7. Udah Keduluan
Suara bisak-bisik terdengar di kamar itu, dua mahasiswa lugu yang dari tadi bicara soal perangai.
"Aku ingin jadi orang baik," kata Sugeng kepada sahabatnya.
"Ya semua orang ingin jadi baik, emang ada yang mau jadi jahat?" jawab Romli dengan santainya, sambil memegang bantal milik Sugeng.
"Maksudku yang benar-benar baik, Li" kata Sugeng lagi.
"Ya iyalah, emang ada orang baik main-mainan?" jawab Romli meyakinkan, "Maksud kamu apa? bilang aja!"
"Gini lho Li. Kebaikan yang ada pada kita harus memang benar, dan yang menilai bukan diri kita sendiri, melainkan orang lain. Nah jika dibilang baik ya alhamdulillah, kita gak boleh sombong. Tapi kalau ternyata kita kurang baik, kita harus terima dan kita harus dengar apa nasihat darinya," jelas Sugeng.
"Iya bener juga sih. Tapi gimana kalau orangnya tidak suka sama kita? pasti kita selalu dinilai gak baik dong," ketus Romli.
"Nah maka dari itu, kita datangnya bukan ke pelajar, melainkan ke ulama yang ada di sini. Pastinya oleh beliau kita akan di-kasyaf (kelebihan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang saleh, berupa kemampuan melihat hal yang gaib atau yang ada pada diri seseorang). Dan dilihat mana kelakuan kita yang kurang baik dan harus dirubah. Hanya dengan cara ini, Li kita bisa sadar."
"Bener juga kamu Geng. Saya pernah dengar juga, bahwa kalau kita datang kepada orang yang arif dan ahli ma'rifat, kita akan diberi nasihat, dan nasihat itu sesuai dengan apa yang harus diperbaiki di diri kita. Terus kita harus pergi ke mana dan jumpai siapa?"
"Kita pergi ke Tarim, jumpai Habib Hasan Asy-Syatiri, semua orang tahu akan karomah yang diberi Allah ke beliau."
Dag dig dug jangtung berdetak kencang. Tangan jadi bergetar. Hingga setang motor jadi bergoyang. Romli dari tadi tidak terlihat tenang. Walaupun sebenarnya ia sadar, namun ada perasaan kurang enak dihatinya, rasa malu atau segan ketika perangai disebut di hadapan seseorang.
Sesampainya di sana, dua pemuda ini dipersilakan duduk. Yang satu terlihat senyum dan santai, yang satu lagi terlihat pucat dan berpikir. Ia berpikir bagaimana caranya agar Habib Hasan tidak mengetahui apa isi hatinya. Romli teringat saat ia masih kecil, di desa tempat ia tinggal, Ustaz Somad, guru ngaji Romli pernah mengajarkan arti dari asma'ul husna dan faedahnya. Akalnya tertuju pada salah satu asma'ul husna "Ya Sattar" yang artinya wahai yang Maha Menutupi. Ia mengira bahwa asma' ini sesuai dengan tujuannya menutupi hati agar tidak terlihat walaupun oleh orang afir seperti Habib Hasan Asy Syatiri. Romli mulai percaya diri ketika mendapatkan ide. Sejak itu, ia terlihat optimis, bahkan lebih optimis daripada Sugeng.
"Kok lama ya?" tanya Romli kepada Sugeng.
"Iya sabar Li," jawab sugeng. "Mungkin Habib masih kedatangan tamu banyak."
“Loh, emang udah ada tamu sebelum kita ya?" tanya Romli penasaran.
"Ya iyalah Li, kamu lihat aja kita datang jam berapa. Sudah pastilah banyak penziarah yang lebih dahulu datang daripada kita."
"Oh gitu ya," Romli merasa punya kesempatan dan waktu panjang untuk mengamalkan asma'ul husna "Ya Sattar", hingga tak henti hentinya ia mengamalkan nama Allah yang agung itu dengan tujuan menutupi dirinya di hadapan cucu nabi yang mereka maksud.
Setelah lama menunggu, akhirnya mereka dipersilakan masuk ke dalam ruangan tamu. Habib pun datang menemui mereka.
"Bagaimana kabar kalian berdua, Nak?" tanya Habib Hasan dengan lembutnya.
"Alhamdulillah baik, Bib…" jawab kedua pemuda ini. Namun Sugeng lebih dahulu menjawab daripada Romli, karena dari tadi Romli tak pernah luput dari zikir barunya itu. Tampaknya ia pun semakin percaya diri kalau habib tidak mampu melihat isi hatinya, karena ia mengamalkan zikir dengan nama Allah, tak ada satupun kekuatan selain kekuatan Allah. Begitulah sangkaan ia pada saat itu.
