Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

18. Godaan Evakuasi

Di sebuah rangkaian kisah kuliahku. Teringat dengan semua teman. Berangkat dari daerah masing-masing. Juga dari pesantren yang berbeda. Awal perjalanan yang sedikit memberikan jarak. Mahasiswa hanya mengenal beberapa dari temannya. Karena datang dari daerah yang sama, atau pesantren yang sama. Walaupun begitu, mereka tetap saling menolong satu sama lain.
Setibanya di Yaman, Duf 'ah (nama suatu angkatan) delapan belas membentuk suatu kerja sama. Lama kelamaan mereka saling mengenal satu sama lain. Tak jarang jika salah satu dari mereka merasakan sakit atau sedih maka teman yang lain akan mengobati kesedihan itu.
Jumlah keseluruhan dari Duf 'ah delapan belas adalah dua ratus enam orang. Bergabung dari berbagai suku dan bangsa. Baik dari Asia, Afrika, juga Australia. Mengenal orang dari berbagai daerah dan suku merupakan kesenangan tersendiri bagi setiap orang. Bagaimana tidak, dengannya seseorang bisa belajar banyak ilmu yang bersumber dari pengalaman. Lambat laun, satu sama lain semakin akrab.
Keadaan Hadhramaut dari awal mahasiswa datang masih aman dan biasa-biasa saja. Keamanan yang ada pada saat itu bisa mencapai seratus persen. Bahkan, Hadhramaut lebih aman daripada Libya dan Syria. Bahkan, pada saat itu banyak penduduk Syria yang pindah ke Hadhramaut. Kenyamanan di negeri ribuan wali ini membuat mahasiswa semakin merasa betah. Kala itu, jika pelajar menelepon orang tua, tak jarang terdengar kabar akan kenyamanan tempat para ulama ini.
Aktivitas kuliah dan pengajian berjalan lancar. Tak sedikitpun ada hambatan. Begitu juga wisata religi yang sudah menjadi kebiasaan mahasiswa tak putus. Di kala waktu libur datang, para mahasiswa membuat rencana ke suatu tempat untuk menziarahi para ulama dan orang-orang saleh, kiranya dengan ziarah ini dapat menghidupkan cahaya hati yang terkadang terang dan terkadang redup. Terlebih mahasiswa Indonesia. Mahasiswa Indonesia sangat aktif menziarahi makam para nabi dan ulama yang telah terdahulu. Semuanya berjalan lancar dan tidak ada rintangan. Di sana-sini tidak ada terdengar suara anak yang menangis karena kehilangan orang tuanya.
"Alfiqhu yamani walhikmatu yamaniyah". Fiqih itu bangsanya orang Yaman dan hikmah itu kebiasaan orang Yaman. Hadits nabi yang menjadi kepercayaan dan suatu kebanggaan bagi penduduk Negeri Yaman. Hadits yang menjadi kepercayaan para penuntut ilmu sebagai alasan datangnya mereka dari negeri yang jauh menuju negeri Ratu Balqis ini. Mahasiswa di akhir masa liburan itu telah menghabiskan kelelahannya. Telah beristirahat dalam waktu lama. Di malam hari, di pertengahan tahun 2014 itu. Semua tidur nyenyak. Belum ada kabar yang memanas bagi penduduk Negeri Yaman. Namun keesokan harinya, kabar konflik di Sana'a ( ibu kota Yaman) sudah menjadi wejangan sarapan orang. Di rumah makan, di rumah sakit. Bahkan sampai di bagian pelosok Provinsi Hadhramaut.
Pagi hari itu tak seindah hari biasanya. Selama ini, sejak masuk ke dalam kelas, dosen langsung membaca basmalah dan memulai pelajaran dengan semangatnya. Namun kali ini tampak beda, setelah masuk ke ruang kuliah, Dr. Muhammad bin Ismail berhenti sejenak dan terdiam, lalu bertanya, "Apakah kalian tahu kabar hari ini?"
"Berita konflik di Sana'a ya Ustaz?" jawab dari salah satu mahasiswa.
"Iya," jawab dosen yang saat itu belum sempat berdiri. "Sudahlah, biarkan saja semua itu, tugas kita di sini hanya belajar dan mengajar," ujarnya.
