beker yang menyala nyaring meminta kita segera bangun dan memulai hari.
Namun yang kualami sekarang ini adalah, aku kembali bangun dengan jam beker yang sudah mati. pukul delapan kurang.
Lagi-lagi aku segera menyiapkan diri dan memulai perjalanan hidup satu hari ini yang dimulai dengan kendaraan umum yang memiliki sekitar sepuluh gerbong dan seluruhnya berwarna putih.
Berdesak-desakan di dalam kereta bersama ratusan penumpang dan bergoyang ke sana-sini karena ketidak seimbangan kereta membuatku berpikir apakah gerbong ini sudah melewati kapasitas yang dianjurkan atau belum setelah melihat semua ini.
Sejenak dalam keheningan kereta yang penuh ini aku memikirkan apa yang telah terjadi semalam. Pulang bersama dengan Yumi, dan deja vu itu.
Sekarang ini aku berharap unutk segera melakukan hal yang bisa mengembalikan ingatanku itu. Semuanya demi mendapatkan penjelasan atas hal bodoh yang terjadi. Dua kepribadian yang ingatannya bertumpuk dan kepribadian yang masuk ke dalam Yuuki malah kehilangan ingatan.
Dan kereta yang berhenti itu segera menyadarkan lamunanku. Secara tidak langsung membuat para penumpang untuk berbaris dengan rapi di depan pintu gerbong.
Beberapa jam selanjutnya aku sudah berada di dalam kelas. Keterlambatanku yang membuatku bersyukur karena ditolerir oleh petugas keamanan, dan membuatku buru-buru duduk di kursi lalu memperhatikan pelajaran.
Dan aku meminta maaf pada semuanya.
Seperti biasa, teman sekelasku itu menatapku secara serentak. Mungkin mereka menduga apakah aku sudah menjadi Yuuki yang dulu lagi, namun mereka yang mengamatiku menatapku kecewa karena aku belum berubah.
Wali kelas yang memberikan pembelajaran juga terus-terusan menatapku seolah ada yang salah dengan diriku (atau mungkin itu memang benar). Membuatku merasa tidak enak karenanya.
Semua itu disertai dengan bisik-bisik antar satu dengan yang lainnya dan aku yakin itu juga membicarakan tentangku. Tidak salah lagi.
Tak apa. Itu semua hanya terjadi selama beberapa jam pelajaran. Sebentar lagi juga bel istirahat berbunyi.
KRIING!! Panjang umur.
“Baiklah kurasa itu saja pelajaran di jam ini, terima kasih.” Guru berpakaian kantoran itu melangkah keluar sambil membawa map berisi absen dan materi pelajaran juga diiringi rasa lega para murid karena waktu istirahat sudah tiba.
Dan hari ini mereka juga tetap tidak ingin berinteraksi denganku. Yang mereka lakukan hanyalah membicarakanku dari belakang dan membuatku agak muak. Meski ada kemungkinan kalau hal tersebut terjadi karena sifat Yuuki dahulu yang tidak suka berinteraksi dengan orang lain.
Yah, yang kulakukan hanyalah mencari orang yang bisa diajak berinteraksi saja.
Aku melangkah keluar. Melewati ruangan kelas yang pintunya tidak terlalu besar lalu mencari kelas lain yang kutuju. Tepat diujung lorong, seperti yang dikatakan Yumi saat aku menanyakan padanya.
Aku menengok ke dalam ruangan kelas lewat jendelanya yang setengah terbuka itu. mencari kedalam.
Tidak ada di dalam. Sudah berkali-kali aku memutar bola mata untuk mengecek ulang. Tetap tidak ada. Kurasa dia sudah pergi ke suatu tempat. Sepertinya aku akan diam di kelas menunggu istirahat selesai.
Sebelum aku sempat berbalik, seseorang membuka jendela tersebut lebar-lebar dan bertanya padaku. “Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.
“Eh, tidak. Aku hanya mencari seseorang. Maaf kalau mengganggu. Aku permisi dulu.” jawabku lalu berbalik.
“Kalau kau mencari Yumi dia sakit lagi,” ucapannya menghentikan langkah pertamaku.
Aku menengok ke belakang. “Oh begitu. Terima kasih.” Lalu melangkah kembali ke kelasku.
