8. Saat Ini Aku Bertanya, Apalagi Kejutan Yang Akan Kudapatkan?
Tidak ada. Mesin waktu itu tidak ada disini.
Sudah sekitar dua puluh menit aku mengobrak-abrik kamar Shuu dan sudah mengecek ulang selama beberapa kali, tak percaya atas apa yang kulihat sekarang ini. Lemari baju sudah kukeluarkan isinya, kasurnya aku angkat tinggi-tinggi, dan aku jatuhkan semua buku di raknya dan membuat kamarnya seperti habis ditimpa bencana.
Setelah mencoba menenangkan semua anggota badanku yang liar, aku duduk di sudut kamar sambil menggigil kedinginan dan mendapati Shuu melihatku dangan tatapan yang tekejut, entah karena kamarnya yang hancur lebur, atau masih bingung dengan pertanyaanku dua puluh menit lalu.
“Maafkan aku.” ucapku akhirnya, mencoba bernapas seteratur mungkin.
“Aku pernah menghadapi ini sebelumnya, saat kau kehilangan mainan kesayanganmu dan kau hampir mengacak-acak seluruh rumah hingga dihentikan oleh ayahmu sendiri, waktu itu aku hanya bisa diam saja menonton. Tapi, aku benar-benar tidak mengerti dengan mesin waktu itu.” Dia memakluminya.
Aku segera bangkit dan membereskan kembali apa yang telah kuperbuat. Sudah tidak ada gunanya melakukan ini, kurasa memang sudah waktunya bagiku untuk berhenti dan membiarkan waktu mengobati.
Semua ini hanya karena ingin menepati janji seorang Shinigami.
“Aku tahu kau tidak mengerti, jadi lebih baik aku pulang saja, aku harus segera beristirahat,” Setelah membereskannya, aku segera pamit, meninggalkan Shuu yang masih bertanya-tanya.
“Kau berutang penjelasan padaku besok,” katanya sebelum aku membuka pintu.
Aku menengok ke arahnya. “Baik, selamat malam.” Aku membukanya dan melangkah kembali ke kamarku.
Malam itu, dengan balutan baju kering dari lemari dan wangi hujan yang tidak sempat kuhilangkan aku langsung berbaring di atas kasur. Menatap kosong langit-langit yang datar diterangi lampu LED yang bercahaya putih.
Dan tubuhku yang melemas karena kenyamanan ini membuatku tertidur lelap.
Di dalam tidurku, aku masih sempat-sempatnya bermimpi.
Aku berada di suatu tempat yang tinggi. Dengan suatu pembatas yang membatasi empat sisi aku berpikir kalau ini sebuah atap gedung atau apalah itu.
Lantai yang kuinjak terbuat dari beton yang dicat berwarna krem. Aku sedang berdiri di tengah atap tersebut, memperhatikan sekitar dan mencoba mengingat-ingat apakah aku pernah ke sini sebelumnya.
Kulihat, meski hanya sebagian dan tidak terlalu jelas, titik-titik bercahaya yang terhampar luas berwarna-warni dibawahku. Jumlahnya yang ratusan seakan bisa mengalahkan jumlah cahaya bintang di langit yang jumlahnya lebih sedikit.
Malam yang gelap. Langit yang tertutup awan menyembunyikan bintang-bintang yang seharusnya bersinar sekarang ini. Dan saat ini, hanya satu cahaya yang menerangi atap yang gelap ini.
“Aku sangat berterima kasih, Shin.” Suara itu membuatku memalingkan pandangan ke depan.
Kulihat tanganku terjulur kedepan mengangkat sesuatu yang juga diangkatnya. Cahaya lilin yang menyinari malam itu terasa hangat di wajahku meski kusadari ini hanyalah mimpi.
Orang di hadapanku itu tersenyum, namun meneteskan air mata. Mungkin, dia terlalu bahagia. Wajahnya yang ikut terkena radiasi cahaya dari lilin tersebut membuatnya berwarna oranye. Otakku mulai berputar untuk mengidentifikasi orang yang terlihat samar tersebut.
“Aku sangat berterima kasih.” itu suara Yumi.
Dan aku tersentak terbangun, diiringi keringat dingin dan cahaya matahari yang menerobos ke dalam kamarku.
Aku mengatur napas yang terengah-engah. Mimpi aneh.
Jam bekerku menyala tak lama kemudian. Aku segera mematikannya tepat setelah dua kali berbunyi dan segera memaksakan diri untuk bangkit dari tidur.
