Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

13. Cinta Yang Membuatku Buta

Panas menjelma musim di Kota Tarim. Pohon kurma bertingkah, setelah lama membisu. Batangnya diam tegak, pangkal pelepahnya lasak, karena syamrokh menari menunjukkan wujudnya. Jika telah keluar, dia harus rela kalau pisau tajam membelah tubuhnya. Sari pati bumi bermula dengan pembedahan. Pegunungan mengelilingi lembah nan kering, bak jari tangan menggenggam telapaknya. Di atasnya langit bening hening tanpa kabutnya. Berkolaborasi dengan fatamorgana. Perbendaharaan alam, si pembohong yang selalu kekal di hamparan pasir.
Serban putih, terlilit. pengganti mahkota nan agung. Rona suci lambang kewibawaan. Pancaran karisma. Warisan sunah dari rasul, pelopor cinta kasih. Sering terpantul di kota yang kaya akan martabat ini. Layaknya lambang bagi negeri para wali. Cerminan diri yang terikat dengan tuntunan Ilahi.
Di bagian selatan kota, terdapat suatu tempat bernama Aidid. Universitas Al Ahgaff bertempat padanya. Lembaga pencatat sejarah, dari seorang mahasiswa rajin. Meninggalkan kampung halaman ke kota nan jauh, hanya untuk mengejar sang cinta. Ilmu yang ia anggap sebagai nur di diri, di napas, di kehidupan bahkan sampai di dalam perut tanah. Umur yang sudah lanjut tak menjadi masalah baginya. Bahkan, andai saja usianya lebih tua dari sekarang, pastilah ia tetap akan berangkat. Baginya. Urusan jodoh adalah urusan ke sekian ratus. Karena menurutnya, perjalanannya ini merupakan salah satu langkahnya untuk menyediakan nafkah rohani saat nanti ia menikah.
Sejak duduk di bangku SMA, kuliah di Timur Tengah ia catat di buku sakunya. layaknya suatu keniscayaan yang pasti ia jumpai di masa mendatang. Mahsun. Pemuda yang lembut, santun akan tutur kata. Pribadi yang sejuk, yang saat ini sudah belajar di Hadharamaut hanya tinggal menikmati segala ilmu agama yang disajikan. Siang dan malam ia nikmati dengan kitab-kitab karangan ulama klasik dan modern.
Di hari ini aku harus membaca kitab ini. Dalam seminggu harus selesai kubaca kitab ini. Mahsun tetap menjaga semangatnya. Kiranya sampai akhir kuliah nanti ia dapat meraih dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya. Setiap hari pergi ke kampus tak pernah telat. Menghafal maddah bukanlah hal yang penting baginya. Hal yang penting adalah bagaimana memikirkan kesimpulan yang diberikan ulama. Sehingga nantinya kita yang mengecap ilmu dapat memberikan pemikiran yang serupa atau bahkan lebih dari apa yang selama ini dihidangkan ulama kepada umat.
Tak seperti mahasiswa lainnya, yang menganggap nilai termasuk hal yang penting utuk menyokong masa depan. Menurut Mahsun, nilai tak begitu penting, yang penting adalah bagaimana ilmu bisa bercampur di kalbu. Hingga kapanpun ilmu itu ia inginkan dengan seketika dapat ia keluarkan, layaknya seperti flashdisk ketika dicolokkan ke laptop.
"Apa alasan Imam Syafi'i mengatakan lam yang ada di ayat pembagian zakat adalah lam lil milki (lam yang menunjukkan hak si penerima zakat untuk memiliki harta zakat)?" pertanyaan yang dilontarkan Mahsun kepada temannya. Jika ada teman yang menjawab, ia akan tersenyum dan menanggapi jawabannya. Jika tidak ada satu pun yang menjawab, maka Mahsun akan memberikan jawaban. jika temannya sudah jenuh dan ingin membahas ke masalah fiqih yang lainnya, Mahsun tak jenuh untuk mengajaknya berdiskusi. Waktu yang terus berguling hingga tengah malam bukan merupakan penghalang baginya. "Bukankah ulama terdahulu belajar sampai lama?" jawaban Mahsun kepada temannya yang ingin berhenti dengan alasan sudah malam.
