Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Reads
2.2K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
zen zen sense (kehidupan sebelumnya)
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Penulis Koro Taiyou

6. Apakah Ini Akan Menjadi Kesempatan Baru? Entahlah

“... jadi, dengan menscanning memori kita yang kita butuhkan, lalu mengirimnya ke masa lalu lewat lubang cacing menuju garis waktu tempat waktu yang diinginkan, setelah itu kita menimpanya dengan kesadaran kita di garis waktu yang ditentukan, maka selesailah sudah.” Dia menutup penjelasan.
Aku ternganga bercampur bingung karena tidak mengerti setelah mendengar penjelasan Shuu saat makan. Ternyata apa yang kupikirkan tentangnya salah. Dia benar-benar seorang jenius fisikawan.
“Kau, sebenarnya apa yang kau lakukan?”
“Yah, itulah yang kulakukan akhir-akhir ini di meja kerjaku. Setelah aku menemukan cara untuk mengkonversikan isi otak manusia kedalam data, aku langsung berpikir ide gila seperti ini. Dan rumus-rumus sulit untuk membuat lubang teleportasi itu akhirnya kutemukan setelah sekian lama, kurasa ini bisa menjadi bukti kalau kau percaya aku ini sebenarnya jenius.” jelasnya.
“Jadi pada intinya, itu adalah mesin waktu?” mengabaikan kata-kata terakhir Shuu.
“Sebenarnya itu adalah mesin lintas garis waktu, tapi bisa dibilang begitu. Setelah aku selesai membuatnya, aku baru sadar kalau menyalahi aturan alam semesta itu tidak akan mungkin. Barang seperti itu tidak akan mungkin ada yang percaya,” jelasnya.
“Aku percaya.” kataku. Setelah melihat benda aneh dan kepintaran milik Shuu, aku yakin ini adalah mesin waktu.
Kalau begitu, apakah aku bisa mengulang waktu tersebut? Mengulang kesempatan yang gagal karena terlambat beberapa detik saja. meski terdengar aneh namun kurasa harus mencobanya.
Dia menghela napas panjang. “Tidak sesederhana itu. Aku bahkan takut untuk melompati waktu. Jadi, kubiarkan teronggok disana seminggu terakhir ini.”
“Aku ingin mencobanya.” ucapku.
“Kau yakin?”
“Iya.”
“Dengan segala konsekuensi yang ada? Kau bisa saja terjebak di waktu absolut yang tidak maju atau mundur. Waktu tetap dan kau tidak bisa keluar dari sana. Sementara itu, keberadaanmu di dunia nyata dihapus. Tidak ada yang mengingatmu lagi.”
“Aku tidak peduli. Aku sangat membutuhkannya.” Hal seperti ini berarti aku mendapatkan kesempatan kedua atau mungkin kesempatan tidak terbatas apabila memilki mesin waktu ini.
Dia mendengus. “Kau itu, selalu saja keras kepala. Lagipula, untuk apa? Aku membutuhkan alasan yang kuat.” balasnya.
“Kau tidak akan percaya apa yang kualami kemarin. Percuma apabila aku menjelaskan.”
“Kau mau menggunakannya tidak? Seaneh apapun akan kucoba untuk percaya.”
Terpaksa aku menjelaskan semuanya, mulai dari pertemuanku dengannya di bioskop hingga kegagalanku mengabulkan keinginannya.
“... dan aku ingin menggunakannya untuk mengulang waktu sampai kemarin malam.” Kututup penjelasanku dengan kalimat tersebut.
Dia terlihat tidak bosan dengan apa yang kuceritakan. Terbukti dari wajahnya yang terlihat antusias. “Jadi, kau ingin mengulangi waktu untuk mengabulkan permintaan arwah penasaran yang mengaku bertemu denganmu di kehidupan sebelumnya? Teman, itu cerita terbaik yang pernah kudengar. Aku yakin kau tidak mengada-ada karena kau tidak bisa membuat cerita sebagus itu.”
“Entah apa kau menghinaku atau apa, yang penting aku ingin segera mengulangi waktu.”
