Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.1K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

5. Jika Sudah Boleh Dua, Bolehlah Tiga, Bahkan Seterusnya

Di bumi Hadhramaut, tepatnya di Kota Seiwun. Tertuju memoriku dengan suatu keluarga dari keturunan alawiyin (keturunan Nabi Muhammad SAW dari jihad Husein bin Ali bin Abi Thalib). Kisah kehidupan keluarga yang tinggal di bumi yang subur, suburnya tanah Hadhramaut itu sesubur hati kedua orang tua ini dalam mendidik anaknya. Sejak kecil, anak dibiasakan hidup dengan prinsip yang kuat, tidak lemah apalagi cengeng. Semua itu terbukti saat sang anak pergi bermain dan pulang dengan air mata mengalir di pipinya. Jika hal itu terjadi, maka akan keluarlah nasihat pedas yang keluar dari lisan suci sang ayah.
Setiap harinya, pasti akan ada suatu jadwal di mana anak-anak tidak akan bisa melihat permainannya. Semua harus belajar dan tidak sedikitpun boleh melanggar peraturan, menjadi orang pintar adalah hak bagi setiap insan, itulah rasa percaya diri yang selalu tertanam di hati mereka. Afirmasi yang selama ini mereka lakukan seakan telah mendarah daging di tubuh mereka. "Katakan Nak, aku orang hebat, aku orang kuat dan pintar, aku akan menjadi ilmuan yang bermanfaat bagi semua orang di sekelilingku. Aku tidak boleh lemah. Di manapun aku berada, aku harus menjadi yang terbaik, aku harus unggul!". Itulah kata-kata yang tak pernah lepas tiap harinya dari seorang anak. Dan semua itu adalah hasil dari bimbingan orang tuanya.
Suatu hari sang anak berkata pada ayahnya, "Ayah, di sekolah ada cerdas cermat Yah, Adik boleh ikut gak Yah?"
Sang ayah menjawab, “Boleh Nak, kamu kan anak yang pintar. Kamu harus ikut. di samping itu Ayah akan mendoakan agar kamu mendapatkan juara, karena juara itu adalah hak bagi anak Ayah," dengan senyum yang terbit dari rasa percaya diri, sang anak memeluk ayahnya.
Akhirnya, kemenangan pun sudah menjadi keniscayaan baginya. Begitu juga di sekolah, semua guru sangat menyayangi si anak. Bahkan tak jarang guru tersenyum saat mendengar kata-kata yang timbul dari semangatnya.
Suatu kejadian yang menjadi penyalahan adat bagi si anak ketika pembagian rapor di sekolah. Saat itu, ranking satu yang selama ini selalu bersanding di bahunya telah direbut teman sekelasnya. Tak tahu apa alasan dari semuanya, yang pasti keadaan ini membuat sang anak sedih dan gelisah. Dalam hati terbungkus satu ungkapan dan pikiran, "Bagaimana jika Ayahku mengetahui kabar ini? Pasti beliau akan marah,". Ternyata, semua prasangka yang terlintas di pikiriannya itu benar adanya.
“Apa alasannya? Apa penyebabnya? Kenapa bisa jadi gini? Padahal, selama ini gak pernah seperti ini," semua pertanyaan itu terarah kepada sang anak. Itulah pertanyaan yang timbul dari emosi sang ayah.
Seketika itu juga sang ibu berusaha menahan kemarahan ayahnya, "Dapatlah kiranya sang ayah menahan perasaan marah itu, kan juga hanya sekali kok, biasa juga kan Yah kalau hanya sekali, hidup ini kan gak semuanya lempeng dan mulus. Ada masanya kita akan jatuh sekali Yah, nah jatuh yang kita rasakan itu hanya untuk berhati-hati agar nantinya kita tidak jatuh lagi," jawab sang ibu dengan nada yang tenang dan lembut, berharap agar si ayah menahan penasarannya akan jatuhnya ranking si anak.
"Iya Bu, memang Ibu benar," ujar sang ayah dengan suara pelan dan lembut, untuk mengimbangi kelembutan hati sang ibu. "Ini hanya peringatan bagi anak kita Bu. Karena kebanyakan orang yang mengarah kepada kelalaian adalah orang merasa bangga dengan kedudukan yang disandangnya, dan aku tak ingin kalau anak kita nantinya seperti itu. Pahamilah Bu, bahwa jika sudah boleh di nomor dua, maka nantinya akan boleh di nomor tiga. Dan bila sudah boleh nomor tiga maka bolehlah ke nomor empat dan setelahnya. Aku tak ingin kalau anak kita seperti pengendara perahu, tak terpikir dalamnya air di bawah sampannya. Yang penting baginya hanyalah di atas. Nah lama kelamaan tak terasa olehnya bahwa perahu telah berlayar ke samudra. lalu apa mau dikata, air di samudra tak setenang air di muara."