Sakit? Jangan-jangan itu berhubungan dengan obat yang diminumnya tadi malam. Itu yang kupikirkan. Dan sepertinya penyakit itu memang sudah terbiasa kambuh pada diri Yumi. Seperti penyakit harian mungkin.
Selama lima belas menit dan seterusnya, aku tidak sempat berbicara dengan siapapun lagi. Hingga jam pelajaran kelima selesai dan dengan semangat melangkah terburu-buru menuju ruangan klub.
Lorong di lantai teratas itu baru kutemukan seseorang yang sedang membuka pintu geser di ruangan ujung.
“Yo, Ayano-kun.” Aku menyapanya. Pintu klub yang sudah tidak terkunci dibukanya sambil balas menyapa padaku. Aku segera masuk kedalam.
“Yang lain kemana?” tanyaku sambil menyimpan tas di pojok ruangan.
“Menyusul. Mereka terbiasa terlambat, karena itu aku yang dipercayai memegang kunci klub. Omong-omong, bagaimana dengan buku yang kamu baca?”
“Baru beberapa tutorial yang sudah kumengerti dan mungkin langsung bisa dipraktekan.”
Dia menuju rak lalu menyalakan laptop yang dia ambil dari tasnya. “Nah, sekarang. Tolong susun semua video ini menjadi film yang utuh. Oh, videonya ada disini.” Dia menunjukkan folder yang berisi video tersebut. “Sekarang, mari kita test kemampuanmu.”
Aku membunyikan sendi-sendi jariku dan membuka aplikasi pengedit video. “Mudah saja.”
Jari-jariku bergerak ke sana kemari menjelajahi keyboard laptop untuk mengerjakan permintaan Ayano dan seketika aku tenggelam didalamnya. Cahaya dari layar ber rasio 16-9 memantul ke arah wajahku dan memberikan radiasinya. Rasanya aku mulai menyukai pekerjaan seperti ini.
Setelah beberapa menit, Ayano berkomentar “Lumayan mahir juga untuk pemula. Sekarang tolong satukan yang ini dengan yang ini. Jangan lupa tambah audionya.”
Aku mengangguk mengiyakan lalu segera mengikuti apa yang disuruhnya.
Kami hanya diam sementara aku bekerja dan Ayano yang sesekali mengomentari. Hingga terdengar suara pintu diketuk.
“Masuk,” kata Ayano.
Segera pintu tersebut bergeser menampakkan orang-orang yang melangkah masuk. Hashida, Sato dan seseorang yang tidak kukenal.
“Yo, semuanya. Waktunya scene tokoh utamanya. Oh, Shin ternyata kau sudah mulai bekerja.” Hashida menyapaku. Aku balas menyapa sambil menggaruk-garuk kepala.
“Ya, mulai sekarang seluruh urusan editing serahkan saja padaku. Omong-omong, itu siapa?”
“Oh, kenalkan. Hijikata Ryou dari kelas 3-3. Saya tokoh utama dari film yang dibuat.”
“Salam kenal,” ucapku. Membungkuk kepada kaka kelasku. Laki-laki ini sepertinya memang sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang artis. Wajah, rambut dan penampilan yang menarik tidak akan membuatku kaget kalau-kalau dia adalah orang paling populer di angkatannya.
Hashida tersenyum-senyum sendiri. Bergumam kalau ini akan menjadi film terbaik yang ada di sepanjang sejarah klub perfilman. Aku sendiri yang baru melihat beberapa adegan dari video yang kususun masih penasaran terhadap apa yang akan dibuat klub ini.
Ayano sudah mengambil kameranya “Sato, cepat bersiap. Ambil peralatanmu.” Anggota termuda itu dengan sigap menyiapkannya.
“Oke, take pertama disiapkan,” Hashida yang menjadi sutradara itu duduk dan menikmati jalannya film. Sebelumnya dia memberikan sesuatu padaku. Aku tidak tahu namanya namun aku tahu kegunaannya.
“Kau yang ambil clapperboard[2] ini.” kata Hashida. Benda tersebut sudah bertuliskan sesuatu seperti scene, tanggal dan sebagian angka-angka yang tidak kumengerti. Aku menerimanya.
“Baiklah. Senpai, sudah siap?” tanyaku. Dia mengacungkan jempol padaku.
