Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Reads
2.2K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
zen zen sense (kehidupan sebelumnya)
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Penulis Koro Taiyou

12. Ternyata, Banyak Dampak Yang Ditimbulkan Setelah Terbangun Dari Koma Selama Tiga Bulan

BRAAK!! Sekali lagi tanganku yang tak kuat menahan beban tubuhku sendiri saat berjalan membuat papan penahan terjatuh kesamping karena kehilangan keseimbangannya.
Perawat yang mengawasi pemeriksaan fisikku terburu-buru jongkok dan menanyakan keadaanku. Mencoba membantuku bangkit untuk mengulang berjalan dengan papan berjalan tersebut.
Aku menggelengkan kepala pada perawat tersebut. “Tidak apa. Aku baik-baik saja.” Lalu bangkit dengan perlahan karena hampir seluruh sendiku menjadi sangat kaku karena tidak digerakkan selama tiga bulan.
Bahkan, saat pertama kali mencoba menggerakkan sendiku itu yang ada hanyalah bunyi sendi yang bergemeletuk dengan keras lalu rasa lemas setelahnya. Sungguh menyakitkan.
Ruangan ini memang khusus untuk orang-orang yang melatih atau melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa orang yang datang kesini melakukannya karena ingin melatih kembali anggota badannya yang sembuh dari patah, dan mungkin hanya aku saja yang sehabis terbangun dari koma.
Papan penahan tersebut sudah diberdirikan oleh perawat dan aku memulainya lagi dari awal. Seperti bayi yang baru belajar berjalan, aku melangkah pelan-pelan hingga ototku terlatih kembali untuk melakukan aktifitas seperti biasa.
Dua meter yang kulalui terasa seperti ratusan meter. Namun kurasakan kali ini terasa lebih mudah karena aku sudah mencoba berkali-kali sebelumnya. Aku berhenti sejenak di pertengahan untuk mengelap keringatku yang menetes.
“Kau ingin beristirahat?” tawarnya. Aku menggeleng.
“Sebentar lagi aku sampai.” Lalu melanjutkan melangkah.
Langkahku yang terasa semakin ringan membuatku tertarik untuk mencobanya tanpa papan penahan. Kulepaskan kedua lenganku lalu menenangkan diri agar langkahku semakin rileks.
Ototku yang tidak terlatih selama tiga bulan itu akhirnya menemukan kembali bagaimana caranya berjalan dengan baik. Meski setelahnya aku hanya bisa berbaring karena sangat kelelahan.
Melihat perjuanganku, perawat tersebut bertepuk tangan. “Kemajuan drastis untuk orang yang habis koma tiga bulan. Dengan ini, kau bisa saja dipulangkan besok.”
Tangannya yang menggenggam minuman isotonik diberikannya padaku. Hawa dingin yang keluar dari botol plastik tersebut mengundangku untuk segera bangkit dan membukanya. Namun, tanganku masih belum kuat untuk membuka kuncinya.
“Maaf.” Perawat itu mengambil lagi botol tersebut lalu membukanya.
“Terimakasih.” Botol yang kuterima itu langsung kuteguk isinya sampai habis.
Perawat tersebut meninggalkanku untuk beristirahat selama lima belas menit dan membiarkanku menghirup udara. Sesekali mencoba berkeliling untuk menjelajahi ruangan ini dari sudut hingga ke sudut.
Ternyata, semakin mudah saja melakukannya. Kakiku yang sudah mendapatkan langkahnya kembali itu bahkan memintaku berkeliaran kesana-kemari dengan berjalan santai.
“Yo.” Sapaan itu agak mengejutkanku. Membuatku menengok ke arah asal suara.
Aku menyandarkan tubuhku di salah satu pegangan. “Aku kira kau sedang bekerja, Aizawa.”
Aizawa yang tengah menyandarkan punggungnya di tembok segera menegakkan tubuh dan mendekat ke arahku. “Shinigami khusus seperti kami hanya bekerja di saat-saat tertentu saja. Dan, ternyata berita tentang orang yang koma selama tiga bulan tersebut benar adanya.”
