Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

10. Baju Hijau

Sebelum kuliah di Hadhramaut, aku sempat kuliah setahun di IAIN Sumatera Utara. Sedikit telah merasakan pahit dan manisnya kuliah di tanah Deli ini. Bukan hanya ilmu yang menjadi kenangan. Almamater hijau juga menjadi bukti dan kenang-kenanganku saat kuliah di IAIN. Waktu berangkat ke Yaman, almamater hijau itu tak kutinggal begitu saja, aku membawanya ke Negeri Yaman. Ternyata, almamater hijau itu sangat berguna, sering kupakai keluar, terutama saat musim dingin. Saat pergi ke dapur untuk makan juga sering kukenakan almamater itu.
Teman-teman terkadang bertanya, "Itu almamater kuliah ya, Bal?"
Kujawab, "Iya, ini almamater IAIN Medan."
"Berarti kamu dulu pernah kuliah di Medan ya?" tanya temanku lagi.
"Iya, saya sempat kuliah di Medan," jawabku.
"Oh berarti gak langsung kemari ya, berapa lama?" mereka bertanya lagi.
"Hanya setahun, saat itu masih nunggu-nunggu pengumuman seleksi beasiswa ke sini juga. Jadi sambil menunggu, saya kuliah," jawabku dengan santai. Dan akhirnya semua tersenyum sambil berkata, "Ooh".
Semuanya terlihat biasa. Namun ada yang menjadi luar biasa. Yaitu saat temanku bernama Asep pindah dari asrama "quhum" ke asrama "dakhili" tepatnya di kamar ashabul kahfi, kamar tempatku tinggal selama ini. Sejak ia pindah, suasana menjadi ramai, karena Asep orang yang ramah dan mudah diajak bicara serta banyak humor.
Kerap kali aku diledekinya dengan nada bercanda setiap kali mengenakan almamater hijau yang kubawa dari Medan. Terkadang dia berkata, "Kok kamu suka banget sih pakai jas ijo itu?" saat kukenanakan almamater itu. tak kutanggapi dengan serius, hanya kubalas dengan senyuman.
Lama kelamaan aku semakin tenang tatkala memakai almamater itu. Seakan tak ada beban pikiran dari bicara orang di sekelilingku. Tak tahu ternyata ketenanganku itu hanyalah prasangka belaka. Anwar yang juga tinggal sekamar denganku mengabari bahwa si Asep selalu bertanya kenapa sih Iqbal seneng banget pake jas warna hijau itu. Kelihatannya Asep tak tahan lagi menahan segala keluhannya terhadap almamater hijauku itu, hingga tiap kali aku pakai tak segan-segan ia meledek, "Cie-cie yang pake baju kebangsaan," ujarnya sambil menertawakanku. Tanpa ambil pusing kujawab dengan tawa juga. Selalu kupakai almamater hijau itu tiap kali pergi sarapan atau makan, dan selalu juga kudapati ejekannya, "Ehm… ehm… yang pakai kostum timnas," katanya sembari tertawa hingga tampak semua gigi depannya.
Suatu hari, tatkala itu setelah selesai salat zuhur, kami duduk dan berkumpul di dalam kamar. Sembari menunggu makan siang, canda tawa pun menjadi hidangan rohani di tengah kami, menambah kehangatan suasana di musim panas. Satu per satu teman telah bercerita. Ada yang curhat, ada juga yang bercerita tentang kisah yang sedih ataupun seram. Tinggal giliran Asep yang dari tadi hanya menyimak. Sambil memberi saran ke teman-teman.
"Sep, kalau di kampung kerjamu apa? Jadi ustaz ya? Ngasih tausiah ke mana-mana?" tanya salah seorang teman kepada Asep.
"Enggak, gua belum jadi ustaz kok" jawab si Asep dengan ketus.
"Ah masa Sep? Gua gak percaya. Waktu loe tamat dari pesantren masa gak seorang pun manggil ente," tanya mereka lagi.
"Iya bener, gua gak pernah dipanggil. Karena gua juga merasa belum cukup ilmu," jawab Asep.
"Walaupun ke pemakaman? Misalkan ada orang meninggal dunia gitu?" tanya mereka lagi.
Dengan nada pelan dan tegang Asep menjawab, "Iya walaupun takziah gua gak datang juga, Karena gua takut lihat keranda."
"Tapi kan kerandanya tertutup Sep, mayatnya juga gak kelihatan, karena kerandanya tertutup kain warna hijau kan?" tanya mereka lagi
"Iya justru karena warna hijau itu gua takut," jawab Asep dengan jujurnya.
Aku coba bertanya, "Jadi soal warna almamater gua yang warna hijau gimana loe?"
Akhir dari jawabannya adalah, "Iya, jujur selama ini gua takut warna hijau, karena hijau itu warna keranda di kompleks rumah gua, makanya gua sering ledekin loe kalau pake baju hijau, karena gua takut," semua teman tertawa saat itu.
Jadi ternyata selama ini…
Asep pun tertawa.

Other Stories
Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Youtube In Love

Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Download Titik & Koma