2. Unexpected Marriage
SANDRA
Seorang perempuan berusia hampir setengah abad menghampiri ketika aku memasuki ruang tamu. Tangannya cepat terulur meraih kantong belanjaan di tangan kananku. “Terima kasih, Mbok.”
“Ibu mau makan dulu?” seperti biasa, perempuan itu berbicara sambil setengah menganggukkan kepala.
“Makanan sudah siap,” tangannya menunjuk ke arah ruang makan.
“Bibi udah makan?”
Perempuan itu menggelengkan kepala. “Nunggu Ibu dulu.”
Mataku menatapnya hangat. “Saya ke atas sebentar, ya. Belanjaan saya tolong disimpan dulu.”
Dia mengangguk patuh. Memberikanku jalan untuk melangkahkan kaki melewati tangga. Menuju kamarku di lantai dua.”
Kami berdua makan siang bersama. Seperti biasa, ia mengambilkan sedikit nasi ke dalam piringku, sayuran dalam jumlah besar, dan sepotong ikan dengan bumbu berwarna kekuningan. Dia duduk di sampingku. Makan siang yang sedikit terlambat karena sekarang sudah pukul dua siang.
Aku tidak terpikir untuk memintanya makan siang terlebih dulu, tidak usah menungguku. Tidak bisa seperti itu. Kami biasa makan siang bersama. Mungkin terdengar aneh. Seorang nyonya rumah makan siang bersama seorang asisten rumah tangga, duduk bersebelahan, hanya makan siang, karena nyaris tanpa percakapan.
Mbok Harmi sudah bekerja di rumah ini sejak lima belas tahun yang lalu. Hanya berselang dua bulan sejak Raka lahir. Ini menjadi tahun kedua belasnya menemaniku makan siang. Setiap hari, kecuali jika Raka ada di rumah. Aku tidak pernah memintanya menemaniku makan siang. Dia yang mengajukan.
Semuanya bermula ketika aku jatuh sakit. Rasa melilit yang luar biasa di ulu hati. Dokter bilang karena pola makanku tidak teratur. Itu memang benar. Jangankan makan, hidup pun rasanya aku sudah tidak mau.
Mbok Harmi yang saat itu menangis-nangis, memohon-mohon agar aku mau makan. Tidak ingin lagi melihatku jatuh sakit. Dia juga yang berjanji menemaniku makan siang setiap hari. Dia menepati janjinya hingga hari ini.
Sebagai nyonya rumah, aku seharusnya duduk di ujung meja. Tapi aku yang menolak. Memilih duduk bersebelahan dengannya. Bukan karena aku tidak ingin membedakan antara nyonya rumah dan pekerja. Aku tidak sebaik itu. Ini hanya soal keegoisan. Aku yang seringkali masih terseret dalam lamunan lalu berlanjut dengan pelupuk mata yang mengambang. Ini hanya agar Mbok Harmi tidak melihat itu.
“Tadi Nenek telepon. Cari Ibu,” perempuan bertubuh gemuk dengan rambut yang selalu digelung itu menyampaikan. Tangannya cekatan membereskan piring-piring, usai kami makan bersama.
Aku sedikit mendengus. Ada rasa tidak suka. Nenek yang dia maksud adalah mamaku. Kulirik pergelangan tangan. Tanggal berapa ini? Bukankah baru seminggu yang lalu aku memberikan sejumlah uang? Masa sudah habis lagi?
Mama tinggal tidak jauh dari rumah kami. Hanya 30 menit perjalanan dengan mengendarai mobil. Kalau mama mau, beliau bisa memintaku mengirimkan sopir untuk menjemput. Beliau bisa bermalam di rumah beberapa hari sambil melepaskan rindu pada cucunya, anakku. Tapi itu tidak pernah dilakukannya. Aku tawari pun selalu menolak. Ada saja alasannya. Sibuk mengurus ini dan itu.