Dinginnya air yang membasahi tubuhku membuatku sedikit menggigil. Teringat akan hujan besar semalam yang membuatku basah kuyup dan kedinginan.
Oh, ya. Saat ini aku harus menjelaskan sesuatu pada sahabat jenius yang tidak membuat mesin waktu di garis waktu ini.
Sarapan sambil menatap langit pagi di balkon. Sereal dengan susu.
“Pagi. Kau nampak sehat pagi ini, tidak seperti semalam.” Shuu menyapaku di balkon sebelah.
Aku menengok ke arahnya “Kau tidak bekerja hari ini?” tanyaku lalu menyendok sereal dan memasukkannya ke mulutku.
“Kau?” Dia balik bertanya.
“Aku masih harus menenangkan diri setelah kejadian semalam. Aku akui aku benar-benar menggila. Kau?” jelasku.
“Kalau aku hanya ingin menunggu penjelasanmu. Mungkin ini berkaitan dengan kepintaranku yang tidak berguna sama sekali. Dan juga, kurasa kau sudah siap menjelaskannya.”
“Sebaiknya kau saja yang datang ke kamarku. Aku akan menunggu.”
Aku menyipitkan mata melihat matahari yang semakin meninggi. Cahayanya ternyata sudah seterik ini padahal masih pagi. Cahaya yang menyinari hamparan kota yang bekerlap-kerlip di malam hari.
Aku meminum susu yang ada di dalam mangkukku lalu menyimpannya di dalam wastafel.
“Kulihat kau tidak memberantaki kamarmu,” ucap Shuu yang berjalan kedalam kamarku.
“Kau, sudah kubilang jangan masuk ke kamar orang lain lewat balkon.”
“Aku sudah tidak sabaran.” Dia mengambil meja lalu di letakan dilantai dan duduk dihadapannya. “Bilang aku kalau kau sudah ingin bercerita.”
“Baiklah, aku buatkan teh dulu.” Lalu aku membuat air panas.
Shuu yang jarang berkunjung ke kamarku itu juga memandang sekeliling meski kamarku tidak beda jauh dengan kamarnya. Aku hanya bersandar di dinding dan menunggu airnya mendidih.
Lengang. Heningnya kamar membuat salah satu dari kami mulai bersuara.
“Jadi, apakah aku benar-benar membuat mesin waktu? Padahal aku kira itu hanyalah perkiraanku saja. Masih bersifat hipotesis.” Shuu memulai pembicaraan.
Aku menyilangkan tangan di dada. “Iya, dan aku sudah menggunakannya berkali-kali.”
“Setahuku itu tidak baik. Menimpakan ingatan baru dengan ingatan yang lama membuat otak kita penuh dan tidak bisa memprosesnya dengan baik, meskipun aku tidak tahu apa imbasnya.” Dia menjelaskan teorinya.
“Aku tahu. Kau sudah menjelaskannya di garis waktu yang sebelumnya. Memperingatkanku sebelum aku melintasi waktu.”
“Aku percaya itu.” katanya. “Namun aku selalu yakin bahwa kau akan terus melakukannya hingga diberhentikan seperti ini bukan? Kau tidak bisa mengulangi waktu karena mesin waktunya tidak ada di garis waktu ini.”
“Aku memang keras kepala, kuakui itu.” Aku melirik padanya yang sedang memainkan tangannya di atas meja. “Kecuali...” suaraku dipotong oleh suara teko yang melengking karena airnya sudah matang.
“Kita buat mesin waktunya.” Aku segera mematikan komporku.
“Tidak mungkin,” respons jawabannya cepat sekali. “Membuatnya membutuhkan waktu yang lama sekali dan aku tidak tahu bagaimana memulainya. Dan sebenarnya mesin waktu itu hanya bisa dibuat untuk jangka pendek saja, seperti sehari atau beberapa jam sebelum.” Dia berdiri dan membantuku menuangkan air panas ke dalam gelas.
“Dan melihat apa yang terjadi semalam, kau pasti ingin mengulang waktu pukul dua belas malam ‘kan?” sambungnya.
Aku terkekeh. “Jenius seperti biasanya.”
Dua gelas teh panas itu siap dihidangkan. Menggunakan nampan, aku meletakkan gelas tersebut di atas meja. Uap air yang berwarna putih bergoyang-goyang dari gelas, melambai meminta untuk segera diminum.