Dari sifat optimis yang sangat besar itu, tak heran jika anaknya memang benar-benar menjadi anak yang pintar. Menjadi juara kelas di sekolahnya, hingga duduk di bangku kuliah pun ia tetap unggul. Dialah anak yang menjadi kakak kelasku di bangku kuliah.
Bukan memaksa, kita hanya perlu rasa percaya diri. Ungkapan baik yang sering kita tuturkan bukan seperti angin yang hanya dirasa dalam sekejap lalu hilang, melainkan seperti air. Walau sekejap indra kita merasakan, namun air hanya akan hilang jika di keringkan. Dia tetap membekas, kalau tidak dihilangkan dengan kain. Rasa sejuk yang ia miliki melebihi angin.
Bukan juga merasa sok, terlebih lagi angkuh. Cobalah lihat ayat suci Al Qur'an yang menyeru untuk berpuasa, menunaikan zakat dan semua perintah yang lainnya! Tuhan yang Mahakuasa memanggil kita dengan seruan "Wahai orang-orang yang beriman" emang bener kita sudah beriman seperti yang diharapkan allah? Atau belum tahu bahwa ayat itu memang ada? Berarti harus buka lagi nih Al Qur'annya. Nah sementara di ayat yang lain, orang yang beriman itu telah disebutkan ciri-cirinya, seperti bergetar hatinya saat mendengar ayat suci dilantunkan. Kita lihat orang yang mencuri juga berpuasa. Orang yang suka mencaci dan menyakiti juga berpuasa. Begitu juga orang yang gak zakat, puasa juga. Lalu apakah kriteria iman itu hilang dari diri mereka? Tentu tidak, karena setidaknya orang yang tidak berzakat, tapi dia berpuasa, maka sedikit iman itu telah ada di sanubarinya. Yang Maha Sempurna takkan pernah salah dalam menilai hamba-Nya.
Hati dituntut untuk memperkuat kata-kata itu, agar semua yang telah diungkapkan tidak sia-sia. Bahkan tidak hanya bertepi di ujung lisan kita, melainkan terpahat di permukaan daya visual kita.
Kisah di atas mengisahkan kita tentang kuat dan pentingnya suatu afirmasi. Dengan kita mengucapkannya, hiduplah rasa percaya diri kita. Maka dengan seketika bangkitlah rasa antusias dalam diri kita. Nah jika antusias sudah teriring dengan segala usaha, maka semua yang kita kerjakan tak satupun yang tak bermakna. Semua ada gunanya. Semua akan ada hasil yang berbuah senyuman.
Terlebih hati yang sering dibius dengan virus-virus setan. Sering kali kita merasa minder, tidak mampu ini, tidak mampu itu. Aku ini siapa. Sebenarnya semua itu hanyalah bisikan virus yang mematikan mental dan keberanian kita. Makhluk pemusuh manusia itu hanya punya satu tujuan, yaitu manusia tidak boleh senang dan bahagia, semua yang diimpikan manusia haruslah sirna.
Sadarkah kita, ketika kita putus asa dan tidak percaya diri, maka pada saat itu juga kita telah menganggap lemah ciptaan Tuhan? Karena kita adalah ciptaan Tuhan yang Maha Sempurna. Nah yang lebih sedih lagi, tatkala ciptaan yang sempurna itu bisa kalah hanya dengan bisikan manis, penjinak kenyamanan dari setan. Dan yang terlebih sadis lagi, kekuasaan Allah yang kita anggap kalah itu terjadi di ruang hati kita. pertanda hati kitalah yang lemah jika begini adanya.
Pecahkan semua pikiran pesimis itu. Pikiran pesimis hanya membuat kita merasa nyaman di masa sekarang, dan gelisah di masa depan. Kita ini adalah rencana yang luar biasa dari Tuhan. Kita ini adalah ciptaan yang luar biasa. Maka tidak pantas kita dikalahkan rasa takut yang hanya berupa bayang-bayang, tidak ada wujudnya, ketakutan yang selama ini kita rasa hanyalah sangkaan kita belaka. Buktinya, apa yang kita takutkan dalam diri kita akan kegagalan dalam suatu usaha belum ada buktinya. Hanya asumsi saja. Maka jangan dikuatkan dan jangan dijadikan alasan untuk memutus keinginan kita. karena sebenarnya kita adalah orang hebat dan luar biasa. Keluarbiasaan yang ada pada diri kita ini terbukti wujudnya. Masa bisa kalah dengan rasa takut yang hanya berupa khayalan!

Other Stories
Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...

Download Titik & Koma