Ah, khayalan itu semestinya sudah berhenti melintas di kepala sejak dulu, belasan tahun yang sudah lewat. Aku harus menerima kenyataan bahwa mama menghubungi bukan karena sebuah perasaan bernama rindu atau peduli. Uang tidak pernah kalah menyita perhatian seorang manusia dibandingkan anaknya sendiri. Setidaknya itu yang terjadi padaku.
***
“Ibu!” teriakan Raka membuatku menoleh cepat. Menyunggingkan senyum lebar. Hanya Raka yang berhasil melakukan itu.
Ia berjalan cepat meraih punggung tanganku, mengecupnya hangat, yang kubalas dengan kecupan dalam di pucuk kepalanya.
“Udah siap?” matanya memandang berkeliling. Mengitari teras belakang yang penuh dengan goodie bag berserak. Beberapa asisten rumah tangga tengah membantu memasukkan susu kotak, biskuit, wafer, cokelat batang, permen, buku tulis, peralatan tulis, dan tas ke dalam goodie bag berukuran besar.
“Dihitung lagi ya, Bi! Seharusnya ada 100 pak,” kataku mengingatkan.
Kutarik tangan Raka ke sudut lain, lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong besar berwarna merah. Sebuah kaos berwarna putih dengan aksen biru di bagian lengan yang baru saja kuambil dari sebuah konveksi.
“Coba lihat. Bagus, nggak?”
Raka meraih kaos itu dengan tangannya. Kepalanya mengangguk dan tersenyum. Rambut hitam tebalnya ikut berayun ketika dia menganggukkan kepala. Mengatakan bahwa dia suka dengan kaos itu. Aku tersenyum lega.
Terdengar suara deheman. Seseorang berdiri di depan pintu kaca yang memisahkan ruang makan dengan teras belakang ini. Wira. Raka berjalan mendekat ke arahnya. Melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya padaku tadi. Meraih punggung tangan laki-laki itu, mengecupnya dalam. Laki-laki itu menepuk-nepuk punggung Raka. Mereka bercakap-cakap sebentar.
Aku tidak bisa mendengarnya dari tempatku berdiri sekarang. Raka kembali berjalan ke arahku sementara laki-laki itu berlalu ke dalam rumah. Mungkin kembali ke kantor, menuju ke ruang kerjanya di lantai tiga, atau menuju ke kamar tidurnya yang bersebelahan dengan ruang kerja.
Tinggal beberapa hari lagi menuju perayaan ulang tahun Raka yang ke lima belas. Raka adalah putraku dan Wira. Buah dari pernikahan kami yang hadir di perutku tidak lama setelah kami menikah. Hanya berselang satu bulan. Raka kecil tumbuh menjadi remaja yang ganteng, pintar, baik hati, dan santun. Semua orang di rumah ini menyayanginya. Aku, Wira, hingga para asisten rumah tangga, sopir, tukang kebun, sampai ke penjaga keamanan rumah.
Prestasinya di sekolah luar biasa. Selalu berhasil menduduki juara umum di sekolah. Wira menawarinya hadiah ulang tahun mewah dengan diperbolehkan mengajak teman-temannya berwisata ke mana pun Raka suka. Tapi dia menolak, Raka hanya ingin merayakannya bersama adik-adik dari panti asuhan. Jawaban yang membuat Wira terkekeh saat mendengarnya.
Inilah kesibukan di rumah kami saat ini. Mempersiapkan bingkisan yang ingin Raka bagikan di sana. Raka ingin kedua orang tuanya hadir. Aku pasti hadir, tentunya. Wira mungkin hadir, mungkin juga tidak. Meskipun aku ingin dia hadir. Bukan untukku, tapi untuk Raka. Setidaknya Raka tidak akan malu dan sedih kalau ada yang bertanya di mana ayahnya saat hari yang istimewa untuknya. Seharusnya tidak akan sulit bagi Wira untuk menyempatkan hadir. Untuk Raka, bukan untukku, bukan untuk kami.
