Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.1K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

14. Jatuh Bangun Mempertahankan Kuliahku

Dia mahasiswa yang rajin. Sering bertanya. Sering munaqasyah. Apalagi membuat ringkasan pelajaran. Datang dari Pulau Jawa. Sejak di bangku sekolah ia memang sudah terkenal sebagai santri yang rajin. Hasan memiliki keinginan yang sama dengan mahasiswa lainnya, yaitu menimba ilmu di Hadharamaut.
Di tengah fokusnya kuliah, Hasan harus menerima takdir dari Tuhannya. Ayah Hasan di panggil Allah SWT. Rasa sedih beriring dengan tangis tak kuasa ia tahan. Sakit rasanya ketika tak mampu melihat orang tua untuk terakhir kalinya. Apalagi tak sempat memimpin salat jenazah untuknya. Pulang kampung adalah hal yang mustahil baginya, karena pulang pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi saat itu kuliah sedang berlangsung, dan waktu ujian sudah dekat. Kiranya, hanya doalah yang dapat ia kirim terlebih dahulu. Hasan, pemuda berbadan kurus dan tinggi itu tak ingin semua mematahkan semangatnya. Ia tetap melanjutkan kuliah. Ia tidak ingin pulang kecuali dengan membawa gelar sarjana. Itu tekad yang ia tanamkan semenjak kepergian ayahnya. Pantang lelaki cengeng, itulah mungkin sebagai penegak keteguhannya.
Pahit mulai menjadi rasa di kehidupan setelah kepergian ayahnya menghadap Tuhan yang Maha Esa. Hasan berpikir untuk melanjutkan kuliahnya. Memang kuliah di Hadhramaut dengan beasiswa, namun, di sisi lain Hasan harus memenuhi kebutuhannya di lain kuliah. Seperti alat mandi, peralatan tulis dan buku bacaan, begitu juga diktat yang dipelajari di kuliah. Memikirkan semua kebutuhan itu, Hasan membuka pikiran dan memperluasnya. Hasan memperluas jaringan relasinya. Selama ini belajar saja bukanlah jalan keluar yang tepat baginya. Karena kebutuhan jasmani dan rohani juga harus terpenuhi menurutnya. Hasan mulai ikut organisasi yang ada di Yaman seperti PPI. Di organisasi ini, Hasan mendapat banyak manfaat dan memperluas hubungan persahabatan, hingga semua persoalan hidupnya terasa ringan baginya. Semua itu adalah jalan berlubang dan berbatu kerikil yang harus ia lewati agar sampai ke tujuan.
Di pergaulan, Hasan mendapatkan banyak manfaat. Baginya, benarlah hadits nabi yang menuturkan bahwa silaturrahim mempererat persaudaraan dan mempermudah rezeki. Semua janji dari nabi itu telah ia dapati di kehidupan nyata.
Di lain itu, Hasan memberanikan diri untuk berjualan nasi. Masalah enak atau tidak adalah masalah belakangan menurutnya. Jago memasak akan datang sendiri, seiring dengan berjalannya usaha nasi itu, pasti aku akan menjadi jago masak, begitulah yang ia rasakan. Di hari pertama jualannya tak begitu laris. Apalagi pada saat itu semua mahasiswa banyak yang pergi berziarah ke Seiwun mengikuti acara haul Habib Ali Alhabsyi. Akhirnya, nasi yang tidak laku ia jual dengan separuh harga. "Alhamdulillah" tutur hasan saat itu, karena sepulangnya mahasiswa dari acara haul banyak yang masih lapar. Dingin cuaca di malam itu tampak bak sahabat yang membantu jualannya.
