12. Banyak Tangan
Seperti biasa, tiap tahun di Universitas Al Ahgaff mahasiswa terus berganti, pulang yang satu dan datanglah mahasiswa yang barunya. Di awal tahun 2013, angkatan delapan belas menapakkan kaki pertama kali di tanah Hadhramaut, semua isi hati dan lisan serentak menghidupkan irama doa, semoga ini adalah awal dari kesuksesan mereka. Bandara Mukalla menyambut angkatan ini. Malam itu lampu di bandara menunjukkan bukti akan keramaian yang ada, karena mahasiswa Indonesia baru tiba pada saat itu. Kupandangi satu per satu senyum yang menimbulkan kehangatan malam itu. Senyum dari para senior yang menyambut mahasiswa baru di bandara. Senyum itu seirama dengan senyum bumi Hadhramaut di malam itu, karena langit telah memenuhi janjinya dengan menghadirkan hujan di pusakanya.
Bak raja satu malam. Itu sangat terasa bagi semua mahasiswa. Semua tas dan isi koper diangkat oleh kakak kelas. Tugas kami hanyalah tinggal masuk ke dalam bis. Karena suasana asrama Ba Salamah menanti kehadiran kami di sana.
Saat itu suara semua orang berisik. Semua terburu-buru untuk mengangkat koper, berharap agar tidak kena hujan dan berair. Terlebih bagi mereka yang sebelumnya telah menitipkan kiriman melalui adik kelas ataupun saudaranya. Kalimat "Ahlan wasahlan" bertabur diarahkan kepada kami saat itu, hangatnya nasi dan sepotong ayam suguhan yang amat ramah di malam itu.
Esoknya semua mata terbelalak ke sana kemari memandangi bumi Hadhramaut, oh begini ternyata Yaman, kalimat yang timbul di hati masing-masing dari kami. Ternyata tak menunggu lama lagi hari itu semua mahasiswa harus masuk kuliah, karena sebenarnya keberangkatan mahasiswa yang sudah telat start dari Indonesia. Lalunya perjalanan hari sedikit demi sedikit memahamkan mahasiswa akan kehidupan di sana.
Tiap malamnya selalu ada taujih dari senior, "Mengingatkan bahwa belajar di sini tak seperti saat kita belajar di pondok pesantren dulu. Kuliah di sini tak semudah kuliah di Indonesia. Kalian harus berhati-hati, semua orang bisa belajar di sini, namun tak semua orang bisa lulus dari universitas ini," tutur Ustaz Najib, orang Indonesia yang pada saat itu menjadi wakil dekan fakultas syariah. Kalimat itu seakan seruni keras membangunkan orang lalai yang sedang tidur. tentunya sakit didengar telinga. Namun, semua mahasiswa sadar sakit hanya di telinga, tapi hati insya Allah akan menjadi sasaran dari hasil nasihat yang sempurna.
Telah banyak kami mendengar bahwa Universitas Al-Ahgaff tak pernah meluluskan wisudawan dengan jumlah yang sangat banyak seperti universitas yang lainnya, semua itu disebabkan peraturan dan sistem yang sangat ketat di perguruan tinggi ini. Hingga apabila datang rasa malas, kalimat dari wakil dekan itu terekam secara otomatis di hati mahasiswa.
Kuliah terus berjalan, hingga tibalah saatnya ujian. Tak terbayangkan kala itu. Saat pengumuman ujian keluar, semua mahasiswa dipenuhi rasa galau dan cemasnya. Rasa cemas melebihi yang mereka rasakan saat ujian semester kemarin, ternyata rasa cemas itu sesuai dengan hasilnya. Setengah dari mahasiswa awal saat itu tertimpa musibah rosib (tidak lulus ujian). Baik mahasiswa Asia seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand, ataupun mahasiswa dari Arab dan Afrika.
