Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Reads
5.2K
Votes
0
Parts
21
Vote
Report
pucuk rhu di pusaka sahara
Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara
Penulis Muhammad Iqbal

17. Jangan Dibuang Air Yang Keruh

Kita adalah makhluk baharu, selalu menerima perubahan, baik perubahan zaman, perubahan tempat, perubahan rasa dan usia. Kita juga makhluk yang selalu tunduk, dalam arti tak semua yang dikehendaki atau kita perbuat merupakan kekuatan di diri kita, karena masih ada kekuatan yang lebih dahsyat dan sangat luar biasa di balik tirai energi kekuatan dan energi pikiran kita. Dan si pemilik kekuatan itu sewaktu-waktu dapat membolak-balikkan keadaan kita.
Jangan dibiarkan air yang keruh, apalagi dibuang, jangan sampai yaa.! Emang kenapa? Karena tak selamanya keruh itu menghilangkan manfaatnya, akan datang suatu keadaan di mana dia akan berubah, keruh yang selama ini larut bersama cairnya akan memisahkan diri, dia akan mengendap. Nah di situlah kita dapat mengambil manfaat dari air itu. Terus, apa maksud dari ini semua? Jika timbul niat yang kurang baik dalam diri kita, jangan segera dibuang atau dihindari, karena tak selamanya dia tetap menjadi kurang baik, ada masanya perubahan itu akan menghampirinya.
Niat yang tidak baik jika bersanding dengan perbuatan yang baik maka jangan terlalu cepat dipisahkan. Ingat ya, niat baik yang saya maksud di sini adalah niat yang mengiringi perbuatan luhur, bukan niat buruk yang diikuti dengan perbuatan yang buruk, kalau yang ini jelas-jelas aja tidak boleh, percaya gak? Percaya aja deeh.. gak bakalan nyesel.
Saat keberangkatan menuju kota seribu wali ini, semua wajah menghadap pembimbing. Semua calon mahasiswa saat itu sedang memandang niat yang terpatri di layar mata hatinya masing-masing. Timbullah salah satu niat yang kurang layak di hati Budi, menuntut ilmu ya menuntut ilmu, tapi manfaat dari ilmu itu tidak boleh dinomorduakan lho. Mungkin saja dia bisa menjadi bak kuda di delman, letaknya di depan tak lain dan tidak bukan hanya dapat menarik pedati yang diduduki penumpang. kiranya dengan perantara kuda itu, dapatlah pak kusir menuju tempat yang ditujunya.
Ilmu untuk keberkahan hidup? Itu pasti. Ilmu untuk menggiring orang di sekeliling kita menuju kebaikan? Bisa diterima. Bagaimana jika dengan ilmu kita bisa mendapatkan pangkat atau kedudukan? Yang ini kalau bisa lebih diutamakan. Semua ini adalah kata-kata yang tertera di pikirannya kala itu. meski ia tahu bahwa semua itu bathil, namun tak semata ia mencabut niat itu dari hatinya, mengingat saat itu tak mungkin menyia-nyiakan orang tua yang sudah susah payah mencari uang untuk membayar visa dan tiket pesawat.
Di negeri Ratu Balkis inilah seorang hamba Allah ini akan menerapkan semua keinginannya dengan rangkaian niat yang telah ia tampilkan di layar kacamata hatinya. Sejauh ini belum ada sedikitpun keinginan untuk merubah niat itu. Kuliah pun dimulai, satu per satu dosen sudah mengajari kami saat itu. Ada satu kalimat keren dari sang dosen untuk semua mahasiswa, "Kalian kuliah di universitas Al-Ahqaff, kata ‘Al-Ahqaff’ adalah nama dari suatu bukit, dan kalian adalah pendakinya, dan di suatu saat nanti kalian akan sampai di puncaknya. Puncak kemuliaan atas ilmu yang telah kalian raih". Kalimat yang memotivasi dan menginspirasi mahasiswa. Kalimat yang mungkin menjadi emas bagi sang penambang kedudukan dan pangkat, namun menjadi pagar bagi sang penjaga martabat.
