2. Pak Karmui
“Satu tercinta pergi harapan serasa mati, tapi ternyata tak ada habis yang namanya harapan itu.”
Siang itu juga Bu Marseh dimakamin, untuk senja hari ini Kidung berduka walau hatinya ingin menghirup wanginya vanili tapi sepertinya sekali untuk sore ini wangi melati lebih menghayati hatinya yang lara.
Kepergian ibunya menjadikan dirinya merasa tak punya siapa-siapa lagi, berharap banyak dengan bapak? Sepertinya tak mungkin, yang ada hatinya meradang karena pukul dua pagi bapaknya pun pulang masih mabuk dan sekarang sampai ibunya dikubur entah di mana keberadaanya.
Kidung tak tahu kalau bapaknya tengah menahan sakit di penjara karena pukulan-pukulan tukang pukul yang disewa Pak dan Bu Margono yang tidak mau membayar bunga hutang yang menjadi berjumlah banyak.
Senja yang tersendu, tak ada wangi vanili yang ada wangi melati membekas di benak Kidung. Dirinya tak suka bau melati mulai senja ini, ini akan hanya mengingatkan kepergian ibunya.
Sudah tak ada siapa-siapa di area perkuburan. Sandekala sudah lewat, tak ada teguran lagi yang mengingatkan kalau sandekala gak baik anak perempuan masih berkeliaran di pinggir kali dekat kebun vanili. Tak ada yang tahu kalau Kidung merindukan teguran-teguran ibunya saat ini.
Kidung pulang dengan hampa, mau apa di rumah dia sendirian? Bapaknya pasti belum tahu kematian isterinya. Kidung tak peduli, rasa benci menjalari relung hatinya. Hatinya benci bapaknya!
“Semua karena Bapak! Kalau tadi pagi Bapak tak memukuli Ibu pasti Ibu masih hidup! Pasti Ibu masih hidup! Aku benci Bapak!” ternyata salat magrib yang baru saja Kidung selesaikan tak bisa membuat hatinya tenang.
“Ambil Alquran ... bacalah Nduk, kalau atimu lagi ora tenang ....” seketika Kidung ingat nasihat ibunya untuk mengajilah, baca Alquran jika hatinya sedang tidak tenang.
Kidung membuka buku Alquran yang sudah tampak usang kekuningan kertasnya, mulai murojah dengan perlahan, membiarkan air matanya menetes jatuh demi satu membasahi kertas Alqurannya. Hatinya pun mulai merasakan tenang. Ibunya benar ayat-ayat Allah membuat hatinya lebih tenang dan ikhlas melepas kepergian ibunya baru saja. Semua serasa mimpi tapi ini nyata.
***
Kidung tak sadar sudah berapa jam dirinya tertidur, masih memakai mukena dan Alqurannya malah menjadi bantalan. Dirinya terbangun karena ada tangan kasar yang lama tak pernah lagi mengelus kepalanya, tangan yang dua tahun lalu suka mengelus rambutnya sambil bercerita tokoh-tokoh wayang. Sekarang terasa nyata bapaknya tengah mengelus kepalanya.
“Maafin Bapak Dung, Bapakmu ini orang yang paling tak berguna sampai-sampai Marseh tega meninggalkan Bapak ....” ternyata Pak Sugiharto yang Kidung kira tak akan bisa menangis lagi dengan kepergian ibunya sekarang tengah meratap, menyesal, dan entah perasaan apa lagi yang membuatnya bersimpuh di depan Kidung.
Kidung masih ingat janji hatinya untuk membenci bapaknya, dikuat-kuatkan rasa benci itu agar tak luluh dengan penampakan bapaknya yang sekarang tengah menyesal. Selalu penyesalan datang ketika apa yang kita cintai sudah meninggalkan kita selamanya.
“Kidung benci Bapak! Bapak sudah tak sayang lagi dengan Ibu dan Kidung sejak tak lagi jadi petani! Ibu sampai meninggalnya juga tak pernah tahu apa pekerjaan Bapak! Jangan-jangan Bapak buronan polisi atau pencuri! Kidung juga tak tahu! Tapi yang buat Kidung benci Bapak! Karena Bapak yang menyebabkan Ibu meninggal!” beberapa jam lalu setelah membaca Alquran Kidung merasa tenang dan ikhlas melepas kepergian ibunya. Tapi sekarang di hadapan Kidung bapaknya yang tubuhnya babak belur dan kesakitan menyulutkan rasa benci yang memang sudah ditekadkan sejak dari pagi tadi saat ibunya pingsan, sementara bapaknya mabuk.
Atau bisa jadi karena tumpukan-tumpukan luka yang sudah terpendam dua tahun ini dan hari ini puncak luka itu terasa perihnya dan berkesempatan untuk disemburkan menjadi amarah pada bapaknya.
Kidung pura-pura tak peduli dengan luka-luka lebam di tubuh bapaknya yang tampak di keremangan lampu petromak gubuk mereka. Saat ini hati bocahnya sangat marah dan mendendam.
“Maafkan Bapak Nduk, Bapak nyeseeel sekali dan Bapak janji enggak akan kembali bekerja di kota. Bapak akan tandur apa aja yang bisa ditandur di halaman rumah kita,” jawab Bapak Sugiharto tergugu.
Kidung terdiam, dalam hatinya ingin bapaknya jadi petani vanili lagi dan tak pergi-pergi jauh, yang terpenting enggak mabuk-mabuk lagi.
Mungkin hikmah kepergian ibu adalah kembalinya bapak yang seperti waktu lalu. Bapak yang lembut dan suka menghabiskan waktu dengan cerita-cerita wayangnya.
