Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

2. Salah Sandaran

Keraguanku tertutupi dengan hadirnya brosur pendaftaran beasiswa ke universitas Al-Azhar. Bahagia dan harapan telah bercampur baur di dalam hatiku. kenapa tidak, selama ini kebingungan "Akan kuliah ke mana" telah terjawab. Kini di hadapanku gerbang kesempatan ini telah menampakkan wujudnya. Bagiku, hanya tinggal membuka kuncinya agar semua yang kuinginkan selama ini dapat kugenggam.
Tepat di pertengahan semester, di kelas akhir, seperti biasa para santri masuk ke lokal masing-masing. Hari itu mungkin hari yang biasa menurut teman-temanku, namun merupakan hari yang luar biasa bagiku. Kulangkahkan kaki menuju lokal. Setelah masuk, akupun duduk terdiam. Sambil mengulangi hafalan dengan santai, tiba-tiba Ustaz Mukhlis masuk ke dalam lokal dan bertanya, "Apakah di sini ada yang hafal Al Qur'an sampai lima juz?"
Karena bingung tak kuangkat tangan dan hanya berkata, "Ada, Ayah. Kalau boleh tau ada apa Ayah?"
Beliau menjawab, "Ada seleksi beasiswa ke Timur Tengah dan persyaratannya adalah hafal lima juz. Siapa yang berminat silakan nanti datang ke kantor untuk mendaftar."
"Ayo Bal, tunggu apa lagi?" kata teman yang duduk sebangku denganku. Dimulai dengan senyuman aku pun berkata, "Iya, insya Allah nanti kita coba ya."
Sorenya, dengan segera kucoba hadir ke kantor. Sesampainya di sana, kudapati Ustaz Mukhlis yang sedang duduk di kursinya sambil menghadap komputer. Kucoba mendatangi beliau dengan salam dan mendekatinya, "Assalamu'alaikum… Ayah"
"Waalaikumussalam… ada apa Nak?" sapanya.
"Saya ingin daftar seleksi beasiswa yang tadi pagi Ayah umumkan di lokal kelas tujuh," aku pun mendaftar dan disambut baik oleh beliau. Setelah pendaftaran selesai, Ustaz Mukhlis memberi tahu semua informasi dan persyaratan untuk mengikuti seleksi beasiswa itu.
Aku pulang dari kantor tak hanya membawa selembaran bukti pendaftaran, namun juga membawa kabar yang menambah percaya diri, yaitu kabar bahwa ada dosen yang berasal dari sana, dan kabarnya dia akan menemani kami seleksi dan keponakannya yang juga kebetulan akan mengikuti seleksi. Saat itu, semakin membara semangatku. Senyum yang terpancar di wajah Ustaz Mukhlis menambah semangatku. Terlebih saat dia berkata bahwa, "Insya Allah kalian akan lulus semua," saat itu hati berbisik bahwa keberhasilan sudah di ambang mata. Dan sebentar lagi kelulusan akan melukiskan simbolnya di alam takdirku.
Satu peringatan penting disampaikan Pak Mushri yang membawa kami seleksi ke Jakarta, dan kala itu punya hubungan erat dengan kedubes Mesir, "Kalian harus saling mengajari, baik di hafalan Al Qur'an, maupun di bahasa Arab, agar semuanya bisa sama-sama lulus," itulah nasihat yang dilontarkan untuk kami. Kami yang saat itu berjumlah empat orang dan salah satunya adalah keponakan Pak Mushri, meyakini bahwa beliau akan membantu kami, baik dalam urusan pendaftaran dan juga kelulusan.
semua urusan berjalan lancar, hingga datang hari seleksi beasiswa. Semuanya mulus. Baik di ujian lisan maupun tulisan. Jujur, pada saat itu ada hal yang lain yang menjadi keyakinanku selain kepada Tuhan, yaitu Pak Mushri yang katanya akan membantu kami semua. Usai dari seleksi, kami pun pulang ke kampung masing- masing. Waktu berjalan sebulan. Hati bertanya-tanya akan kabar kelulusan itu. Apakah akan mendengar kabar baik atau kabar yang mungkin dapat membuatku sedih. Tak ketinggalan temanku yang lainnya pun bertanya-tanya. Namun berulang kali ditelepon kami hanya menemukan jawaban "Belum ada kabar". Bercampur dengan gelisah dan keheranan, hatiku bertanya, "Kenapa belum ada? Padahal, katanya paling lambat sebulan sudah ada kabar."