Mahasiswa ini pun semakin menancapkan semangatnya, belajar ke sana kemari, mencari tempat yang nyaman dan aman untuk mengulangi pelajaran. Saat berlangsungnya kuliah, kursi depan merupakan tempat favoritnya. Jangan terlambat, karena disiplin waktu adalah kata kunci baginya. hingga bel belum berbunyi, kursi belajar telah menjadi sandarannya. Agaknya semua itu menjadi pelumas akan kesuksesannya. Namun, masih ada satu yang tetap menjadi menara dari pondasi niatnya, yaitu mendapatkan nilai yang tinggi. Yah, nilai yang tinggi. Karena hanya dengan nilai yang tinggi semua akan tercapai dan mudah digapai menurut pandangannya.
Semester pun telah berganti dari yang satu ke yang lainnya. Semua ujian telah tersikat habis olehnya, sebagian mata kuliah menurut orang sulit, namun tiada yang sulit baginya, karena paham atau tidak adalah urusan ke sekian, yang paling utama adalah hafal. Rumus andalan baginya adalah "Siapa yang hafal pasti selamat, siapa yang paham belum tentu selamat". Hingga di akhir tahun pertama, saat usai ujian, semua mahasiswa berlibur. Dan saat itu Budi mengikuti ajakan temannya yang akan berjalan-jalan ke suatu daerah bernama "Syihir". Mungkin, di sinilah cahaya kebenaran itu akan menggantikan semua niat yang kurang baik pada dirinya, seketika bergeraklah semua mahasiswa yang akan berangkat pada saat itu. Sesampainya di tempat, datanglah seorang Arab Badui, mendekatinya lalu berkenalan. Tak sadar satu sama lain saling merasa nyaman dengan topik yang mereka bicarakan. Di ujung dari pertemuan, timbul pertanyaan masalah agama yang dilontarkan orang Badui ini kepadanya.
Orang Badui berkata, “Dek, kalau seandainya ada orang miskin, sementara orang tuanya itu kaya, nah di akhir bulan Ramadhan, orang tuanya meninggal dan semua harta warisannya akan diwariskan ke si anak yang miskin ini. Harta itu belum sampai ke si anak, karena masih banyak kewajiban yang harus dikeluarkan dari harta warisan ayahnya itu. Lalu bagaimana hukumnya ya Dek?
Sesak dan gelisah menghampiri perasaannya pada saat itu, pertanyaan itu terasa sangat berat baginya. Menjawab dengan asalan saja tidak mungkin. Kalau mengaku tidak tahu akan merasa malu. Jadi harus gimana ya? Sejenak keheningan menghampiri suasana di antara mereka berdua. Akhirnya Budi pun mengakui keadaannya serta mengatakan, "Maaf Paman, aku tidak mengetahui jawabannya."
"Oh tidak apa-apa Nak, kamu kan juga masih belajar. Mungkin nanti dengan menelaah kitab, dan mengkaji ulang, insya Allah kamu akan menemukan masalah fiqih ini dan akan mengetahui jawabannya," jawab orang Badui itu.
Sesampainya di asrama, pertanyaan tadi pun masih terngiang dan terlihat di pikirannya. Tampaknya sedikit jarum hidayah telah tertancap di hatinya. Namun himbauan dari Arab Badui tadi tak digubris olehnya, mengingat juga tubuh masih lelah pulang dari bepergian.
Ujung semester kedua pun telah berlalu, semua mahasiswa harus dipindah ke fakultas syariah yang terletak di Tarim, karena fakultas syariah sebenarnya terletak di Kota Tarim. Di sinilah semua mahasiswa akan menemui manis dan pahit, ringan dan beratnya kehidupan. Namun siapa yang tak bahagia menjalani itu semua, jika visi dan misi masih bersarang di jiwa. Seakan di masa yang akan mendatang, visi dan misi itu akan menampakkan wujud aslinya di seragam dinas, di kendaraan yang mewah, ataupun di tempat huni yang sangat megah. Kiranya inilah yang menjadi tuntunan tersendiri dalam kehidupannya.
