11. Aku Muak Dengan Semua Ini, Semua Aku Tak Bisa Melepasnya
Kali ini aku tidak terbangun secara tiba-tiba atau langsung bangkit dan terduduk seperti orang yang sehabis mimpi buruk. Aku hanya bisa menggerakkan kedua mataku dan membukanya secara perlahan.
Meski pandanganku telihat berbayang, namun beberapa saat kemudian aku memfokuskannya. Aku lihat dua orang yang berada di kedua sisiku menatapku, seperti melihat bayi dalam inkubator yang bergerak-gerak. Penasaran dengan keadaanku sekarang ini.
“Shin sudah bangun.” ucap seseorang dengan suara yang agak samar. Entah mengapa rasanya sulit sekali menggunakan panca indera saat ini.
“Shuu, dan Okaa-san[1]?” Aku mulai berkata, lebih mirip ngelantur sebenarnya.
Seseorang menggenggam tanganku. Hangat rasanya. “Iya, Shin-chan, Okaa-san ada disini.” Suara ringan nan lembut itu seperti membelaiku dan memberikanku kekuatan untuk bangkit secara perlahan.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan, namun tubuhku ini terasa sakit sekali untuk digerakkan. Tangan dan kakiku terasa sangat kaku. Shuu dan Ibu yang melihatku mencoba bangkit membantuku untuk duduk.
“Shuu, jangan memaksakan diri.” Temanku itu menyuruhku. Namun aku tetap melakukannya.
Hanya butuh beberapa detik untuk menyadari bahwa aku sedang berada di rumah sakit. Mengenakan baju berwana biru keputihan juga terdapat selang infus yang ditusukkan ke arteriku dan menyambung ke sebuah kantong berisi cairan bening itu menetes perlahan masuk ke dalam diriku. Juga selang yang dimasukkan ke dalam kedua lubang hidungku itu bisa kurasakan sekarang. Sama seperti yang terjadi oleh Yumi di waktu itu.
Tiba-tiba, napasku tidak terkendali hingga mengeluarkan air mata.
“Apa, yang terjadi denganku?” tanyaku sambil membiarkan air yang menetes dari kedua mataku membasahi wajahku.
Tangan Ibu yang hangat memegang pundakku. Tangan keriput berumur kepala lima yang berhasil membuatku menangis lebih keras. Biarkan air mata itu terus mengalir, nak. Kau berhak mendapatkannya. Itu kata Ibu sejak aku masih kecil.
Shuu juga hanya bisa diam. Mungkin itu keputusan terbaik membiarkanku menangis mencurahkan segala emosiku keluar dari tubuhku.
Cahaya matahari pagi yang kulihat lewat jendela kamar rawatku itu menyinari tubuhku dengan kehangatannya. Melambai dan menyapa kedatanganku kembali di garis waktu yang sebenarnya.
Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Menenangkan diri dengan membiarkan oksigen itu memenuhi paru-paruku.
Dokter beserta perawat memasuki ruanganku. Membuat Shuu dan Ibu bangkit, membiarkan mereka bertiga mengambil alih. Dengan cekatan, mereka mengecek tubuhku sambil mencabut kedua selang tersebut.
Stetoskop milik dokter yang terjulur menyentuh dadaku dan menunggu beberapa saat hingga dokter setengah baya itu memutuskan bahwa aku baik-baik saja namun harus menjalani akitifitas untuk mengembalikan sendi-sendiku yang kaku lalu melangkah pergi membiarkanku bersama kedua orang terdekatku itu.
Ibu bangkit dari kursinya. “Ibu, akan pergi mencari udara sebentar.”
Shuu mendekatkan kursinya padaku. “Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu sekarang juga.” Mimik wajahnya mulai serius.
“Aku juga sama.”
“Jadi, sebenarnya, kau itu sudah koma selama tiga bulan. Itu sebabnya otot-ototmu kaku. Saat gerhana tiba, beberapa orang terkejut karena menemukan orang yang berbaring tidak sadarkan diri. Beruntung aku langsung membawamu ke rumah sakit.”
Wajar saja bila yang terjadi seperti itu. “Tapi, mengapa bisa selama itu?”
“Kurasa kau yang lebih tahu terhadap hal tersebut. Sekarang giliranmu.”