Shuu mengambil segelas teh dan meniupnya. “Jadi, bagaimana rasanya menimpa ingatanmu ke tubuh yang baru?”
Aku yang telah menyimpan kembali napas segera duduk. “Beberapa menit pertama rasanya pusing, namun aku merasa baik-baik saja setelahnya.”
Dia menghirup teh tersebut. “Memang itu pemikiranku apabila ada yang melintasi waktu. Gejala yang wajar. Namun, aku penasaran apa yang membuatmu harus mengulanginya berkali-kali. Apakah ini berhubungan dengan sesuatu atau semacamnya?” tanyanya.
Kali ini harus kujelaskan lagi apa yang sebenarnya terjadi, mulai dari awal. Kurasa ini memang dibutuhkan dan mungkin Shuu bisa menemukan solusinya.
Dia menyerah dan meletakkan gelas tehnya yang sudah habis. “Sekarang, pilihan terbaik adalah kamu menyerah saja dan biarlah garis waktu ini berjalan dengan seharusnya. Kau tidak bisa melakukan apapun lagi sekarang.”
“Tidak ada hal yang mungkin? Maksudku, kau biasanya berkata bahwa tidak ada yang tidak mungkin.” Aku menatap penuh harap padanya.
“Maaf, namun motto hidupku itu ada batas tertentunya.” Dia menggelengkan kepala, pasrah. Sifat kerasku ini sudah tidak berguna lagi apabila memang bila Shuu sudah mengatakan yang seperti itu.
Selanjutnya, kami hanya saling bertatapan. Sesekali melihat ke sekeliling ruangan yang sebenarnya tidak akan berubah.
“Sebenarnya, aku mempunyai suatu hal yang mengganjal dari apa yang kualami.” Kataku.
Dia mengangkat alis. “Apa?”
Aku membenarkan posisi dudukku yang terlalu santai itu. “Aku hanya penasaran, mengapa semua ini bisa terjadi? Mengapa setiap kali aku kembali ke garis waktu sebelumnya, selalu ada rentetan kejadian yang tidak sesuai, dan semuanya selalu saja berujung pada ...”
“Kegagalanmu,” potongnya. Dia menarik napas lalu mulai menjelaskan. “Kurasa itulah yang namanya titik puncak dari suatu kejadian atau yang sering kita sebut takdir. Meskipun kau sudah memperhatikan setiap hal yang terjadi namun tetap saja kau salah perhitungan karena rentetan kejadian yang terjadi tidak sesuai dengan garis waktu sebelumnya, memang karena itulah yang seharusnya terjadi tidak peduli apa kau memiliki kemampuan mengulang waktu atau apalah itu. Itu teoriku.”
“Jadi, titik puncak dalam kasusku yaitu, Yumi selalu sudah menghilang sebelum kami menerbangkan lampionnya?”
Dia menjentikkan jari. “Kurasa itulah yang namanya takdir. Entah apa alasannya mengapa takdir mencoba menghentikanmu begitu kau mengulang waktu lagi, hingga sekarang kau terjebak di tubuh dan garis waktu ini. Seolah-olah ....” Suaranya mengecil. Shuu yang katanya orang terpintar itu menilik sekitar seakan-akan ada sesuatu yang akan memberinya petunjuk.
“Seolah-olah ....” Aku ikut berpikir. Inilah kunci terpenting dan alasan mengapa semua ini terjadi.
Aku tiba-tiba teringat mimpi semalam. Malam gelap di atap gedung yang sama sekali tidak kukenal di suatu tempat. Menerbangkan lampion bersama Yumi yang hanya kulihat wajahnya yang samar-samar. Menatapku dengan bahagia dan mengatakan bahwa dia sangat bersyukur. Aku sama sekali tidak mengerti, apakah mimpi itu sebuah pertanda atau hanya otakku saja yang begitu liar saat aku tertidur.
Aku mematung. “Seperti takdir menyuruhku untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Namun aku tidak tahu apa itu.”
“Bisa jadi seperti itu yang takdir inginkan. Mungkin ada hal besar yang terjadi dibalik semua ini. Sesuatu yang bisa menciptakan takdir baru.” Jari telunjuk dan jempol Shuu diusapkan ke dagunya. Tanda berpikir.
“Dan pasti hal tersebut tidak membutuhkan mesin waktu karena mesin waktunya tidak ada. Namun apa? Ini semua sangat misterius.” Dahiku mengerut, mencoba menggali lebih dalam lagi atas apa yang kuingat.