Seminggu dua minggu pun berlalu. Kini, waktu telah terlewati sebulan setengah, namun kabar tak juga datang. Keesokan harinya, teman dekatku memberi kabar bahwa saudara Pak Mushri telah lulus dan dalam waktu dekat akan berangkat dengan satu temannya lagi. Kesedihan itu tak terelakkan lagi. Hanya lembut tutur dan nasihat dari ibuku yang dapat mengeringkan air mata. Padahal waktu itu keyakinan sudah sangat kuat adanya, hingga bahkan kupersiapkan semua yang mungkin dibutuhkan untuk keberangkatan.
"Sabar ya Nak, insya Allah tahun depan bisa kamu coba lagi," tutur ibuku yang turut sedih setelah mendengar kabar ketidaklulusanku.
Di tahun depan, kesempatan ini tak kubiarkan lagi. Walau saat itu sudah kuliah di Medan. Tetap kurelakan tidak masuk kuliah hanya untuk mencoba seleksi ke luar negeri. Dukungan dari orang tua menambah energi dalam semangatku. Hingga ibuku berkata, "Jangankan satu tempat, andaikan kamu seleksi di dua tempat, pasti akan Ibu biayai untuk ongkosnya," kata-kata itu sungguh luar biasa. Di tahun 2012, kucoba untuk mendaftar. Kali ini tanpa ditemani siapapun dan tanpa percaya kepada siapapun selain Allah. Aku memberanikan diri untuk mengikuti seleski. Semua persyaratan telah dipenuhi. Telah kuatur waktuku untuk mengulangi pelajaran di pesantren, dengan harap kiranya dapat membantuku saat ujian seleksi nanti. Kota Medan yang hadir memberi kesempatan seleksi beasiswa kusambut dengan senyum. Bagiku dialah wasilah dari Allah untuk mewujudkan mimpiku. Bagaimana tidak, selama ini seleksi hanya bisa di Jakarta, tapi kali ini bisa di Kota medan, sungguh nikmat yang sangat besar.
Usaha dan kerja kerasku menjawab hasilnya. Dan telah menunjukkan wujudnya di pengumuman kelulusan. Rasa syukurku yang tak berujung itu hadir diiringi air mata gembira. Hingga saatnya akupun menjadi mahasiswa universitas Al-Ahgaff Hadhramaut, Yaman.
Tak semua yang hadir dan berwujud bisa disandingkan atau disamakan, karena ada ketentuan dan memang sudah menjadi hukumnya seperti itu. Ya, dari kisah ini terbukti semuanya. D imana saat kita menempatkan Allah berada di posisi nomor dua, dan yang nomor satu adalah ciptaannya, maka hasilnya adalah kekecewaan. Saat kita dapat berdiri tegak, saat itu kita berkata aku hebat, dan aku kuat. Namun saat kaki tak dapat lagi bertumpu, tak ada pengakuan selain Dia-lah yang maha hebat. ini adalah ciri-ciri kebanyakan dari ciptaan Allah. Lupa dengan wujudnya, lupa dengan siapa yang menciptakan dan mengaturnya.
Saat itu aku sadar bahwa Allah melambatkan jawabannya, semua itu karena salahku. Awalnya kebanyakan dari kita mengira salah di teori, atau kurang kesungguhan, atau alasan inilah dan itulah. Padahal, ketika dua cerita dikaitkan, terlihatlah titik kesalahan kita. Titik di mana kita berharap kepada ciptaan dan mengabaikan Penciptanya. Akibatnya, jika dengan cara yang salah ini seseorang tetap mendapat keinginannya, akan ada rasa takabur dan sombong. Kenapa? Karena dari awal perjuangannya hanya bersandar dengan kekuatan makhluk. Maka hasilnya juga akan menguatkan dan mengagungkan makhluk. Sementara yang maha agung adalah sang Khalik, yaitu Allah.
Tapi, ada tapi nya nih. Alhamdulillah, dalam hati masih ada pertolongan Allah. Aku sadar, kasih sayang Allah masih meliputiku. Andai saja di jalan yang pertama (berharap kepada orang) aku diluluskannya, pastilah rasa syukurku pada saat itu berkurang, dan semakin sedikitlah permohonanku kepada-Nya. Tapi karena Allah ingin doaku semakin banyak, dan rasa syukurku semakin besar, Allah memberi jalan yang kedua (banyak berharap pada Allah), di mana aku berinteraksi secara langsung dengan-Nya, apalagi di saat itu aku yakin Allah ingin agar aku lebih dekat dengan-Nya, sehingga doa yang kupanjatkan lebih banyak dari yang pertama. Hasilnya, Alhamdulillah, lebih manis dibandingkan jika aku lulus di langkah yang awal. Intinya, jangan nomor duakan Allah, tetap harus pertama. 

Other Stories
Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Ijr

hrj ...

Download Titik & Koma