Buku Di Tumpukan Sampah
Di balik tumpukan sampah yang Ayah dan aku kumpulkan setiap hari, ada sebuah dunia lain yang tak terlihat oleh orang-orang. Bagi mereka, ini hanya limbah, sisa-sisa peradaban yang tak lagi berguna.
Tapi bagiku, tumpukan ini adalah ladang harta karun. Bukan harta karun berupa emas atau berlian, melainkan cerita dan sisa-sisa kehidupan yang bisa diolah kembali. Setiap botol plastik, setiap kaleng bekas punya nilai. Dan nilai itu bagi kami adalah sebuah kehidupan.
Pagi itu, udara masih terasa dingin, dan kabut tipis menyelimuti gang sempit kami. Ayah sudah siap dengan gerobaknya, dan aku dengan sarung tangan lusuh siap membantu. Rutinitas harian kami dimulai. Kami menyusuri setiap lorong, setiap tempat pembuangan, memilah-milah sampah dengan cermat.
Ayah selalu mengajarkanku untuk tidak pernah jijik pada pekerjaan ini. "Kita membersihkan bumi, Ryan. Ada yang membuang, ada yang mengolah. Kita berada di sisi yang mulia," katanya suatu kali. Kata-kata itu, entah mengapa, selalu memberiku kekuatan.
Saat kami tiba di tempat pembuangan yang biasa, di dekat pasar, tumpukan sampah terlihat lebih besar dari biasanya. Mungkin karena semalam ada hajatan atau acara besar.
Aku mulai memilah, memisahkan botol plastik dari kaleng, kardus dari botol kaca. Tiba-tiba, mataku terpaku pada sebuah benda yang tersembunyi di balik tumpukan kardus. Benda itu, bersampul cokelat lusuh, terlihat berbeda dari sampah lainnya. Itu sebuah buku.
Rasanya seperti menemukan sebuah berlian di antara tumpukan batu. Perlahan, aku mengulurkan tangan, meraihnya, dan membersihkan dari debu yang menempel.
Halamannya menguning, beberapa sudutnya robek dengan aroma yang khas, seperti aroma buku-buku tua di perpustakaan sekolah. Sebuah aroma yang selalu kusukai. Judulnya, Jalan Menuju Puncak.
Aku mengernyitkan dahi, "Puncak apa? Apakah ini buku fiksi tentang mendaki gunung?" Aku membolak-baliknya.
Halaman-halamannya penuh dengan tulisan, bukan ilustrasi. Aku membuka halaman pertama, dan mataku langsung tertuju pada sebuah kalimat, “Kesuksesan bukanlah hak milik mereka yang terlahir kaya, melainkan milik mereka yang gigih berjuang.” Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar. Seolah-olah buku ini sengaja dilemparkan ke tumpukan sampah untukku.
Aku segera menyembunyikan buku itu di dalam tas sekolahku yang sudah lusuh, berharap Ayah tidak melihatnya. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa buku ini adalah rahasiaku, sebuah penemuan yang terlalu berharga untuk dibagi. Aku ingin membacanya sendirian, menyelami setiap kata, setiap kalimat, tanpa gangguan.
Sepulang sekolah, aku langsung masuk ke kamar. Kamar kecil, hanya cukup untuk satu kasur dan satu meja belajar reyot. Cahaya matahari masuk lewat jendela usang menerangi debu yang menari-nari di udara. Aku mengeluarkan buku itu dari tas dan membacanya di bawah cahaya yang ada. Aku membuka halaman demi halaman, dan setiap kisah di dalamnya membuat mataku terbelalak.
Ada kisah tentang seorang penemu yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencoba menemukan bola lampu. Ia gagal ribuan kali, dan setiap kegagalan itu menjadikannya lebih kuat. Ada kisah tentang seorang pengusaha yang memulai bisnisnya dari sebuah garasi kecil, dengan modal seadanya dan mimpi yang besar. Ia jatuh bangun, seringkali ditipu, tapi ia tidak pernah menyerah. Ada juga kisah tentang seorang penulis yang naskahnya ditolak oleh lebih dari 20 penerbit, tapi ia tetap menulis, dan akhirnya karyanya menjadi salah satu buku paling terkenal di dunia.
Kisah-kisah itu terasa begitu nyata, begitu dekat denganku. Aku merasa seperti sedang berbicara dengan mereka. Aku melihat diriku di dalam setiap perjuangan mereka, di dalam setiap kegagalan dan kemenangan mereka. Mereka bukan orang-orang super yang memiliki kekuatan magis. Mereka hanya manusia biasa, sama sepertiku, yang tidak pernah menyerah pada keadaan.
Aku membacanya sampai malam tiba sampai lampu 5 watt di kamarku dinyalakan. Ibu datang membawakanku secangkir teh hangat. Ia melihatku membaca, dan ia tersenyum. "Kau terlihat bahagia sekali, Nak. Buku apa itu?" tanyanya. Aku ragu-ragu sejenak, lalu menunjukkan buku itu padanya. Ibu mengambilnya, membolak-baliknya, lalu mengembalikan padaku. "Bacalah, Nak. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya," katanya lembut.
Malam itu, di bawah cahaya lampu yang redup, di tengah keheningan gang sempit kami, aku menemukan sebuah pintu. Pintu itu bukan pintu yang terbuat dari kayu atau besi. Pintu itu terbuat dari kata-kata, dari kisah-kisah perjuangan. Pintu yang membawaku keluar dari keterbatasan yang selama ini mengikatku.
Aku sadar tidak akan bisa mengubah dunia di luar jendela usangku hanya dengan melihat. Aku butuh peta, butuh petunjuk, butuh inspirasi. Dan buku Jalan Menuju Puncak itu adalah semuanya. Ia adalah cermin yang memantulkan bayangan diriku yang penuh potensi. Ia adalah kompas yang menunjukkan arah ke mana aku harus pergi. Ia adalah obor yang menerangi jalan gelap di depanku.
Aku tidak lagi merasa iri pada Riko atau teman-temannya. Aku tidak lagi merasa malu pada pekerjaan Ayah. Aku kini tahu, bahwa nasibku tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang di saku Ayah, atau seberapa megah rumahku. Nasibku ditentukan oleh seberapa besar mimpiku, dan seberapa kuat tekadku untuk mewujudkannya.
Dengan buku itu di genggamanku, aku merasa siap. Siap menghadapi cemoohan, siap menghadapi kegagalan, siap menghadapi dunia.
Karena aku tahu, di setiap langkahku, di setiap kesulitan, ada pelajaran yang menantiku. Dan pelajaran itu akan membawaku lebih dekat ke puncak impianku. Jendela usang di kamarku tidak lagi menjadi batas, melainkan sebuah gerbang menuju dunia yang kini terasa bisa kuraih.
Tapi bagiku, tumpukan ini adalah ladang harta karun. Bukan harta karun berupa emas atau berlian, melainkan cerita dan sisa-sisa kehidupan yang bisa diolah kembali. Setiap botol plastik, setiap kaleng bekas punya nilai. Dan nilai itu bagi kami adalah sebuah kehidupan.
Pagi itu, udara masih terasa dingin, dan kabut tipis menyelimuti gang sempit kami. Ayah sudah siap dengan gerobaknya, dan aku dengan sarung tangan lusuh siap membantu. Rutinitas harian kami dimulai. Kami menyusuri setiap lorong, setiap tempat pembuangan, memilah-milah sampah dengan cermat.
Ayah selalu mengajarkanku untuk tidak pernah jijik pada pekerjaan ini. "Kita membersihkan bumi, Ryan. Ada yang membuang, ada yang mengolah. Kita berada di sisi yang mulia," katanya suatu kali. Kata-kata itu, entah mengapa, selalu memberiku kekuatan.
Saat kami tiba di tempat pembuangan yang biasa, di dekat pasar, tumpukan sampah terlihat lebih besar dari biasanya. Mungkin karena semalam ada hajatan atau acara besar.
Aku mulai memilah, memisahkan botol plastik dari kaleng, kardus dari botol kaca. Tiba-tiba, mataku terpaku pada sebuah benda yang tersembunyi di balik tumpukan kardus. Benda itu, bersampul cokelat lusuh, terlihat berbeda dari sampah lainnya. Itu sebuah buku.
Rasanya seperti menemukan sebuah berlian di antara tumpukan batu. Perlahan, aku mengulurkan tangan, meraihnya, dan membersihkan dari debu yang menempel.
Halamannya menguning, beberapa sudutnya robek dengan aroma yang khas, seperti aroma buku-buku tua di perpustakaan sekolah. Sebuah aroma yang selalu kusukai. Judulnya, Jalan Menuju Puncak.
Aku mengernyitkan dahi, "Puncak apa? Apakah ini buku fiksi tentang mendaki gunung?" Aku membolak-baliknya.