Walau untung sedikit tak apalah menurut Hasan. Baginya, untung sedikit tidak menjadi masalah asalkan tidak rugi. Malam awal jualannya itu tak menghentikan langkahnya. Esok hari Hasan tetap berjualan nasi. Berharap hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. Hingga kali ini jadwal tidur ia kurangi. Yang biasanya setelah subuh ia tidur. Kali ini, setelah salat subuh Hasan tak bertemankan bantal lagi, melainkan berteman kuali dan sutil di dapur mahasiswa. Tampaknya hadiah dari Allah yang berbungkus kepahitan itu telah ia rasakan. Kini baginya hanyalah berusaha untuk mewujudkan rasa manis dari hadiah Allah itu.
"Nasi telur sambal terong, menanti Anda di kamar Usman bin Affan" tulisan yang ia tulis di depan asrama Dakhili. Kiranya dapatlah teman-teman mengetahui jualannya. Dan besar harapnya agar teman-teman mau membelinya. Di hari kedua, Hasan mendapat untung yang meningkat. Di hari berikutnya seringkali pelanggan datang ke kamarnya saat nasi sudah habis. Semua hasil jualan Hasan dapat memenuhi kebutuhannya di Kota Tarim. Sebelumnya, Hasan selalu memasang rem saat membeli kebutuhannya. Setelah berjualan nasi, Hasan dapat membeli buku yang ia inginkan, bahkan ia dapat membeli buku di luar pelajaran kuliah.
Di kasur Hasan, tertulis semua jadwal yang harus ia patuhi. Jadwal belajar, jadwal belanja, jadwal masak, dan juga jadwal kuliah. Semua ia patuhi. "Belajar nomor satu, dan jangan nomor duakan jualan". Itulah kata yang dikeluarkan Hasan saat temannya bertanya akan cara ia mengatur waktu. Tak seperti teman yang lainnya, Hasan tak memiliki waktu untuk memberi kata-kata indah terhadap wanita. Memang Hasan sering chatting-an dengan wanita, namun wanita yang ia chat itu bukanlah wanita yang ia harapkan dengan mengikat janjinya, melainkan wanita teman ia sekolah dulu, juga teman satu organisasi saat ia masih duduk di bangku pesantren.
Kesederhanaan yang dimiliki Hasan membuatnya dapat dicontoh mahasiswa yang lainnya. Baju yang ia kenakan adalah baju yang ia bawa semenjak datang dari Indonesia. Baju yang sejak lama itu tetap bertahan sampai ia menyelesaikan studinya. Walaupun uang yang Hasan miliki dapat memenuhi kebutuhannya, Hasan tetap menjaga agar tidak boros dalam menghabiskan uang. Ia menjaga kalau nanti ada hal mendadak datang dan menghabiskan uang banyak.
Melihat keadaan Hasan yang terlihat sukses di bisnis nasinya, banyak mahasiswa lain yang memulai jualan nasi seperti Hasan. Kelihatannya, mahasiswa terlihat silau dengan hasil yang didapatkan Hasan. Asrama Dakhili menjadi persaingan ketat antara Hasan dan mahasiswa lainnya. Begitu juga dengan hadirnya penjual nasi dari asrama lain. Hasan sempat memberikan nasinya yang tidak laku kepada teman-temannya. Kehidupan yang kini berbalik menjadi di bawah menurutnya. Semua tak mengurangi niat Hasan untuk berjualan. Hasan berjualan tak banyak lagi seperti saat awal ia mulai, karena saat ini sudah banyak penjual nasi di kamar-kamar yang lain. Bukan semakin sedih, Hasan malah semakin tersenyum dan katanya, “Alhamdulillah, karena banyak yang jualan, jadi saya bisa membawa jualan sambil pergi mengaji ke Ribath Tarim (suatu yayasan seperti pesantren). Jadi tidak memakan waktu terlalu banyak. Waktu mengajiku akan makin banyak juga". tutur Hasan sambil tersenyum. Setiap hari Hasan pergi mengaji ke Ribath untuk menambah ilmu, waktu itu ia manfaatkan untuk membawa nasi yang akan ia jual di Ribath. Di Ribath, nasi yang dijual Hasan tak membohongi kerja kerasnya. Hasan meraih untung yang memuaskan, awal masuk Ribath, Hasan meletakkan nasinya di toko Karomah. Sore harinya, Hasan hanya tinggal mengutip hasil jualannya.