“Take pertama, action!” Aku membunyikan benda tersebut dan menonton Senpai beraksi di depan kamera.
Langit yang berarak di sore hari semakin memberikan ekspresi lebih pada akting yang dilakukan oleh Senpai di lorong kelas yang sepi ini. Senpai yang berjalan tergontai-gontai hingga berada di depan kamera sambil mengembuskan napas yang tersengal akhirnya berhenti melangkah.
Dia mengusap kepalanya dengan kebingungan. “Mimpi, apa tadi? Dan mengapa aku disini?” katanya. Dan beberapa detik kemudian diisi oleh suara batin yang mengatakan, Sore itu, yang kuingat hanyalah namanya saja.
Entah mengapa, namun yang kurasakan adalah bahwa film ini seperti menyindirku saja. Yah, meski aku tidak akan menanyakan hal tersebut.
“Cut! Terima kasih Senpai, aktingmu itu sepertinya tidak akan pernah gagal. Selanjutnya, kita take bagiannya Yumi.” Hashida menyuruh kami membereskan peralatan.
“Eh? Bukankah Yumi sedang sakit?” tanyaku.
Ayano, satu-satunya orang yang mendengarkan perkataanku menjawab. “Karena itu kita sekalian menjenguknya di rumah sakit.”
...............
Rumah sakit bercat krem dan putih itu mengingatkanku saat pertama kali aku datang ke sekolah saat aku melewati gedung tersebut. Bangunannya yang bertingkat itu membuatku berpikir pasti ini pusat dari seluruh rumah sakit yang ada di kota ini. Puluhan jendela tempat ratusan kamar rawat inap yang berjejer, lapangan parkir yang luas juga tempat yang strategis yaitu di seberang jalan utama.
Hari meski sudah malam namun tetap saja tempat ini terlihat ramai oleh pasien. Lampu-lampu yang dinyalakan membuat rumah sakit ini terlihat seperti tempat yang tidak akan pernah tutup.
Kami berlima bersama dengan Senpai dan peralatan kami melangkah masuk ke ruang tunggu. Mungkin kami terlihat seperti wartawan yang siap mewawancarai orang-orang.
Ruangan bersih berlantai keramik dan memiliki beberapa kursi panjang tempat menunggu membuat kami terdim sejenak. Menikmati dan melihat kesekeliling lantai dasar yang luas ini.
Beberapa orang berlalu-lalang, sebagian perawat, sebagian pasien atau hanya anak-anak saja yang bosan menunggu akhirnya berlarian kesana-kemari hingga dipanggil oleh orang tua mereka agar diam. Tempat ini terlihat hidup.
“Ano, ada yang bisa kami bantu?” ucap seseorang. Kami serentak menoleh ke arahnya.
Orang yang berdiri dari tempat duduknya itu terlihat lebih tua daripada kami. Profesinya yang kutebak sebagai seorang penjaga ruang tunggu itu terlihat tidak nyaman dengan keberadaan kami. Seperti hendak menyuruh kami pergi apabila tak ada urusan.
Namun Senpai dengan santai berkata padanya, “Hitori-kun? Apa yang kau lakukan disini? Semua orang di kelas menunggumu.”
Ternyata mereka saling mengenal.
“Kalau tidak salah, Ryou kan?” katanya sambil mengingat-ngingat seolah-olah teman sekelasnya sendiri adalah orang asing. “Sudah kubilang, aku ini sedang mogok sekolah. Aku memiliki kepentingan di sini.”
“Bekerja? Kulihat kau hanya diam saja di depan komputer itu.”
Dia mengembuskan napas yang membuat rambut poni yang menutup matanya itu terangkat sedikit. Memperlihatkan mata berwarna cokelat yang mirip dengan seseorang. “Rahasia. Yang penting, sekarang apa yang kalian inginkan di sini?”
Hashida merelakan diri untuk berbicara pada orang tersebut. “Kami ingin melaksanakan pengambilan film di sini. Sekaligus menjenguk adik anda.” Ternyata Hashida juga tahu orang ini siapa.
“Sepuluh menit. Jangan menganggu siapapun, apapun dan sesuatupun. Adikku di kamar A202. Ruangannya tidak terkunci.”
“Makasih, chuunibyou[3] penyendiri.” ucap Senpai dengan tersenyum sinis.