Konon katanya, di Padang Sahara yang tandus, terlebih di saat panas menyengat kulit dengan bisa sangarnya. Semua orang harus menjaga mata dan tubuhnya. Karena terikan yang bercampur sinar matahari dapat merusak mata. Sinar yang terlalu kuat dapat membius pandangan mata, hingga semua yang menatap menjadi lemah. Terlebih debu yang melayang dan mengapung dihembus angin, mengapung hingga larut membuat udara keruh di Sahara nan luas. Tak heran jika kebanyakan orang di Arab sering memakai kacamata berwarna hitam. Agaknya, warna hitam itu dapat menahan mata kita dari teriknya sinar matahari yang bercampur dengan nyengatnya panas di padang pasir.
Tak jarang mahasiswa yang ingat akan hal ini. Kecuali Mahsun yang mungkin belum mendalami tentang keadaan alam sekitar Tarim. Mahsun menganggap kehidupan di Kota Tarim sama dengan kehidupan di kampung halamannya. Mahsun merasa cukup dengan kacamata pemberian ibunya dari kampung. Hingga mau ke manapun ia berada, kacamata bening tetap mencantol di matanya. Sebenarnya pandangan mata Mahsun sudah mengalami kabur di sebelah kiri. Tapi selama ini, Mahsun tak pernah memberikan kabar itu kepada temannya. Tak bisa menjadi bahan kecurigaan bagi teman-teman Mahsun akan keanehan yang ada pada dirinya. Dahulu, Mahsun tak pernah segan bila diajak ke sana dan kemari. Begitu juga, Mahsun lebih membaca sendiri daripada membaca dengan teman-temannya. Tidak seperti dahulu saat berdiskusi. Sekarang, saat berdiskusi Mahsun hanya memegang kesimpulan dari kitab yang ia baca.
Suatu hari pada hari Jumat, semua mahasiswa telah terbiasa berjalan kaki pergi ke masjid bagi yang tidak memiliki motor. Ke sana kemari debu bertebaran. Terkadang terbawa angin. Terkadang terbawa ban mobil atau motor. Bukan menjadi masalah yang besar bagi pemuda yang satu ini. Padahal debu yang selalu menancap di mata dapat mengaburkan pandangan. Semakin lama pandangan Mahsun semakin kabur. Tak jarang jika ia selalu mendekatkan buku ke matanya saat membaca.
"Kepalaku sakit sekali. Bila kepalaku sakit, mataku juga ikut sakit," tutur Sahnan, teman Mahsun yang sejak selesai isya duduk bersamanya di masjid mengulangi pelajaran.
"Sabar Nan, bukan kamu aja yang merasakan sakit, masih ada teman kamu yang lebih sakit," sambut Mahsun dengan santai dan mata tertatap pada buku.
"Ini sakit sekali Sun, kayaknya saya harus berhenti sebentar nih," kata Sahnan dengan wajah pucat dan lemas.
"Iya silakan aja istirahat bentar," jawab Mahsun dengan santai.
Tak lama kemudian, Sahnan teringat dengan kata-kata Mahsun bahwa ada yang lebih sakit daripada apa yang ia rasakan. Sahnan memandang wajah Mahsun yang dari tadi tak pernah berpaling dari arah buku. Rasa penasaran dan bertanya-tanya memenuhi pikiran Sahnan.
"Sun, tadi kamu bilang ada yang sakitnya lebih parah dari aku?"
"Iya, memang ada."
"Siapa Sun?" tanya Sahnan yang sedang penasaran.
"Ya saya sendiri," jawab Mahsun dengan cepat.
"Apa yang kamu rasakan itu sudah lama saya rasakan Nan, bahkan saya rasakan walau bukan pada saat ujian."
"Emangnya kamu sakit kepala dan mata juga?" sambung Sahnan bertanya.
"Bahkan lebih dari itu Nan, bahkan mata saya sekarang sudah kabur sebelah. Jangankan menghafal, membaca saja mata dan kepala saya sakit," mahsun menjelaskan rasa sakitnya yang selama ini ia simpan.
"Ah benarkah?" Sahnan masih belum percaya, "Buktinya apa Sun kalau memang ada? Kenapa selama ini kami, teman-temanmu tidak ada yang tahu?"
"Iya Nan. Memang selama ini aku sembunyikan, aku tak ingin kalau teman-teman semua tahu, lihat ini!" Mahsun menunjukkan kacamatanya kepada Sahnan sebagai bukti atas apa yang dikatakannya. Setelah melihat kacamata itu, Sahnan terheran dan langsung percaya. Ternyata, kacamata Mahsun yang sebelah kiri tidak memakai kaca min.
"Saya harap kamu jangan sebarin ke siapa-siapa ya," permintaan Mahsun kepada teman dekatnya itu.
"Kenapa kamu gak mau disebarin ke orang, Sun?"