Aku menyunggingkan senyum. “Ternyata aku cukup terkenal juga, dan aku yakin tujuanmu kesini bukan hanya untuk menengokku saja. Tanyakan saja apa pun.”
Hembusan napasnya terdengar olehku dari jarak setengah meter. Dia membuka mulut lalu bersuara. “Aku hanya ingin menanyakan, apa yang sebenarnya yang kau lakukan akhir-akhir ini hingga terjadi hal buruk seperti itu?”
“Aku? Aku sedang sibuk menjelajahi waktu untuk mengabulkan permintaannya Yumi. Sulit dipercaya? Tentu saja begitu,” ucapku.
Dia melambaikan tangan padaku. “Tidak. Kurasa kau salah menilai diriku, bukankah pekerjaanku ini sangat tidak bisa dipercaya. Dan juga, apakah kau berhasil mengabulkannya?”
Aku mengingat kembali saat-saat itu dan hanya bisa menghela napas menghadapinya. “Takdir memang kejam. Bahkan Yumi yang sudah berada dihadapanku itu aku anggap orang asing karena kehilangan ingatan. Hingga aku terbangun lagi sehabis koma.”
Dia menepuk pundakku. “Kerja kerasmu sangat kuhargai. Namun ....” Dia mulai melangkah pergi.
“Jangan memaksakan diri, ya?” Itu kata-kata terakhirnya sebelum dia menghilang dari pandanganku. Membuat perawat yang tadi keluar agak kaget karena melihatku tidak berbicara dengan siapa-siapa.
Perawat yang baru sampai pada pintu depan itu hendak menelepon dokter sepertinya. Namun kucegah perbuatan tersebut dengan menggenggam tangannya erat. “Tidak. Tidak ada apa-apa. Jangan bilang ke siapapun.”
Perawat tersebut lebih terkejut melihat tingkahku barusan. “Kau, sudah bisa berjalan?” tanyanya.
Aku melepaskan genggamannya lalu berdiri. “Entahlah, tadi itu hanya refleks saja.”
....................
Atas izin dari dokter yang bilang bahwa kemajuanku luar biasa, aku akhirnya bisa duduk di jok sebelah kanan dekat Ibu yang mengendarai mobil keluarga satu-satunya menuju rumah beberapa jam kemudian.
“Sudah lama ya, kau belum pulang.” Ibu yang serius memegang setir mobil di jalanan yang ramai ini memulai pembicaraan.
“Benar juga, dan sepertinya Shuu juga terlihat senang karena mengunjungi kampung halamannya, bukan?” Aku menengok ke belakang, tempat Shuu yang sedang melamun menatap jalanan yang terus bergerak.
Dia tersadar dari lamunannya. “Eh, iya. Akhirnya aku bisa merasakan kembali masakan kesukaanku dirumah.”
Jam empat sore. Itu yang kulihat di jam digital tepat di tengah dashboard mobil. Pendingin udara yang disetel terlalu dingin membuatku harus menyilangkan kedua tanganku dan melingkarkan syal hitam di leherku.
Matahari sebentar lagi ingin bersembunyi di balik langit barat. Di keheningan ini hanya terdengar suara gerungan mesin dan kipas angin mobil yang disetel terlalu tinggi juga. Ibu sangat berbeda denganku, menyukai dingin.
Aku secara tidak sadar merasa tertarik dengan lengit tersebut lalu menengok kearah kanan asal matahari terbenam tersebut. Terhalangi oleh siluet wajah Ibu yang terlihat gelap. Wajahnya yang terlihat tenang tersenyum sambil terus menatap ke depan, tak peduli atas apa yang telah dilaluinya. Wajah tanpa emosi yang berlebihan yang mendidik anak keras kepala sepertiku itu sepertinya tugas yang berat.
Hanya satu kali Ibu pernah menampakkan emosinya tersebut, itu pun hanya berlalu sebentar saja. Saat ayahku yang sudah menderita karena penyakitnya itu menghembuskan napas terakhirnya. Diiringi gambar garis panjang di detektor detak jantungnya, dan air mata Ibu yang hanya keluar sebutir saja.
Aku yang saat itu belum mengetahui apa-apa hanya menengok keatas sambil bertanya. “Okaa-san, mengapa Okaa-san menangis? Bukankah ayah masih hidup?”