Dia meletakkan gelas kosongnya yang habis dia minum. “Baiklah, kuizinkan. Dengan satu syarat, apa yang akan terjadi padamu itu adalah di luar tanggung jawabku.”
“Tidak masalah. Aku sanggup,” ucapku lalu meminum teh yang tidak sempat kuhabiskan.
“Baiklah. Bereskan makanmu, aku akan menyalakan benda ini.” Shuu segera bangkit menuju lemarinya. Aku segera membereskan piring dan mencucinya. Makanan enak yang membuat kenyang sangat memperbaiki kondisiku.
Air mengalir deras dari keran wastafel. Aku mengusap piring kotor dan gelasnya dengan sabun lalu membilasnya. Tanganku yang basah aku usapkan ke lengan bajuku lalu sedikit mengintip ke arah Shuu.
Di belakangku aku melihat selarik cahaya biru dan suara dengung yang samar. Kurasa si jenius yang tidak beruntung itu sudah memulai eksperimennya.
“Sekarang saatnya. Shin, kenakan penutup kepala ini.” Shuu menyuruhku. Aku yang berkeinginan tinggi itu tak ragu mengenakannya. Shin yang sedang mengutak-atik laptopnya itu terlihat sangat serius.
“Diamlah Shin. Ini akan agak sakit rasanya.” Shin menekan tombol. “Scanning dimulai.”
Dengung tersebut terdengar semakin keras. Apa yang dikatakan Shin itu benar. Rasa sakit menjalar di kepalaku seperti ada gelombang bertekanan tinggi yang terasa dari depan ke belakang. Aku mencoba menahannya.
“Scanning selesai.” Dia menekan tombol yang lain. “Selamat menikmati perjalanan waktumu.”
Dalam sekejap, aku jatuh pingsan.
.......................
“Masih jauhkah?” suara itu terdengar samar di kepalaku. Aku membuka mata. Kepalaku terasa sangat sakit seperti habis ditimpa sesuatu yang sangat berat. Jadi ini yang namanya pemindahan ingatan. Aku mengusap-usap kepalaku untuk membuatnya lebih baik.
“Hei, Shin. Kau baik saja?” suara itu sangat kukenal. Suara lembut yang seharusnya sudah menghilang. Aku menatapnya.
Sengaja, aku menampar pipiku karena tidak percaya. Sakit.
“Ini, bukan mimpi kan?” tanyaku. Masih tidak percaya dengan apa yang kualami.
“Shin, bukankah kau yang mengajak kami untuk pergi ke tempat ini bukan? Sekarang jangan bercanda.” Aizawa mendekatiku. Ini benar-benar nyata. Aku sudah kembali ke saat-saat di mana aku gagal melakukan hal yang harus kulakukan.
Aku kembali ke kemarin. Lima menit sebelum kejadian.
Aku melambaikan tangan padanya. “Tidak. Aku baik-baik saja. Mari kita teruskan saja perjalanannya. Tujuan kita sudah di depan mata.” ucapku lalu terus melangkah.
Tanjakan menuju bukit, sekelompok Shinigami berpedang. Dan Yumi. Ini semua benar-benar terjadi. Mesin waktu buatan Shuu berhasil kugunakan. Aku kenbali ke masa lalu, menyalahi hukum alam semesta yang dikatakan olehnya.
Aku tersenyum senang. Waktunya memperbaiki semuanya.
Kami sudah sampai di bukit tersebut. Semua pemandangan yang sama seperti sebelumnya. Pemandangan yang kuingat jelas sekali.
Konna dan Aizawa langsung berbaring, Akane menyimpan pedang di punggungnya dan Kuro yang menatap langit. Terdiam sementara Kanzaki yang kerepotan karena pedangnya menggeliat-geliut. Dan Yumi yang berlari-lari sambil berseru riang.
Lampion tersebut juga berada di tanganku. Satu Lampion yang akan mengiringi kepergiannya. Kali ini aku tidak akan gagal.
