10. Payah, Aku Melewatkan Kesempatan Besar Ini Setelah Mendapatkan Ingatanku
Kali ini aku dibangunkan bukan dengan jam bekerku. Namun karena nada dering teleponku yang berbunyi sangat keras.
Hashida, orang yang mendapatkan nomor teleponku setelah aku diterima di klub tersebut ternyata meneleponku di hari yang melelahkan karena semalam aku habis-habisan mengedit video dengan laptop yang dipinjamkan itu. Aku menekan tombol terima lalu menempelkan telingaku pada telepon tersebut.
“Ada apa?” tanyaku yang masih berbaring di atas kasur, mengumpulkan nyawa setelah tertidur cukup lama.
“Ternyata kau menjawab juga. Aku kira kau sudah mati karena tidak menjawab dua puluh tiga pesanku yang kukirimkan,” kata Hashida dengan suaranya yang berat itu.
“Aku pikir mengirimkan dua puluh tiga pesan dalam jangka waktu yang sebentar itu seperti hal yang sering dilakukan stalker,” kataku.
Nada bicaranya mulai naik. “Sebentar katamu? Kami hampir empat jam menunggumu didepan pintu kamarmu ini. Beruntung kesabaran kami tidak ada batasnya.” Seketika aku mendengar dua suara Hashida meski yang satunya lagi terdengar samar. Jangan-jangan.
Aku bangkit lantas melangkah cepat ke arah pintu dan segera membukanya. Memang benar mereka semua ada disini. Bahkan Senpai pun ikut.
Hashida yang masih menempelkan telepon ke telinganya itu mulai berbicara. “Waktunya bekerja, Putri Tidur.” Lantas memutus sambungannya.
Dan di sinilah aku. Duduk di atas jok mobil yang dikendarai Ayano sambil membawa peralatan yang hampir memenuhi bagasi di siang bolong yang seharusnya adalah hari istirahatku.
“Jadi, kita akan kemana, Hashida?” tanya Ayano yang fokus memegang setirnya itu.
“Hemm, kita akan melakukan syuting terakhir kita di daerah Kawaguchi. Danau indah yang berlatar Gunung Fuji. Aku sudah memperhitungkan baik-baik semuanya. Apabila terjadi sesuatu, serahkan saja padaku.” kata Hashida sambil berlagak. Dia duduk di sebelah Ayano sambil memperhatikan navigasi lewat hapenya itu.
“Kawaguchi, ya. Sepertinya menarik.” Senpai yang duduk di jok kanan belakang menggumamkan sesuatu.
“Tentu saja, namun perjalanan akan membutuhkan waktu yang lama, kalian bisa tidur. Atau melanjutkan tidur.” ucap Hashida yang menyahut perkataan Senpai. Aku memasang wajah datar.
“Berhenti menghinaku, Hashida.” gerutuku.
Namun aku tetap saja terlelap tanpa kusadari. Rasa kantuk karena begadang terlalu larut sehari setelah menjenguk Yumi itu kembali menyerangku. Meski perlahan hanya menutup mata tapi dengan cepat membawa kesadaranku ke alam mimpi.
Hingga seruan orang itu membangunkanku.
“Hoi, putri tidur, kamu sampai kapan kau didalam mobil?” Kali ini Ayano yang membangunkanku. Aku yang sudah terbangun mengucek mata lalu keluar dari mobil yang pintunya sudah terbuka dari tadi.
Setelah meregangkan anggota tubuhku, aku mulai memperhatikan sekitar. Parkiran kecil tempat mobil ini berhenti terdapat turunan yang mengarah ke suatu tempat.
Langit sudah sore. Cahaya matahari yang tenggelam ke ufuk barat memperlihatkan keindahan gradasi di waktu senja ini. Kami berlima sepertinya sudah sampai di tempat yang dituju.
Sato dan Senpai yang sedang duduk bersebelahan di dekat parkiran menilik sekitar seperti seorang turis.
Aku mulai angkat suara karena kami hanya diam saja. “Kita menunggu apa di sini?”
Senpai menjawab sambil menunjuk pada seseorang. “Itu.”
Hashida yang sepertinya sehabis keluar dari suatu kantor di belakangnya itu berseru pada kami sambil mengacungkan kertas yang dibawanya. “Hoi! Kita sudah dapat izinnya.” ucapnya sambil berlarian.
Ayano yang bersandar di mobil menegakkan tubuhnya. “Baiklah, ayo kita masuk sekarang.”
Yang lain juga berdiri dari tempatnya masing-masing lantas melangkah menuju turunan tersebut. Aku hanya mengikuti mereka dari belakang melewati jalanan yang hanya muat untuk dilewati motor saja.
Berjalan dengan pelan tapi pasti. Itu hal yang kami lakukan untuk menikmati tempat syuting kami. Dengan pepohonan yang rimbun di sebelah kiri dan kanan kami, juga cahaya berwarna oranye yang menembus masuk ke dalamnya, membuat Ayano tertarik untuk mengisi kameranya dengan gambar tersebut.