Musim dingin pun menghadirkan raganya di teras bumi Hadhramaut saat itu. dengan senyum di wajah beku, ia masuk. Menjadi tamu yang membawa kabar akan hadirnya semester tiga, yang akan menanti segenap mahasiswa pada saat itu. Juga menjadi pengingat untuk mewanti-wanti mahasiswa agar tidak lalai, sehingga nantinya tidak gagal di semua ujian.
Dosen yang pada saat itu mengajar mengawali senyum dan nasihatnya di hadapan mahasiswa, "Hendaknya kalian semua memperbarui niat, ambil niat yang baik, dan tinggalkan niat yang buruk. Penuntut ilmu yang berniat menegakkan kalimat Allah akan bertempat satu tangga di bawah kedudukan para nabi dan wali Allah, dan penuntut ilmu yang hanya mencari kesenangan dunia, tiada balasan baginya kecuali hanya apa yang ia inginkan di dunia ini". Sejenak kalimat ini membuat Budi terpaku dan berpikir panjang. Kelihatan dapat menggetarkan pondasi niatnya semua nasihat dari dosen yang bernama Segaf Alydrus ini.
Mata kuliah tafsir adalah satu mata kuliah yang harus kami kuasai, di tengah kuliah sang dosen bertanya kepada Budi yang pada saat itu terdiam di kelas, seakan menyimak dan memperhatikan semua yang dijelaskan sang dosen. "Apa pendapat Imam Hanafi tentang mafhum mukholafah?'', kebisuan hanyalah menjadi jawabannya atas pertanyaan sang dosen. Pertanyaan pun dilempar ke mahasiswa yang lainnya, namun tak terjawab juga. Hingga ditujukan orang ke tiga, namun tetap tak terjawab. Kebetulan pertanyaan itu hanya tertuju kepada orang yang kurang serius. Pertanyaan itu tepatnya menjadi pendahuluan dari cara Allah untuk mengubah niat Budi, cara Allah itu hadir dengan nasihat pedas dari sang dosen.
Dosen : Apa pendapat kalian jika seorang hamba beribadah hanya mengharap pahala?
Mahasiswa : Hanya pahala yang didapatnya, ustaz.
Dosen : Kalau keridhoan Allah dapet gak?
Mahasiswa : Belum tentu dapat.
Dosen : Kenapa enggak? Padahal kan bedanya hanya tipis.
Mahasiswa : Karena niatnya hanya ingin pahala, ustaz.
Dosen : Lalu bagaimana kalau niatnya ingin dapat keridhoan, apakah dia dapat pahala?
Mahasiswa : Bahkan lebih dari pahala, ustaz.
Lanjut sang dosen dengan ritme yang tenang dan santai, "Nah begitulah kiasannya dengan kalian yang menuntut ilmu. Jika kalian campurkan niat yang luhur dengan yang tidak baik, maka akan gugurlah niat yang luhur itu, sehingga ilmu yang di dapat hanya segini (dengan menunjukkan ujung jari kelingking yang ditutupi ibu jari). Buktinya saat saya bertanya tentang materi yang sudah lewat, tak ada yang menjawab. Ini bukti bahwa ilmu itu tidak terpatri di hati kalian. karena pintu hati kalian terkunci dengan gembok yang kotor, sehingga ilmu yang suci itu tidak bisa masuk ke dalamnya.”
Sejak nasihat itu terlontar, Budi mengubah semua niat tidak baik yang bersarang di dirinya selama ini. Nah semua itu hanyalah kenangan dan masalalu yang harus ditinggalkannya. Kini dia berada di jalan start yang baru. Ilmu yang ia sangka akan menjadi jembatan impiannya, hakikat ilmu itu ternyata mampu menghempas semua ke-bathil-an yang larut di dalam tugas mulianya.
Bertahannya kita dalam suatu keadaan dengan niat yang tidak baik adalah suatu alamat dan pertanda bahwa kita masih punya kesempatan untuk berubah, kesempatan untuk menjadi lebih baik, bahkan menjadi luar biasa. Kecuali jika niat buruk itu akan mencelakai orang, atau niat buruk yang disertai perbuatan buruk, maka jangan di pertahankan, ntar bukan berubah malah semakin bahaya.

Other Stories
Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Cinta Di Ibukota

Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...

Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma