Seribu Wajah Venus

Reads
425
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis Lia Soeparno

3. Rianti

 \"Anak hebaaat! Hari Jumat kita ketemu lagi ya, Reza sayang.\"
Rianti tersenyum pada Dokter Gio, seorang dokter muda RS Dr. Soetomo Surabaya yang sudah merawat Reza dua tahun terakhir ini.
\"Yuk, Sayang, kita pulang. Terima kasih, Dokter,\" Rianti menggendong Reza, putra tunggalnya yang kini menginjak usia tiga tahun.
Melewati lorong rumah sakit, banyak perawat dan dokter yang berpapasan dengan mereka, melambaikan tangan pada Reza.
\"Mana semprongnya? Tante Dokter kangen semprong Reza.\"
\"Abis, Te,\" jawab Reza dengan bahasa terbata, masih berada dalam gendongan Rianti.
\"Besok bawa yang banyak ya,\" kerling dokter Miranda pada Reza.
Rianti hanya bisa tersenyum, jutaan kali berucap syukur dalam hati. Begitu banyak orang yang menyayangi Reza, mudahnya Tuhan mengirim tangan-tangan malaikat untuk hidup mereka berdua, Rianti dan Reza.
***
Februari 2014
\"Bawa setan itu pergi...!\"
\"Bang... Reza anak kita, Reza bukan setan, Bang....\" isak Rianti dalam kamar sempit sebelah kandang kambing.
Rumah besar itu milik orang tua Rinto, peternak kambing sukses. Terletak di desa Ganjar Agung, Kota Metro, Lampung. Orang tua Rinto sangat terpandang di kampung mereka. Rinto satu-satunya anak lelaki dengan tiga kakak perempuan, kebanggaan Haji Rahmad, ayahnya. Banyak perempuan yang ingin menjadi istri Rinto harus gigit jari, saat setahun lalu Rinto membawa gadis cantik belia dari sebuah kampung di Nganjuk, Jawa Timur.
Rinto dengan bangga mengenalkan istrinya yang kala itu masih berusia enam belas tahun pada semua orang yang dikenalnya. Semua perlakuan Rinto sangat membuat Rianti bahagia, hingga dokter menyatakan Reza, si buah cinta mereka adalah penyandang hydrocefalus.
***
Akhir Februari 2014
\"Tolong, Pak... aku ini anakmu, anak kandungmu... Reza cucumu.Kami nggak punya tempat lagi selain pulang kesini. Izinkan kami tinggal bersama Bapak dan Ibu.\"
Isak tangis Bu Marni tak dihiraukan Pak Kus, wanita tua itu memeluk kaki suaminya. Rianti duduk bersimpuh di hadapan Pak Kus yang masih terlihat gagah dan jumawa di usia hampir enam puluh tahun. Reza diam dalam gendongan, mencoba memahami dunia di depan matanya.
Pak Kus bersikeras, Rianti sudah dinikahkan secara sah, maka Rianti sudah menjadi milik suami dan keluarga barunya. Bila Rinto sampai mengusir Rianti, maka itu murni kesalahan Rianti. Rianti membawa aib besar bagi keluarga, anak yang terlahir cacat. Pak Kus tak mau menjadi bahan gunjingan orang kampung, maka dengan tegas Rianti dan anak setan itu tidak boleh terlihat selamanya.
***
Sepulang dari rumah sakit, Rianti dan Reza mampir ke pasar. Mbak Tuti, pemilik kios bahan kue sudah menyiapkan bungkusan besar pesanan Rianti.
\"Kuantar pulang, belanjaanmu berat gini. Kamu nggak akan kuat bawanya.\"
\"Suwun, Mbak Tut, nanti kasihan pelanggan lainnya kalau Mbak Tut tutup kios.\"
\"Halah! wes tha, ra sah bawel. Wong cuma dekat.\"
Rianti kembali berucap syukur. Saat hatinya tegar tak meminta dikasihani, saat hatinya ikhlas dengan semua yang terjadi, Tuhan menggerakkan setiap tangan membantunya, menjadi penolongnya.
Ibu Rena yang menemukannya terduduk di trotoar seberang Terminal Nganjuk, membawa Rianti ke Surabaya. Mengurus semua kebutuhan di rumah sakit sebagai peserta pasien miskin. Ibu Rena juga yang mencarikan kontrakan kamar kecil dekat rumah sakit, supaya tidak perlu ongkos kalau mau terapi.
Ibu Rena, malaikat tanpa sayap membawa Rianti menjadi peserta pelatihan masak, membantu Rianti menyisihkan uang dari upah buruh cuci harian. Kini, Ibu Rena kembali membantu Rianti memasarkan kue semprong dagangannya. Rianti selalu ingin memberi hadiah atau bagian hasil jualannya, tapi Ibu Rena tegas menolak. Bagi Ibu Rena, menolong Rianti adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan, setelah dulu dia kehilangan putrinya ketika muda.
***
\"Rianti!\"
Degup jantung Rianti sontak berhenti mendengar suara itu. Rianti turun dari motor Mbak Tuti dengan badan gemetar, tangan kiri memeluk erat Reza yang tertidur dalam gendongan.
\"Aku langsung nang kios ya, Dek,\" ucap Mbak tuti berpamitan, menanggapi keadaan kaku dengan cepat pergi berlalu.
\"Suwun, Mbak.\"
Laki-laki di hadapannya dengan sigap membantu Rianti membawa plastik belanjaannya.
Ah, kenapa kau kembali datang? Saat aku sudah tak ingin mengenang.
Tanpa dipersilahkan, Rinto masuk ke dalam kamar sempit berukuran 3x4 meter. Memperhatikan Rianti meninabobokan Reza di atas kasur tipis tanpa dipan secara perlahan, mengusap peluh di kepala Reza yang besar dengan kain gendongan berwarna kusam.
Reza duduk di sisi kanan Rianti, menarik tangan yang kini terasa sangat kasar, memperhatikan wajah Rianti yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya.
\"Maafkan aku, Rianti. Maafkan aku.\"
Hanya itu yang terucap dari laki-laki yang dulu terlihat perkasa. Air mata mewakili semua kata. Rianti tetap terdiam, mulutnya seolah terkunci, hatinya berkecamuk perang, untuk kisah yang sudah dianggapnya usang.
Rianti tahu Rinto menanti jawaban, menunggu kesempatan kedua yang diberikan. Rianti tak ingin mengingkari hati, luka masih basah, perih masih tersisa, air mata masih menetes. Rianti hanya bisa pasrah berucap, dalam rapal doa yang terlantun di sepertiga malam. Hati ini, jiwa ini adalah mutlak dalam genggaman-Nya.
Tuhan telah memberi kesempatan Rianti dan Reza untuk menjadi tegar dan saling menguatkan. Tuhan memberi kesempatan untuk Ibu Rena dan orang-orang lain menjadi malaikat buat Rianti dan Reza. Maka biarkanlah Sang Pemilik Hati yang memberi jawaban.
***

Other Stories
Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Gm.

menakutkan. ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Coincidence Twist

Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Download Titik & Koma