“Ayolah, Senpai disana akan lebih keren lagi.” Sato mencoba membujuk Ayano agar dia tidak tertinggal rombongan.
Namun Ayano malah menjawab. “Tunggu saja, aku akan menyusul.” Lalu dia benar-benar tertinggal oleh kami.
Meski hanya tinggal beberapa langkah lagi menuju tepi danau yang dibicarakan oleh Hashida, namun keindahannya udah bisa membuat kami terpaku di tempat. Menikmati danau ini secara penuh.
Danau, latar Gunung Fuji dan langit sore yang menyilaukan adalah salah satu pemandangan terindah yang pernah kulihat. Danau bersih dan asri tersebut bagaikan cermin yang memantulkan cahaya langit yang sudah hampir tenggelam tersebut. Tak lupa dengan gunung tertinggi di Jepang itu. Paku bumi yang menjulang tinggi seakan mencoba menyentuh awan yang berkeliaran ke sana-kemari dan warna hijaunya itu tergantikan oleh kuning kemerah-merahan.
Indah. Satu kata penuh makna untuk menggambarkan pemandangan yang sedang kami lihat ini.
Ayano tiba-tiba datang dan membuat suara ‘ckrek!’ dengan kamera yang digantungkan di lehernya itu. Menyadarkan kami dari lamunan dan keterpakuan kami hanya karena melihat senja saja.
“Oke,” ucap Hashida yang meminta perhatian kami. “Syutingnya akan dilakukan di malam hari. Tepat saat bintang-bintang mulai bermunculan. Jadi sekarang jam bebas, lakukan sesuka kalian namun jangan lupa untuk kembali berkumpul jam tujuh malam nanti.” jelasnya.
Tanpa aba-aba, kami langsung berlarian di atas tanah berpasir menuju tepi danau yang luas itu. Mencuci muka dengan airnya atau bermain-main di sekitaran.
Dingin. Itu yang kurasakan saat pertama kali menyentuh air danau tersebut. Membiarkannya membasuh mukaku dan seketika menyegarkannya. Aku melihat ke sekitaran tepi danau tersebut.
Perahu seukuran sekoci yang berjejeran dan jumlahnya belasan itu hanya ditangkupkan begitu saja. Sebagian dari mereka sudah berkarat dimakan oleh waktu dan sekoci tersebut pastinya sudah tidak terpakai lagi.
Aku berbalik ke belakang. Hutan pinus yang terbentang cukup luas juga terlihat indah karena cahaya matahari yang menerobos melalui sela-sela ranting dan dedaunan. Berjatuhan di bawahnya buah pinus dan rerantingan yang menghiasi tanah coklat di bawahnya. Ayano yang sedari tadi tidak berhenti menjepret gambar menggunakan kameranya itu kelihatannya tertarik dengan suasana sore hari ini.
Hingga tak sadar gelap pun jatuh. Langit yang berwarna cerah itu tergantikan oleh hitamnya langit yang secara perlahan dihiasi bintang-bintang dan cahaya yang paling besar di antara mereka. Cahaya bulan.
Hashida memanggil kami untuk berkumpul. Dengan pengarahan singkat yang mudah dimengerti, kami segera melaksanakan syuting terakhir kami.
“Siap, action!” Aku berseru memulai syuting tersebut.
Senpai yang tengah berbaring di atas tanah dengan mata tertutup segera membuka matanya karena embusan ombak yang membasahi sebagian kakinya itu. Karena merasa dingin Senpai langsung menarik kakinya dan terduduk.
Senpai menatap sekitar. Wajahnya yang kelihatan seperti mencari sesuatu, atau seseorang itu menoleh ke arah kiri dan kanan. Namun ia tidak menemukan apapun.
Ayano berpindah tempat. Sekarang ia berdiri di depan Senpai yang sedang duduk tersebut sambil menyorotkan kamera ke arahnya. Tangan Senpai yang terjulur ke atas melewati kamera tersebut seperti mencoba menggapai sesuatu.
Langit berbintang yang terlihat dekat namun tidak bisa diraih.
Aku melihat Hashida terlihat sangat terharu, entah karena ini merupakan adegan terakhir atau karena akting Senpai.
Kamera mengarah ke atas langit tempat bintang-bintang yang bertebaran itu bersinar terang, dengan juluran tangan yang mencoba menggenggamnya. Aku yang memperhatikan mereka itu ikut melihat ke langit.
Aku sangat berterima kasih, Shin. Kata-kata itu kembali muncul memenuhi otakku. Tiba-tiba saja sekelebat masa lalu yang pernah terlupakan itu kembali dan masuk kedalam otakku. Bagaikan diperlihatkan jutaan menit video yang diputarkan hanya dalam beberapa detik saja. Seketika kepalaku terasa sangat sakit. Pusing yang luar biasa.
Namun, Ingatanku telah kembali.
Tapi setiap hadiah yang diberikan pasti ada harganya. Dan aku harus membayarnya malam ini juga.
Dengan pingsan, masuk kedalam gelap untuk kesekian kalinya.
Other Stories
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...