“Teman-teman. Kurasa kita harus mempercepatnya. Aku takut kita akan terlambat barang sedetik saja.” Aku memberitahu mereka. Ini langkah pertama yang harus kulakukan. Mempercepat penerbangan lampion.
“Aku setuju. Lebih cepat lebih baik.” Aizawa bangkit lalu membersihkan rerumputan yang menempel di pakaiannya. Begitu juga dengan Konna.
Lampion segera kunyalakan. Menyala seperti yang seharusnya.
“Hei, Yumi. Kelihatannya kau senang sekali, seperti anak kecil saja.” Kanzaki yang sudah memanggil Eguchi keluar menatap Yumi yang berlarian kesana kemari di pinggiran bukit, mencoba berlari melingkarinya.
“Tenang saja, aku hanya ingin menikmati waktu terakhir ....” kata-kata terakhirnya terpotong.
Oleh suara jeritan.
Yumi yang melangkah terlalu cepat tersandung sesuatu, dan terjatuh. Tidak, seharusnya ini tidak terjadi. Ini sangat berbeda dengan apa yang seharusnya terjadi.
“Yumi!” serentak kami memanggilnya. Namun dia menghilang, di balik lereng bukit. Aku langsung berlari ke arah Yumi dan menengok ke bawah. Yumi terguling dengan cepat menuju jalan beraspal. Dia tidak bisa di hentikan.
Di belakangku, Konna dan Aizawa melompat tinggi. Dengan posisi meluncur, mereka mencoba menyelamatkan Yumi.
Tak lama kemudian, Kanzaki dan Akane menyusul. Meninggalkanku dan Eguchi yang terpatung menunggu Yumi dihentikan oleh daratan. Aku yang masih menggenggam lampion tak sadar sudah menjatuhkannya, bersamaan dengan lututku yang lemas.
Aku setengah terduduk. Ini seharusnya tidak terjadi. Ini memang bukan yang seharusnya terjadi.
Aku tidak mengerti mengapa bisa berjalan berbeda dengan yang kuharapkan. Seharusnya Yumi berkumpul dengan kami, seharusnya Yumi memberikan kami hadiah, seharusnya Yumi mengatakan kata-kata terakhir,
Seharusnya Yumi mengatakan ada bintang jatuh.
Aku tidak boleh diam saja. aku segera meluncur di lereng bukit yang cukup terjal tersebut, meninggalkan lampion yang apinya sudah mati saat menyentuh tanah. Segera menyusul mereka.
Detak jantungku berdegup cepat. Entah karena gravitasi atau karena rasa bersalahku yang muncul kembali. Ini akan menjadi kegagalanku untuk yang kedua kalinya. Tidak, ini seharusnya berhasil.
Di bawah, Yumi sudah menyentuh aspal. Terlambat diselamatkan oleh Aizawa dan yang lainnya. Meringis kesakitan.
Kulihat, jarakku dengannnya semakin dekat. Yumi memang sudah mati, namun dilihat dari celananya yang sobek dan kotor, aku yakin apa yang terjadi tadi bisa dirasakanya.
Aku segera melambat dan berdiri dengan selamat di atas aspal.
Aku tidak sempat mempedulikan celanaku yang penuh dengan rumput dan tanah yang agak basah, aku langsung saja berlari menuju ke arah Yumi yang duduk.
“Aku, baik-baik saja.” katanya sambil mengusap kepalanya. Memasang wajah bercandanya.
“Kau ini, tidak biasanya melakukan hal yang ceroboh,” kata Aizawa.
Konna menatap ke arah buku catatan Yumi yang sempat terpisah dari kantongnya. Terpaku dengan apa yang dilihatnya.
“Tiga puluh, dua puluh sembilan. Terus berkurang,” katanya.
“Kurasa sudah waktunya. Kita tidak sempat menyalakannya, ya? Kesalahanku juga sih,” ucap Yumi. Dia tersenyum pasrah. Menyembunyikan wajah sedih karena keinginan terakhirnya tidak terkabulkan.