Semakin lama Hasan tinggal semakin jelaslah baginya apa hikmah dari Allah yang diberikan untuknya. Ternyata timbulnya banyak penjual nasi merupakan jawaban dari Allah kepada Hasan agar ia lebih fokus terhadap kuliahnya. Di semester sembilan, Hasan meninggalkan semua bisnis yang pernah ia geluti. Di semester ini, semua mahasiswa memang sudah tak banyak lagi beraksi di bidang lain selain kuliah, karena inilah semester di mana selain dituntut fokus di mata kuliah, mahasiswa juga dituntut untuk menyiapkan judul dan menyelesaikan skripsinya.
Doa Hasan selama ini telah diijabah Allah. Di desa tempat ia tinggal, Ibu Hasan telah mendapatkan pekerjaan yang layak, apalagi paman dan bibinya bersiap untuk membantu keperluan kuliahnya yang tinggal setahun lagi. Semua itu membuat Hasan memiliki waktu banyak untuk mengulangi pelajaran. Bahkan, karena Hasan mahasiswa yang pintar dan aktif, tak jarang adik kelas datang menemuinya dengan harapan agar Hasan dapat mengajari mereka tentang ilmu ushul fiqih atau ilmu yang lainnya. Semua permintaan itu tidak ia tolak. Baginya, dengan mengajarkan orang, secara otomatis kita juga telah mengasah kemampuan kita. Apalagi dengan mengajari orang lain dapat membuat kita mengulangi pelajaran yang selama ini kita lupakan.
Di semester sepuluh, Hasan tak berpikir panjang lagi tentang kuliahnya. Harapannya dosen pembimbing sangat memperhatikan skripsinya agar cepat selesai. Semua ujian syamil juga ia persiapkan. Impiannya hanyalah agar cepat pulang dan bisa menjumpai ibunya dan menziarahi pusara ayahnya. Nilai yang ia raih cukup bagus. Anas mendapat derajat "Baik sekali" di ijazahnya, namun semua itu bukanlah hal yang sangat penting menurutnya.
Allah selalu memberi jalan untuk hamba-Nya yang bersungguh sungguh. Tak jarang jika kita berjalan dengan tujuan yang sudah ada, ternyata di tengah jalan kita mendapat kemudahan atau mendapat pertolongan yang tak disangka-sangka. Ragu tak perlu di praktikkan menurut orang yang bertekad kuat dan mempunyai optimis kuat. Bukannya Allah telah menjamin orang-orang yang menuntut ilmu, bahkan nabi menjamin orang yang menuntut ilmu seperti orang yang sedang berjalan di jalan Allah sampai mereka kembali ke tempat asalnya. Nah kalau nabi sudah menjamin, emang merupakan suatu kemustahilan kalau Allah akan menolong musafir di jalannya?
Kuliah yang berat dengan ujian yang berat pula. Ditambah lagi kabar di tengah kuliahnya saat itu. Kabar akan kepergian ayahnya. Berjualan ke sana dan kemari. Sempat memperluas jaringan jualannya sampai ke lembaga yang lainnya. Sejenak Hasan duduk termenung di atas asrama. Ia merenungkan semua hal-hal pahit yang pernah ia rasakan. Kaset memori yang selama ini ia simpan, kini diputarnya kembali. Di layar visualnya terbayang semua senyuman, tangisan, dan canda tawa. Di tiga puluh menit akhir dari kasetnya itu, Hasan melihat tangisan dan kepahitan yang pernah ia rasa. Setelah mengingat semua kesedihan itu, Hasan tersenyum, wajahnya menghadap ke langit yang penuh bintang. Serentak dengan senyumnya terlantun tasbih dari lisannya "Subhanallah" lalu terhenti lisannya, tak lama ia lanjutkan dengan "Alhamdulillah". Senyum yang semakin manis itu semakin berseri di wajahnya. Lama-lama ia semakin rindu dengan kenangan yang ia alami itu, "Andai semua bisa terulang lagi" tuturnya sendiri.