Saat itu akulah yang membuatnya menangis. Satu butir, hanya satu butir air mata itulah yang membuatku berpikir bahwa Ibu juga manusia. Dan Ibu tetap menyembunyikannya dengan senyuman sambil mengosok-gosok kepalaku seperti biasanya.
“Iya, ayahmu hidup, hidup tenang di alam sana.” kata-kata terakhirnya membuatku tidak menoleh tidak mengerti.
Dan aku hanya membiarkan waktu yang memberiku penjelasan.
Siluet tersebut menghilang. Meninggalkan langit malam yang berkilauan dan Ibu yang menyadari bahwa aku menatapnya sejak tadi. Ia menoleh padaku.
“Kau mau makan? Di depan ada area istirahat,” tawar Ibu.
Aku menarik napas untuk mengembalikan kesadaranku yang sempat terbawa ke masa lalu. “Iya, aku terserah Shuu saja.” jawabku memberikan penawaran ke orang yang duduk di belakangku.
“Eh, kalau aku, silakan saja.”
Mobil minivan yang kami tumpangi segera menepi, memasuki jalan menuju tempat parkir dan beristirahat.
Ibu memang pengendara yang ulung. Memarkirkan mobil ini dengan segala kondisi yang dihadapi membuat ayahku kehilangan gelar sebagai pengendara mobil dan menyerahkan segala hal yang berurusan dengan kendaraan ke Ibu.
Mobil dimatikan, pintu segera dibuka dan kami keluar untuk menghirup napas yang lebih dingin lagi daripada sebelumnya. Seharusnya aku membawa jaket juga bukan hanya syal yang hanya bisa menghangati leherku.
“Ayo.” Ibu berjalan memimpin di depan kami menuju salah satu restoran cepat saji.
Kali ini langkahku semakin membaik dan aku tidak membutuhkan tongkat untuk membantuku berjalan, namun tetap saja hanya untuk mendorong pintu restoran tersebut rasanya sulit sekali. Hingga Shuu membantuku.
“Kau harus ingat, kau masih harus mengembalikan keadaan otot-ototmu.” kata Shuu setelah kami masuk kedalam. Mencari meja yang kosong lalu menunggu Ibu mengantri memesan makanan.
Restoran ini tidak terlalu besar sebenarnya, namun tempat senyaman seperti ini jarang ditemukan olehku. Dekorasinya yang sederhana, penerangan yang cukup dan pemandangan luar restoran yang dibatasi dengan kaca sudah cukup untukku.
“Jadi, apa yang ingin kau lakukan selanjutnya? Kau belum tentu bisa kembali ke kehidupan yang sebelumnya kau tahu.” Perkataan Shuu membuatku berhenti melihat ke sekitar.
“Hmm? Entahlah, setidaknya aku akan mencoba. Meski gagal mungkin aku hanya akan menyesalinya seumur hidupku.” jawabku.
“Namun,” kata-katanya terhenti. “Kau akan membuat Ibumu khawatir lagi dengan komanya dirimu untuk yang kedua kalinya. Bagaimana yang terjadi seperti itu? Biaya operasional rumah sakit juga mahal.”
“Ibu baik-baik saja dengan semua itu,” perkataan Ibu yang tiba-tiba muncul dengan senampan makanan membuatku sedikit merasa tidak enak.
“Ibu, benar tidak apa?” tanyaku. Kalau-kalau Ibu berubah pikiran.
Ibu menggeleng. “Ayahmu pernah bilang kan padamu, kalau kau memiliki harapan dan kesempatan ....”
“Apa salahnya mencoba?” ucap kami berbarengan. Aku merasa lega.
Ibu menyimpan nampan tersebut di atas meja lalu duduk di dekat kami. “Kejar saja. Meski harus jatuh berkali-kali. Dan kesempatan tersebut sebenarnya tidak terbatas karena satu-satunya batasan kesempatan kita adalah saat kematian tiba.”

Other Stories
Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Mozarella (bukan Cinderella)

Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...

Jjjjjj

ghjjjj ...

Free Mind

KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...

Always In My Mind

Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...

Download Titik & Koma