“Maafkan, aku,” kali ini aku yang pertama kali meneteskan air mata. Aku sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Bukan kau yang salah,” Kanzaki mencoba menenangkanku. Meski itu tidak ada gunanya dan malah membuatku semakin merasa bersalah. Dengan banyaknya pertanyaan yang menghujam kepalaku aku hanya menunduk.
“Oh, aku memiliki sesuatu untuk kalian.” Yumi merogoh sesuatu di sakunya lalu membagikannya satu-satu. Gantungan kunci beruang untuk Kuro, jimat keberuntungan untuk Konna,
Dan bola kaca untukku.
Dia mengangkat wajahku “Kau, padahal aku yang kesakitan karena luka ini tapi malah kau yang menangis.” Lalu memberikan bola tersebut pada telapak tanganku yang terbuka lebar. Bola kaca yang sama seperti saat pertama kali diberikan padaku. Dan aku akan menyaksikannya kehilangannya lagi.
“Sama-sama semuanya.” Konna yang sedari tadi memegang buku catatan milik Yumi memberi aba-aba.
“Tiga ....” Aku harus melihatnya lagi.
“Dua ....” Kegagalan yang kedua. Itu sangat buruk bagiku.
Yumi, tidak kusangka melakukan hal yang sama seperti sebelum melintasi waktu. Dia menunjuk kelangit.
“Hei, lihat!” bintang jatuh itu. Kali ini aku membiarkan wajahku terangkat, menengok ke langit yang dipenuhi cahaya yang melintas dengan cepat. Dan seketika kami menyadari kalau Yumi sudah pergi. Seperti menyatu kelangit.
“Yumi ....” satu persatu dari Shinigami menangis. Aku masih menatap langit. Ini semua, aneh sekali bagiku. Seakan-akan ini semua adalah takdir.
Aku tak menyadari. Aku tak menyadari kalau langkah kaki ini tiba-tiba saja berlari, membawaku ke kamar apartemen milik Shuu. Padahal, Yumi sudah memaafkanku atas kesalahanku.
Tapi, kenapa aku tetap tidak menerimanya? Aku, masih menangis.
...............
Aku mengetuk dengan keras pintu kamar itu, Berteriak kalap ingin segera masuk ke dalam dan mengulanginya lagi. Mengulangi semuanya lagi. Shuu pasti mudah saja melakukan semua itu.
Pintu terbuka perlahan. Menampakkan Shuu dan piyamanya yang berhadapan denganku.
Dia menguap “Hei, ada apa malam-malam begini? Bukankah kau seharusnya tidur Shin?” tanyanya.
Aku tidak menggubrisnya, langsung menerobos ke dalam.
“Hei, Shin!” Dia memanggilku dari belakang sementara aku menuju kamarnya. Tempat dia menyembunyikan mesin waktu itu.
Aku tahu ini tindakan yang sangat tidak benar. Masuk ke kamar orang lain seenaknya dan mengobrak-abrik kamarnya. Tapi yang melakukan ini semua bukanlah diriku, seperti ada diriku yang lain yang melakukannya dan aku hanya bisa lepas tangan terhadap ini.
Pintu lemari baju Shuu yang tidak terkunci aku tarik secara paksa, memperlihatkan semua isinya. Mesin waktu itu masih ada.
Aku mengambil alat tersebut lalu menyimpannya di kepalaku. Kali ini, aku merasa lebih tenang. Aku yakin bisa melakukannya lagi.
“Dari mana, kau tahu? Jangan-jangan..” Dia mencoba menebak apa yang terjadi.
“Ya, aku menggunakan mesin waktumu untuk kembali ke masa lalu untuk mengabulkan ulang permintaan Yumi. Aku berhasil pergi ke garis waktu yang sekarang ini, namun aku gagal kembali mengabulkannya. Sekarang, tolong nyalakan mesin ini.”
“Aku membenci karena diriku di garis waktu lain membocorkan rahasia terbesarku. Dan tunggu, siapa itu Yumi?” Dia melangkah mendatangiku. Aku yang sedang mengenakan alat tersebut menunggunya.
“Jangan banyak bertanya, cepatlah kerjakan.” Aku menyuruhnya.