Begitu juga yang selama belasan tahun aku jalani di rumah ini. Jika sampai saat ini aku masih berada tinggal di sini, menikmati rumah mewah, kamar tidur mewah, mobil mewah, pakaian mewah, dilayani banyak asisten rumah tangga, itu semua karena Raka. Sesuai kesepakatan yang kami buat hampir 10 tahun lalu.
“Kamu bisa datang besok lusa?” tanyaku ketika berpapasan dengan Wira di lantai dua.
“Aku kira kamu nggak akan peduli aku datang atau nggak,” Wira memasang senyum sinis. Jarinya bergerak memasang kancing di pergelangan tangan. Sepertinya dia sudah bersiap pergi.
“Untuk Raka,” aku menjawab pendek. Menahan diri untuk tidak mengucapkan kalimat lainnya.
Wira tidak mengucapkan apa-apa. Langkah kakinya bergerak cepat menuruni tangga. Kuhembuskan napas. Berjalan menuju kamar tidurku. Sebelumnya ini adalah kamar tidurku dan Wira. Tapi itu dulu. Sebelum rumah tangga kami semakin hancur dan akhirnya kami berpisah kamar tidur sejak delapan tahun lalu. Dari sini, aku bisa melihat pemandangan di bawah sana. Wira memasuki mobil. Dalam hitungan detik, mobil hitam itu melesat meninggalkan halaman.
***
Perayaan ulang tahun Raka akan dimulai sepuluh menit lagi. Belum ada tanda-tanda kemunculan Wira. Raka berulang kali mondar-mandir menghampiri. Matanya menyiratkan tanya.
“Belum datang. Sebentar lagi ya, Sayang.”
Remaja tanggung itu hanya mengangguk. Kembali bergabung bersama adik-adik dari panti asuhan yang sudah berkumpul di restoran ini. Ada 60 anak perempuan dan 40 anak laki-laki. Usia mereka berkisar antara empat hingga delapan tahun. Kasihan, sekecil itu dan tidak lagi mempunyai orang tua. Raka beruntung. Meskipun hubungan kedua orang tuanya tidak seperti yang diinginkan.
Anak-anak itu berasal dari panti asuhan yang sama. Mempunyai banyak anak asuh tetapi tidak mempunyai donatur tetap. Pengelola hanya mengandalkan dana pribadi dan santunan dari donatur yang terkadang hanya mereka terima beberapa kali dalam setahun. Waktu kedua kalinya datang ke sana untuk mengantarkan kaos seragam yang rencananya akan dikenakan anak-anak itu di perayaan ulang tahun Raka, mataku tertuju pada seorang anak yang usianya belum genap lima bulan.
“Anak ini ditinggal seseorang di depan pintu panti,” Ibu Khadijah, pengurus panti menceritakan. Matanya menatap penuh cinta pada bayi itu. Jemarinya digenggam erat oleh si bayi.
Tidak lama kemudian, Ibu Khadijah mengulurkan bayi itu padaku setelah sebelumnya aku mengulurkan tangan, meminta diberi kesempatan untuk menggendong.
“Sebentar aja, ya.”
Dahiku berkerut. Melemparkan tanya.
“Supaya nggak bau tangan. Semua bayi di panti asuhan itu jarang digendong. Kalau keseringan digendong nanti maunya digendong terus. Padahal banyak anak-anak yang harus diurus juga.”
Kuanggukkan kepala tanda mengerti. Membawa bayi itu ke dadaku. Membiarkannya merasakan detak jantungku. Mengusap punggungnya lembut. Rambutnya tebal dan ikal. Lucu sekali. Aku meletakkannya di tempat tidur. Bibir bayi itu berdecap. Bola matanya yang bulat begitu jernih. Kami berbincang.