Api semangat yang selama ini membara, dan telah menebarkan baranya ke semua bagian pikiran, kini telah mengecil. Semua karena kabar yang telah memanas saat itu. Banyak juga mahasiswa yang gelisah karena datangnya kabar bahwa sebagian dari orang tua mereka di kampung merasa gelisah. Bahkan sampai ada yang pingsan dan meminta agar anaknya cepat pulang. Namun apa daya, sejak kabar kejadian itu, banyak wasilah dan hubungan yang terputus, bahan bakar dan bensin juga menjadi langka, hingga tak jarang bila datang satu mobil membawa bensin, akan terjadilah antrian panjang.
Tampaknya cobaan si perantau yang fakir ilmu datang lagi. Saat itu, semua pelajar berpikir. Satu sama lain bila berjumpa sering bertanya, "Kamu ikut evakuasi dari pemerintah Indonesia gak?" pertanyaan ini sering terulang-ulang dari satu lisan ke lisan yang lainnya. Kedua pilihan itu menjadi berat bagi kami. Karena evakuasi tidak hanya berujung pada keamanan saat semua sampai di Indonesia, melainkan akan datang pikiran baru untuk balik ke Yaman saat konflik sudah selesai. Bahkan, sebagian yang lain sudah berpikir untuk pindah ke universitas yang ada di Indonesia. Pikiran itu timbul dari prasangka bahwa Yaman tak akan kembali nyaman, juga tak kembali aman. Apa lagi tenteram.
Bumi Tarim seakan menunjukkan ciut akan hatinya. Pancaran sinarnya yang kuning, berbaur dengan alam nan panas, pemuja silaunya pandangan. Kini tak lagi menunjukkan aksinya. Hanya debu yang tergiring angin sering berkeliaran di kota nan suci itu. Agaknya dialah sebagai unsur akan pucatnya wajah Tarim, dialah unsur akan hambarnya rasa. Tampaknya ia larut dengan rasa yang menggeluti pikiran para tamunya, yaitu kami, mahasiswa yang sedang bingung.
Surat dari panitia evakuasi telah beredar dan sampai kepada rektor universitas Al Ahgaff. Semua mahasiswa menuggu keputusan. Semua belum ada yang dapat memutuskan untuk ikut program evakuasi sebelum ada persetujuan dari pemerintah. Namun, keputusan rektor tidak sependapat dengan kegelisahan dari sebagian hati. Rektor memutuskan untuk tidak ikut evakuasi. Dan menyatakan akan bertanggung jawab atas segala yang terjadi nantinya bagi mahasiswa. Surat dari rektor itu langsung dikirim ke panitia evakuasi. Namun, setelah surat dari rektor itu sampai ke panitia, keesokan harinya konflik semakin membesar dan meluas ke daerah Yaman lainnya. Semua semakin panik dan semakin bingung. Terlebih lagi saat panitia evakuasi tidak menjamin biaya kembali ke Yaman untuk mahasiswa Indonesia. Di samping rasa nyaman di negeri sendiri, pasti memberatkan orang tua juga.
Takdir yang tak tertolak itu, kini menuliskan wujudnya di suratan kisah. Kisah yang mengalir di lembah kehidupan kami. Alurnya terkadang maju, terkadang maju mundur, dan terkadang juga macet. Banyak dari mahasiswa yang harus tunduk dengan perintah orang tua. Kami harus pulang ke kampung. Demi menaati perintah orang tua. Saat konflik bergejolak dengan kuatnya, majelis fatwa di Tarim mengeluarkan fatwa bahwa harus mendahulukan keinginan orang tua, dan harus taat kepada orang tua. Maka dari itu, jika orang tua menginginkan anaknya pulang, pulanglah, itu lebih baik. Fatwa yang menundukkan mata hati, membuat tali keputusanku dan teman-teman harus terikat dengan keinginan orang tua.
Bis datang dari Oman, negara yang merupakan tetangga Yaman. Semua sudah bersiap. Sesama teman saling memberi pesan dan nasihat untuk yang tidak pulang. Saling bersalaman. Setelah itu, semua peserta evakuasi masuk ke dalam bis. Satu per satu bis berjalan mulai dari bis pertama hingga bis kelima. Pada sore hari, Semua bis berjalan dengan lancar. Tidak ada sedikitpun masalah. Namun, setelah jam sebelas malam, satu per satu bis mengalami masalah. Bis pertama mengeluarkan asap dari mesinnya. Bis kedua tiba-tiba mogok dan mesinnya mati. Bis ketiga kehabisan solar. Tampaknya cobaan dan kepanikan tidak hanya berakhir saat semua sudah berangkat, melainkan masih banyak lagi cobaan yang harus dihadapi dalam perjalanan evakuasi ini. Di malam hari itu, bis berhenti, semua mahasiswa tertidur. Satu per satu terbangun untuk buang air kecil dan mengambil air. Yang lain terbangun untuk minum.