Setelah pengumuman itu, malamnya wakil dekan mengumpulkan semua mahasiswa dan membahas alasan dari ketidaklulusan mahasiswa. Saat beliau memberikan nasihat, semua wajah tertunduk, seakan beratnya kesalahan itu telah mengikat di leher kami. Ustaz Najib mengira bahwa ketidaklulusan mahasiswa di ujian disebabkan karena kelalaian mahasiswa itu sendiri. Usai nasihat itu, mahasiswa yang rosib memulai kesungguhannya untuk mengulangi pelajaran yang mereka gagal. Semua masih punya satu kesempatan, yaitu ujian daur kedua.
Di semester awal beberapa mahasiswa harus mengulang tahun depan, dan Alhamdulillah kebanyakan dari mereka lulus, hingga dapat meneruskan semester berikutnya. Lagi-lagi semua pembimbing memberi peringatan agar tetap semangat dan tidak mengendorkan kesungguhan, karena semakin tinggi semester maka akan semakin sulit. "Di semester berikutnya, kitab yang kalian pelajari kebanyakan kitab klasik, memahaminya harus memeras otak agar kalian bisa menguasai materinya," kata Ustaz Zainal yang saat itu menjadi pembimbing mahasiswa Indonesia. "Itu betul, apalagi kalau nanti kalian semua sudah pindah ke Kota Tarim (cabang univ. Al Ahgaff fakultas syariah) di sana materinya lebih banyak lagi. Dan kalian akan membaca kitab ghoyatul wushul karya Syekh Zakariya Al Anshori. Kalau kalian semua tidak serius, maka ya siap-siaplah kalian menerima tiket pesawat untuk pulang," sambut Ustaz Faiz dengan seriusnya.
Menyikapi semua peringatan yang diarahkan ke mahasiswa. Semuanya berpikir untuk menemukan cara agar semua mahasiswa bisa lulus. Tanpa ada satupun yang gagal kecuali bagi mereka yang kurang kesungguhannya. Akhirnya, mereka mendapatkan ide untuk membentuk tim yang meringkas pelajaran guna memudahkan semua teman saat menghafal semua pelajaran hingga terasa lebih ringan. Yah, inilah cara yang paling ampuh. Karena dengan kebersamaan semua bisa merasakan kemudahan. Dengan kerja sama semua yang terasa sulit akan menjadi ringan. Akhirnya, tim peringkas mata kuliah fiqih terdiri dari empat orang. Untuk mata kuliah hadits beberapa orang, dan begitulah di mata kuliah yang lainnya.
Buah pikiran ini terus berlangsung hingga akhirnya mahasiswa angkatan ke delapan belas sampai di penghujung semester. Alhamdulillah masih ada yang bertahan hingga sampai di puncak kelulusan. Segala usaha dan upaya akan menyajikan hasil yang memuaskan bagi siapa saja yang mengusahakannya. Walau tak banyak dari kami yang benar-benar sampai lulus, tapi setidaknya ini adalah hasil dari kerja sama yang kami upayakan selama ini. Hingga akhirnya semua tetap bekerja sama walaupun dalam urusan wisuda dan pengurusan ijazah.
Kehebatan intelektual tidak selalu diukur berdasarkan kemampuan individual. Kemampuan untuk berteman, bergaul, bermusyawarah juga sebagai bukti akan kemampuan seseorang. Dengan saling membantu, kita menjadi kuat, sebagaimana Buya Hamka pernah berkata, “Bersama adalah kekuatan, menyisih adalah kelemahan. Pada kekuatan terletak kebesaran dan pada kelemahan terletak kehinaan[1].” Dengan kerja sama, semua yang terasa berat akan menjadi ringan. Semua yang mungkin tidak dapat kita atasi akan teratasi. Terlebih di saat waktu dan keadaan yang sempit menuntut kita untuk menguasai hal yang banyak. Semua akan teratasi, dan semua akan menjadi ringan.
Emosi dan rasa panas dengan mudahnya marak dan membesar di hati pemuda dan pemudi, hanya karena terkadang seseorang bekerja, lalu melihat yang lainnya santai dan tidak melakukan apa-apa. Dewasa dan nalar menjadi penawar semua penyakit batin itu. Percaya deh, semua akan baik-baik saja jika dihadapi dengan kesabaran dan ketekunan.
[1]Pribadi hebat, 155
Other Stories
Loren Ipsum
test ...
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Romance Reloaded
Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...