1. Jen
\"Baru dua hari di rumah kok sudah packing lagi, Jen?\"
Jen menengadahkan kepalanya dan mendapati Mama berdiri di ambang pintu kamarnya. \"Patrick datang, minta diantar keliling Jawa Tengah. Mau cari akar kayu mentah, Ma.\"
\"Berapa lama?\" tanya Mama dengan suara tertahan.
\"Paling cepat dua minggu.\"
\"Tanggal tiga diundang pesta, anaknya Bu Sandra menikah. Usahakan kamu sudah pulang, ya!\"
Jen mendengus, jebakan batman favorit Mama, but your wish is always be my command!
\"Anak Bu Sandra bukannya masih kecil, kok mau nikah sih?\" tanya Jen asal-asalan.
\"Sudah lulus kuliah Si Nadine itu, sudah bekerja setahun di bank,\" jawab Mama dengan agak kesal melihat gelagat Jen yang tidak memberi respons pancingannya.
Jen menyeringai ketika Mama beranjak pergi menjauhi kamarnya. Jen selalu tahu apa maksud dan tujuan percakapan yang dimulai Mama. Dari kelima anak Mama, hanya Jen yang belum menikah.Bahkan Dodik, adik bungsu Jen telah memberi Mama cucu. Jen merasa hidup Mama cukup meriah dengan tujuh orang cucu, tanpa harus terus-terusan memaksa Jen segera menikah.
Sedangkan Mama, tidak pernah berhenti memikirkan Jen. Anaknya yang satu ini begitu berbeda dengan yang lainnya. Jen memang tidak pernah membantah ucapannya, namun tingkah laku Jen tidak pernah benar-benar dalam kendali Mama.
Ketika kakak-kakak dan adik Jen hidup nyaman di rumah, Jen memilih camping di pinggir hutan atau naik gunung bersama teman-temannya. Saat kuliah, kakak dan adik Jen ribut minta dibelikan kendaraan roda dua atau roda empat. Namun Jen dengan tenang naik turun bus, atau membawa sepeda gunungnya melintas belasan kilometer ke kampus.
Saat yang lain berbangga karena diterima bekerja di perusahaan nasional atau multinasional, Jen memilih menjadi relawan palang merah, membantu korban gempa, menjadi fotografer lepas, dan entah apalagi yang ia kerjakan. Dari segunung aktivitas padatnya, terkadang Jen mendapat uang, tapi sering juga tidak.
Terlepas dari semua itu, Jen selalu cepat datang bila didengarnya Mama sakit, terutama sejak Papa meninggal, sepuluh tahun yang lalu. Dan nama Jen tidak pernah lepas dari untaian doa yang Mama rapalkan setiap malam.
***
\"Sayang, aku mau ke rumahmu besok, dandan yang cantik, okay!\" ucap Adrian di ujung telepon.
\"Nggak bisa, besok pagi aku berangkat ke Yogyakarta. Jangan panggil ‘sayang’, aku risih mendengarnya,\" kata Jen ketus sambil terus melakukan pekerjaannya. Beberapa data supplier akar kayu di Jawa Tengah telah dihubungi untuk mengatur jadwal survey bersama Patrick. Jen juga telah melakukan booking hotel, sewa kendaraan, print out ticket, dan beberapa hal lainnya. Perkataan Adrian di telepon hanya didengarnya sambil lalu saja.
Ada ketukan pelan di pintu kamarnya, \"Mbak Jen, ada tamu.\"
\"Siapa, Bi?\"
\"Mas Adrian,\" jawab Bi Nah.
Dengan terpaksa Jen meninggalkan pekerjaannya. \"Kamu bilang besok datangnya!\" tukas Jen kesal saat menemui Adrian di ruang tamu.
\"Surprise, Sayang!\" Adrian berusaha mengecup pipi Jen yang dengan cekatan ditampik oleh Jen.
\"Sayang, mesra sedikit kenapa sih?\"
\"Satu, aku nggak suka dipanggil ‘sayang’. Dua, kamu bukan pacarku, kenapa harus mesra-mesraan? Tiga, aku masih punya banyak kerjaan, lebih baik kamu pulang saja!\" kata Jen, keras dan tegas.