Fajar telah menunjukkan wujudnya di ufuk, semua mahasiswa terbangun untuk salat subuh. Salat di hamparan nan tandus. Beralaskan tanah. hingga debu dan pasir menempel di wajah, terlihat setelah bangkit dari sujud. Lama kelamaan, sinar merah mengirimkan cahayanya di atas pasir. Semakin lama semakin jelas dan terang. Hingga terlihat di hadapanku hamparan pasir menebas tepi.
Bis berhenti. Supir tak tahu apa yang harus diperbuat. Sudah sejak tadi malam berhenti belum menemukan jalan keluar. udara semakin panas. Sejauh mata memandang tak terlihat sedikitpun jejak kehidupan. Handphone menjadi bisu, karena signal tidak terlihat kala itu. Dahaga semakin menyengat tenggorokan. Perut mulai menentang kehendaknya. Sementara air semakin habis. Karena saat subuh tadi, banyak mahasiswa kencing beristinja dengan air. Makanan sudah tidak ada. Karena panitia evakuasi hanya menyediakan makanan yang diperkirakan cukup untuk perjalanan ke "Salalah, Oman".
Duduk di bis tidak memberikan kenyamanan. AC tidak dapat dinyalakan, karena mesin bis tidak bisa menyala. Hanya rasa panas yang didapati. Tak ada bedanya dengan duduk di luar. Rasa panas juga semakin menyengat saat jam 9 pagi itu. Padang pasir semakin menunjukkan sifatnya. Angin sering terlambat akan hadirnya. Akhirnya, semua mahasiswa berteduh di bawah penutup mesin yang dibuka oleh supir, sambil mengharap angin berhembus.
Mulai terlihat mobil lewat di jalan itu, walau terkadang dua puluh menit sekali. Aku dan teman-teman yang pada saat itu duduk berteduh di atas aspal menghambat mobil yang lewat. Meminta kerendahan hati untuk menyampaikan kabar ke perbatasan, agar membawa segala peralatan dan mekanik, juga solar. Sambil menikmati kuaci dari teman yang rencananya ia jadikan oleh-oleh untuk keluarganya di rumah.
Setelah jam sebelas siang, datang sebuah mobil dan berhenti di hadapan bis, datang membawa solar dan segala peralatan mesin. Bis yang mogok segera diperbaiki. Yang kehabisan solar diisi. Setelah semua selesai, bis berangkat menuju "Salalah". Sampai di Salalah, panitia dan dubes Indonesia menyambut semua mahasiswa di depan hotel. "Malam ini kita menginap, besok siang kita terbang dari Bandara Salalah" kata panitia evakuasi kepada kami.
Semua beristirahat di sebuah hotel. Keadaan darurat yang tidak mungkin di hindari. Rasa syukur dan apa adanya harus tetap ada. Walaupun satu hari hanya makan nasi dan mie instan. Tepat tanggal 12 Mei 2015 di siang hari, semua bersiap naik bis menuju bandara. Sesampainya di bandara, kami tidak langsung bisa masuk ruang tunggu. Semua harus menunggu dan antri. Antri di jalan raya, Hingga banyak yang duduk di trotoar, di troli ataupun di rumput halaman bandara. Semakin lama semakin lelah. Tanpa makanan tanpa minuman. Tak sanggup membeli apa-apa, karena tidak memiliki riyal Oman. Setelah dua jam menunggu, mobil Landcruiser berwarna hitam datang mendekati kami di pinggir jalan. Setelah pintunya terbuka, ternyata orang Arab yang berbaik hati mengeluarkan beberapa kardus air mineral. Alhamdulillah, dahaga menjadi hilang. Sejak magrib menunggu, akhirnya jam 12 malam kami bisa masuk bandara dan naik pesawat.
Sebulan setelah evakuasi, hati tak menentu, tampaknya kiblat hati yang selama ini hanya terpana pada kurikulum Timur Tengah telah tegoncang. Tergoncang dengan sangkaan si penuntut hakikat. Membuat pikiran bercampur dan larut dalam kebimbangan. Hingga sesampainya di Indonesia, banyak pelajar yang ingin menyambung studinya di unversitas yang ada di Indonesia. Sangkaan yang menggores pikiran mereka tampaknya semakin menjelaskna bekasnya. Satu sama lain saling chatting-an di antara mereka, melalui Whatsapp, sms, Facebook dsb.