Dia duduk di sampingku lantas mengetik sesuatu di atas keyboard dengan cepat. Lantas melihat ke arahku sambil berkata. “Kau boleh saja menggunakan mesin waktuku ini asalkan ....” ucapannya terpotong.
“Asalkan semua yang terjadi padaku itu diluar tanggung jawabmu? Tenang, aku sudah pernah menggunakannya. Jangan khawatir.”
Dia menatapku sebentar lantas menekan satu tombol. “Kau memang benar-benar dari garis waktu yang lain.”
Kilat-kilat biru menyembul dari kepalaku. Saatnya scanning.
“Kau ingin berpindah kemana?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak. Mungkin sebaiknya kesadaranku dimunculkan lebih jauh agar persiapanku lebih dan aku bisa memikirkan kemungkinan lain.
“Coba ulang dari sekitaran jam sebelas malam.” Aku memutuskan. Dia mengangguk lalu menekan beberapa tombol lewat laptopnya itu. Rasa sakit itu kembali menjalar dari bagian depan kebelakangku. Aku mengepalkan tangan menahan rasa sakit.
“Scanning selesai. Oh, sekedar pengetahuan, kau jangan terlalu sering berpindah garis waktu dalam waktu dekat. Kemungkinan besar kesadaranmu di garis waktu yang kau tuju tidak mampu menahannya sehingga kau kehilangan ingatan.” Dia memberitahuku lalu menekan tombol terakhir.
“Dah.”
..............
“Kita akan menaiki bukit ini?” Kanzaki terlihat tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Wajahnya terlihat aneh saat ini.
Aku sudah kembali ke masa lalu. beberapa menit yang lalu kepalaku sempat merasakan pusing. Aku meringkuk sejenak untuk membiarkan kesadaranku mengalir ke kepalaku. Sekarang, rasa sakit itu kembali normal.
“Tenang saja. tidak akan jauh.” Aku menepuk pundaknya.
“Mudah saja. Sekalian olahraga.” Yuuki yang setuju dengan ucapanku membuat Konna menurunkan pundaknya.
Tak lama, kami meneruskan perjalanan.
Sejauh ini semuanya terlihat baik-baik saja. Tidak ada yang terlihat salah. Mesin waktunya juga berjalan dengan baik. Seluruh kesadaranku di masa sebelumnya dipindahkan dengan baik dan aku meninggalkan tubuhku di masa yang sebelumnya itu.
Langit malam, lampion yang kupegang, jalan beraspal yang kami tanjaki, sampai saat ini semuanya normal. Kali ini aku bisa memprsiapkan segalanya dan baik, kepercayaan diriku meningkat.
Aku yakin kali ini akan berhasil.
Konna menghela napas panjang saat jalan beraspal yang kami lewati mulai mendatar. “Masih jauhkah?” Wajahnya sudah kecapean.
Pertanyaan yang kutungu-tunggu tanda bahwa sampai saat ini runtutan kejadiannnya masih sama seperti sebelumnya. Sekarang saatnya bagiku untuk menjawab, sama seperti yang kulalukan sebelumnya.
“Tenang saja, masih sebentar lagi, iyakan Shin?” Yumi berbicara sebelum aku sempat membuka suara. Jantungku berdetak kencang, ada hal yang tidak beres disini.
“I, iya ....” jawabku, aku merasakan ada keringat dingin yang mulai mengalir di tubuhku.
Rentetan kejadiannya berubah lagi dengan sendirinya. Seperti saat pertama kali aku melakukan lompatan waktu.
Napasku mulai tidak beraturan. Aku curiga terhadap hal yang akan terjadi selanjutnya, jangan-jangan hal yang sama akan terjadi dan aku akan gagal mengabulkan permintaannya. Aku menggelengkan kepala. Itu, tidak akan terjadi lagi aku yakin.
Meski begitu, aku tetap tidak bisa meyakinkan hatiku untuk mengabaikannya.
“Hei, Shin, kenapa kau diam saja?” Aizawa menyadarkanku dari lamunan. Menepuk pundakku.