“Diam. Riajuu[4] bermuka dua.” balasnya. Mereka nampaknya cukup akrab meski sudah tidak bertemu dalam waktu yang lama.
Kami langsung menyiapkan peralatan dan memulai take yang pertama. Aku menuliskan sesuatu pada clapperboard yang sedari tadi berada dalam tasku itu. “Siap, action!” seruku di samping kanan pintu utama ruang masuk tersebut.
Beberapa detik kemudian Senpai masuk ke dalam dengan tergesa-gesa. Kami yang berkedudukan sebagai penonton hanya bisa melihat saja lewat kamera Ayano yang merekam.
Senpai berlari ke arah suster yang sedang memanggil pasien. Memegang pundaknya erat dan menatap matanya dengan serius. “Di mana Yumi, suster! Aku harus segera bertemu dengannya.”
Seperti yang kukira suster tersebut sangat kebingungan karena dia adalah aktor dadakan yang tidak diberitahu kalau sekarang sedang ada syuting.
Suster tersebut meneguk ludah dan berkata. “Kamar A202.” Wajahnya terlihat ketakutan saat ini.
“Terima kasih Suster,” kata Senpai lalu berlari meninggalkannya. Dan berakhirlah skenario tersebut. Kami bernapas lega karena hanya dimarahi oleh suster tersebut dan Kadokawa[5]-san karena melanggar peraturan tidak mengganggu siapapun.
Dan kami melangkah menuju ruangan tempat Yumi berada.
Beruntung peralatan kami muat di dalam lift berukuran sempit ini. Hanya saja tubuh besar Hashida yang membuat kami memaksakan diri untuk muat di dalam lift.
“Seharusnya kau menunggu di bawah saja,” ucap Ayano protes.
“Aku tidak ingin ditinggal. Lagipula kita harus cepat-cepat sebelum terlalu malam.” Balas Hashida.
Setelah sampai di lantai ketiga, kami segera keluar lalu mencari tempat bersandar dan bernapas berkali-kali untuk melegakan tubuh.
“Sudahlah, ayo.” Ayano yang pertama kali bangkit menyuruh kami.
Pintu kamar yang terletak di urutan keenam dari sebelah kanan lift dan terbuat dari kayu imitasi dan terpampang tulisan nomor ruangan tersebut. Ayano yang menemukannya pertama kali menunggu yang lainnya lalu segera mengetuk pintu berwarna cokelat tersebut.
“Yumi? Kau di dalam?” serunya.
“Masuk.” Yumi yang suaranya terdengar samar tersebut mempersilakan kami masuk. Ayano memutar kenop dan kami berangsur-angsur masuk ke dalamnya.
“Oh, kalian rupanya.” Yumi terlihat tidak asing dengan apa yang sedang ia lihat.
Ruangan ukuran tiga kali empat meter tersebut diisi berbagai peralatan medis seperti, pendeteksi detak jantung, infus obat-obatan yang berserakan di atas meja sebelah kanan kasur yang ditempati gadis berambut panjang tersebut. Tiga lampu yang bersinar terang mengiringi jatuhnya matahari ke ufuk barat. Mendatangkan cahaya malam kota ini yang menembus lewat jendela-jendela yang berukuran cukup besar tersebut.
Yumi, yang kali ini hanya bisa duduk sambil menyambut kedatangan kami terlihat sangat tidak sehat. Wajahnya yang pucat, selang infus yang mengitari tubuhnya, serta kantong berisi darah yang menggantung semakin memperburuk penampilannya.
Aneh sekali dia bisa tersenyum dan menyambut kami dengan ramah di saat-saat terpuruk seperti ini lalu mempersilahkan kami duduk dan mengelilingi ruangan yang cukup kecil ini.
“Selamat datang di tempat tinggalku.” kata Yumi yang kepalanya menengok ke mana-mana karena kami yang mengelilinginya.
“Cukup mewah untuk seukuran kamar.” Hashida memulai pembicaraan.
“Maaf kami tidak membawa oleh-oleh,” ucap Ayano.
Yumi menggeleng “Tidak apa. Namun aku terkejut kalian bisa membawa Senpai kemari. Maaf kami membuat anda kerepotan.”
“Tenang saja. justru aku senang karena bisa bertemu kembali dengan kakakmu yang sudah mogok sekolah itu.” Senpai menyangkal.
