Final Call

Reads
262
Votes
1
Parts
3
Vote
Report
final call
Final Call
Penulis Melina Sekarsari

1. Semuanya Berawal Dari Sini

SANDRA
Aku bertemu dia di pelataran parkir Tjakra. Bermaksud menitipkan mobil karena jalan menuju tempat tujuan teramat padat dan aku tidak punya cukup kesabaran untuk menunggu.
Kemacetan selalu membuat kepalaku pening, perut mual, dan rasanya ingin muntah. Jika setiap orang sudah Tuhan tuliskan takdirnya untuk menjalani kehidupannya sendiri-sendiri, kenapa kehidupan itu membawa mereka berduyun-duyun ke arah yang sama? Ke tempat ini? Kawasan yang nyaris tidak pernah sepi dan akan semakin padat menjelang akhir pekan.
Tidak ada yang terpikir lagi di kepala selain keluar dari mobil, membiarkan Pak Diro menunggu di sini, dan selekasnya berjalan kaki menuju bangunan bercat putih di belokan jalan, ke arah kiri. Termasuk menolak tawaran Pak Diro untuk membantu membawakan dua kantong besar berisi seragam untuk anak-anak di tempat itu.
Sopir berusia hampir separuh abad itu sedikit menampakkan kekhawatiran di wajahnya. Dia tidak sedang mengkhawatirkan aku, tentu saja. Tapi lebih pada ketakutan di kepalanya kalau sampai Wira tahu dia membiarkanku berjalan sendirian kemudian melarikan diri.
Mungkin karena terlalu tergesa, aku tidak melihat sekeliling. Juga tidak menyadari ada sebuah mobil yang melintas masuk dari gerbang depan. Sebuah Pajero berwarna putih. Terkejut, aku hanya bisa memekik. Dua kantong besar tadi terlepas, menggelinding ke pelataran Tjakra yang dilapisi paving conblock berbentuk segitiga bintang. Seorang lelaki keluar, pengendara mobil itu. Kaki-kaki panjangnya yang dibalut sepasang primeknit shoes berwarna kombinasi hitam dan hijau mendekat.
“Mbak, nggak apa-apa?” wajahnya terlihat cemas.
Aku hanya terdiam memandangi wajahnya. Seraut wajah dengan alis tebal, rambut lurus yang dipotong sangat pendek, hidungnya mancung, dengan bibir yang tipis. Rahang kokohnya tetap terlihat karena hanya ditumbuhi bulu-bulu halus mulai dari atas bibir hingga dagu. Seraut wajah yang kuingat tidak pernah kutemui sebelumnya tapi sanggup membuatku menatapnya tanpa berkedip. Dia mengenakan celana jeans biru muda dan kaos biru benhur bertuliskan ‘I am an Engineer’.
“Mbak…” sapaan kedua menyadarkanku dari keterpanaan.
“I-Iya, saya nggak apa-apa,” ujarku gugup. Suaraku terdengar gemetar. Jariku sibuk membenahi helaian rambut yang berlarian tertiup angin.
“Maaf, saya nggak lihat ada yang lewat tadi…”
“Bu-bukan. Saya yang salah,” lagi-lagi suaraku sama gemetarnya seperti tadi.
Laki-laki itu membungkuk. Mengambil dua kantong besar yang menggelinding di depan mobilnya. Wajahnya sedikit meringis, mengangkat dua kantong tadi ke udara. Matanya bergantian memandangi dua kantong besar tadi dan aku.
“Bukan apa-apa. Cuma kaos,” aku menjawab rasa penasaran yang tergambar di wajahnya.
Bibir laki-laki itu bergerak membentuk huruf ‘o’.
“Lumayan berat. Bawa sendirian?” dia bertanya. Memandangku sebentar saja. Matanya berkeliling. Mungkin mencari-cari apakah ada orang yang lain yang tengah bersamaku atau terlihat menuju ke arah kami.
“Iya. Saya bisa, kok,” kuambil dua kantong besar tadi dari tangannya. Debu menempeli bagian bawahnya.
“Lain kali hati-hati,” pesannya. Terdengar begitu tulus.