Sekejap saja, senyum laki-laki yang kujumpai di Tjakra menghilang, berganti dengan senyum bayi itu. Setelah selama perjalanan dari Tjakra ke panti ini, ingatanku bersorak mengingat senyum dan mata teduhnya, pada setiap langkah kakiku.
Acara perayaan ulang tahun Raka berjalan lancar. Anak itu tampak sangat bahagia. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihatnya bahagia.
Wira datang di setengah jam terakhir. Memeluk dan mencium Raka, memberikan ucapan selamat. Aku tidak terlihat olehnya hingga akhir acara. Mereka berdua pulang dengan mobil yang sama. Meninggalkanku sendirian. Sebuah mobil berhenti, kukira Pak Diro, tapi bukan, itu mobil Wira. Pintu belakang terbuka. Raka berlari keluar.
“Ibu, aku pulang sama Ayah, ya.”
Aku mengangguk. Tersenyum. Raka tidak pernah melupakanku.
***
“Mbok Harmi titip bilang sama kamu nggak kalau Mama telepon?” suara di seberang terdengar terlalu nyaring di telingaku.
“Iya.”
“Kenapa kamu nggak telepon balik?”
Aku meminta maaf karena sibuk mengurus perayaan ulang tahun Raka kemarin. Termasuk mempertanyakan alasan kedua orang tuaku tidak hadir di perayaan ulang tahun cucunya. Membiarkan Pak Diro kembali ke restoran dengan mobil kosong seperti saat dia berangkat menjemput ke rumah mama. Tapi mama tetaplah mama yang selalu benar. Pembicaraan seperti ini hanya akan berakhir kalau aku sudah menyampaikan kalimat, “Hari ini aku transfer, Ma.”
Telepon ditutup sepersekian detik setelah aku mengatakannya. Benar, kan? Posisiku sebagai anak hanya dinilai sebatas jumlah uang yang kukirimkan. Tidak berbeda dengan Wira. Posisiku sebagai istri hanya untuk merawat dan membimbing Raka saja. Anak yang beruntung karena dilimpahi begitu banyak uang dari ayahnya. Semuanya milik Raka. Tapi Mama selalu punya cara untuk ikut menikmatinya.
Pernah ada suatu masa ketika Raka jatuh sakit. Aku begitu kebingungan. Wira yang saat itu tengah berada di Kuala Lumpur, pulang dengan penerbangan terakhir malam itu dan tiba di rumah sakit dengan wajah penuh kekhawatiran. Demam tinggi Raka turun sesaat setelah Wira datang. Tangannya menarik lenganku. Di depan pintu kamar, dia mendekatkan bibirnya ke telingaku.
“Ngapain aja kamu sampai Raka sakit begini? Kalau terjadi sesuatu sama Raka, kamu tahu aku bisa mengusirmu ke jalan. Pulang ke rumah orang tuamu yang suka meminta-minta uang itu.”
Wira kembali masuk ke dalam kamar. Dinding di lorong ruangan rawat inap saat itu terasa begitu sempit. Lorong ini terasa begitu sunyi. Terlalu sunyi hingga isakanku terdengar begitu kencang, memantul-mantulkan duka di antara dinding kamar.
Wira lewat di depanku, diikuti Mbok Harmi yang menarik koper hitam besarnya. Sepertinya dia akan pergi lagi. Mungkin ke lokasi pertambangan tempat usahanya dijalankan di hutan Sulawesi sana. Salah satu pekerjaan Wira memang begitu. Meninjau langsung lokasi tambangnya. Mengikuti rapat demi rapat bersama tim di lapangan, klien, meskipun sering juga kudengar dia menghabiskan waktu di lokasi sebentar saja. Selebihnya menghabiskan waktu dengan investor-investornya di klub malam, hingga ke tempat tidur. Dulu begitu. Mungkin juga saat ini masih.
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Mentari Dalam Melody
Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...