Adrian hanya tersenyum melihat sambutan “ramah” Jen. Perempuan satu ini semakin memikat ketika sedang marah seperti saat ini. Perempuan yang membuat Adrian merindu sekaligus sebagai penyebab utama pertengkaran dengan maminya.
\"Ada Nak Adrian, tho? Duh Jen, kok ada tamu wajahmu kusut begitu? Mbok ya pakai bedak sedikit saja dan ganti baju yang rapi, gitu lho,\" Mama tiba-tiba berada di antara Jen dan Adrian, meredakan genderang perang yang telah siap ditabuhkan ke kubu Adrian.
Alih-alih menjawab pertanyaan Mama, Jen menghenyakkan tubuhnya di sofa. Adrian segera mengambil kesempatan itu.Ia tahu, Mama Jen merupakan kunci penting untuk mendapatkan hati anaknya.
Jen hanya terdiam melihat Adrian dan Mama sibuk bercakap-cakap. Sedikit merapikan t-shirt Banana Republic yang tipis menerawang. Meraba kulit tangannya yang gosong akibat terlalu sering berjemur di pantai. Melihat beberapa luka di tubuhnya yang terbuka. Satu luka untuk satu cerita. Digigit serangga, tergores ranting pohon, atau batu karang saat surfing. Entah apa yang dilihat Adrian pada dirinya, seharusnya hidup Adrian akan lebih mudah bila memilih salah satu dari gadis-gadis pengagumnya. Dunia mereka sangat bertolak belakang.
\"Aku mau lanjut kerja, kamu ngobrol sama Mama saja, Adrian,\" Jen beranjak pergi dari ruang tamu.
\"Sayang, masa kamu cemburu aku ngobrol sama Mamamu?\"
\"Jangan ge-er! Kerjaanku memang masih banyak, lagi pula besok aku berangkat dengan flight pertama.\"
Adrian membuntuti Jen ke kamarnya, \"Oke, aku mau bantuin kamu supaya cepat selesai,\" Jen mendengus sekeras yang ia bisa lakukan.
Adrian bekerja dalam keheningan. Dirapikannya flyer yang berserakan, kertas-kertas yang tersebar, baju kotor yang menumpuk di kamar Jen. Buku-buku travelling disusun sesuai abjad di rak buku dekat meja kerja Jen. Adrian memandang dinding kamar Jen yang tertutupi peta dunia besar. Foto-foto tanpa bingkai ditempel di banyak lokasi di atas peta, sebagai penanda tempat foto tersebut diabadikan.
Jen memang bukan gadis biasa. Jen tidak pernah terpukau dengan kado ulang tahun berisi jam tangan bertakhta berlian yang pernah diberikan Adrian. Raut wajah Jen datar ketika Adrian datang dengan mobil sport keluaran terbaru, lalu malah meninggalkan Adrian dengan sibuk mencari tiket termurah ke Turki melalui handphone butut yang sudah pecah dan tergores sana-sini.
\"Sayang, aku besok ikut kamu ya?\" tanya Adrian tiba-tiba.
\"What! No, Adrian. Kamu bakal bosan,\" Jen menggelengkan kepalanya keras-keras.
\"Aku ingin mengenal duniamu lebih jauh. Lagi pula aku juga suka adventure kok. Dan aku janji nggak akan gangguin kamu, okay?\"
Jen kehabisan kata-kata bila Adrian sudah bertingkah seperti bayi yang minta dibelikan balon warna-warni. \"Terserah!\" pungkas Jen. Ia hanya berharap Adrian tidak sanggup menyesuaikan diri dengan gaya travelling yang biasa Jen lakukan, dan segera angkat kaki dari hadapannya.
***
Patrick terus menerus tersenyum melihat tingkah Jen yang grogi. Walaupun mereka jarang bertemu, Patrick mengenal Jen luar dalam. Jen pun dekat dengan Annie, istri Patrick.