Halaman-halamannya penuh dengan tulisan, bukan ilustrasi. Aku membuka halaman pertama, dan mataku langsung tertuju pada sebuah kalimat, “Kesuksesan bukanlah hak milik mereka yang terlahir kaya, melainkan milik mereka yang gigih berjuang.” Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar. Seolah-olah buku ini sengaja dilemparkan ke tumpukan sampah untukku.
Aku segera menyembunyikan buku itu di dalam tas sekolahku yang sudah lusuh, berharap Ayah tidak melihatnya. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa buku ini adalah rahasiaku, sebuah penemuan yang terlalu berharga untuk dibagi. Aku ingin membacanya sendirian, menyelami setiap kata, setiap kalimat, tanpa gangguan.
Sepulang sekolah, aku langsung masuk ke kamar. Kamar kecil, hanya cukup untuk satu kasur dan satu meja belajar reyot. Cahaya matahari masuk lewat jendela usang menerangi debu yang menari-nari di udara. Aku mengeluarkan buku itu dari tas dan membacanya di bawah cahaya yang ada. Aku membuka halaman demi halaman, dan setiap kisah di dalamnya membuat mataku terbelalak.
Ada kisah tentang seorang penemu yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencoba menemukan bola lampu. Ia gagal ribuan kali, dan setiap kegagalan itu menjadikannya lebih kuat. Ada kisah tentang seorang pengusaha yang memulai bisnisnya dari sebuah garasi kecil, dengan modal seadanya dan mimpi yang besar. Ia jatuh bangun, seringkali ditipu, tapi ia tidak pernah menyerah. Ada juga kisah tentang seorang penulis yang naskahnya ditolak oleh lebih dari 20 penerbit, tapi ia tetap menulis, dan akhirnya karyanya menjadi salah satu buku paling terkenal di dunia.
Kisah-kisah itu terasa begitu nyata, begitu dekat denganku. Aku merasa seperti sedang berbicara dengan mereka. Aku melihat diriku di dalam setiap perjuangan mereka, di dalam setiap kegagalan dan kemenangan mereka. Mereka bukan orang-orang super yang memiliki kekuatan magis. Mereka hanya manusia biasa, sama sepertiku, yang tidak pernah menyerah pada keadaan.
Aku membacanya sampai malam tiba sampai lampu 5 watt di kamarku dinyalakan. Ibu datang membawakanku secangkir teh hangat. Ia melihatku membaca, dan ia tersenyum. "Kau terlihat bahagia sekali, Nak. Buku apa itu?" tanyanya. Aku ragu-ragu sejenak, lalu menunjukkan buku itu padanya. Ibu mengambilnya, membolak-baliknya, lalu mengembalikan padaku. "Bacalah, Nak. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya," katanya lembut.
Malam itu, di bawah cahaya lampu yang redup, di tengah keheningan gang sempit kami, aku menemukan sebuah pintu. Pintu itu bukan pintu yang terbuat dari kayu atau besi. Pintu itu terbuat dari kata-kata, dari kisah-kisah perjuangan. Pintu yang membawaku keluar dari keterbatasan yang selama ini mengikatku.
Aku sadar tidak akan bisa mengubah dunia di luar jendela usangku hanya dengan melihat. Aku butuh peta, butuh petunjuk, butuh inspirasi. Dan buku Jalan Menuju Puncak itu adalah semuanya. Ia adalah cermin yang memantulkan bayangan diriku yang penuh potensi. Ia adalah kompas yang menunjukkan arah ke mana aku harus pergi. Ia adalah obor yang menerangi jalan gelap di depanku.
Aku tidak lagi merasa iri pada Riko atau teman-temannya. Aku tidak lagi merasa malu pada pekerjaan Ayah. Aku kini tahu, bahwa nasibku tidak ditentukan oleh seberapa banyak uang di saku Ayah, atau seberapa megah rumahku. Nasibku ditentukan oleh seberapa besar mimpiku, dan seberapa kuat tekadku untuk mewujudkannya.
Dengan buku itu di genggamanku, aku merasa siap. Siap menghadapi cemoohan, siap menghadapi kegagalan, siap menghadapi dunia.
Karena aku tahu, di setiap langkahku, di setiap kesulitan, ada pelajaran yang menantiku. Dan pelajaran itu akan membawaku lebih dekat ke puncak impianku. Jendela usang di kamarku tidak lagi menjadi batas, melainkan sebuah gerbang menuju dunia yang kini terasa bisa kuraih.
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh no ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...