Hasan seperti mimpi kejatuhan bulan semenjak mengingat dan menggali hikmah dari takdir yang diberikan Allah untuknya. Kiranya semua pengalaman yang ia rasakan dapat menjadi ilmu mental dan bekal untuk kelanjutan kisah hidupnya. Dari jauh temannya, Hadi melihat Hasan duduk sendiri. Hadi lalu mendekatinya.
"Kamu lagi ngapain, San?" tanya Hadi.
"Lagi muter kaset, Di."
"Kaset apaan? Muter kasetnya di mana juga?"
"Kaset kehidupan saya selama lima tahun ini, saya memutarnya di kepala saya, pasti kamu juga pernah kan muter kisah kuliahmu di Yaman ini?" kata Hasan.
"Ooh itu toh ternyata, hehe… iya aku juga pernah," jawab Hadi.
Lalu keduanya bergegas mengemasi pakaian mereka, karena esok sore akan pulang ke negeri mereka.
Jadi, kalau mau jadi orang hebat, harus siap-siap menerima cobaan ya! Hehe… bukan nakut-nakuti lho ya. Tapi emang bener. Lihat aja orang di sekitar kita, mereka yang hebat pasti berbeda dengan mereka yang tidak hebat. Mereka yang hebat pasti lebih sulit dan lebih rumit jalan hidupnya. Atau bagi kita yang menganggap bahwa orang tua kita adalah orang hebat, coba deh dekati, lalu tanya, bagaimana kisah mereka untuk meraih kesuksesan yang mereka genggam sekarang ini. Jangan lupa yah! Dan ingat, bahwa diri kita ini juga sebagai hasil dari kehebatan mereka.
Kebanyakan dari kita merasa sedih dan seru bila menonton film Korea yang kisah hidupnya dapat membuat mata kita merah karena sedih akan kesulitan hidup dan cobaan yang menimpa mereka. Lalu, di akhir film kita merasa tersenyum dan terharu karena ending dari cerita itu, terharu karena tokoh dari cerita itu sukses dan berhasil atau sebagainya. Nah sekarang coba kita putar kaset kisah perjuangan kita, mungkin lebih hebat dan lebih sedih dari rintangan si tokoh dalam film Korea itu, walaupun ia kisah nyata. Setelah kita bandingkan, pasti kita dapat kesimpulan bahwa tak ada bedanya antara kita dengan dia. Yang membedakan hanyalah terkadang kita tersandung dan terjatuh lalu tak mau bangkit lagi, sedangkan si aktor masih mampu untuk bangkit.
Lalu bagaimana cara agar kita tahu bahwa semua itu cobaan dari Tuhan dan pasti ada hikmahnya? Dengan cara merenung dan bertafakur kita bisa mendapatkan hikmah dari apa yang diberikan Allah kepada kita.
Apakah pasti hikmah itu bisa kita dapati dengan merenung dan bertafakur? Jika kita membuka cakrawala akal kita, dimulai dengan positive thingking kenapa enggak. Akal kita kan juga ciptaan Allah yang Maha Kuasa, ciptaan Allah yang Maha Luar Biasa. Pastinya jika kita satukan kekuatan takdir Allah yang Maha Luar Biasa dengan akal kita (yang juga merupakan ciptaan Allah yang Luar Biasa) pastinya kita akan mendapatkan natijah ( hasil tafakur berupa hikmah) yang luar biasa juga. Itu pasti.
Tapi ingat ya, kita mulai dengan "Positive thinking" bukan "Sotoy thingking" agar hasilnya merupakan hikmah yang kita nanti-nanti selama ini.

Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Aswin, Kami Menyayangimu

Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...

Hibur Libur

Aku (Byru) mencoba mencari nikmatnya sebuah "Liburan" dengan kesehariannya yang sangatlah ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Download Titik & Koma