Aku diam. Tidak berkata apa-apa. Otakku seperti mogok, gagal mengirimkan pesan agar mulutku mau berbaik hati menjawab pesan itu. Tapi hanya ada dua bola mata yang memandanginya nyaris tanpa kedip. Menghabiskan detik demi detik untuk merekam setiap detail wajahnya. Kedua alis tebalnya, mata sipitnya yang teduh. Hidung mancungnya. Bibir yang mengulaskan senyum. Rahang kokoh dan bulu-bulu halus di sekitarnya, hingga ke dagu, dan sedikit di atas bibir. Seolah-olah rekaman itu akan selamanya tertanam di kepalaku. Menjadi orang yang ingin kutemui lagi di hari-hari selanjutnya.
Sepuluh jari-jari yang panjang berayun di depan wajahku. Menghentakkan lamunan di menit sebelumnya.
“Oh, eh…” kegugupanku belum berakhir. Ah, dia merusak kesenangan menikmati wajahnya.
“Maaf, saya bisa lewat?”
Dari arah belakang mobil, terdengar suara klakson bersahutan. Aku sampai lupa kalau saat ini tengah berhenti di depan mobilnya dan mobil itu baru saja memasuki pelataran. Mobil-mobil lain tentunya menunggu untuk masuk juga.
“Maaf…” aku melangkah mundur, menepi.
Laki-laki itu masuk ke dalam mobil, membuka jendela, menganggukkan kepala, dan berlalu. Aku masih berdiri di sini, menatap mobil itu bergerak mencari tempat yang kosong, berhenti, menunggu beberapa detik hingga pemiliknya keluar, mengambil sesuatu dari pintu bagian belakang, menutup pintunya kembali, dan mengikuti gerakan tubuhnya yang berjalan dengan ponsel menempel di telinga.
Mataku kehilangan sosoknya yang menghilang memasuki pintu Tjakra. Tapi benakku masih mengingat senyuman tulus dan mata teduh miliknya. Ya Tuhan, siapa dia? Kenapa aku harus segugup ini?
ABDI
“Gue udah di parkiran.”
“Iya, sebentar lagi.”
“Ya ampun, berisik banget, sih.”
“Gue udah masuk restonya, nih.”
“Nah, gue udah lihat lo.”
Aku tidak pernah gagal dalam menepati janji. Waktu adalah benda berharga tidak berwujud yang tidak bisa dipermainkan. Ia cuma bisa bergerak maju. Jadi jangan salahkan waktu kalau banyak hal yang tidak kita dapatkan karena bermain-main, kan?
Hari ini, mungkin pertama kalinya aku sedikit terlambat memenuhi janji. Terlambat satu sampai dua menit saja. Ada sedikit masalah ketika memasuki gerbang Tjakra tadi. Seorang perempuan melintas tiba-tiba dan membuatku menginjak rem kuat-kuat atau dia akan tertabrak.
Wajah perempuan itu cantik. Tidak berlebihan kalau kubilang dia terlalu cantik untuk berjalan seorang diri di tengah terik matahari seperti tadi. Kulitnya putih bersih. Bening malah. Ya Tuhan, aku ngeri kalau matahari bakal menciptakan bercak-bercak di kulitnya. Rambutnya hitam sebatas pinggang dengan bagian ujung yang dibuat ikal. Rambut yang terlalu lembut sampai begitu mudah dimainkan angin. Alis matanya melingkar sempurna. Hidung mancung dan bibir mungil. Bola matanya berkerjap indah. Seolah ada bintang-bintang berdiam di dalamnya.
Jangan bilang aku berlebihan. Perempuan itu memang cantik. Toh, berpendapat demikian tidak akan begitu saja membuatku digelari laki-laki mata keranjang, kan? Kurasa juga manusiawi kalau laki-laki suka melihat perempuan cantik.
Tapi perempuan itu membuatku tertawa geli dalam hati. Dia terlalu banyak melamun. Sampai terlalu lambat merespons kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirku. Jangan-jangan dia tengah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tolong dicatat, bagian terakhir itu aku cuma bercanda.
Tjakra ramai sekali siang ini. Sebenarnya aku tidak terlalu suka tempat seramai ini. Tapi lidah dan perutku sudah terlalu ingin melahap habis batagor dan siomay yang enaknya tidak akan bisa dilupakan oleh lidah orang-orang yang punya selera kuliner bagus. Apalagi tempat ini menyediakan lahan parkir yang cukup luas. Aku paling tidak suka datang ke lokasi yang nantinya aku akan duduk-duduk lama tapi tidak tersedia lahan parkir yang memungkinkan.