Tring.. tring.. tring.. suara pesan dari tablet. Pertanda pesan telah masuk dari temanku. Halaman akun-ku penuh akan berita pendaftaran mahasiswa pindahan, kabar baik menurut mereka. Bahkan ada dari mereka yang sudah mendaftarkan dirinya dan menyatakan pindah, ada yang tetap menunggu berita dari Yaman. Ada juga yang masuk dan langsung mengajukan proposal skripsi. Semua saling memilih pilihannya, semua merasa tertekan akan kebingungannya. Dan ingin keluar dari kurungan pikiran yang sedang kacau. Mengingat jika dibandingkan, kuliah di negeri sendiri lebih santai dan lebih enak dibandingkan kuliah di Yaman yang selalu memeras keringat dahi untuk berpikir, ditambah lagi rasa capek yang selama ini selalu dirasakan akibat banyaknya jam kuliah yang harus ditaati.
Aku yang saat itu sempat tergoncang benteng keteguhanku, di sana teman menawarkan kuliah dengan waktu yang cepat. Di sini teman lama menawarkan kuliah di universitas negeri, di situ teman satu sekolah mengajak ke swasta, sementara di rumahku, ibu dengan sapaannya yang sangat dalam berkata, "Ibu ingin salah satu anak Ibu lulusan Timur Tengah". Kulihat mata ibuku merah. Rona merah itu sempat merambat ke pipinya, tak lama air mata pun keluar tercucur di pipi yang sembap itu. Air mata yang menebas kebingungan. Agaknya air mata itu terbit dari ketulusan yang selama ini berharap besar terhadap keberhasilan studi anaknya. Juga dari keringat penagih janji akan hasilnya. Keraguanku telah dibekukan dengan harapan ibu yang dituturkan melalui lisannya. Sejenak semua ajakan teman kutahan. Mengingat mungkin masih ada harapan untuk kembali ke Yaman.
Sebulan setelah kepulanganku, ajakan Bang Kamal mengundang langkahku untuk ber-silaturrahim ke rumahnya. Abang kelas yang telah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Al Ahgaff. Di sana, aku mencicipi banyak sekali hidangan rohani darinya. Wejangan yang indah itu memenuhi hatiku yang selama ini dahaga akan petunjuk dan arahan.
"Gak usah bingung. Semua ini hanya untuk mencoba dan melatih keteguhan kalian. Kuliah di luar negeri adalah emas dibandingkan dengan kuliah di sini. Kuliah di sini hanya seperti perak. Memang ada manfaatnya, namun emas memiliki manfaat yang lebih besar, bahkan harganya juga lebih mahal. Nah jika kamu mendapatkan emas itu, maka kamu layaknya peti emas. Semua orang akan mencarimu, karena di hatimu tersimpan emas yang mereka cari. Dan emas itu bukan seperti emas yang dijual di toko. Emas yang satu ini tidak hanya bisa menghasilkan kekayaan harta, melainkan kekayaan hati, juga kekayaan batin. Emas yang satu ini bukan hanya membuat mereka kaya di dunia, melainkan kekayaan di akhirat juga akan menjemput mereka. Emas yang satu ini tidak hanya dapat mengobati kefakiran, ia juga dapat menyembuhkan penyakit hati. Bahkan ia dapat menerangkan hati yang gelap. Karena inilah emas yang tak semua orang bisa meraihnya. Hanya orang yang berhati teguh, berniat bening dan berkilau seperti kilaunya emas hikmah itu. Merekalah yang bisa mendapatkan emas itu. Emas ini bukan emas yang dapat dibeli dengan uang, digali dengan mesin canggih, disaring dengan alat canggih. Emas ini hanya bisa didapat dengan kuatnya ma'rifat kepada Sang Pencipta, dan kuatnya cinta kepada rasul. Ingat Bal! ilmu di Hadhramaut itu seperti emas. Kamu tak akan mendapatkannya kecuali hanya di sana, di Hadhramaut"
Tampaknya tekadku menjadi bulat, tak satupun yang dapat merubahnya menjadi petak, apalagi persegi. Kabar dari pihak kampus tetap menjadi harapanku.
Sementara, sebagian mahasiswa telah merubah jalan nasibnya, mereka telah memilih jalan belok yang mengarahkan mereka ke cara yang lebih mudah dan lebih nyaman. Terutama bagi mereka yang istinhaj (mengulang setahun), tak ingin menunggu lama mereka memilih pindah. Andaipun tahun depan sudah datang, kuliah dimulai lagi, pastilah pelajaran yang berat akan dihadapi, dan pastilah akan menguras semua kemampuan otak dan tenaga, begitu juga kekuatan fisik. Maka, kuliah di dalam negeri menjadi pilihan emas bagi mereka.