Itu yang kami lakukan selama beberapa menit. Hingga salah satu dari kami memecahkan keheningan.
Shuu berbaring. “Menyerah sajalah, dan nikmati garis waktumu saat ini.”
“Aku sebenarnya tidak apa-apa terhadap hal yng seperti ini, namun aku tetap saja tidak bisa mengingkari janji yang sudah kubuat bukan?” Aku menyangkal perkataannya.
“Namun, bukankah dia sudah tenang sekarang? Dia juga bilang tidak apa-apa, berarti tinggal kau lupakan saja maka itu tidak akan mengganggumu lagi,” balasnya.
“Percuma saja berbicara seperti ini. Aku harus mencari angin dulu.” Aku pun menutup pembicaraan dan segera beranjak. Tidak ada gunanya berdiam seperti ini, aku harus melakukan sesuatu.
“Hei, tangkap.” Shuu melemparkan sesuatu padaku. Spontan aku berbalik dan menangkapnya.
Bola kaca permberian Yumi.
Aku memutar-mutarkan bola tersebut dengan jariku. “Darimana kau mendapatkannya?” tanyaku. Aku hampir melupakan benda penting ini.
Dia mengedikkan bahu. “Sepertinya kau menjatuhkannya saat membereskan kamar. Aku yakin itu benda yang penting untukmu.” Dia juga segera beranjak. Melangkah kebagian balkon kamarku.
“Terima kasih.” Aku pun berbalik dan membiarkan Shuu melompati balkon menuju kamarnya.
“Oh.” Shuu sepertinya mengingat sesuatu. Membuatku berbalik lagi. “Beberapa menit lagi akan terjadi gerhana matahari. Sebaiknya kau melihatnya sebagai hiburan bersifat sementara, kau tahu.”
Aku mengunci pintu lalu melangkah santai kemanapun kakiku ingin melangkah.
Matahari semakin terik. Suhu udara yang naik secara drastis sempat membiangungkanku mengapa semalam hujan yang sangat lebat sempat mengguyurku. Perubahan cuaca dari panas kedingin secara tiba-tiba ini sepertinya pertanda sesuatu yang buruk.
Semua hanya untuk menghentikanku dari mengabulkan permintaanya.
Garis waktu bodoh yang diciptakan dan sebuah mesin yang bisa mengantarku mengulanginya juga tidak bisa berguna apabila rentetan kejadiannya berubah-rubah meskipun aku selalu melakukan hal yang sama seperti di saat aku belum menggunakannya.
Bahkan saat aku mencoba hal yang berbeda dan mencoba membodohi garis waktu yang tetap tersebut.
Dan takdir tidak bisa dibodohi seperti yang aku pikirkan. Oleh orang pintar sekalipun.
Pagi ini aku hanya berputar-putar sekitaran daerah apartemenku. Berjalan di trotar dengan santai sambil mengenang hari-hariku yang singkat namun terulang berkali-kali. Berkat mesin waktu itu.
Sekaligus menunggu matahari ditelan oleh bumi dalam beberapa saat yang kata Shuu akan terjadi beberapa menit lagi.
Jalanan kali ini lumayan ramai sepeti biasanya. Kendaraan yang berlalu-lalang, beberapa kali berpapasan dengan orang lain sambil menyapanya, dan juga sesekali memainkan bola kaca berwarna biru transparan tersebut.
Di jalanan juga aku hanya menendang-nendang kerikil sembari terus berjalan.
“Ups.” Aku tak sengaja membuat batu yang kutendang itu masuk ke sela-sela jalanan trotoar.
“Lihat! Gerhana.” Salah seorang yang habis berpapasan denganku itu menunjuk langit.
Bayangan besar itu sekarang berada tepat di atasku. Aku menatap langit, mencoba mencari matahari tersebut. Aku tidak bisa melihatnya karena akan berbahaya bagi penglihatanku.
Tanpa pikir panjang aku mengambil satu-satunya benda transparan yang kumiliki dan melihat gerhana tersebut lewatnya. Gerhana matahari total.
Seandainya, keinginanku terhadap bintang-bintang yang jatuh terkabulkan.
Aku tidak menyadari apa yang terjadi selanjutnya, namun aku hanya mengingat ada cahaya putih yang terang sekali tiba-tiba masuk lewat bola tersebut.
Membuatku lemas, dan terjatuh.
Other Stories
Pahlawan Revolusi
tes upload cerita jgn di publish ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...