"Kalian berdua datang dari fakultas syari'ah ya?" tanya habib lagi sambil memperhatikan kelakuan dua pemuda ini.
"Iya… Bib," jawab mereka berdua. Namun. Tetap saja Romli terlambat membalas pertanyaan habib.
Dengan tersenyum habib berkata kepada Romli, "Jangan kamu amalkan nama Allah yang agung itu hanya dengan tujuan sementara. Gak baik! Kamu mengamalkan "Ya Sattar" (Maha Penutup) baru sekarang, sedangkan saya mengamalkan "Ya Fattah Ya Aliim" (wahai Maha Pembuka dan Maha Mengetahui) sejak saya kecil, maka saya sudah melewatimu terlebih dahulu," mendengar kata-kata habib, wajah Romli langsung pucat, sementara Sugeng tertawa setelah mendengar kalimat habib.
Akhirnya, kedua pemuda itu menemui maksud mereka. Tak segan-segan habib menasihati keduanya dengan cara yang lembut dan penuh kasih. Begitulah adanya, cinta kasih sayang menjadi resep dakwah turun temurun yang diajarkan para cucu-cucu nabi. Hingga siapapun yang mereka nasihati tidak sedikitpun menggores luka di dalam hati, melainkan menambah rasa cinta kepada kebaikan dan akhlakul karimah. Termasuk Romli dan Sugeng yang pada saat itu berada di hadapan Habib Hasan Asy-Syatiri.
Romli dan sugeng yang pada saat itu diberi nasihat, terdiam dan tunduk di hadapan habib. Keduanya seperti pasien yang rela dioperasi dokter. Namun kali ini bukan operasi jasmani, melainkan operasi rohani. Romli yang tadinya segan dan enggan, kini seakan mengajukan dirinya untuk diperiksa.
Tak pantas jika diri sendiri yang menilai baik buruknya budi pekerti kita. karena semuanya tentu saja menghasilkan penilaian menurut selera, bukan menurut selayaknya. Ketika kita mau dan rela untuk dinilai orang lain yang bijak dan arif (karena merekalah orang yang dapat menjaga amanah, dengan tidak menyebarkan aib kepada siapapun), di situlah terlihat jalan menuju kebaikan. Relanya seseorang untuk dinasihati merupakan garis start dari kemauan diri untuk menuju garis finis kebaikan.
Perhatikan ayat Allah ini yang artinya
Jikalau Allah mengukum manusia karena kezalimannya, niscaya allah tidak meninggalkan satu makhluk pun yang melata di muka bumi ini, tapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan. Maka, apabila telah datang waktu itu, sedikitpun mereka tidak bisa memundurkannya atau mendahulukannya. (surat An Nahl ayat 61).
Sudah jelas kan. Kalau memang mengaku benar-benar bersih, toh buktinya masih hidup di atas bumi. Mungkin sebagian mengira bahwa semua yang ada di bumi ini jahat. Bukan begitu. Karena kebaikan bukanlah sampel, cap atau stempel, melainkan kesadaran atas kekurangan dan kesalahan, lalu berusaha untuk meminta ampun dan memperbaikinya dengan perbuatan baik. Semua itu dimulai dengan niat. Niat untuk menjadi lebih baik.
Intinya, jangan memvonis, tapi mendidik dan membimbing. Masih adanya napas di dalam dada kita ini merupakan pertanda bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik. Dan merubah cara berpikir kita untuk menjadi lebih baik. Juga merubah niat kita agar tidak meleset.
Allah saja masih memberi kesempatan kepada hambanya untuk menjadi lebih baik, kenapa kita enggak?
Membuang akhlak buruk merupakan cara ampuh untuk menjadi lebih baik. Bukan kah kita ini makhluk serba kekurangan? Nah karena kita makhluk serba kekurangan, pantaslah ada cela dan aib di dalam diri kita. Jika sudah jelas terlihat wujud dari cela yang tidak baik itu, pantaslah kita membuangnya jauh-jauh. Karena kebaikan bukanlah hasil, melainkan proses, yaitu proses seseorang untuk menghindari perilaku tercela.
Tidak ada dari kita yang terlahir sempurna, sehingga dapat mengatakan diri sempurna, berakhlak baik karena tidak didapati minimnya moral di dalam diri.
Other Stories
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Rembulan Digenggam Malam
Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Rahasia Desa Teluk Roban
Farhan selalu tak betah ketika libur akhir tahun harus kembali ke Desa Teluk Roban. Desa i ...