"Saya gak ingin kalau teman-teman jadi prihatin, kamu kan tau sendiri teman kita bagaimana, sedikit saja kabar didengar, maka satu angkatan akan tahu semua," jelas Mahsun.
"Iya, insya Allah tidak kuberi tahu siapa-siapa," jawab Sahnan dengan janjinya. Sampai saat ini Sahnan tetap menyimpan rahasia itu. Dia tidak menceritakannya kecuali dengan izin Mahsun. Maka, cerita yang saat ini tertulis adalah tulisan Sahnan, karena Sahnan itu adalah aku.
Mereka terus melanjutkan membaca hingga larut malam, hingga bila salah satu dari mereka mengantuk, maka temannya akan membangunkan dan mengambil air wudu, dan begitulah setiap malam ujian, mereka tetap optimis. Mereka duduk bersama di masjid bila waktu ujian telah dekat. Menurut mereka, belajar di asrama tidak efektif, karena dengan sekejap mata akan terlelap. Terlebih jika AC dinyalakan.
Di akhir semester, ketika pengumuman ujian telah keluar, Sahnan dan Mahsun duduk bersama. Keduanya merasa bersyukur karena di semester ini mereka lulus ujian. Padahal, pada saat itu tak sedikit mahasiswa yang tidak lulus.
“Apa rencanamu ke depan Sun? Apakah ada rencana ingin berobat ke dokter?" tanya Sahnan.
“Sudah aku coba berobat Nan, tapi tetap masih seperti ini."
"Kamu berobat di mana?"
"Di rumah sakit yang terletak di Hawi," jawab Mahsun. "Aku berharap sakit yang ada di kepala dan di mataku ini tetap bertahan hingga sampai akhir kuliah ini. Jika sudah lulus dan sudah pulang kampung, aku akan pergi ke semua tabib yang ada di Jawa. Harapku, kiranya mataku ini dapat disembuhkan Allah melalui hambanya yang memiliki keahlian di pengobatan."
"Eh ada kabar bagus lho Sun, di semester ini kita akan diajari Syekh Muhammad Baudhon tentang fikih nikah," Hasnan mencoba menghibur temannya dengan kabar gembira itu. Sejenak Mahsun mengingat sosok ulama yang baru saja disebutkan, dan seketika itu juga ia tersenyum. Kabar itu membuat Mahsun seakan ingin menggulung lengan bajunya. Pertanda bara semangat telah memanas di dirinya.
"Wah asyik. Kali ini pasti kelas kita dibanjiri pemikiran-pemikiran dan ilmu nih, pasti nantinya rame, iya kan. Aku tau kalau Syekh Baudhon itu salah satu gudang ilmu di Tarim ini. Eh, Sahnan kita harus lebih serius nih, jangan sampai terlambat, karena diajari Syekh Baudhon itu anugerah Tuhan yang sangat besar menurutku," kata Mahsun sambil tersenyum dan menegakkan kursi tempat duduknya.
Awal semester enam dimulai. Semua mahasiswa dengan senyum dan semangat baru mengikuti jalannya kuliah. Seperti biasa, Mahsun masuk ke lokal dengan langkah yang cepat dan ayunan tangan yang sangat lincah. Ia tak ingin terlambat, karena menurut Syekh Baudhon, terlambat merupakan bukti kurangnya kewibawaan seorang lelaki. Mahsun pun duduk di kursi. Namun kali ini tampak berubah. Semakin lama Mahsun duduk semakin ke depan. Tampak sudah pertanda kurangnya kemampuan indra Mahsun untuk menangkap ilmu. Ia duduk di bangku nomor dua. Di lihat sebelah kanan, di dekat dinding ia selalu menyandarkan badannya di sana, dengan harapan agar kupingnya menjadi alat utama untuk mendengarkan penjelasan dosen.
Zaman yang manis kini menjadi cemberut, dan lama kelamaan ia menangis dan meneteskan air matanya. Semua terlihat jelas tatkala konflik di ibu kota Yaman semakin menjadi. Berita di sana-sini sudah menjadi sarapan orang sehari hari. Menjadi santapan nikmat para wartawan, dan menjadi renungan panjang bagi para mahasiswa dari Asia. Semua seakan jadi melemah. Semua berpikir pulang untuk menyelamatkan diri atau tetap bertahan, berharap keadaan akan aman-aman saja. Akhirnya, Mahsun dan Hasnan memilih untuk pulang ke Indonesia, dengan tujuan mengobati sakit yang mereka alami.
Penyakit syaraf mata yang dialami Hasnan telah sembuh, karena sejak evakuasi itu, ia mendatangi para dokter dan tabib untuk menyembuhkan matanya. Dokter menyarankan bila ke mana pun Hasnan pergi, ia harus berhati-hati agar debu tidak masuk ke matanya. Berbeda dengan Mahsun, meskipun ia sering berobat, namun kesembuhan belum berkehendak untuk menemuinya. Tanpa putus asa Mahsun tetap mendatangi para dokter dan orang pintar. Hingga buah wortel sering kali ia bawa ke sana kemari untuk diganyang.
Saat kembali ke Yaman, Mahsun tetap tidak putus asa. Perjuangan hanya tinggal setahun lagi menurutnya. Kali ini Mahsun memilih tempat di belakang, karena takut kalau dosen memanggilnya ia tak dapat melihat. Sampai di awal semester sembilan itu, penyakit mata Mahsun merambat sampai ke mata sebelah kanan. Ia selalu memilih untuk duduk di belakang teman yang berbadan besar, dengan harapan agar dosen tidak melihat wajahnya. Matanya tidak mengarah ke dosen, melainkan hanya mengarah ke suaranya.
Di akhir tahun, Mahsun tak dapat menatap apapun di hadapannya. Mahsun tak dapat lagi menutupi sakit yang ia alami. Akhirnya ia menceritakan apa yang ia rasakan kepada sahabatnya. Mata kanan yang selama ini menjadi harapan terakhirnya sudah tak mampu lagi memberi tugasnya. Ke kamar teman dan ke kamar mandi pun harus ada yang memegang tangannya. Jika tidak ada teman yang bisa membawanya, maka berjalan sendiri dengan memegang dinding adalah caranya. Sering kali petugas menuntun tangannya menuju ke kamar mandi. Skripsi yang telah ia mulai tak sanggup ia selesaikan. Ujian akhir kuliah tak mampu ia ikuti kecuali dengan ujian lisan. Materi yang harus ia hafal hanya dengan cara mendengar. Itupun harus ia tunggu sampai teman-teman selesai ujian. Karena harapannya teman-temannya itulah yang dapat membantunya untuk membaca materi kuliah yang akan diujikan.
Somad dan Dedek, dua temannya yang seangkatan rela menurunkan tangan untuk membantu penyelesaian urusan skripsinya. Mahsun, hingga sampai akhir tahun hanya dapat berdiam diri, duduk sambil memegang tasbih di kamarnya. Semua ini adalah hasil dari cintanya akan ilmu yang sangat dalam. Pesan dari kampung hanya bisa ia dengar melalui teman sekamarnya.
Di akhir bulan Sya'ban itu, angkatan delapan belas merayakan wisuda, semua wajah tersenyum. Cermin-cermin yang ada di dalam kamar asrama dipenuhi wajah-wajah calon wisudawan. Semua handpone berdering di sana dan di sini, pertanda foto ananda yang sedang memakai toga sudah terkirim ke kampung melalui whatsapp. Semua wisudawan merayakan acara wisuda mereka, kecuali Mahsun yang hanya diam membisu di dalam kamar dengan bibir bergerak. Berdendang tasbih yang diiringi suara hati. Meskipun begitu, Mahsun tetap tersenyum. Walaupun skripsi dikerjakan temannya, walaupun ujian tertunda, apalagi tidak ikut acara wisuda, Mahsun tetap merasa berhasil menjemput sang cintanya. Ia berhasil mencicipi dan meresapi semua ilmu yang ia gali, meskipun sampel yang berupa toga di kepala itu tak sempat ia rasakan.
"Saya gak usah ikut, nanti kalian semua kerepotan menuntun saya ke sana dan kemari. Sudah berangkat aja. Biar saya di sini saja. Nanti, di acara doa yang dipimpin dekan, tolong masukkan nama saya di niat kalian ya," jawab Mahsun terhadap ajakan temannya. Semua mata tak sanggup membendung kesedihan.
Sering kali apa yang kita cintai membuat kita lupa terhadap apa yang kita miliki. Lupa terhadap kewajiban, bahkan terhadap diri kita. Semuanya itu bukan berarti semua cinta gak bener. Nih buktinya, cinta terhadap ilmu. Walaupun salah satu indranya sudah tidak menunjukkan fungsinya, yang penting sang cinta sudah tergenggam di tangannya, sudah tercantol di hatinya, dan sudah menjadi aksi di akhlak dan budi pekertinya.

Other Stories
Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

32 Detik

Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...

Download Titik & Koma