“Kakakku memang seorang introvert yang aneh.”
Kami kemudian selama beberapa menit saling berbicara. Sesekali berkeliling mengeksplor tempat yang jarang ditemui ini. Hingga Hashida mengatakan tujuan sebenarnya datang kemari.
“Oh, begitu. Hanya satu skenario kan? Karena aku harus segera beristirahat,” tanya Yumi.
“Tenang saja. hanya satu kali lagi pengambilan lalu tugasmu sebagai tokoh film ini sudah selesai.” kata Hashida meyakinkan.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi?” tiba-tiba aku bersuara. Suara yang membuat beberapa menit kemudian kami siap dan memulai skenario terakhir. Sekali lagi aku bersiap sebagai pemulai skenario.
Kamera milik Ayano yang mengarah ke pintu sudah dipersiapkan. Senpai yang berada di balik pintu juga siap menerima aba-aba.
“Action!” Aku berseru. Kamera yang memulai video itu tak berapa lama kemudian merekam Senpai yang mendobrak pintu cepat-cepat dan berhenti sejenak di ambang pintu untuk menarik napas sambil melihat ke arah kasur tempat Yumi berakting seperti orang mati. Selimut yang ia pakai itu ditutupkan ke seluruh tubuhnya menggunakan tangan Hashida yang besar tanpa memperlihatkan orangnya.
Senpai berlari ke arah kasur tersebut lalu menangis terisak. Menempelkan wajahnya ke selimut tersebut sambil meneteskan air mata.
“Aku gagal.” ucap Senpai. Lalu berakhirlah skenario tersebut.
Hashida yang kagum terhadap dua aktor karena sudah menampilkan aktingnya yang tidak pernah gagal itu bertepuk tangan bangga. Diikuti oleh tepuk tangan anggota klub yang lainnya.
“Film ini akan sukses besar sepertinya.” ucap Hashida dengan suara beratnya itu. Kami mengangguk setuju.
Malam itu, kami bersegera pamit karena sudah terlalu larut. Diiringi dengan ucapan terima kasih Yumi karena sudah bersusah payah menjenguknya, kami melangkah keluar meninggalkannya. Terkecuali aku.
“Aku pulangnya nanti saja.” kataku pada mereka yang segera menutup pintu meninggalkan kami berdua di dalam.
Aku mencari kursi yang kosong di dekat kasur. “Sudah berapa lama?” tanyaku.
Dia memegang dagunya dan menunjukkan wajah berpikir. “Penyakit ini memang bawaan, namun baru tiga bulan terakhir ini aku menunjukkan gejala parah seperti ini. Tapi aku baik-baik saja, Maaf kalau aku membuatmu khawatir.”
Aku melambaikan tangan. “Tidak. Aku hanya penasaran saja mengapa penyakit parah yang dimilikimu itu masih bisa membuatmu terlihat bahagia.”
Dia terkekeh sedikit. Merasa aneh dengan apa yang dikatakan olehku itu. “Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa kalau semua ini sama sekali tidak menggangguku. Meski harus cek darah, diinfus seharian, namun aku selalu merasa bahagia atas apa yang akan terjadi kalau aku bisa benar-benar sembuh nanti. Meski hanya bisa menunggu.”
Penjelasannya membuat lengang ruangan ini. Aku yang tidak menyangka kata-kata tersebut akan keluar dari mulut kecilnya itu hanya bisa diam. Sama seperti kemarin. Meski bagitu, ketenangan ini sungguh membuatku nyaman.
Aku menarik napas. “Yumi, bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Apa saja silakan. Namun bukan berarti aku bisa menjawabnya,” jawabnya mempersilakan. Aku menghela napas beberapa kali sebelum mengatakannya.
“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
[1] Sebutan di Jepang untuk kakak kelas.
[2] Alat yang digunakan untuk para sutradara untuk memulai skenario.
[3] Ialah orang yang berandai-andai memiliki kekuatan super hingga rela melakukan apapun untuk mewujudkan kekuatan bohongan itu.
[4] Sebutan di Jepang untuk orang yang memiliki kehidupan sosial yang baik.
[5] Disini Shin menggunakan nama depannya Hitori-san sebagai penghormatan kepada yang lebih tua atau yang baru kita kenal.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...