3. Diantara Dua Sisi
AMELIA
Langit tampak masih benderang ketika kakiku melangkah memasuki Lucky Plaza pukul tujuh malam waktu Singapura. Aku tiba lebih awal dibanding teman-teman dari Acavea yang baru akan berangkat dari Bandung besok pagi. Tiba di sini di malam sebelumnya lebih aman.
Ada waktu untuk merebahkan tubuh dulu sebelum memulai peninjauan lokasi besok pagi sampai sore, disusul dengan rapat bersama klien dan tim yang kuperkirakan baru akan selesai setidaknya pukul tujuh malam. Jam-jam ketika kami semua akan berpikir keras dengan membawa laptop, agenda, pulpen. Dan tiba-tiba mempunyai pemikiran sama bahwa tempat tidur di apartemen kami sebagai best place ever.
Sebagai perusahaan Event Organizer bertaraf internasional, Acavea menerima pekerjaan dari perusahaan-perusahaan multinasional di Indonesia yang acaranya lebih sering dilakukan di luar negeri meskipun contact persons related to the project-nya berkantor di Indonesia. Ini terkait dengan wilayah sesuai kebijakan dari kantor pusat mereka. Acavea sendiri lebih banyak menangani corporate event dibandingkan personal, seperti exhibition, summit, conference, employee award night, atau level terkecilnya di company anniversary celebration.
Kali ini, Scherrero–klien besar kami yang berkantor pusat di Berlin, akan mengadakan konferensi perusahaan-perusahaan di bidang teknologi perkapalan di Singapura. Akan ada lebih dari 200 perusahaan yang diundang dan 90 persen di antaranya dipastikan akan hadir. Orang-orang yang hadir juga dipastikan berasal dari jajaran CEO.
Seperti biasa, ada kick-off meeting sebelum pekerjaan dimulai. Sesuai permintaan aku dan beberapa tim berangkat dari Bandung menuju kantor Scherrero yang berada di kawasan Sudirman, Jakarta. Aku, Handoko, dan Tamara. Dari Scherrero sendiri diwakili oleh Diana, perempuan bertubuh sedikit gemuk dengan rambut sebatas telinga yang di-blow. Menjabat sebagai Sr. Procurement Manager di Scherrero Indonesia.
Kesan hangat dan bersemangat yang kutangkap sejak kami berjabat tangan dan dia melemparkan senyum. Di sebelahnya ada Bimo, Sr. Planning Program yang nantinya akan sering berinteraksi dengan orang-orang Acavea. Tubuhnya tinggi tegap, berambut ikal, cukup tampan seandainya dia tidak pelit tersenyum. Selain mereka berdua, ada dua orang lainnya yang berasal dari departemen yang sama dengan Bimo.
Hotel berbintang empat, ballroom–sepertinya aku akan merekomendasikan conference venue, premier room, airport pick up and delivery, breakfast, lunch, dinner, MC, physical slide presentation, merchandise, and entertainment. Daftar pekerjaan yang harus segera dieksekusi menuju hari pelaksanaan konferensi. Biaya membengkak karena siapapun tahu biaya-biaya di Singapura tidaklah murah.
Itu sebabnya, tidak bisa tidak, Taksa mengirimku ke Singapura bersama lima orang Acavea Project Team. Sebagai pemegang otoritas di Finance Department setelah Taksa, aku harus benar-benar mengawasi besarnya biaya yang keluar, termasuk dengan perhitungan margin terkait penawaran harga kami ke Scherrero.
Ada Handoko, Denny, Ira, Lia, dan Tamara yang terlihat tidak terlalu suka aku ikut serta bersama mereka. Bisa jadi mereka bersorak bersama mengetahui aku berangkat lebih awal ke Singapura. Apa enaknya pergi bersama-sama orang yang setiap saat sibuk menghitung biaya operasional? Mungkin itu yang ada di kepala mereka. Sayangnya mereka lupa, keberangkatan mereka menggunakan uang perusahaan yang harus bisa dipertanggungjawabkan.
“Sebenarnya sih, project aja yang berangkat nggak masalah,” kata Ira.
“Bukan kali ini juga kan, kita dapat proyek di Singapura?” ini suara Tamara.
“Kalau soal price list, vendor kita di Singapura itu banyak. Statusnya juga excellent, kan?” Handoko yang terlihat paling tidak suka aku ikut terlalu dalam pada pekerjaan ini.