Sebelum Patrick membuka percakapan, Jen sudah lebih dahulu menyerobot, \"Shut up, Patrick! Don\'t say anything,\" tukas Jen ketus.
Patrick tertawa meledek, \"But why? I just wanna say hi to your boyfriend.\"
\"He\'s not my—“
\"I\'m Adrian, how\'s your flight?\" Adrian mengambil kesempatan. Dan sepanjang perjalanan darat dari Yogyakarta menuju Blora, Jen memendam berjuta kesal pada Adrian yang dengan mudah akrab dengan si bule Prancis, Patrick Mille.
Ketiganya bersemangat mendatangi supplier akar kayu satu per satu. Dengan celana capri warna khaki plus topi baseball biru, Jen membantu Patrick membuat data kelebihan dan kekurangan tiap supplier. Mengukur kelembapan kayu, menilai bentuk, membuat sketsa desain dari berjenis-jenis akar kayu yang mereka jumpai. Sementara Adrian menyibukkan diri dengan Leica S Proformat 007 berkekuatan 37.5 MP yang harganya menyamai mobil favorit keluarga Indonesia. Dengan lincah ia mengabadikan suasana¾yang tentu saja¾Jen menjadi model tunggalnya.
Patrick sangat menyukai cara Jen bekerja. Ia efektif, tidak pernah mengeluh, fokus dan cenderung workaholic seperti dirinya. Annie sudah berkali-kali merayu agar Jen pindah ke Prancis dan menjadi asisten pribadi Patrick. Dengan halus, Jen menolak tawaran emas itu.
Menjadi staf resmi bukan karier impian Jen,ia terlalu cinta dunia kebebasan berkarya. Freelancer adalah jodohnya, ia bisa bebas mengatur waktunya.Bangun siang tanpa khawatir amukan bos, berganti banyak pekerjaan sesuai tawaran yang datang, dan sesuai mood-nya terhadap si pemberi pekerjaan. Di balik sikap anti kemapanan yang ia tampilkan ke muka publik, Jen memiliki target masa depan. Terutama yang berkaitan dengan target menabung untuk jadwal travelling berikutnya.
\"Are you guys hungry? Cmon, find something to eat,\" ajak Jen saat senja sudah hampir tenggelam. Keasyikan bekerja membuat semua lupa waktu. \"Di jalan utama tadi aku lihat ada warung, kita makan di sana saja, okay?\"
\"If it fits on you, I\'m okay,\" ujar Patrick. Beberapa kali melalukan perjalanan dengan Jen, Patrick sudah hafal. Bila Jen lapar, maka apapun yang ada dihadapannya bisa dilahap dengan nikmat. Dan Patrick tidak pernah keberatan dengan makanan apapun yang ditawarkan Jen, as long as it\'s not spicy!
Adrian menarik lengan Jen, \"Gila kamu. Masa ngajak bule makan di warung kecil begini sih?\" bisiknya ketika mereka tiba di sebuah warung nasi sederhana.
\"It won\'t make you stomachache, lil boy,\" ejek Jen.
\"Bukan aku, tapi Patrick!\"
\"He\'s fine. Dia biasa kok makan di warung sama aku. Kemarin kamu bilang kamu suka adventure. Well this is part of culinary adventure, after all,\" Jen semakin menjadi-jadi. Ia merasa di atas angin. Kali ini Adrian pasti kapok dan akan segera berhenti membuntutinya.
Sudah bisa ditebak, Adrian kembali tunduk dengan kemauan gadis keras kepala ini yang sungguh-sungguh Adrian ingin berikan seluruh isi dunia padanya. Adrian menunjukkan kalau ia bukanlah lil boy yang berlindung di bawah ketiak mami, seperti anggapan Jen selama ini. Lagi pula, Jen benar, makan di warung sederhana tidak akan membuatnya mati. Tidak makan justru membuatnya tersiksa kelaparan nanti.
\"If you really want her go get her, be serious with your goal, or someone else will.\" Patrick menepuk-nepuk bahu Adrian, membesarkan hatinya.
\"I will!\" sahut Adrian pasti.
***
Other Stories
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)
Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...
Hellend ( Noni Belanda )
Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...