Butuh waktu yang lama untuk menjelaskan segala hal yang terjadi pada diriku sekitar empat hari yang kulalui di masa yang sebelumnya. Namun aku mencoba untuk mempersingkatnya.
“Oh, kurasa itulah hal yang besar yang pernah kau sebutkan itu. Maksudnya adalah menjelajahi waktu lebih jauh hingga bertemu dengan Yumi sewaktu ia masih hidup dan mengabulkan permintaannya di waktu itu juga bukan di waktu yang sekarang ini. Dan kutebak kau gagal melakukannya, kan?” Shuu mengambil kesimpulan.
“Itulah pertanyaan besarnya, mengapa aku bisa hilang ingatan? Dan disaat-saat terakhir aku baru mendapatkannya kembali. Bagaimana bisa itu terjadi?” Aku mengakhiri penjelasan itu.
“Hal itu kurasa wajar saja, karena kau memiliki terlalu banyak memori yang harus dibawa melintasi waktu, apalagi syok karena tidak memiliki persiapan saat kau melintasinya. Itu juga bisa disebabkan kesalahan pengiriman memori saat kau melakukannya.
Dan bagaimana kau mendapatkannya kembali? Kurasa seharusnya terdapat pemicu. Seperti kata kunci yang biasa kita gunakan untuk menghapal pelajaran. Dan pemicunya adalah deja vu yang kau alami itu. Namun anehnya, mengapa kau bisa pergi ke masa lalu?”
“Entahlah, saat aku menatap gerhana melalui ....” Tiba-tiba ada suatu ingatan baru yang mengisi kepalaku. Sejenak aku teringat sesuatu.
“Apa?”
“Bola kaca itu, di mana bola itu?” tanyaku. Mencari-cari kesekitar.
“Oh, bola kaca berwarna biru itu. Terakhir kali kulihat dia remuk terlindas kendaraan. Hanya tersisa pecahannya saja.”
Aku hanya menjawabnya dengan dehaman putus asa.
Hilang sudah. Satu-satunya harapanku. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun, namun rasanya ini semua ditakdirkan untuk terjadi. Sulit sekali hanya untuk mengabulkan satu permintaan saja.
Suara pintu yang terbuka itu mengejutkan kami. Ibu yang kembali setelah mencari angin itu datang sambil membawa sesuatu. Sekantong plastik berisi makanan.
Ibu menyimpan kantong tersebut di atas kasurku. “Dokter bilang, kau sudah boleh makan. Jadi Okaa-san membelikannya sekalian.”
Aku membukanya dan seketika perutku terasa lapar. Jadi ini rasanya belum makan selama tiga bulan. Setelah itu aku membuka boks bento tersebut dan membelah sumpitnya menjadi dua.
“Selamat makan,” ucapku lalu menyumpit nasi kemulutku.
Setelah itu aku makan dengan lahap. Dua, hingga tiga boks bento berhasil kuhabiskan dalam waktu yang singkat karena aku belum makan dalam waktu yang lama. Setelah itu aku menyedot teh dan membiarkan kesegaran memenuhi kerongkonganku.
“Jadi, Yumi itu siapa?” tanya Ibu.
Terkejut, aku menyemprotkan keluar teh yang baru aku sedot itu. Membasahi kasur dengan beberapa tetes cairan berwarna coklat tersebut. Ternyata sedari tadi Ibu menguping pembicaraan kami.
Sembari mengelap mulutku yang basah Aku memicingkan mata ke arah Shuu, menyuruhnya menjelaskan. Shuu yang menangkap maksudku langsung terkekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Dia itu, orang dari kehidupan sebelumnya Shin,” jelas Shuu. Dia malah memberitahu sebenarnya.
“Seperti, Shin yang sekarang itu adalah reinkarnasi? Agak aneh, namun karena Okaa-san telah mendengar semuanya terasa jelas sekarang,” ucap Ibu. Memang, Ibu suka menguping.
Kata-kata itu diiringi oleh ketukan pintu yang cukup keras. Meminta mengizinkan untuk masuk ke dalam.
Shuu bangkit dan membuka pintu tersebut. Tiga orang berbaju putih yang barusan mengecek kondisiku itu melangkah masuk dan memberikan pemberitahuan pada kami. Dokter berkacamata yang berada di tengah itu mengatakan sesuatu.
“Saatnya menjalani pemeriksaan fisik.”
[1] Sebutan di Jepang untuk Ibu.
Other Stories
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...