Acavea memang sudah punya listing vendors di beberapa kota di Indonesia dan mancanegara. Singapura salah satunya. Setelah menyelesaikan pekerjaan, kami biasanya akan mengeluarkan Statement of Acceptance, sebagai bukti bahwa pekerjaan sudah dilaksanakan oleh vendor dan pembayaran sudah diselesaikan oleh kami. Dikeluarkan maksimal 90 hari setelah event selesai dilaksanakan. Tentu untuk memberikan jeda bagi masing-masing pihak untuk mengevaluasi jalannya event.
Di dalam Statement of Acceptance itu kami selalu mencantumkan status vendor yang kami pakai. Mulai dari poor, common, good, dan terbaik berstatus excellent. Dibuat dua rangkap dan satunya dikembalikan kepada kami beserta status apreasiasinya juga. Biasanya sih ini terkait dengan lambat tidaknya pembayaran dari kami.
“Event kita di Singapura belum pernah sebesar ini. Ingat lho, ada 200 participants yang akan hadir,” aku mencoba menjawab dengan nada tenang.
“Ada bedanya 200 participants di Indonesia dengan 200 participants di Singapura?” Handoko bertanya sambil memicingkan mata.
“Ada. Artinya, aku harus lebih cerdas meminta best price dari vendor. Kalian semua, pakai saja otak kreatif dan imajinatifnya, ya.”
Rapat internal dengan Project Team usai kick-off meeting kami di Scherrero berlangsung panas. Ada saja usulanku yang ditolak oleh Handoko. Sebagai leader di Project Team, keikutsertaanku akan menjatuhkan harga dirinya seolah-olah dia cuma kacung yang pekerjaannya harus diawasi. Tapi seharusnya dia juga tahu bahwa penting bagiku mengetahui detail keuangan dari pelaksanaan event, apalagi yang sebesar ini. Rapat berakhir dengan dengusan napas Handoko pada raut wajah marahnya.
Peninjauan lokasi dan rapat dengan vendor kami lakukan sejak dua bulan sebelum pelaksanaan konferensi. Pada akhirnya, Handoko tidak bisa menolak ketika Taksa mengirimku ke sini untuk ikut serta. Termasuk bahwa kami harus tinggal bersama di apartemen, bukan di hotel seperti yang dia mau.
Perjalanan dinas ke Singapura yang melelahkan dan mempertaruhkan kredibilitasku dalam bekerja, bukan hanya menumpang karier pada Taksa.
***
Kepulan asap rokok yang keluar dari bibir terus menemani jarum jam yang semakin dekat menuju tengah malam. Mengisap rokok sambil berdiri di depan jendela yang terbuka pada malam-malam begini selalu kulakukan ketika kepala sudah terlalu sesak dengan pekerjaan. Asia Afrika masih menyisakan kemacetan. Hampir pukul 11 malam dan aku sama sekali tidak kedinginan berdiri di sini. Udara malam Bandung yang menghangat. Jauh berbeda dari puluhan tahun lalu.
“Pulang?” sepasang lengan kokoh melingkari pinggangku. Tanpa menoleh aku sudah tahu siapa. Terlalu banyak melamun, sampai tidak menyadari kedatangannya di ruangan ini.
Kuputar ujung rokok yang masih menyala di kusen jendela, melindasnya hingga habis. Meninggalkan aroma tembakau. Lengan kokoh itu memutar tubuhku menghadapnya. Mendaratkan ciuman di bibir.
“Aku belum selesai. Kamu?” kumainkan kerah kemejanya.
“Wajah kamu kelihatan capek. Iya?” ibu jarinya sigap berpindah ke pelipisku. Memijatnya perlahan. Mengalirkan peredaran darah yang sejak tadi seolah tersumbat.
“Thank you…” aku hanya bisa memejamkan mata. Menikmati aliran cinta dari pijatan lembutnya.
Ini adalah pertemuan pertama kami sejak keberangkatanku ke Singapura minggu lalu. Empat hari tiga malam dan pesawat yang dinaiki Taksa membawanya ke Hongkong–ada rapat dengan kantor pusat Acavea di sana selama satu minggu, terbang tiga jam sebelum pesawat dari Singapura membawaku kembali ke Jakarta. Jadi praktis, kami tidak bertemu selama hampir dua minggu.
“Ambil tasmu. Aku antar pulang,” sebuah kecupan mendarat di kening.