Sisa kegelapan malam berubah pagi, bapak dan gadis kecilnya termangu dalam pikiran masing-masing. Kidung memilih tiduran di bale-bale, sementara bapaknya duduk di kursi bambu di depan rumah menghadap kebun kecil mereka hingga azan subuh meyadarkan mereka untuk salat subuh.
Kidung memperhatikan bapaknya yang siap berangkat salat subuh di surau yang jalannya satu arah ke kebun vanili.
***
Kidung tidak ke sekolah karena hari Minggu, bersama bapaknya menyiram dan menyiangi tanaman bayam, tomat, cabe, singkong, dan ada juga pisang. Kesedihan masih mengelayuti perasaan di hati mereka atas kepergian Ibu Marseh.
“Coba Bapak berubah seperti waktu lalu dan Ibu juga masih hidup, alangkah bahagianya aku,” karas hati Kidung dalam hati.
Dan pas siang hari Kidung dan bapaknya makan sayur bayam dan kerupuk, terasa nikmat karena memang hanya itu yang ada.
Tengah menikmati makan siang ala kadarnya, tiba-tiba ada suara salam. “Assalamualaikum ...”
“Walaikum salam,” Kidung dan bapaknya bersamaan menjawab.
“Biar Kidung yang buka,” kata Kidung berlari dan membuka pintu.
Ternyata seorang bapak yang Kidung kerap lihat di perkebunan vanili kalau dirinya tengah duduk-duduk di pinggir kali dekat kebun vanili. Bapak ini keluar masuk rumah kayu tingkatnya, dan Kidung ingat sekali.
“Tuan ....” Kidung memanggil dengan tuan, yang terhenti di ujung bibir karena tak tahu siapa namya.
“Nama saya Bapak Karmui, jangan panggil saya tuan ya anak manis,” jawab bapak yang sedikit membungkuk dan bernama Bapak Karmui.
“Pak Kar ... Karmui mau cari siapa?” tanya Kidung terbata.
“Aku mencari bapak kamu, ada?” jawabnya.
“Ada, ada saya panggilkan silakan duduk Pak,” Kidung mempersilakan Pak Karmui duduk di bangku bambu di depan rumah karena memang hanya kursi bambu satu-satunya yang ada berfungsi segala hal.
“Bapak, ada yang punya kebun vanili sangat luas di depan hemmm namanya Pak Kar ... Kar...mu...i,” ucap Kidung terputus-putus.
“Oh, iya ... Pak Karmui. Dung ... Bapak temui Tuan Karmui dulu ya .... kamu habiskan makan kamu ya Nduk,” kata bapak halus.
Kidung tak menyangka perubahan bapak cukup drastis, bapak kembali lembut semoga bapak tak lagi berubah setelah ibunya tak ada. Kidung berdoa dan mengamini sendiri juga dalam hati. Rasa benci itu masih ada, tersisa sedikit atau banyak Kidung tak mau berpikir jauh.
Pak Sugiharto berdehem memulai perhatian Pak Karmui yang tengah asik mengamati kebun kecil rumahnya.
“Maaf saya tak punya apa-apa untuk disuguhkan buat Tuan,” kata Pak Sugiharto tiba-tiba.
“Eh Pak Sugi, hemmm gak usah-usah ada suguhan. Saya ingin menyampaikan ikut duka cita atas meninggal istrimu maaf juga saya tak bawa apa-apa,” kata Pak Karmui.
“Oh enggak apa-apa Tuan, gak usah repot-repot justru saya mengucapkan banyak terima kasih kalau bukan karena Pak Karmui saya sampai detik ini masih di penjara, maturnuwun sudah menjamin saya sehingga saya tak ditahan lama-lama, kasihan Kidung sudah ditinggal ibunya sementara saya tak jelas dimana,” jawab Pak Sugiharto.
“Iya sudah jangan dipikirkan, maksud kedatanganku kemari adalah mengajak kamu untuk kembali jadi petani lagi di kebun vaniliku. Aku mungkin telat mengetahui sebuah berita tentang kamu yang dulu seorang petani vanili yang sangat telaten di sini. Ada yang salah sepertinya kenapa kamu jadi dikeluarkan di perkebunan. Maafkan saya Sugi ada yang memfitnah kamu waktu lalu dengan info perilaku kamu yang tak baik, tapi sejelek-jeleknya fitnah jika tak benar maka terbukti juga kebenarannya.”
“Maaf Tuan saya tak paham,” jawab Pak Sugiharto.
“Iya dua tahun ada salah satu pegawai yang mengatakan hal buruk kamu, sudahlah nanti juga kamu akan tahu siapa orangnya? Tapi saya perlu orang yang bisa mengerjakan kebun vanili dengan ketelatenan seperti waktu lalu, tidak hanya itu orang tersebut juga selalu mau berbagi, mengajari yang belum bisa. Saya tahu kamu orangnya Sugi jadi saya mengajak kamu kerja lagi menjadi petani di kebunku.”
Pak Sugiharto terdiam, ada rasa campur aduk di hatinya. Perasaan sakit hati dua tahun lalu diberhentikan begitu saja dan kabar baru yang sebenarnya dirinya tunggu. Karena bekerja sebagai petani vanili memang hatinya di situ, dari dulu.
Diam-diam Kidung juga menguping dari balik pintu.
“Asiiik aku bisa bermain lagi dengan bebas kalau bapak jadi petani vanili lagi, alhamdulillah ....” sorak hatinya.
Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)
Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...