Aku tersenyum padanya “Tidak, aku baik-baik saja.” Percakapan kami berakhir begitu saja. yang terjadi selanjutnya hanya lengang selama beberapa menit.
Kami terus melanjutkan berjalan. Melewati jalanan yang lebat, jurang di sebelah kanan, pagar pembatas setinggi satu meter dan dinding bukit yang berumput. Seketika aku mengingat kejadian itu. Saat Yumi tersandung dan jatuh terguling. Sekali lagi aku bertanya dalam hati, apakah akan terjadi hal yang sama.
Akhirnya kami sampai juga. Sama seperti sebelum-sebelumnya, rentetan kejadian yang belum berubah dengan berarti. Mungkin saja aku hanya terlambat menjawab pertanyaan Konna karena terlalu banyak berpikir.
Hamparan rumput kembali kulihat untuk untuk ketiga kalinya. Konna dan Aizawa yang berbaring di atas rumput, Akane yang menyandangkan pedang di pundaknya, Yumi yang berlari-larian dan Kanzaki yang kerepotan dengan pedangnya.
Aku hanya menatap mereka. Mencari hal aneh lain yang mungkin saja bisa terjadi.
Kuro sudah keluar dari wujud pedangnya. Aku memanggilnya. “Berapa menit lagi?” seruku.
Dia menebak-nebak. “Kurasa, tiga menit lagi.”
Waktu yang tepat. Tidak ada hal yang aneh, semua seperti sebelumnya. Aku mengangkat lampion yang kubawa. Kurasa sekarang saatnya untuk menyalakannya.
Napasku terhenti. Tidak ada. Pemantiknya tidak ada.
Aku mengecek ke semua saku yang kumiliki, kurasa karena perpindahan garis waktu maka pemantik tersebut akan berubah posisinya.
Tetap tidak ada. Napasku semakin tak karuan. Aku mengecek yang ketiga kalinya, kali ini aku mengecek setiap sudut dari tubuhku hingga sela-sela syalku. Aku tidak mengenakan jaket, jadi seharusnya ada di saku celanaku.
“Teman-teman, ada yang punya pemantik?” tanyaku.
Mereka menghentikan kegiatannya dan mulain mengecek saku mereka. Aku berharap terhadap hal ini.
“Tidak. Aku tidak punya.” jawab Konna. Aizawa juga menggelang.
“Aku kira kau yang membawanya.” jawab Kuro.
“Aku jarang berhubungan dengan api.” Jawab Akane. Dan semua respons negatif dari yang lainnya.
Aku menghela napas panjang. Aku gagal lagi hanya karena hal bodoh yang kulakukan.
Yumi berjalan ke arahku. Menepuk pundakku lantas menenangkanku. “Tidak apa. Mungkin, lampionnya tidak akan berguna namun aku hanya ingin upacara perpisahan saja.” Namun, suara lembutnya itu tidak bisa menenangkanku.
Aku menundukkan kepala. Dia mengatakan hal yang sama lagi.
“Apakah itu tidak apa-apa? Kau selalu mengatakan seperti itu padahal kau yang meminta berjanji padaku. Lantas, bukankah aku harus mengabulkannya. Waktu itu, kau sangat bersungguh-sungguh...”
“Apakah aku boleh memupuskan harapanmu?” Air mata disaat yang sama untuk ketiga kalinya mulai mengalir.
Yumi melepaskan tangannya dari pundakku. Aku merasakan kalau dia menyerah padaku.
Namun dia malah mengangkat wajahku. Aku menatap wajahnya yang selalu mengguratkan kebahagiaan. Mata cokelatnya yang berkilauan seperti cermin yang memperlihatkan wajahku di dalamnya. Aku tidak mengerti namun hal tersebut bisa menenangkanku.
“Setidaknya, bersamakulah hingga detik-detik terakhir,” kata-katanya membuatku terpaku dan mengusap wajahku. Setelah menghela napas beberapa kali, aku berdiri tegak dan tersenyum.
Yang lain datang kepadaku. “Baiklah, kurasa saatnya pembagian hadiah,” kata Yumi.

Other Stories
Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Download Titik & Koma