“Tapi, aku belum…”
“Senin bisa, kan?”
Aku hanya mengiyakan. Taksa belum tahu bahwa materi untuk pertemuan Senin besok belum siap. Dia memang pacarku, tapi sebagai atasan, Taksa sangat berdedikasi tinggi pada pekerjaannya. No excuse untuk setiap keterlambatan, termasuk dariku sendiri.
Perjalanan dari Asia Afrika menuju tempat tinggalku di Antapani sedikit tersendat. Kulirik Taksa yang sudah beberapa kali juga menguap. Dia terlalu lelah bekerja. Sebagai salah satu pemegang saham lokal tunggal Acavea–60 persennya dimiliki oleh Acavea Limited Co dari Hongkong, Taksa tergolong sebagai orang yang tidak begitu saja percaya pada karyawan-karyawannya. Dia datang pagi-pagi sekali dan pulang seperti ini, saat hari hampir berganti.
Seringkali kuingatkan untuk menyerahkan pekerjaan pada orang-orang yang sudah ada, tapi sulit. Ketika semua masalah sudah berkumpul di kepalanya, dia akan begitu mudah meledak. Siapa lagi orang pertama yang akan merasa tidak nyaman kalau bukan aku!?!
Di perempatan Ahmad Yani, lampu merah menyala. Taksa mengusap wajahnya dengan dua telapak tangan. Menolehkan kepala dan melemparkan pandangan bertanya. Mungkin baru menyadari kalau sejak tadi aku memperhatikannya.
“Kenapa?”
“Kamu nggak terpikir butuh liburan?” kuusap lembut lengannya.
“Liburan?”
“Iya, pergi ke suatu tempat satu atau dua hari.”
Taksa tidak menjawab. Alisnya bergerak naik turun. Bola matanya berputar. Sepertinya dia tengah berpikir. Bunyi klakson sahut-menyahut. Lampu merah di depan belum lagi menyala. Taksa mengumpat pada orang-orang yang seolah tidak mau mengerti bahwa merah artinya berhenti.
“Ke mana?”
“Aku belum tahu. Tapi kamu udah terlalu capek kerja.”
Taksa terbahak. Menatap wajahnya dari spion tengah. Aku tertawa saat dia bilang terlihat lebih tua dari yang seharusnya.
Lampu mulai menguning dan sesaat kemudian kembali hijau. Don’t Wanna Miss A Thing dari Aerosmith mengalun lembut. Kami berbincang tentang lagu itu dan lagu-lagu lain yang enak didengar oleh telinga. Juga tentang lagu yang populer saat masing-masing dari kami masih bersekolah dulu. Sesekali ia meledek dengan mengatakan bahwa selera musikku tidak keren. Dia tertawa-tawa saat kupukuli lengannya. Taksa terlihat berbeda malam ini. Mau menepikan urusan pekerjaan dari bahasan kami.
Aku menyukai saat-saat seperti ini. Ketika hanya ada aku dan Taksa. Melupakan sejenak bahwa ada pekerjaanku yang belum selesai dan mungkin akan membuat dia marah Senin besok.
Tawa kami terhenti saat rumah berpagar putih sudah terlihat di depan rumah. Lampu dari dua kamar tidur terlihat gelap. Hanya ada temaram dari arah ruang tamu. Mungkin lampu duduk saja yang dinyalakan. Sepertinya semua penghuni rumah sudah tidur.
Taksa meraihku dalam pelukannya. “Kita nggak pergi malam ini aja?” ada harap dalam nada suaranya.
Kuusap lembut kedua pipinya, “Aku mesti ketemu anak-anak dulu. Kamu tahu, kan?”
Ia mengangguk sambil tersenyum. Sedetik kemudian bibirku sudah tenggelam dalam bibirnya. Suara kentongan dari petugas keamanan dan remaja yang bergantian ronda, terdengar dari kejauhan. Taksa belum ingin melepaskan. Mungkin dia merasa aman dengan kaca mobilnya yang pekat.
“Jemput aku besok siang,” ujarku dengan napas yang masih terengah.
“Bilang anak-anak kita pulang Minggu malam,” dia mengerlingkan mata. Membuatku tergelak. Mobil Taksa berlalu ketika aku sudah selesai mengunci pintu ruang tamu. Dia selalu begitu. Memastikan aku sudah masuk ke dalam rumah sambil melambaikan tangan dari jendela yang tirainya sedikit kusibakkan.
***
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...