Hal lain lagi yang kusuka dari Tjakra adalah bangunannya yang didominasi material dari kayu. Berkesan sejuk. Dindingnya terbuka sehingga tidak memerlukan pendingin ruangan lagi. Tidak ada perasaan terkungkung di balik tembok. Seluruh bangunan dari kayu ini dipelitur halus berwarna cokelat tua. Beberapa artikel dari surat kabar yang memuat hidangan legendarisnya digunting lalu dimasukkan ke dalam pigura. Terpasang dengan manis pada beberapa tempat yang memungkinkan dilihat pengunjung.
“Abdi…!” sepasang tangan melambai kepadaku dari sudut ruangan.
Dia tidak berubah. Masih saja suka bertingkah semaunya. Termasuk memanggilku dengan berteriak seperti ini. Padahal tadi sudah kubilang kalau aku sudah melihatnya.
“Amelia… masih kenceng aja suara lo.”
Dia tertawa, berdiri, menarik sebuah kursi untukku.
“Eh, yang lo tabrak tadi, gimana?”
“Dia tuh tiba-tiba lewat pas gue baru masuk gerbang. Kayak orang bingung gitu. Gue tanya malah bengong liatin gue terus. Tapi nggak kenapa-kenapa, kok.”
“Lo apain dia sampai bengong menatap lo gitu?”
“Nggak diapa-apainlah. Cuma bantu ambilin kantong belanjaan dia. Jatuh tadi.”
Kami memesan makanan. Aku memesan lagi. Amelia terpana mengamati. Potongan siomay terakhir baru saja melewati tenggorokan ketika dia mengatakan sesuatu.
“Gue putus.”
Aku terdiam beberapa lama. Mencoba memastikan kalau telingaku tidak salah dengar. “Taksa?” tanyaku, memastikan.
Amelia menganggukkan kepala.
AMELIA
Batagor dan siomaynya Tjakra memang tidak ada matinya. Mau seenak apapun, aku sih cuma sanggup menghabiskan satu porsi batagor atau satu porsi siomay saja, ditambah dengan segelas minuman. Tapi berbeda dengan lelaki yang sekarang ada di depanku ini.
“Lo balik dari kerja atau perang, sih?” tanyaku, demi melihat Abdi melahap potongan-potongan siomay setelah sebelumnya dia menghabiskan dua piring batagor. Segelas es jeruk baru disesapnya sedikit.
Abdi memang penggemar berat menu-menu di Tjakra. Baru sehari sampai di Bandung, dia sudah mengirimiku pesan, minta ditemani makan di Tjakra. Ini adalah sebuah food court berukuran lumayan luas. Namanya juga food court, beraneka makanan tersedia di sini. Tapi tampaknya Abdi cuma ingin menikmati siomay dan batagornya saja.
“Efek habis lihat perempuan cantik.”
Setiap laki-laki pasti suka melihat perempuan cantik, kan?
Aku meletakkan kedua tangan di atas meja. Tangan kanan bertumpu pada tangan kiri. Membiarkan laki-laki di hadapanku itu menghabiskan makanannya. Diraihnya gelas berisi es jeruk di sisi kanan. Menyesapnya perlahan. Gerakan Abdi yang sejak dulu sama. Dia menyesap minumannya, bukan meneguk.
“Ada yang mau diceritain ke gue?”
Kalimat pertama yang diucapkannya setelah kuberi tahu kabar putusnya hubunganku dengan Taksa. Salah satu hal yang kusuka dari Abdi, dia terlihat acuh tapi sebenarnya tidak. Diam, sambil melanjutkan apapun aktivitas yang tengah dilakukannya, baru kemudian menawarkan telinganya untuk mendengar. Dia seperti sudah bisa mencerna apapun berita tidak menyenangkan yang kubawa, selalu ada menit demi menit yang dibutuhkan untuk menarik napas dalam-dalam, mengeluarkannya perlahan, dan mulai mengalirkan cerita tanpa perlu ada kalimat tercekat di tenggorokan.
Akhirnya semuanya mengalir begitu saja. Tentang aku dan Taksa dan masalah-masalah yang kami punya. Tapi ada satu hal yang masih aku simpan rapat-rapat.
Pertemuan kami siang itu hanya berlangsung dua jam saja. Abdi punya janji menjemput Kirana satu jam ke depan.

Other Stories
Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Download Titik & Koma