Setelah Lebaran, di tahun 2014, kabar dari rektor membuat gembira mahasiswa yang pulang. Kuliah yang selama ini terputus kini dilanjutkan dengan kuliah sementara di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Semua diterima dengan lapang hati. Walau hanya sementara, tapi inilah cara agar mahasiswa tidak putus kuliah. Kuliah terus berlanjut, tentunya beda tempat pasti beda rasanya. Belajar di kota produksi di tempat yang panas, sebagian mahasiswa yang kuliah di Gresik mengambil keputusan untuk memutuskan kuliahnya. Di Ponpes Mamba'us Sholihin. Di pesantren asuhan Kiyai Masbuhin ini sementara mahasiswa dan mahasiswi Yaman kuliah, sambil menunggu kabar dari Yaman. Memang tak seindah dan senyaman yang diharapkan, namun itulah kelapangan hati yang diberikan Kiyai Masbuhin kepada kami, hingga akhirnya mahasiswa dan mahasiswi dapat mempertahankan kuliahnya.
Kuliah di Gresik berlangsung selama setahun. Setelah itu, semua mahasiswa mulai cas cis cus membicarakan keberangkatan ke Yaman, impian yang mereka tunggu setahun yang lalu. Setibanya di Yaman. Semua teman Duf 'ah delapan belas melanjutkan kuliah mereka di Tarim hingga selesai. Jumlah angkatan delapan belas tak sebanyak saat awal mereka datang ke Yaman. Semua teleh berganti. Teman-teman yang dulu sering bercerita dan mengajarkan ilmunya satu per satu telah pulang, pindah ke universitas lain. Ada juga yang berhenti kuliah.
Selalu ada cobaan dan ujian dari setiap usaha. Apapun itu, semua bukan karena Allah benci kepada kita, juga bukan karena nasib kita tidak baik, begitu juga, bukan karena semuanya itu susah dan harus diselesaikan. Tidak. Bukan seperti itu adanya.
Allah memberikan perhatian terhadap usaha kita, dan perhatian itu bukan berupa bantuan, seperti bantuan dari teman atau kerabat yang membuat semua usaha kita menjadi mudah, melainkan perhatian yang menguji kita. Sesuatu yang sudah menjadi pilihan kita sebenarnya sudah menjadi hak kita, maka kita berhak untuk mendapatkannya dan meraihnya, dan Allah tidak ingin jika keinginan yang kita raih dengan cepat bisa terlepaskan. Allah ingin kesuksesan kita kekal. Tidak cepat rusak dan tidak cepat luput dari kita.
Lalu bagaimana cara Allah mempertahankan kesuksesan kita? Dengan cara menguji kita terlebih dahulu. Kenapa kok harus diuji? Kan Allah sayang sama kita? Iya. Allah menguji hanya agar kita menjadi kuat dan lebih pantas mendapatkan impian kita. Karena hanya orang yang kuatlah yang dapat mempertahankan kesuksesannya. Sehingga dengan kekuatan dan keahlian yang telah teruji itu, kita mampu membuat impian yang kita miliki menjadi kekal dan tidak punah.
Dalam istilah lain, Allah menguji kita sebagai pemantasan diri untuk kita. seorang pedagang akan diuji dengan cemohan orang dan konsumennya, agar saat ia kaya dari hasil dagangannya, kekayaannya tidak mudah punah. Karena segala rintangan akan kegagalan telah terbiasa ia rasakan. Maka kekayaan itu menjadi pantas untuknya. Seorang ilmuwan akan diuji dengan ilmunya agar nantinya ia menjadi pantas mendapatkan ilmu yang ia tuntut.
Jadi, semua kesulitan dan rintangan hadir karena Allah prihatin kepada kita, karena Allah peduli kepada kita, bahkan sayang kepada kita. Coba bayangkan seseorang yang makan selalu dihidangkan. Pekerjaan rumah adalah urusan pembantu, pergi ke sekolah dengan kendaraan mewah. Masalah di sekolah adalah urusan orang tua. PR dari guru adalah urusan pembantu, hingga dewasa rumah dibelikan, kedudukan juga diberikan. Semua hartanya adalah warisan. Mungkinkah orang seperti ini kita katakan orang hebat?

Other Stories
Pesan Dari Hati

Riri hanya ingin kejujuran. Melihat Jo dan Sara masih mesra meski katanya sudah putus, ia ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Cinta Buta

Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Download Titik & Koma